JAKARTA – Dunia ekonomi kreatif Indonesia tengah menunjukkan taji melalui pengembangan Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP) lokal yang kian inovatif. Di Lantai 5 Gedung Sarinah, Thamrin, sebuah pameran bertajuk Pipilaka Calling hadir mengubah cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memandang isu sosial dan lingkungan. Pameran ini bukan sekadar instalasi seni visual, melainkan sebuah ruang imersif yang memadukan teknologi canggih dengan pesan moral yang mendalam.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang hadir langsung meninjau lokasi pada Rabu (21/1/2026), mengungkapkan kekagumannya terhadap sinergi antara kreativitas dan teknologi yang ditampilkan. Menurutnya, Pipilaka Calling berhasil membuktikan bahwa konten edukasi tidak harus kaku, melainkan bisa dikemas secara menyenangkan.
“Saya sangat kagum mengunjungi Pipilaka Calling sebagai art exhibition IP Pipilaka yang digabungkan dengan teknologi dan pesan-pesan moral untuk lintas generasi. Saya sangat merekomendasi juga untuk anak-anak Indonesia bisa melihat imersif yang dikombinasikan dengan entertainment, interaktif audio visual, nyanyi bareng, dan cerita-cerita tentang kepedulian lingkungan yang begitu menyenangkan,” ungkap Teuku Riefky di tengah keriuhan pameran.

Nama “Pipilaka” sendiri bukanlah tanpa makna. Diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti semut, karakter ini membawa filosofi kerja keras dan gotong royong. Founder Pipilaka Foundation, Wahyadi Liem, menjelaskan bahwa pemilihan Sarinah sebagai lokasi pameran sangat strategis karena nilai sejarahnya dan aksesibilitas yang memudahkan keluarga untuk datang menggunakan transportasi publik seperti MRT atau TransJakarta.
“Pipilaka artinya semut yang mengandung filosofi gotong royong. IP ini tak hanya menghibur, tetapi juga ada pesan positif yang bisa dibawa pengunjung seperti merawat lingkungan. Kami memilih Sarinah sebagai ruang imersif yang memang tempat ini menjadi historical building, dekat dengan transportasi publik, dan family friendly,” jelas Wahyadi.
Pameran ini terbagi dalam lima ruang pamer interaktif. Di dalamnya, pengunjung tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi berperan sebagai bagian dari cerita. Ada ruang di mana anak-anak bisa mewarnai tokoh-tokoh Pipilaka, mendengar cerita di Hutan Pipilaka, hingga menyaksikan konser imersif yang memukau. Kehadiran berbagai merchandise seperti jaket, tote bag, hingga bantal dengan karakter IP ini juga menjadi bukti potensi komersialisasi IP lokal yang kuat.
Kunjungan jajaran Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) ini merupakan langkah nyata dari audiensi yang telah dilakukan sejak awal tahun lalu. Pemerintah berkomitmen mendorong IP lokal agar tidak hanya jago kandang, tetapi mampu bersaing di kancah global melalui pemanfaatan ekosistem digital yang tepat.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, turut mengajak masyarakat untuk tidak melewatkan pengalaman unik ini. Ia menekankan kemudahan akses dan kegembiraan yang ditawarkan oleh lima wahana di Pipilaka Calling. “Di Sarinah, ada ruang imersif yang mana teman-teman bisa ikut nari, nyanyi, dan foto bersama dengan IP karakter Pipilaka. Tentu lima wahana di Pipilaka Calling bisa membuat semua having fun. Para pengunjung tinggal naik transportasi publik seperti MRT atau bus TransJakarta untuk mengeksplorasi dunia dari Pipilaka,” imbuh Irene.
Sementara itu, Eno Sigit selaku co-founder Pipilaka Foundation menaruh harapan besar pada kolaborasi berkelanjutan dengan pemerintah. Ia memimpikan Pipilaka bisa menyapa lebih banyak masyarakat di luar Jakarta melalui showcase di berbagai daerah. “Kami ingin seluruh masyarakat Indonesia bisa kenal dengan Pipilaka tak hanya sebagai IP yang menghibur, tetapi juga menyampaikan edukasi dari sisi kreativitasnya. Semoga Kementerian Ekraf bisa memberi kami tempat untuk showcase Pipilaka ke berbagai daerah di Indonesia dan dipertemukan juga dengan partner yang punya teknologi baru sehingga bisa dikombinasikan bersama Pipilaka biar makin seru dan makin maju,” tutur Eno.
Pipilaka Calling masih akan membuka pintunya bagi publik hingga 8 Maret 2026 mendatang. Dengan jam operasional mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB, pameran ini menjadi destinasi edukatif yang relevan bagi siapa saja yang ingin melihat bagaimana masa depan ekonomi kreatif Indonesia dibentuk melalui kolaborasi, teknologi, dan kepedulian lingkungan.
Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kemenekraf Dadam Mahdar, serta jajaran pengurus Pipilaka Foundation termasuk Putri Intan Sari dan Astrid Intan Sari./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















