JAKARTA – Tahun 2026 dibuka dengan sebuah narasi musikal yang membumi dari tanah Kalimantan Selatan. Grup musik Primitive Monkey Noose kembali menggebrak industri musik tanah air dengan merilis single teranyar mereka yang bertajuk ‘Panen Raya’. Bukan sekadar lagu baru, karya ini hadir sebagai sebuah penghormatan mendalam terhadap detak jantung bangsa yakni dunia pertanian dan perikanan.
Melalui kerja sama dengan label rekaman demajors, unit musik yang dikenal konsisten mengusung identitas lokal ini resmi meluncurkan ‘Panen Raya’ ke berbagai platform digital mulai 16 Januari 2026. Lagu ini seolah menjadi pengingat di tengah hiruk-pikuk modernitas bahwa akar identitas nusantara telah tertanam jauh sebelum negara ini berdiri, yakni melalui aktivitas menanam, memanen, menjala, hingga keberanian mengarungi luasnya samudera.
Secara musikalitas, Primitive Monkey Noose tidak meninggalkan akar eksperimentasi mereka. Produksi musik yang digarap oleh Prima Yuda Prawira di Beehive Home Studio Recording, Batulicin, tetap mempertahankan tanda tangan kreatif band ini. Pendengar akan disuguhi perpaduan unik antara denting dawai panting, instrumen tradisional Kalimantan Selatan yang bersenyawa harmonis dengan distorsi punk dan energi rock yang lugas.
Kekuatan utama ‘Panen Raya’ terletak pada liriknya yang puitis namun tetap menyentuh realitas sosial. Salah satu penggalan lirik yang paling menggugah berbunyi, “jika sedang bersedih lihatlah sawahmu kalau hatimu gelisah pandanglah ladangmu”. Kalimat tersebut bukan sekadar susunan kata, melainkan ajakan bagi masyarakat modern untuk kembali menemukan ketenangan dalam kesederhanaan dan menghargai nilai-nilai agraris yang mulai terpinggirkan.

Lagu ini membawa pesan eksplisit tentang kedaulatan pangan dan martabat para pekerja di sektor akar rumput. Bagi Primitive Monkey Noose, isu pertanian dan perikanan bukan sekadar latar belakang cerita, melainkan roh yang menghidupi peradaban. ‘Panen Raya’ mencoba memotret harapan akan kehidupan yang rukun serta semangat gotong royong yang menjadi fondasi masyarakat Indonesia.
Eksistensi band ini di skena musik Kalimantan Selatan dan Indonesia semakin kokoh dengan perilisan ini. Mereka membuktikan bahwa musik bisa menjadi medium yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan sosiokultural tanpa harus kehilangan daya hiburnya. Single ini pada akhirnya adalah sebuah perayaan hidup bersama, sebuah doa yang dilarungkan ke laut dan disemai di ladang-ladang hijau.
Kini, energi dari Batulicin tersebut sudah bisa dinikmati oleh khalayak luas. Single ‘Panen Raya’ telah tersedia di berbagai layanan streaming musik digital seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music, TikTok Music, hingga Langit Musik.
Kehadiran lagu ini diharapkan mampu memantik kembali rasa bangga terhadap identitas maritim dan agraris yang menjadi jati diri sejati bangsa Indonesia./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo


















