JAKARTA – Lanskap perfilman aksi Indonesia bersiap menyambut sebuah visi baru yang tidak hanya mengandalkan ketangkasan fisik, tetapi juga kedalaman pembangunan dunia imajiner. Setelah sukses mencuri perhatian di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025, Visinema secara resmi membuka tabir pertama dari proyek ambisius mereka yang bertajuk Ratu Malaka. Melalui unggahan di kanal digital resmi, publik diajak mengintip potongan-potongan visual yang menggambarkan sebuah semesta fiksi yang gelap, di mana hukum dan ritual berkelindan dalam satu napas yang sama.
Kehadiran Ratu Malaka menjadi catatan penting bagi perjalanan karier Angga Dwimas Sasongko. Setelah dua tahun belakangan lebih banyak mencurahkan energinya di balik meja kepemimpinan sebagai nakhoda Visinema Group, Angga kini kembali turun langsung ke kursi sutradara. Langkah ini menandai kembalinya sang sineas ke genre aksi, setelah sebelumnya ia mendobrak pakem melalui Mencuri Raden Saleh dan ledakan adrenalin dalam 13 Bom di Jakarta. Namun, kali ini Angga melangkah lebih jauh dengan menyisipkan elemen mistis ke dalam struktur aksi kriminal yang menjadi tulang punggung ceritanya.
Dalam narasi yang dibangun, Ratu Malaka bukan sekadar latar tempat, melainkan sebuah entitas yang hidup. Visinema mendeskripsikan dunia ini sebagai sebuah kerajaan bayangan yang lahir dari visi tajam sang sutradara. Melalui akun resmi @RatuMalakaFilm, diungkapkan bahwa, “Hari ini, Ratu Malaka membuka pintunya untuk pertama kali. Ini adalah first look dari dunia yang lahir dari visi dan imajinasi Angga Sasongko — sebuah kerajaan bayangan, di mana kekuasaan disusun oleh hukum, ritual, dan mitosnya sendiri, serta dibentuk oleh pilihan paling gelap manusia.”

Proses kreatif di balik layar menitikberatkan pada kekokohan struktur cerita atau world building. Angga Dwimas Sasongko yang juga bertindak sebagai penulis naskah menjelaskan bahwa tantangan terbesar film ini adalah menciptakan ekosistem cerita yang utuh dan memiliki logika internal yang kuat. Menurut Angga, “Ratu Malaka menuntut pendekatan world building yang intensif. Di sini, kami membangun dunia imajinasi yang utuh, dengan aturan, struktur kekuasaan, dan lapisan mistisnya sendiri. Malaka hadir lebih dari latar, namun menjadi dunia yang hidup dan menentukan pilihan setiap karakternya.”
Visual perdana yang dibagikan kepada publik memperlihatkan atmosfer yang mencekam sekaligus elegan. Marcella Zalianty tampil dengan aura dominan, duduk dengan tenang namun memancarkan otoritas besar di tengah kepungan figur-figur yang mengancam. Kontras dengan ketenangan tersebut, Claresta Taufan yang melakoni debut aksi layar lebarnya terlihat dalam kondisi terdesak di bawah tatapan dingin karakter yang diperankan Wulan Guritno. Di sudut lain, ketegangan fisik direpresentasikan secara apik melalui sosok Dion Wiyoko yang bersiap dengan senjata di tengah kepulan percikan api, memberikan sinyal kuat akan skala aksi yang akan disuguhkan.
Untuk memastikan kualitas koreografi aksi mencapai standar internasional, Visinema menggandeng Chan Man-ching sebagai koordinator stunt. Rekam jejak Chan yang pernah menangani film legendaris seperti Rush Hour serta berbagai proyek bersama Jackie Chan, memberikan jaminan akan estetika laga yang berkelas. Ia berkolaborasi dengan talenta lokal, Reza Hilman, aktor sekaligus mantan atlet pencak silat yang pernah mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan gaya bertarung yang unik, menyesuaikan dengan nuansa mistik dan kriminal yang menjadi napas film ini.
Naskah Ratu Malaka sendiri diracik oleh Angga bersama Irfan Ramli, penulis yang telah teruji lewat raihan Piala Citra FFI. Kehadiran nama-nama besar seperti Jihane Almira, Lutesha, Ganindra Bimo, hingga aktor watak sekelas Indra Birowo dan Verdi Solaiman, semakin mengukuhkan film ini sebagai salah satu proyek paling diantisipasi. Meski para penggemar harus bersabar karena film ini baru dijadwalkan menyapa layar bioskop pada tahun 2027, first look ini telah berhasil menanamkan rasa penasaran tentang bagaimana sejarah luka dan mitos akan menentukan takdir para karakter di dalam semesta fiksi yang kelam tersebut./

















