JAKARTA – Geliat industri pariwisata global kembali menatap Indonesia sebagai primadona pasar yang tak kunjung surut. Dalam gelaran TTC Travel Mart International ke-43 yang berlangsung di Hotel Redtop Jakarta, Senin, 9 Februari 2026 lalu, ratusan pelaku industri wisata dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk satu misi yakni menjaring wisatawan asal Nusantara.
Ajang business to business (B2B) yang rutin digelar ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan cermin pergeseran tren wisata orang Indonesia. Sebanyak 120 seller global dan domestik tercatat ikut serta, membawa tawaran destinasi yang kian spesifik dan jauh melampaui rute-rute konvensional.
Project Manager TTC Travel Mart International, Kidung Pascalis, mengungkapkan bahwa tahun ini peta persaingan semakin berwarna dengan hadirnya pemain-pemain baru. “Tahun ini ada beberapa destinasi dan seller baru yang bergabung, termasuk dari Eropa, Asia, hingga Amerika,” ujar Kidung di sela-sela acara.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kehadiran Albania, negara di semenanjung Balkan yang mulai menawarkan paket perjalanan lintas negara di Eropa bagi pasar Indonesia. Tak hanya Balkan, wilayah Semenanjung Iberia juga mulai agresif melakukan penetrasi. Explore Portugal, misalnya, hadir mempromosikan kolaborasi wisata Portugal dan Spanyol.
Langkah ini dibaca sebagai upaya menawarkan alternatif baru bagi pelancong Indonesia yang selama ini dianggap sudah jenuh dengan rute-rute populer seperti Prancis atau Italia. Managing Partner Explore Portugal, Hugo Belem, melihat adanya keterikatan emosional dan sejarah yang kuat antara Portugal dan Indonesia sebagai modal utama. Ia merujuk pada jejak pelayaran bangsa Portugal ke Nusantara pada abad ke-15 yang masih bisa ditelusuri di Lisbon. “Pasar Indonesia luar biasa. Pariwisatanya berkembang pesat dan banyak wisatawan ingin mengunjungi Eropa. Portugal dan Spanyol bisa menjadi destinasi yang menarik,” kata Hugo.

Menurutnya, meski biro perjalanan di Indonesia mulai menjual paket ke sana, mereka masih membutuhkan mitra lokal yang paham mendalam soal operasional di lapangan.
Keseriusan para pemain global ini terlihat dari keberagaman profil peserta, mulai dari operator kapal pesiar, penyedia atraksi, hingga perusahaan asuransi perjalanan. Di Jakarta sendiri, terdapat 108 unique seller yang mengisi 99 meja negosiasi. Setelah Jakarta, estafet bisnis ini berlanjut ke Hotel JW Marriott Surabaya pada 11 Februari 2026 dengan ketersediaan 72 meja.
Kidung Pascalis mengakui ada sedikit fluktuasi jumlah peserta dibandingkan tahun lalu karena faktor eksternal seperti kedekatan jadwal dengan Imlek, Ramadan, dan pameran serupa di negara asal peserta. Namun, hadirnya sekitar 20 wajah baru di ajang ini menjadi sinyal positif. “Meski begitu, ada sekitar 20 seller baru yang mengikuti TTC Travel Mart untuk pertama kalinya. Ini menunjukkan minat pelaku industri pariwisata global terhadap pasar Indonesia masih tinggi,” ucap Kidung.
Daya tarik ajang ini juga diperkuat dengan kehadiran institusi resmi seperti Hong Kong Tourism Board dan Philippines Department of Tourism. Filipina, khususnya, tampil cukup dominan dengan membawa tiga biro perjalanan yang beberapa di antaranya baru pertama kali mencicipi pasar Indonesia.
Dari sisi domestik, persaingan tak kalah sengit. Delegasi dari Bali, Raja Ampat, Manado, hingga Belitung turut pasang badan untuk memastikan wisatawan lokal maupun mancanegara tetap melirik destinasi dalam negeri.
Dengan keikutsertaan negara-negara seperti Turki, Azerbaijan, Jerman, hingga Amerika Serikat, TTC Travel Mart ke-43 ini menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton, melainkan pasar strategis yang diperebutkan oleh dunia./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















