YOGYAKARTA — Saat mentari mulai condong ke barat dan langit berubah warna menjadi oranye keemasan, siluet megah Ratu Boko muncul dengan anggun dari balik perbukitan. Di puncak bukit itu, sejarah seolah berbicara pelan melalui puing-puing istana kuno, menyapa setiap pengunjung yang datang bukan hanya untuk menikmati panorama, tetapi juga untuk meresapi napas peradaban yang masih mengalir.
Ratu Boko bukan sekadar destinasi wisata. Situs purbakala ini merupakan simbol kejayaan masa lalu yang kini dihidupkan kembali dalam semangat baru: pelestarian budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Dibangun bukan sebagai candi, melainkan istana atau tempat peristirahatan bangsawan pada masa Mataram Kuno, kompleks Ratu Boko menyimpan jejak sejarah dalam bentuk gerbang paduraksa yang menjulang, paseban luas, serta kolam-kolam pemandian yang masih tertata rapi.

Namun daya tarik Ratu Boko tidak hanya terletak pada peninggalan arkeologinya. Kawasan ini kini juga menjadi contoh nyata bagaimana situs sejarah dapat dikelola secara modern tanpa meninggalkan kearifan lokal. Konsep pariwisata berkelanjutan diterapkan di sini dengan melibatkan langsung masyarakat sekitar dalam berbagai lini. Mulai dari pengelola homestay, pemandu wisata, penjaja makanan tradisional, hingga pengrajin lokal, semuanya menjadi bagian dari narasi baru Ratu Boko.
Pengunjung tidak hanya diajak menyusuri masa lalu melalui cerita-cerita rakyat dan catatan sejarah, tetapi juga dikenalkan pada kekayaan budaya setempat yang hidup dalam kerajinan tangan, kuliner, hingga sambutan ramah warga desa. Langkah-langkah pelestarian pun terus digalakkan: penggunaan bahan ramah lingkungan pada kios UMKM, pengurangan plastik sekali pakai, serta edukasi kebersihan bagi setiap wisatawan menjadi bagian tak terpisahkan dari komitmen ini.

Senja di Ratu Boko bukan sekadar pemandangan yang indah. Ia menjadi simbol perenungan—tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan alam dengan cara yang saling menghidupi. Panorama matahari tenggelam yang memantul di bebatuan purba seolah mengajak setiap orang untuk tidak hanya datang, tetapi juga ikut menjaga.
Kini, Ratu Boko telah menjelma sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Sebuah situs sejarah yang tak hanya menyimpan kisah kejayaan, tetapi juga mencerminkan masa depan pariwisata yang inklusif, lestari, dan berbasis masyarakat. Di tempat ini, sejarah tidak sekadar diceritakan—ia terus dihidupkan, hari demi hari./ JOURNEY OF INDONESIA | DenPo