SUMBA TIMUR — Akhir tahun lalu tepatnya di pertengahan Oktober 2025, JOI berkesempatan menelusuri berbagai macam obyek wisata di pulau Sumba dengan mengendarai roda dua. Keputusan ini diambil karena ingin menikmati suasana akhir tahun di daratan timur Indonesia.
Persiapan matang, baik fisik maupun semua sarana pendukung menjadi sebuah keharusan untuk berpetualang berminggu-minggu dari Jakarta menuju ke Sumba dan menghabiskan jarak hingga 1.500 km untuk berangkat saja.
Ketika menapakkan kaki di daerah ini, sejauh mata memandang, cakrawala di bagian timur Pulau Sumba seolah tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan batin para petualang. Salah satu primadona yang sangat mencuri perhatian adalah Bukit Tanarara.
Berlokasi di Desa Maubokul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, destinasi ini bukan sekadar hamparan rumput biasa. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama yang puitis, yakni “Tanarara”, yang dalam bahasa lokal memiliki arti “tanah yang merah”. Nama tersebut merujuk pada lapisan tanah liat kemerahan yang menjadi fondasi bagi perbukitan eksotis ini.
Keunikan Bukit Tanarara terletak pada kontur perbukitannya yang sangat dinamis, menyerupai gundukan raksasa yang saling bertumpuk layaknya ombak yang membeku di tengah daratan. Menariknya, pemandangan di sini tidak pernah statis. Wajah Tanarara akan bertransformasi total mengikuti ritme musim.

Saat musim penghujan tiba di periode Desember hingga Maret, seluruh kawasan akan tertutup karpet hijau yang menyegarkan mata, memberikan suasana sejuk dan tenang. Namun, saat musim kemarau menyapa pada Mei hingga Oktober, lanskap ini berubah menjadi hamparan emas kecokelatan yang dramatis, memberikan kesan gersang namun magis layaknya savana di Afrika.
Bagi para pemburu visual, perjalanan menuju Bukit Tanarara adalah sebuah pengalaman sinematik. Jalanan aspal yang mulus namun berkelok-belok di tengah lembah menjadikannya salah satu rute terindah di Indonesia. Meski infrastruktur jalan sudah cukup baik, pengunjung tetap diingatkan untuk waspada karena jalurnya yang relatif sempit dan minim petunjuk arah. Jaraknya sekitar 68 kilometer dari Kota Waingapu atau memakan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga jam perjalanan.
“Pastikan kendaraan yang akan digunakan untuk pergi ke Bukit Tanarara dalam kondisi yang baik karena lokasinya yang jauh dari area publik,” ungkap Jemsis seorang bikers yang baru saja bertandang dari destinasi tersebut.
Fenomena alam yang paling dinanti di puncak Bukit Tanarara adalah saat transisi cahaya atau golden hour. Mengingat letaknya yang berada di dataran tinggi, pemandangan matahari terbit dan terbenam di sini sangatlah memukau. Langit yang berubah warna menjadi jingga keunguan menciptakan gradasi unik di atas bukit, sehingga tempat ini sering pula dijuluki sebagai “Tanah Berpelangi”. Bahkan saat malam hari, jika cuaca sedang cerah, para pelancong yang beruntung dapat menyaksikan hiasan gugusan Bima Sakti yang berpendar terang di langit Sumba yang masih bersih dari polusi cahaya.

Mengingat lokasinya yang masih sangat asri dan terpencil, persiapan fisik dan logistik menjadi kunci utama kenyamanan. Fasilitas di sekitar lokasi masih tergolong terbatas, di mana hanya tersedia warung kecil dan toilet sederhana bagi wisatawan. Sangat disarankan bagi pengunjung untuk membawa bekal makanan dan minuman yang cukup.
Selain itu, penggunaan topi serta tabir surya sangat dianjurkan untuk menghalau terik matahari jika Anda tiba di siang hari. Satu hal yang tidak boleh terlupakan adalah menjaga kelestarian alam dengan tetap membawa pulang sampah masing-masing agar keasrian bukit ini tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Menikmati Bukit Tanarara tidak dipungut biaya masuk atau gratis, dan kawasan ini terbuka selama 24 jam penuh. Konon, menurut cerita yang berkembang, bukit-bukit ini dahulu merupakan hamparan batu karang sebelum akhirnya tertutup oleh vegetasi rumput yang subur. Kini, tempat tersebut menjadi pelarian sempurna bagi mereka yang merindukan ketenangan.
Mengunjungi Bukit Tanarara adalah cara terbaik untuk merasakan denyut nadi alam Sumba yang autentik, sebuah perjalanan yang akan memberikan memori mendalam tentang keindahan tersembunyi di pelosok Nusa Tenggara Timur./ JOURNEY OF INDONESIA | Tiva Noenoehitu


















