JAKARTA — Industri perfilman nasional, khususnya genre horor, kini berada di persimpangan jalan antara kesuksesan komersial dan tuntutan kualitas artistik yang lebih mendalam. Fenomena ini mengemuka dalam perhelatan Festival Film Horor (FFH) edisi kedua yang digelar baru-baru ini di Jakarta. Tidak sekadar menjadi ajang apresiasi melalui Nini Sunny Award, festival bulanan ini juga berfungsi sebagai laboratorium pemikiran melalui diskusi publik bertajuk “Trend Film Horor 2026”.
Dalam diskusi yang menghadirkan perspektif lintas disiplin tersebut, Direktur Film Kemendikbud Syaifullah Agam memaparkan data yang cukup mencengangkan. Sepanjang periode 2021 hingga 2023, genre horor dan komedi tercatat sebagai lokomotif utama yang menggerakkan roda ekonomi perfilman kita dengan total penonton menembus angka 128 juta orang. Jika dirata-ratakan, satu judul film mampu menyedot perhatian lebih dari 450 ribu pasang mata. Namun, angka-angka tersebut kini menghadapi tantangan berupa tren penurunan jumlah penonton yang mulai terasa belakangan ini.
Syaifullah Agam memberikan peringatan keras bahwa tanpa adanya terobosan kreatif, nasib film horor bisa berakhir serupa dengan tren film bertema religi yang perlahan ditinggalkan oleh audiensnya. Ia menekankan bahwa para sineas harus berani keluar dari zona nyaman agar perfilman Indonesia tidak kembali ke masa suram seperti era sebelum tahun 2004. Upaya untuk terus berkembang dan tidak hanya berputar pada formula yang itu-itu saja menjadi kunci utama keberlangsungan genre ini sebagai penguasa pasar.
Senada dengan hal tersebut, aktris senior sekaligus Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Niniek L Karim, menawarkan sudut pandang yang lebih filosofis. Ia lebih memilih menggunakan istilah “film mistik” untuk menggambarkan genre ini. Menurut Niniek, karya film tetap harus berlandaskan pada akal sehat dan mampu menyentuh aspek kognitif, afektif, serta psikomotorik penonton. “Inilah tuntutan para penonton yang rela membayar untuk ditakut-takuti,” ungkapnya, menekankan bahwa pengalaman menonton harus bisa diterima oleh hati dan pikiran secara logis.

Diskusi yang juga melibatkan Mahasiswa Pascasarjana IKJ Arya Pramasaputra serta sutradara Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas ini menyepakati satu pesan kuat bagi para pembuat film yakni hormatilah penonton. Sebuah karya horor yang berhasil adalah karya yang mampu meninggalkan jejak impresi mendalam, yang terus terngiang di benak penonton bahkan dua hingga tiga hari setelah mereka meninggalkan kursi bioskop.
Puncak dari gelaran FFH Januari ini ditandai dengan pengumuman pemenang Nini Sunny Award yang didominasi oleh film Janur Ireng. Karya garapan sutradara Kimo Stamboel ini berhasil menyabet gelar Film Terpilih, sementara Kimo sendiri dinobatkan sebagai Sutradara Terpilih. Kualitas akting Tora Sudiro dalam film tersebut juga membuahkan hasil sebagai Aktor Terpilih. Di kategori lain, Wavi Zihan lewat perannya dalam Qorin 2 berhasil meraih predikat Aktris Terpilih, sementara Enggar Budiono diakui sebagai DOP/Cameraman Terpilih melalui visual apik dalam Dusun Mayit.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi jangka panjang di dunia seni peran, FFH turut memberikan penghargaan khusus kepada Epy Kusnandar atas pengabdiannya yang tak terputus bagi perfilman Indonesia. Momentum FFH Januari ini seolah menjadi pengingat bahwa di tengah gegap gempita industri, inovasi dan kualitas tetap menjadi ruh utama yang akan menentukan apakah horor Indonesia akan terus bersinar atau meredup di tahun 2026 ini./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















