JAKARTA – Di tengah dinamika industri pariwisata dan teknologi yang terus berkembang, kepercayaan tetap menjadi mata uang paling berharga dalam dunia bisnis. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Mora Group dalam menjalankan ekspansi agresifnya di Indonesia. Tidak sekadar mengincar kuantitas, grup bisnis ini tengah bertransformasi menjadi sebuah ekosistem besar yang menghubungkan sektor hospitality, teknologi, hingga komersial melalui pembentukan entitas induk baru bernama Mora Holding.
Langkah strategis ini pun membuahkan hasil signifikan dengan masuknya minat besar dari investor mancanegara. Mora Group mengonfirmasi kemitraan dengan perusahaan capital asal Jepang yang berencana menyuntikkan dana investasi sekitar Rp1 triliun pada tahap awal. Kucuran modal fantastis ini dialokasikan khusus untuk memperkuat lini hotel bintang lima di titik-titik strategis nasional, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.
Founder Mora Group, Andhy Irawan, menegaskan bahwa kemitraan ini bukan sekadar soal angka, melainkan bukti nyata dari kepercayaan pasar terhadap model bisnis yang mereka kembangkan. Menurutnya, visi utama perusahaan adalah menjadi entitas yang diandalkan oleh seluruh pemangku kepentingan dalam jangka panjang. “Kami tidak mengejar jumlah, tapi kualitas. Visi kami bukan menjadi yang terbesar, melainkan bisnis yang dipercaya oleh seluruh stakeholder,” ujar Andhy dibilangan Sudirman saat beramahtamah dengan Himpunan Anak Media (HAM).
Hingga saat ini, Mora Group telah mengelola sedikitnya 12 hotel di berbagai wilayah Indonesia. Namun, ambisi mereka tidak berhenti di situ. Dalam lima tahun ke depan, perusahaan mematok target ambisius untuk mengoperasikan hingga 30 hotel. Untuk mendukung skala pertumbuhan yang masif ini, pembentukan Mora Holding menjadi langkah krusial guna memastikan tata kelola perusahaan yang lebih efisien dan profesional.

Di bawah payung Mora Holding, setiap lini usaha akan dikelompokkan ke dalam sub-holding yang lebih spesifik, mulai dari Mora Hospitality, Mora Teknologi, Mora Komersial, Mora Akademi, hingga Mora Capital. Struktur baru ini dirancang agar setiap unit bisnis memiliki ruang gerak yang lebih fokus dan scalable, baik untuk persaingan di pasar domestik maupun merambah kancah internasional.
Andhy menjelaskan bahwa restrukturisasi ini merupakan upaya membangun fondasi yang tidak hanya bertumpu pada satu figur, melainkan pada sistem yang mandiri. Ia menambahkan bahwa pembentukan holding ini ditujukan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperjelas fokus dan peran masing-masing lini usaha. “Ini bukan sekadar restrukturisasi, tapi membangun fondasi jangka panjang. Dengan holding, setiap entitas bisa lebih fokus, profesional, dan scalable, baik untuk ekspansi nasional maupun internasional,” kata Andhy.
Kekuatan Mora Group nyatanya tidak hanya bertumpu pada sektor penginapan. Di lini teknologi, mereka telah berhasil mengintegrasikan sistem digital untuk sektor wellness, manufaktur, serta makanan dan minuman (F&B). Inovasi berupa one-stop dashboard yang mereka kembangkan bahkan telah diadopsi oleh lebih dari 200 outlet wellness di tanah air. Sementara di sektor F&B, kehadiran brand baru seperti Pondasi dan pengembangan Hermier di Yogyakarta serta Surabaya semakin mempertegas diversifikasi bisnis mereka.
Melalui Mora Akademi, grup ini juga mempersiapkan estafet kepemimpinan dengan mencetak kader-kader CEO baru di setiap unit bisnis. Pola pengembangan berbasis B2B ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat dengan mitra global dan institusi keuangan.
Bagi Andhy, kunci utama dari seluruh ekspansi ini tetap kembali pada integritas. “Trust adalah nilai paling mahal dalam bisnis. Selama tujuan jelas dan kepercayaan dijaga, investor akan datang,” pungkasnya./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















