<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Music | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/category/entertainment/music/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/category/entertainment/music/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 14:12:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Music | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/category/entertainment/music/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Kerinduan Panjang Terobati, Legenda Fusion Jazz Indonesia Siap Mengguncang Kemang di JFJF 2026</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kerinduan-panjang-terobati-legenda-fusion-jazz-indonesia-siap-mengguncang-kemang-di-jfjf-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 11:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[DeHeng House Kemang]]></category>
		<category><![CDATA[Emerald BEX]]></category>
		<category><![CDATA[HUT Jakarta 499]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Fusion Jazz Festival 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Karimata Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[Konser Jazz Jakarta 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Krakatau Band]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Fusion Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23598</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Dinamika musik di ibu kota kerap didominasi oleh gelombang konser pop lokal dan penetrasi masif promotor internasional. Namun, pertengahan Juni ini akan menjadi momentum pembuktian bahwa cetak biru musik modern Indonesia tidak pernah melupakan akar sejarahnya. Sebuah panggung yang didedikasikan khusus untuk pergerakan instrumental dan eksplorasi genre siap menyapa publik. Jakarta Fusion Jazz [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kerinduan-panjang-terobati-legenda-fusion-jazz-indonesia-siap-mengguncang-kemang-di-jfjf-2026/">Kerinduan Panjang Terobati, Legenda Fusion Jazz Indonesia Siap Mengguncang Kemang di JFJF 2026</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Dinamika musik di ibu kota kerap didominasi oleh gelombang konser pop lokal dan penetrasi masif promotor internasional. Namun, pertengahan Juni ini akan menjadi momentum pembuktian bahwa cetak biru musik modern Indonesia tidak pernah melupakan akar sejarahnya. Sebuah panggung yang didedikasikan khusus untuk pergerakan instrumental dan eksplorasi genre siap menyapa publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Jakarta Fusion Jazz Festival ( JFJF) 2026</em> dipastikan bakal menjadi episentrum bertemunya para maestro. Dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Juni 2026 di DeHeng House, Kemang, Jakarta Selatan, helatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang nostalgia semata. Lebih dari itu, festival ini mengemban misi menghidupkan kembali denyut nadi genre fusion jazz yang sempat merajai industri musik tanah air pada dekade 1980-an hingga 1990-an.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sinergi apik antara<a href="https://www.instagram.com/dehills.production/" type="link" id="https://www.instagram.com/dehills.production/"> Dehills Production</a>, <a href="https://www.instagram.com/dssmusic/?hl=en" type="link" id="https://www.instagram.com/dssmusic/?hl=en">DSS</a>, dan <a href="https://pappri.live">PAPPRI Live</a> ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan menyambut HUT ke-499 Kota Jakarta serta World Music Day yang jatuh setiap tanggal 21 Juni. Perhelatan volume pertama ini juga diposisikan sebagai langkah awal dari rangkaian JAKFUSE (Jakarta Annual Fusion Festival) menuju seabad paruh kedua atau perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Penggagas acara sekaligus perwakilan DSS</em>, <strong>Donny Hardono</strong>, menegaskan bahwa inisiatif ini berakar dari sebuah keresahan dan harapan besar terhadap ekosistem musik tanah air. “Musik fusion sebenarnya memiliki penggemar yang sangat loyal. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan kembali musisi, komunitas, dan generasi baru agar bisa mengenal kekayaan musik fusion Indonesia,” ujarnya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan.jpg" alt="" class="wp-image-23601" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Yandi-Andaputra-Dwiki-Dharmawan-Ihsan-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Yandi Andaputra &amp; Dwiki Dharmawan (Ihsan)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Atmosfer DeConcert Room di DeHeng House dipastikan langsung memanas sejak hari pertama, Jumat, 19 Juni 2026. Panggung utama akan dibuka oleh Emerald BEX. Grup ini merupakan peleburan magis dari dua kekuatan besar era 80-an, yaitu Emerald yang menjuarai Light Music Contest (LMC) 1986, dan Band Explosion (BEX) yang berjaya pada tahun 1988. Kembali dengan formasi solid yang diperkuat Iwang Noorsaid (keyboard), Morgan Sigarlaki (gitar), Roedyanto Wasito (bass), dan Yandi Andaputra (drum), grup yang dahulu melambungkan nama mendiang Ricky Johanes ini kini menggandeng Dudy Oris pada lini vokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mewakili Emerald BEX, Yandi Andaputra menyampaikan bahwa ruang apresiasi seperti ini sudah terlalu lama absen dari kalender pertunjukan musik nasional. “Acara seperti ini sudah lama dirindukan. Bukan hanya oleh penonton, tapi juga oleh para musisi. Ini menjadi momentum penting untuk kembali mempertemukan para pelaku dan pencinta musik fusion dalam satu panggung,” kata Yandi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Senada dengan rekannya, Roedy membocorkan bahwa mereka tidak ingin tampil biasa saja demi memuaskan dahaga para penikmat musik kompleks ini. “Kami akan membawakan beberapa lagu yang mungkin sudah sangat lama tidak kami mainkan. Ada juga beberapa kejutan yang sedang kami persiapkan agar penonton mendapatkan pengalaman yang berbeda,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam pertama juga akan diperkaya oleh sesi emosional bertajuk “Tribute to Indonesian Fusion Bands” oleh Audiensi Band. Mereka akan menghidupkan kembali katalog lagu legendaris dari Bhaskara, Spirit Band, hingga Funk Section. Menariknya, deretan personel asli grup-grup tersebut dikonfirmasi akan ikut turun gunung. Mulai dari Vonny Sumlang dan AS Mates (Bhaskara), Eramono, Ilyas Muhadji, dan Kemala Ayu (Spirit Band), hingga Mus Mujiono, Yance Manusama, dan Eka Bhakti yang pernah memperkuat Funk Section semasa mendiang Glenn Fredly bertindak sebagai vokalis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai hidangan penutup hari pertama, Krakatau akan naik pentas dengan formasi yang sangat dinantikan yakni, Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Trie Utami, serta disokong oleh musisi generasi berikutnya, Barry Likumahuwa dan Andre Dinuth.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sesi konferensi pers yang digelar di <a href="https://www.instagram.com/kofiandtiofficial/?hl=en" type="link" id="https://www.instagram.com/kofiandtiofficial/?hl=en">Ko Fi n Tie DeHeng House</a> pada 4 Juni 2026, Dwiki Dharmawan memberikan garansi bahwa penampilan mereka kali ini akan sangat autentik. “Kami akan memainkan sekitar 95 persen aransemen yang mendekati versi aslinya. Ini bentuk penghormatan kepada para penikmat musik yang selama ini mengikuti perjalanan Krakatau,” ungkap Dwiki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga menekankan bahwa penonton akan disajikan esensi murni dari identitas awal Krakatau melalui eksplorasi karya instrumental mereka yang kaya.“Fusion itu bukan sekadar jazz. Di dalamnya ada soul, funk, blues, rock, bahkan unsur tradisi yang dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Itu yang membuat genre ini sangat menarik,” tambahnya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk.jpg" alt="" class="wp-image-23599" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/06/Press-Conference-Jakarta-Fusion-Jazz-Festival-2026-iBonk-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Press Conference Jakarta Fusion Jazz Festival 2026 (iBonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Memasuki hari kedua, Sabtu, 20 Juni 2026, giliran kiblat fusion internasional yang mendapat sorotan. Audiensi Band kembali naik panggung untuk membawakan nomor-nomor instrumental milik Casiopea, raksasa jazz fusion asal Jepang yang menjadi salah satu anutan terbesar musisi Indonesia di era 80-an. Tak ketinggalan, grup T-42 juga bersiap menghentak lewat lagu-lagu milik Level 42, band jazz-funk legendaris asal Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puncak dari seluruh rangkaian festival ini akan dikunci oleh penampilan Karimata. Band ikonik ini digawangi oleh deretan maestro: Candra Darusman, Aminoto Kosin, Budhy Haryono, Dony Koeswinarno, Indro Hardjodikoro, dan Kharis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mewakili Karimata, Budhy Haryono memastikan bahwa karakter kuat grup yang bertumpu pada komposisi instrumental sarat teknik tinggi tetap menjadi menu utama, namun tetap dengan sentuhan modern. “Kami menyiapkan sekitar 13 hingga 14 lagu untuk dimainkan selama kurang lebih satu jam. Ada juga kolaborasi spesial bersama Mima, penyanyi jebolan Indonesian Idol yang akan memberikan warna baru dalam penampilan kami,” ujar Budhy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain panggung utama di DeConcert Room, denyut festival ini sebenarnya sudah dimulai sejak sore hari pukul 16.00 WIB di area Ko Fi n Tie yang terletak di lantai dua. Dengan kapasitas intim sekitar 150 orang, ruang ini difungsikan sebagai wadah edukasi dan regenerasi melalui rangkaian talkshow, jam session, serta penampilan dari para musisi muda bertalenta. Menjelang malam, suasana santai di kafe resto ini akan dihidupkan oleh penampilan Ricky Poetiray &amp; Friends serta Cendy Luntungan &amp; Friends hingga tengah malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pihak penyelenggara menargetkan total sekitar 1.000 penonton dapat memadati area DeHeng House selama dua hari penyelenggaraan. Melalui perhelatan ini, promotor berharap tempat ini tidak sekadar menjadi lokasi konser sesaat, melainkan tumbuh menjadi destinasi baru, sebuah &#8220;rumah&#8221; yang representatif dengan fasilitas lengkap bagi para musisi tanah air untuk memamerkan karya terbaik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para penikmat musik yang ingin menyaksikan langsung lembaran sejarah ini ditulis kembali, seluruh informasi mengenai jadwal detail pertunjukan serta akses pergantian tiket dapat dipantau melalui kanal digital resmi milik penyelenggara./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kerinduan-panjang-terobati-legenda-fusion-jazz-indonesia-siap-mengguncang-kemang-di-jfjf-2026/">Kerinduan Panjang Terobati, Legenda Fusion Jazz Indonesia Siap Mengguncang Kemang di JFJF 2026</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23598</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kolaborasi Happy Asmara dan Pokémon di Lagu Kopi Dangdut Versi Goyang Hepika</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kolaborasi-happy-asmara-dan-pokemon-di-lagu-kopi-dangdut-versi-goyang-hepika/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 13:33:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Dangdut Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Happy Asmara]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolaborasi Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Pikachu]]></category>
		<category><![CDATA[Pokémon Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Susumu Fukuraga]]></category>
		<category><![CDATA[Video Musik Baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23357</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Dunia pop global dan kultur lokal Indonesia baru saja menyaksikan sebuah perkawinan seni yang tidak biasa. Bertempat di MGP Space, SCBD, Jakarta Selatan, lagu legendaris &#8216;Kopi Dangdut&#8217; ciptaan Fahmi Shahab lahir kembali dalam balutan aransemen modern yang segar. Kali ini, lagu yang melintasi berbagai generasi tersebut dibawakan oleh diva pop Jawa masa kini, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kolaborasi-happy-asmara-dan-pokemon-di-lagu-kopi-dangdut-versi-goyang-hepika/">Kolaborasi Happy Asmara dan Pokémon di Lagu Kopi Dangdut Versi Goyang Hepika</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Dunia pop global dan kultur lokal Indonesia baru saja menyaksikan sebuah perkawinan seni yang tidak biasa. Bertempat di MGP Space, SCBD, Jakarta Selatan, lagu legendaris &#8216;Kopi Dangdut&#8217; ciptaan Fahmi Shahab lahir kembali dalam balutan aransemen modern yang segar. Kali ini, lagu yang melintasi berbagai generasi tersebut dibawakan oleh diva pop Jawa masa kini, Happy Asmara. Namun, daya tarik utama acara peluncuran album ini bukan sekadar aransemen baru, melainkan kehadiran sosok kuning ikonik asal Jepang yang mendampinginya di atas panggung, yaitu Pikachu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui kampanye bertajuk “Happy Bareng Pikachu”, karakter paling populer dari waralaba Pokémon tersebut kini resmi mencicipi panggung dangdut tanah air. Langkah berani ini menjadi strategi baru dari <a href="https://www.pokemon.com/us" type="link" id="https://www.pokemon.com/us">The Pokémon Company</a> untuk memperkuat posisinya di hati masyarakat Indonesia dengan meleburkan budaya populer dunia ke dalam denyut nadi musik akar rumput lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kolaborasi ini menonjolkan bagian khusus yang dinamakan “Goyang Hepika”. Karakter Pikachu tidak lagi sekadar tampil sebagai animasi yang lucu, melainkan menjelma menjadi penghibur yang bergerak selaras dengan tabuhan gendang dan petikan gitar dangdut. Bagi <strong>Happy Asmara</strong>, yang memiliki nama asli Heppy Rismanda Hendranata, proyek ini menjadi pembuktian konsistensi serta kekuatannya dalam membangun personal branding di industri musik nasional, setelah sebelumnya sukses lewat deretan tembang hits seperti &#8216;Tak Ikhlasno&#8217; dan &#8216;Dalan Liyane&#8217;.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk.jpg" alt="" class="wp-image-23359" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Susumu-Fukuraga-selaku-Coorparate-Officer-Asia-Business-Division-The-Pokemon-Company-iBonk-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Susumu Fukuraga selaku Coorparate Officer Asia Business Division The Pokemon Company (iBonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Di sela-sela acara peluncuran tersebut, Happy Asmara membagikan antusiasmenya mengenai pengerjaan proyek unik ini. Ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena seluruh tahapan produksi berjalan tanpa hambatan berarti. Menurutnya, proses pengerjaan proyek ini terasa sangat dinamis dan memberikan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. &#8220;Proses produksi, mulai dari photoshoot, rekaman suara, hingga syuting musik video, berjalan dengan lancar dan sangat menyenangkan,&#8221; ujar Happy Asmara dengan wajah berseri-seri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyanyi kelahiran Kediri ini juga mengumumkan bahwa video musik resmi untuk kolaborasi ini dijadwalkan tayang perdana di kanal <em>YouTube</em> resminya tepat pada hari ini pukul 17.00 WIB. Demi memuaskan rasa penasaran para penggemar setia yang sudah memadati area peluncuran, Happy memberikan sebuah kejutan berupa pemutaran cuplikan eksklusif dari video musik tersebut. Bagi masyarakat luas, karya kolaborasi ini juga sudah dapat dinikmati di berbagai platform pemutar musik digital utama, termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik layar, proses untuk menyatukan dua dunia yang berbeda ini ternyata memakan waktu yang cukup panjang. <strong>Susumu Fukuraga</strong> selaku <em>Coorparate Officer Asia Business Division The Pokemon Company</em> memaparkan bahwa ide untuk menggunakan lagu &#8216;Kopi Dangdut&#8217; muncul karena karya tersebut memiliki kedekatan tersendiri dengan publik di negara asalnya. &#8220;Sebenarnya di Jepang, Kopi Dangdut juga terkenal dengan judul Kopi Rumba. Karena kalian tahu, lagu ini sangat disukai oleh orang Indonesia, maka kami memilih Kopi Dangdut,&#8221; jelas Fukuraga saat memberikan keterangan mengenai alasan pemilihan lagu.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk.jpg" alt="" class="wp-image-23360" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Happy-Asmara-dan-Pikachu-peragakan-goyang-Hepika-iBonk-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Happy Asmara dan Pikachu peragakan goyang Hepika (iBonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Ketika ditanya lebih dalam mengenai alasan mendasar di balik pemilihan genre dangdut dibandingkan dengan jenis musik tradisional Indonesia lainnya, Susumu Fukuraga mengaitkannya dengan filosofi dasar dari dunia Pokémon itu sendiri. Ia melihat adanya kesamaan energi yang besar antara musik dangdut dengan petualangan para karakter fiksi tersebut. &#8220;Yah, folk music atau genre lainnya juga ada, tapi alasan kami memilih Dangdut adalah karena Pokémon memiliki dunia sendiri, dan seperti dalam animenya, Pokémon selalu bepergian dan bersemangat. Kami ingin menunjukkan semangat itu, dan Dangdut terasa sangat cocok untuk menyampaikan energi tersebut,&#8221; ungkapnya lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses pengerjaan proyek ambisius ini memakan waktu sekitar setengah tahun dari tahap perencanaan awal hingga produk akhir siap dirilis. Tantangan terbesar yang dihadapi tim produksi adalah bagaimana menyisipkan karakter fantasi global ke dalam realitas sosial masyarakat lokal tanpa terasa janggal atau dipaksakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Untuk perencanaan hingga jadi, kami butuh setengah tahun,&#8221; kata Susumu Fukuraga menambahkan. Ia kemudian menjelaskan hambatan utama yang mereka temui selama masa produksi. &#8220;Jadi bagian yang cukup sulit adalah menyesuaikan image Pikachu dengan kehidupan sehari-hari warga Indonesia.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hambatan tersebut kemudian dipecahkan melalui konsep visual yang matang dalam video musiknya. Tim kreatif memilih untuk menempatkan makhluk-makhluk fiksi tersebut ke dalam latar situasi sosial yang sangat akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia. &#8220;Konsepnya adalah menunjukkan bahwa Pikachu dan Pokémon itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, misalnya saat nongkrong di kafe atau sedang mengobrol, di situ ada Pokémon,&#8221; tutur Fukuraga.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk.jpg" alt="" class="wp-image-23361" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Karakter-Pikachu-tidak-lagi-sekadar-tampil-sebagai-animasi-yang-lucu-melainkan-menjadi-penghibur-yang-bergerak-selaras-iBonk-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Karakter Pikachu tak tampil sebagai animasi lucu, melainkan menjadi penghibur yang bergerak selaras (iBonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Keputusan untuk hanya menampilkan Pikachu sebagai sorotan utama dalam proyek ini, mengesampingkan ratusan karakter lainnya, didasari oleh tingkat popularitas sang karakter yang sudah sangat melekat kuat di benak lintas generasi, serta adanya kecocokan nama dengan tema kebahagiaan yang diusung. &#8220;Tentu saja karena Pikachu adalah Pokémon yang paling dikenal dan paling menyatu dengan masyarakat Indonesia. Selain itu, ada Happika (kebahagiaan) yang bisa diasosiasikan dengan lagu dan Pikachu,&#8221; tambah Fukuraga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kolaborasi ini secara tidak langsung ikut membawa elemen budaya Indonesia ke ranah global, fokus utama dari pihak Jepang dalam proyek ini adalah murni untuk memberikan pengalaman hiburan yang lebih inklusif dan menyenangkan bagi para penggemar lokal melalui pendekatan seni yang paling dekat dengan telinga mereka. &#8220;Tujuan kami yang paling besar adalah untuk membuat orang-orang senang dengan Pokémon. Dengan memasukkan musik tradisional yang dekat dengan masyarakat Indonesia ke dalam dunia Pokémon, kami berharap orang-orang lebih bisa menikmati Pokémon,&#8221; papar Fukuraga mengenai target besar perusahaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengenai kelanjutan dari proyek berbasis budaya ini, pihak manajemen asal Jepang tersebut masih memilih untuk melihat bagaimana respons awal dari pasar Indonesia sebelum merancang langkah strategis berikutnya. Mereka juga belum bisa memastikan apakah akan ada kolaborasi lanjutan dengan musisi lokal lainnya di masa mendatang. &#8220;Pertama-tama, melalui video musik ini dan kolaborasi lainnya di masa lalu, kami ingin melihat reaksi teman-teman di Indonesia. Dan ke depannya akan kami pikirkan apa lagi yang bisa kita lakukan,&#8221; pungkas Fukuraga saat ditanya mengenai harapan ke depan./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/kolaborasi-happy-asmara-dan-pokemon-di-lagu-kopi-dangdut-versi-goyang-hepika/">Kolaborasi Happy Asmara dan Pokémon di Lagu Kopi Dangdut Versi Goyang Hepika</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23357</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buitenstage Vol. 7 Hapus Sekat Musik Independen Bogor</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/buitenstage-vol-7-hapus-sekat-musik-independen-bogor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2026 14:26:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Buitenfest]]></category>
		<category><![CDATA[Buitenstage Vol 7]]></category>
		<category><![CDATA[Cadazz Pustaka Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Musik Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Konser]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Wangsa Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Independen Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23267</guid>

					<description><![CDATA[<p>sBOGOR &#8211; Denyut nadi musik independen di Kota Hujan kembali menemukan ruangnya yang paling hangat. Pada Kamis malam, 7 Mei 2026, sudut Kopi Wangsa di Bogor menjelma menjadi sebuah episentrum kreatif yang intim. Melalui kolektif Buitenstage Vol. 7, sebuah program musik dwi-mingguan yang digagas oleh Buitenfest bersama Cadazz Pustaka Musik, batasan antargenre dilebur habis dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/buitenstage-vol-7-hapus-sekat-musik-independen-bogor/">Buitenstage Vol. 7 Hapus Sekat Musik Independen Bogor</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">sBOGOR &#8211; Denyut nadi musik independen di Kota Hujan kembali menemukan ruangnya yang paling hangat. Pada Kamis malam, 7 Mei 2026, sudut Kopi Wangsa di Bogor menjelma menjadi sebuah episentrum kreatif yang intim. Melalui kolektif Buitenstage Vol. 7, sebuah program musik dwi-mingguan yang digagas oleh Buitenfest bersama <a href="https://www.instagram.com/cadaazzpustakamusik/" type="link" id="https://www.instagram.com/cadaazzpustakamusik/">Cadazz Pustaka Musik</a>, batasan antargenre dilebur habis dalam satu panggung alternatif yang hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar panggung hiburan biasa, pergelaran malam itu terasa seperti sebuah perayaan atas ketulusan berkarya. Didukung penuh oleh ekosistem kreatif dan deretan media online musik independen, Buitenstage konsisten menjaga fungsinya: menjadi wadah eksplorasi bebas bagi musisi lokal sekaligus ruang temu yang organik bagi para penikmat musik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Edisi ketujuh ini membawa penonton dalam sebuah perjalanan melintasi empat spektrum musik yang kontras namun saling melengkapi. Riuh malam dibuka oleh keceriaan <strong>Andy Lee Ghouw</strong>. Solois pop ini tampil beda malam itu lewat format full band. Ia langsung membius area penonton dengan repertoar lagu-lagu bernuansa<em> cheerful.</em> Kehadiran single teranyarnya, seperti &#8216;Rumit&#8217; dan &#8216;Enjoy Your Life&#8217;, sukses memancing koor massal yang mencairkan suasana sejak awal pertunjukan.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/LLeiruz-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-23270" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/LLeiruz-Ist.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/LLeiruz-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/LLeiruz-Ist-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>LLeiruz (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Nuanasa panggung seketika bergeser menjadi lebih kontemplatif saat <strong>Lleiruz</strong> mengambil alih kemudi. Solois multi-instrumen ini memilih pendekatan akustik yang sunyi sekaligus reflektif. Membawakan untaian materi dari EP terbarunya yang rilis Januari lalu, Insincerely Yours, penonton diajak menyelami trek demi trek mulai dari &#8216;Prayer (intro)&#8217;,&#8217;Blue&#8217;,&#8217;Mestinya&#8217;, hingga &#8216;Closure&#8217;. Bagi Lleiruz, aksi panggung malam itu bukan sekadar bernyanyi, melainkan sebuah perpanjangan rasa dari proses produksi rekaman yang ia akui berjalan sangat emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kejutan manis tidak berhenti di situ. Duo akustik lokal kebanggaan Bogor, <strong>Medilog</strong>, naik panggung dengan membawa dinamika yang ringan namun sarat akan kedekatan emosional dengan audiens. Di samping membawakan single teranyar bertajuk &#8216;You’ll Be Fine&#8217;, Medilog mengukir momen bersejarah kecil malam itu. Untuk pertama kalinya di depan publik, mereka memperdengarkan lagu &#8220;JUMPA&#8221;, sebuah karya yang sudah mengendap sejak tahun 2023 namun belum pernah dirilis secara resmi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjelang akhir malam, atmosfer Kopi Wangsa mendadak berganti rupa menjadi liar dan tak tertebak. <strong>Partikel Penyusun Atom</strong> yang tampil dengan formasi tiga personel eksperimental menutup rangkaian acara dengan energi eksploratif yang lepas. Penampilan mereka memecah keheningan malam lewat suguhan aksi panggung yang tak biasa. “Aksi panggung mereka &#8220;gokil&#8221; dan eksplosif , bener-bener penutup yang pas”, ujar salah satu penonton yang terkesima dengan klimaks pertunjukan tersebut.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-23269" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Andy-Lee-Ist-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Andy Lee (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, keberlanjutan Buitenstage menjadi bukti nyata bahwa ekosistem kreatif perkotaan seperti Bogor selalu membutuhkan ruang-ruang alternatif yang konsisten. Keberanian untuk terus bereksperimen di atas panggung kecil inilah yang nantinya akan merawat nafas industri musik dari bawah agar tetap organik dan berumur panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Buitenstage selalu kami bayangkan sebagai ruang yang cair, tempat musisi, penonton, dan pelaku kreatif bisa bertemu tanpa sekat genre maupun generasi. Kami ingin membangun ekosistem yang hidup, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi keberanian bereksperimen. Karena kami percaya bahwa musik yang bagus tidak harus selalu datang dari industri besar, tapi dari ketulusan untuk terus bersuara dan ruang yang mau mendengarkannya,” ujar Nanang Yuswanto dari Buitenfest, menegaskan filosofi di balik gerakan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan senada datang dari Fransiscus Eko perwakilan dari Cadaazz Pustaka Musik. Menurutnya, panggung Buitenstage sudah berada di level yang ideal untuk melatih mentalitas serta kematangan teknis para penampil, baik yang bergerak sebagai solois maupun grup musik, agar siap menghadapi tantangan performa yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Menurut gua, para musisi bisa mendapatkan pengalaman berharga manggung di Buitenstage, apalagi buat mereka yang berasal dari luar Bogor. Tampil prima diatas panggung itu gak gampang, memperkenalkan karya kita di hadapan penonton yang gak ngerti siapa kita pun bakal susah, tapi dengan panjangnya durasi tampil yang kita sediakan, dengan area panggung yang baik serta service sound system yang cukup apik, para musisi bisa mengeksplorasikan kreatifitas mereka di acara ini dengan nyaman”, tutur Eko sambil tersipu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui sinergi lintas komunitas, keintiman ruang yang inklusif, serta komitmen kolaborasi yang kuat, Buitenstage tampaknya akan terus berjalan maju, memastikan bahwa denyut nadi musik independen di Bogor tidak akan pernah meredup./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA </em></strong>| Morteza</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/buitenstage-vol-7-hapus-sekat-musik-independen-bogor/">Buitenstage Vol. 7 Hapus Sekat Musik Independen Bogor</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23267</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lahir dari Panggung Kompetisi, Violinata Resmi Rilis &#8216;Misteri Cinta&#8217;</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/lahir-dari-panggung-kompetisi-violinata-resmi-rilis-misteri-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 May 2026 03:22:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Cadaazz Pustaka Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Debut]]></category>
		<category><![CDATA[Fransiscus Eko]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Misteri Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Pop Rock]]></category>
		<category><![CDATA[Single Debut]]></category>
		<category><![CDATA[Violinata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23159</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Dunia musik tanah air kembali kedatangan talenta baru yang menjanjikan. Violinata, penyanyi muda yang sempat mencuri perhatian di sebuah festival musik pada 2024, kini resmi menancapkan taringnya di industri lewat single perdana bertajuk “Misteri Cinta”. Dirilis di bawah bendera Cadaazz Pustaka Musik, lagu ini bukan sekadar debut biasa, melainkan sebuah perpaduan emosi pop-rock [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/lahir-dari-panggung-kompetisi-violinata-resmi-rilis-misteri-cinta/">Lahir dari Panggung Kompetisi, Violinata Resmi Rilis &#8216;Misteri Cinta&#8217;</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Dunia musik tanah air kembali kedatangan talenta baru yang menjanjikan. <strong>Violinata</strong>, penyanyi muda yang sempat mencuri perhatian di sebuah festival musik pada 2024, kini resmi menancapkan taringnya di industri lewat single perdana bertajuk “Misteri Cinta”. Dirilis di bawah bendera Cadaazz Pustaka Musik, lagu ini bukan sekadar debut biasa, melainkan sebuah perpaduan emosi pop-rock yang lahir dari sebuah pertemuan tak sengaja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah di balik lagu ini justru dimulai dari bangku juri, bukan dari meja rapat label rekaman. <strong>Fransiscus Eko</strong>,<em> produser sekaligus penulis lagu senior</em>, mengaku terpikat dengan karakter suara Violinata saat melihatnya tampil di sebuah babak final kompetisi. Baginya, suara Violinata adalah kepingan <em>puzzle</em> yang selama ini ia cari untuk sebuah lagu yang telah lama tersimpan di arsip pribadinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Violinata sendiri mengenang momen tersebut dengan penuh rasa syukur sekaligus keheranan. “<em>Coach Eko</em> sampai ngejar aku di pintu keluar cuma buat minta nomor <em>WhatsApp</em>. Dari situ baru aku tahu kalau ternyata beliau punya lagu yang cocok buat aku,” kenangnya. Sebuah tindakan impulsif dari sang produser yang rupanya menjadi gerbang pembuka karier profesional sang penyanyi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu &#8216;Misteri Cinta&#8217; sendiri memotret dualitas rasa yang sangat dekat dengan keseharian kita: manisnya saat perasaan bersambut, dan getirnya ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Fransiscus Eko menjelaskan bahwa esensi lagu ini adalah ketidakpastian. “Cinta itu misteri yang tidak bisa diprediksi. Semua orang pernah ada di fase itu, dan itu yang saya tuangkan dalam lagu ini,” tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski lirik dan nadanya rampung hanya dalam waktu dua jam karena aliran emosi yang begitu deras, proses produksinya justru memakan waktu hampir setengah tahun. Violinata, yang secara alami memiliki karakter suara sopran, harus berjuang keras menaklukkan nada-nada rendah agar pesan lagu ini sampai ke hati pendengar. “Bagian rendahnya bikin aku ulang berkali-kali. Tapi itu justru bikin aku berkembang banget secara teknik,” tambah Violinata.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-23160" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/Violinata-Ist-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Violinata (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Secara musikalitas, pendengar akan disuguhi aransemen yang terasa &#8220;berisi&#8221;. Alih-alih hanya pop manis, lagu ini memiliki sentuhan nge-band dengan warna rock yang cukup kental namun tetap mampu menonjolkan vokal Violinata yang sendu dan memelas. Pilihan aransemen ini disengaja oleh Fransiscus Eko untuk mengisi ruang kosong di industri solois perempuan saat ini yang jarang menyentuh sisi rock-pop emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keamanan dan kenyamanan menjadi alasan utama Violinata mantap melangkah bersama <em><a href="https://www.instagram.com/cadaazzpustakamusik/" type="link" id="https://www.instagram.com/cadaazzpustakamusik/">Cadaazz Pustaka Musik</a></em>. Ia merasa lingkungan kerja yang positif sangat krusial bagi musisi pendatang baru. “Di sini aku bisa berkembang tanpa merasa tertekan. Lingkungannya positif banget,” terangnya. Kerja sama ini pun dipastikan tidak akan berhenti di satu lagu saja. Setidaknya, sudah ada lima single yang disiapkan untuk rilis setiap dua bulan, menuju sebuah mini album di akhir tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik kemegahan suaranya, &#8216;Misteri Cinta&#8217; juga menyimpan cerita haru. Lagu ini merupakan salah satu karya terakhir yang melibatkan mendiang <strong>Christian Wibisono</strong> alias <strong>Ian Rocker Kasarunk </strong>pada bagian drum. Violinata mengenang profesionalitas almarhum yang tetap memberikan performa terbaik meski dalam kondisi kesehatan yang menurun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Aku persembahkan <em>single</em> ini untuk om Ian Rocker Kasarunk yang belum lama ini sudah berpulang, aku ingat beliau mengisi part drum di lagu ini dalam keadaan sedang sakit, dan single aku ini adalah lagu terakhir om ian main drum sebelum akhirnya tutup usia,” kenang Violinata dengan nada emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain mendiang Ian, nama-nama besar lain seperti M. Aditia Sahid (Acoy Rocker Kasarunk) sebagai produser musik dan Bayu Randu (Musicblast) di bagian mixing dan mastering turut memperkuat fondasi lagu ini. Bagi mereka yang sedang berada dalam ketidakpastian rasa, &#8220;Misteri Cinta&#8221; kini sudah bisa dinikmati di berbagai platform digital dan kanal <em>YouTube Cadaazz Pustaka Musik.</em>/ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/lahir-dari-panggung-kompetisi-violinata-resmi-rilis-misteri-cinta/">Lahir dari Panggung Kompetisi, Violinata Resmi Rilis &#8216;Misteri Cinta&#8217;</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23159</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Eks Vokalis Edane Heri Batara Kembali, Gebrak Industri Musik Lewat Single &#8216;We Are Not Fall In&#8217;</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/eks-vokalis-edane-heri-batara-kembali-gebrak-industri-musik-lewat-single-we-are-not-fall-in/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2026 23:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Cadaazz Pustaka Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Edane]]></category>
		<category><![CDATA[Heri Batara]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Musisi]]></category>
		<category><![CDATA[Rock On Music]]></category>
		<category><![CDATA[Single Baru]]></category>
		<category><![CDATA[We Are Not Fall In]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23155</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Lama tidak terdengar suaranya di keriuhan panggung musik keras Tanah Air, sosok yang pernah menjadi nyawa di lini depan grup band legendaris Edane, Heri Batara, akhirnya memutuskan untuk &#8220;turun gunung&#8221;. Kembalinya sang vokalis ditandai dengan peluncuran karya terbaru bertajuk &#8216;We Are Not Fall In&#8217;. Single ini bukan sekadar lagu baru, melainkan sebuah pernyataan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/eks-vokalis-edane-heri-batara-kembali-gebrak-industri-musik-lewat-single-we-are-not-fall-in/">Eks Vokalis Edane Heri Batara Kembali, Gebrak Industri Musik Lewat Single &#8216;We Are Not Fall In&#8217;</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Lama tidak terdengar suaranya di keriuhan panggung musik keras Tanah Air, sosok yang pernah menjadi nyawa di lini depan grup band legendaris Edane, <strong>Heri Batara</strong>, akhirnya memutuskan untuk &#8220;turun gunung&#8221;. Kembalinya sang vokalis ditandai dengan peluncuran karya terbaru bertajuk &#8216;We Are Not Fall In&#8217;. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Single ini bukan sekadar lagu baru, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa napas kreativitas pria yang akrab disapa Ucok ini masih panjang dan tetap bertenaga di industri musik rock nasional. Hadir dengan kemasan musik yang tetap setia pada distorsi tajam, Heri Batara seolah ingin membuktikan bahwa waktu tidak menggerus kegarangannya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusannya untuk kembali masuk ke studio rekaman nyatanya lahir dari dorongan lingkungan terdekat dan keyakinan pribadi yang masih kuat. Heri mengaku bahwa masa vakumnya adalah waktu untuk beristirahat sejenak dari proses kreatif, namun masukan dari para kolega menjadi pemantik yang membakar semangatnya untuk kembali menulis lagu. Ia merasa masih memiliki energi yang cukup untuk bersaing dan berkarya secara mandiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara filosofis, &#8216;We Are Not Fall In&#8217; membawa pesan tentang pentingnya melangkah maju dan tidak terjebak pada masa lalu yang kurang menyenangkan. Di balik liriknya, terselip kegelisahan Heri terhadap fenomena janji-janji manis atau &#8220;omon-omon&#8221; yang kerap ditemui di berbagai sektor kehidupan belakangan ini. Melalui lagu ini, ia melontarkan pertanyaan reflektif tentang kebenaran dari sebuah janji agar kita tidak lagi terjerumus ke lubang yang sama atau salah dalam memilih jalan hidup ke depannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-23157" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/05/We-Are-Not-Fall-In-kini-sudah-dapat-dinikmati-di-berbagai-platform-digital-Ist-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>&#8216;We Are Not Fall In&#8217; kini sudah dapat dinikmati di berbagai platform digital (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Meskipun kini tampil sebagai solois, Heri Batara tetap mempertahankan citra sebagai penyanyi rock yang memiliki karakter vokal kuat dan berwibawa. Aura jantan dan liar yang pernah ia tunjukkan saat memperkuat album ikonis Edane seperti &#8216;Jabrik&#8217; dan &#8216;Borneo&#8217; masih terasa kental. Menariknya, Heri mengaku tidak mau terlalu pusing dengan label genre yang kian beragam saat ini. Baginya, esensi bermusik adalah memainkan apa yang dipahami dan dikuasai, tanpa harus sekadar mengekor tren yang sedang berlangsung, sembari tetap peka terhadap kondisi industri musik terkini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran kembali Heri Batara di bawah bendera Rock On Music yang bermitra dengan label Cadaazz Pustaka Musik diharapkan menjadi penawar rindu bagi para pecinta musik keras. <strong>Fransiscus Eko</strong> dari <em>Cadaazz Pustaka Musik </em>meyakini bahwa publik sangat merindukan sosok Heri di atas panggung. Proyek ini pun sudah direncanakan secara matang, di mana sejumlah materi lagu sudah siap diluncurkan secara bertahap sepanjang tahun ini guna mengisi daftar putar para penggemar musik rock dan metal di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses penggarapannya, Heri tidak berjalan sendirian melainkan dibantu oleh tim yang dinamis lintas generasi. Aransemen musik dipercayakan kepada Mev, sementara keterlibatan musisi muda seperti William Agathan pada gitar dan Kemal pada drum memberikan sentuhan segar. Heri mengungkapkan bahwa proses menyatukan visi antara Gen X dan Gen Z ini memang memakan waktu, terutama dalam menyamakan persepsi mengenai arah musik yang ingin dicapai. Namun, perbedaan tersebut justru memperkaya hasil akhir dari karya yang mereka hasilkan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyandang status sebagai mantan anggota sekaligus eks manajer band sebesar Edane ternyata tidak menjadi beban bagi Heri. Sebaliknya, pengalaman masa lalu tersebut ia jadikan sebagai tolok ukur dan pemacu semangat untuk menghasilkan karya solo yang setara atau bahkan lebih baik. Heri memegang prinsip bahwa jika dulu ia pernah terlibat dalam sebuah band yang bagus, maka proyek solonya saat ini pun harus memiliki standar kualitas yang tidak kalah tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, meski menggunakan namanya sebagai identitas utama, Heri ingin menonjolkan semangat komunal layaknya sebuah band dalam proyek ini. Hal tersebut terlihat jelas dari proses kreatif hingga desain visual yang menampilkan para personel pendukungnya. Ia menegaskan bahwa identitas &#8220;Heri Batara&#8221; digunakan untuk mempermudah branding, namun secara operasional tetap bergerak sebagai sebuah tim yang solid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Single &#8216;We Are Not Fall In&#8217; kini sudah dapat dinikmati di berbagai platform digital, sementara video liriknya telah tayang di kanal resmi YouTube sebagai jembatan menuju video musik yang akan segera diproduksi./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/eks-vokalis-edane-heri-batara-kembali-gebrak-industri-musik-lewat-single-we-are-not-fall-in/">Eks Vokalis Edane Heri Batara Kembali, Gebrak Industri Musik Lewat Single &#8216;We Are Not Fall In&#8217;</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23155</post-id>	</item>
		<item>
		<title>The JAZZ Big-Band, di JGTC 2026. Asyiknya!</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/the-jazz-big-band-di-jgtc-2026-asyiknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 17:15:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung Jazz Orchestra]]></category>
		<category><![CDATA[Candra Darusman]]></category>
		<category><![CDATA[Jazz Goes to Campus]]></category>
		<category><![CDATA[JGTC]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23019</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Adalah pentas jazz berformat festival yang tertua di Indonesia, begitulah “sebutannya”. Jazz Goes to Campus, “nama baptis”nya digelar perdana pada tahun 1977, di Taman Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Memang penyelenggaranya adalah mahasiswa FE-UI. Lalu selanjutnya JGTC pun dibuat sebagai event saban sekali dalam setahun. Biasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/the-jazz-big-band-di-jgtc-2026-asyiknya/">The JAZZ Big-Band, di JGTC 2026. Asyiknya!</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Adalah pentas jazz berformat festival yang tertua di Indonesia, begitulah “sebutannya”. Jazz Goes to Campus, “nama baptis”nya digelar perdana pada tahun 1977, di Taman Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Memang penyelenggaranya adalah mahasiswa FE-UI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu selanjutnya JGTC pun dibuat sebagai event saban sekali dalam setahun. Biasanya di penghujung tahun. Panggungnya, di kesempatan awal, terbilang “sederhana”. Nah, hebatnya JGTC mampu mengundang dan lantas memanggungkan banyak musisi jazz terkemuka tanah air. Perlahan tapi pasti, menjadi panggung jazz yang mampu menarik minat kaum muda untuk datang menonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin ya, dikarenakan di saat itu, acara-acara jazz terbilang masih terbatas. So, JGTC pun berhasil memiliki magnet, menarik perhatian publik. Dibikinnya biasanya sekitar siang hari. Mendekati senja, sudah selesai. Memang ga lama…</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan adalah musisi, doski pianis yang juga penulis lagu dan aranjer cum produser, Candra Darusman yang menjadi salah satu “dokter kandungan”. Maksudnya, “dokter” yang melahirkan JGTC tersebut. Saat itu tentu saja, dia masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. “Anak” Ekonomi sih, tapi yang menjadi bidan dari kelahiran JGTC tersebut. Sebenarnya, bidan atau dokter kandungan dan kebidanan? Memang seorang Candra yang jadi motor dalam pendirian JGTC. Dimana setelah itu, ia lalu dikenal sebagai pendiri dan pianis dari kelompok Chaseiro. Isinya, anak-anak UI juga tapi lintas fakultas.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23020" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-dengan-konduktor-Brury-Effendi-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Bandung Jazz Orchestra, dengan konduktor Brury Effendi (dM)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Setelah Chaseiro, Candra merilis 2 buah album solo. Yang penjualannya eh lumayan lho di pasaran. Menjelang memasuki pertengahan 1980-an, Candra memasuki grup band Karimata. Eits, sedikit aja intermezzo tentang Candra ya. Maaf, permisi sejenak….</p>



<p class="wp-block-paragraph">Back to the Festival. Then, JGTC memang terjaga rutinitasnya sebagai event tahunan dengan bisa dibilang gengsinya semakin meninggi saja. Dan dari hanya 2 atau 3 grup yang tampil, pada tiap penyelenggaraannya. Terus bertambah menjadi 4 atau 5 grup band. Dimana pada melampaui dekade pertama era 2000-an, JGTC tampil dengan multi-stage. Tentu saja, performers nya bertambahlah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan kemudian JGTC memiliki event-event tambahan. Yang melengkapi event festivalnya. Antara lain adalah penyelenggaraan kompetisi untuk grup jazz muda. Yang berhasil menelurkan banyak bakat yang “baik dan benar”. Notabene bisa disebut sebagai para musisi generasi kemudian dari jazz Indonesia. Seperti tahun ini, JGTC menggandeng Pemerintah DKI Jakarta, untuk menyelenggarakan event pre-festival. Pre-eventnya berbentuk konser spesial. Menampilkan Jazz Bigband, dengan mayoritas musisi muda. Ditampilkanlah Bandung Jazz Orchestra. Dengan konduktor Brury Effendi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah ide lumayan nampol. Ada konser spesial, pakai bigband dan isinya mayoritas musisi muda. Menarik kan? Tentu saja dong. Tak hanya itu saja, ada 2 penyanyi muda juga yang tampil, Alonzo Brata dan Rosemary Jane. Dengan karakter suara nan khasnya. Jelas, menambah keunikan sajian konsep acara ini. Lagi-lagi, dua-duanya penyanyi “next-generation” pastinya….<br></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada speech secukupnya, <em>Wakil Gubernur DKI Jakarta</em>, <strong>Rano Karno</strong>, mengucapkan harapannya, semoga acara ini bisa jadi momentum menuju peringatan 50 tahun penyelenggaraan JGTC. Sekalian juga sebagai bentuk dukungan kelak, atas 500 tahun usia kota Jakarta di tahun 2027 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pandangannya, Rano Karno juga menyampaikan, JGTC tak hanya menyuguhkan keindahan jazz. “Tapi juga menjadi panggung ide, ekspresi dan kolaborasi yang akan memperkuat identitas Jakarta sebagai kota Global Berbudaya.” Lanjutnya lagi, seni tidak hanya berkaitan dengan estetika semata, tetapi sekaligus menjadi penggerak ekonomi.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23023" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Tohpati-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Tohpati (dM)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><br>Maka, tambah Rano, “Berbagai ruang kreatif mempunyai peran signifikan dalam menciptakan ekosistemekonomi kreatif yang berkelanjutan. Sekaligus menghadirkan akses yang lebih luas, bagi pelaku kreatif. Untuk terus berkarya dan berinovasi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harapannya, semoga JGTC dapat terus berkembang sebagai ruang bersama, yang mendorong kreatifitas. Menggerakkan perekonomian, lalu memperkuat budaya lokal. Serta membuka ruang kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ekonomikreatif yang inklusif dan berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara pada Sabtu malam itu dimulai dengan sharing-session. Menampilkan para pembicara Sri Hanuraga (musisi muda), Chico Hindarto (alumni FE-UI sekaligus promotor jazz dan mantan Ketua Umum Forum Jazz Indonesia), Agus Setiawan Basuni (penggerak jazz, sekaligus wartawan). Dan tentunya, Candra N. Darusman, sang founder JGTC.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seusai sesi obrolan Santai, yang dipandu oleh Kepra tersebut. Kemudian panggung diisi oleh Bandung Jazz Orchestra. Sebuah kelompok bigband jazz, datang dari Bandung. Dengan berisikan selengkapnya, deretan rhythm-sestions dengan Nadine Adrianna (electric piano), Donny Herdanto (keys), Ilham Septia Indra Nugraha (electric bass), Gilang Fauzi Pratama (electric guitar), Reyhan Susanto dan Filipus Cahyadi (drums) serta perkusi, Muhammad Rifqy Hakim.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="900" height="450" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23021" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM.jpg 900w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Bandung-Jazz-Orchestra-Tohpati-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 900px) 100vw, 900px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Bandung Jazz Orchestra &amp; Tohpati (dM)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pasukan tiup terdiri dari Muhamad Raafi Dipoaji (tenor sax), Mohamad Rifkiansyah (tenor sax), Jilan Luandri Hakim (alto sax), Deiva Muhamad Fiqry (alto sax), Bonny Buntoro (bariton sax). Lalu Trombone 1 oleh Alden Jatiwastika Yunanto. Trombone 2 oleh Kristian David. Trombone 3 oleh Aldy Nugraha Ruhyat. Lalu Bass Trombone oleh Muhammad Yogi Malachim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trumpet 1 Fairuz Triadi. Lalu, Trumpet 2 oleh Deni Alamsyah. Trumpet 3 dengan Iwan Hermawan dan Muhammad Naufal Dhiya’ulhaq. Dan, trumpet 4 oleh Diana Saraley. Sang conductor, Brury Effendi pada beberapa lagu atau part juga bermain trumpet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka menyuguhkan tak kurang dari 12 komposisi. Dengan dukungan aransemen big band oleh beberapa aranjer tamu. Antara lain ada Adra Karim, Ari Renaldi, Erwin Gutawa dan Tohpati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembuka adalah ‘Overture’ , kemudian “There’ The Rub.” Lalu ada “Oh ya”, “Bewitched” dengan Rosemary Jane sebagai vokalis. Selanjutnya ada, “Spain”. Diteruskan dengan “Bento” yang menampilkan Alonzo Brata. “Di Batas Waktu”, “Sketsa”. “Layang – Layang”, dengan duo Rosemary Jane dan Alonzo Brata. Selain itu ada “Secret Agent”, Maestro” dan “Asmaraku Asmaramu”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adra Karim tidak sempat hadir karena sedang di luar Jakarta. Ari Renaldi menjadi konduktor pada sesi terawal. Sementara Erwin Gutawa datang menonton, duduk manis di antara penonton. Adapun Tohpati, hadir pula dengan gitarnya, menjadi gitaris. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah jazz di malam minggu yang lumayan menyegarkan jiwa dan rohani. So, ditunggu akan pre-event lainnya yang menyehatkan dari JGTC. Siap hadir saat Festival JGTC nanti? Ngh, gimana ya. Ingat-ingat sudah beberapa tahun memang tak sempat hadir menonton langsung. Kayaknya dari sebelum pandemi covid, ga pernah sempat menonton. Jadi, tahun ini gimana?/ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | Gideon Momongan</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/the-jazz-big-band-di-jgtc-2026-asyiknya/">The JAZZ Big-Band, di JGTC 2026. Asyiknya!</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23019</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan, Arief Setiadi&#8230; Sahabatnya Banyak Orang…</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/selamat-jalan-arief-setiadi-sahabatnya-banyak-orang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 06:51:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Arief Setiadi]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musisi]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Obituary]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=23013</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sebuah catatan pinggir dari Gideon Momongan…. JAKARTA &#8211; Aduh kangBro, tiba tiba sekali dapat berita kepergianmu. Begitu mendadak, bikin terhenyak. Walau mungkin, sudah dalam beberapa waktu belakangan ini, memang terlihat betul penurunan pada kondisi kesehatanmu. Diabetes, telah menggerogoti pelan tapi pasti tubuhmu ya… Tentu saja, so pastilah dirimu teramat baik, baik ke semua orang sebenarnya. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/selamat-jalan-arief-setiadi-sahabatnya-banyak-orang/">Selamat Jalan, Arief Setiadi&#8230; Sahabatnya Banyak Orang…</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading"><em>Sebuah catatan pinggir dari Gideon Momongan….</em></h2>



<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Aduh kangBro, tiba tiba sekali dapat berita kepergianmu. Begitu mendadak, bikin terhenyak. Walau mungkin, sudah dalam beberapa waktu belakangan ini, memang terlihat betul penurunan pada kondisi kesehatanmu. Diabetes, telah menggerogoti pelan tapi pasti tubuhmu ya… Tentu saja, so pastilah dirimu teramat baik, baik ke semua orang sebenarnya. Ya kayak ke gw dan istri, ada begitu banyak kenangan denganmu, untuk kami berdua. Banyak canda!. Bisa dibilang, kalau kita berjumpa, 90% isinya becanda. Yoi, becanda kesana-kemari. Seriusnya? Mungkin 30-40% kali ya? Lha kok lebih dong? Gimana sih?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan bahkan sampai kita berdua bisa terpingkal-pingkal sendiri. Terdengar kek “meledek atau ngata-ngatain”. Tapi konteksnya ya becanda. Mana mungkin marah? Misal gini nih, soal duit kecil, recehan…. Elo ada duit, nteu? Nih gw ada,….diapun lantas memberikan dua ribu rupiah. Bulan depannya, saya gantian tanya, ada duit ga? Sayapun memberikan dia dua ribu rupiah… Kadang nanyanya, ada ongkos pulang ga? Maka yang dikasih juga hanya seribu atau dua ribu doang. Pernah dia ngasih ke saya lima ribu, katanya, nih elo bengong aja pasti lagi ga punya duit, gw kasih elo nih….</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu becandaan khas saya dengan pemain tiup legendaris satu ini. Dulu “jagoan” Bandung. Sapa tak kenal Arief… Jesus panggilannya. Karena menurut banyak musisi Bandung, Arief dulu itu memang kayak Jesus, mana gondrong lagi….</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23015" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Husein Arief Setiadi, begitu nama lengkapnya. Gampang aja, ada nama Husein, karena rumahnya dulu dekat dengan lapangan terbang, Husein Sastranegara, di Bandung. Anak bungsu dari 5 bersaudara, putra dari pasangan Soekotjo dan Siti Widamar Koentowiyatie. Yang jadi musisi, kayaknya hanya dia seorang. Apalagi yang jadi profesional, terus dan sampai sekarang. Sampai kapan, kangBro? Gila nanyanya elo, eh masak begitu jawabannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanya dong, guru gw pertama siapa? Ok kang, siapa Imam Prass? Oh itu pianis juga, dia tuh murid pianoku pertama. Gitu ceritanya. Lalu nyambung lagi, nah ini bener nanya begini…. Jadi Imam itu, belajar piano, tapi dia juga bawa flute. Dia bisa flute juga, lalu saya bilang aja, eh itu apaan? Bisa? Kalau bisa ajarin dong. Dari situlah, ia mengenal dan langsung belajar flute.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah itu adalah tulisanku di websiteku, di upload pada April 2016. Tepat 10 tahun lalu. Memang aku pernah menulis tentang Arief lumayan panjang dan cukup detil. Sangat memungkinkan untuk itu, ya karena sering bertemu di saat aja. Seneng gimanalah gitu…. Ini boleh ya, aku copas dari website, di”pindahin” ke sini? Permisi. Gini….</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arief Bijaksana, begitu Indra Lesmana pernah memperkenalkannya di atas panggung. Waktu dia main dengan Indra Lesmana Reborn. Dan kalau sekarang (ya maksudnya pada masa itu ya…), dia salah satu pemain tiup paling senior yang masih bertahan. Terus eksis. Senang bersepeda sehat, tapi sudah ditinggalkan. Senang dengan mobil-mobil Jerman. Dia punya VW kodok, itu dibeli ayahnya dulu, beli baru banget di 1967. Sekarang jadi kendaraan setianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mau dijual ga, kodoknya, kangBro? Sambil ketawa dia becanda, elo punya duit berapa? Ga bakalan cukup duit elo, ini mahal banget. Tangan pertama. “Saya mah ga pernah kepikiran mau jual kodok ini. Mungkin ya,mungkin kalau saya udah gila, ga keinget apa-apaan, mungkin aja saya jual. Tapi begitu inget, begitu sadar lagi, pasti saya minta balik…!” Kita ketawa seru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlalu bersejarah ini VW Kodok, jelasnya lebih lanjut. Bayangin aja, tangan pertama dari bokap lalu aku terusin memakainya, merawatnya total lah. Sampai satu ketika, gw bisa bawa ke panggung segala! Nah ni dieee, kita berdua tertawa lebar. Iya, VW Kodok Arief memang pernah jadi background stage acara saya di Graha Bhakti Budaya TIM.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu kegilaan elo dan Bintang kan, ia mengingatkan. Iya, jadi memang VW naik panggung, itu sih karena idenya Bintang Indrianto. Kan Arief main dengan Phylosophy ABG, ya dengan Bintang dan Gerry Herb. Ada band lain waktu itu sih, semua format trio. Dari Nikita Dompas Trio, Donny Suhendra Trio dan Indro Hardjodikoro Trio. Edun lah…</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23016" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arif-Setiadi-bersama-Bintang-Indrianto-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Balik&nbsp;deui&nbsp;ke akang Jesus eh akang Arief. Kemarin ini, dia sakit. Ga jelas apaan, tapi dia kayak terkena sakit di paru-paru. Dia harus berobat dengan intens. Dia ga pernah bilang, sakit apa. Tapi yang jelas, berat badan memang menurun rada drastis. Ya kan kelihatan dari mukanya saja, makin…tiris gitu. Hidup sehatlah, kangBro.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemain saxophone kayak dia, dengan level usia dia, jangan-jangan tinggal Arief Setiadi seorang. Seniorennya, macam Maryono, Udin Zach dan Embong Rahardjo. Ketiganya sudah pulang duluan ke rumahNYA. Arief juga mengaku bingung, kenapa ya para musisi senior, yang notabene pemain tiup itu cepat bener pergi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal mereka penting dan berarti bagi musik Indonesia, begitu ucap Arief. Iya,saya setuju, kang. Mereka penting, tak hanya sebatas jazz. Lihat saja, rekaman musik, terutama pop atau jazz-pop di era 1980-1990an. bisa dibilang semua pengisian instrumen tiup untuk saxophone dan flute. Kalau tidak Embong ya Udin Zach. Semua pementasan jazz, pasti ada Maryono, selain Embong dan Udin Zach juga. Ditambah Trisno, bisa juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan menggantikan mereka, susah. Menurut Arief, ”Dari ketiga musisi tiup itu, mereka emang pemain tiup bagus. Semua idola saya, karena mainnya berkarakter banget. Saya senang lihat mereka main. Inspiratif gitu. Saya mah masih jauh dari mereka…”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Susah ga sih menjadi pemain tiup? “Susah? Ga juga. Kalau hanya menebak atau mengira-ngira, ya susah. Sekedar bisa main, meniup gitu, mungkin sih ga susah. Sedikit lebih susah kalau mau serius, jadi musisi bermain alat tiup dengan benar.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu ia mengatakan lagi,”Kalau mau main tiup dengan benar, terutama saxophone ya, perhatikan aja bener-bener soal menghasilkan suara yang enak dulu.&nbsp;Sound production. Itu paling dasar deh. Mau pakai sopran, alto atau tenor dan bariton sekalipun. Ya berikutnya, memang soal alat penting juga. Saxophone itu ada berbagai jenis, ada yang untuk main-main saja, ada yang menengah, ada yang untuk profesional.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia lantas menunjukkan contoh, sekarang banyak saxophone yang bagus, keren, mengkilat. “Ya bagus, lebih menarik. Biar saja, bagus untuk bikin orang jadi suka kan? Untuk bikin orang jadi pengen belajar. Nanti kalau mau serius, baru cari yang memang untuk beneran, untuk profesional. Persoalannya, peralatan kayak saxophone yang bagus itu memang sih ga murah…”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali kita menjumpai akang yang bijaksana dan jago maen alat tiup ini. Padahal dia sebenarnya,bisa dibilang,&nbsp;multi-instrumentalist euy.Semua alat juga bisa. Bahkan…tak ada akar, kayupun berguna. Eh, ga kebalik? Ah gini yang penting, tak ada saxophone, tas plastik kresek juga bisa dipakai. Buat bawa barang belanjaan, ya kan? Eits, tar dulu. Tas plastik kresek itu bisa<br>jadi…alat musik! Di tangan Arief, tas plastik begituan bisa diberdayagunakan dengan maksimal. Dasar orangnya kreatif dan kritis! He he he.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Emang bisa dipakai dong, jadi kayak alat perkusi, begitu ungkapnya. Ketika dia bunyikan, mirip suara&nbsp;shaker. Atau juga,&nbsp;cabassa&nbsp;ya? Dia mengaku, dia melihat musisi di Australia memakai alat musik plastik kresek gitu. “Udah lama lupa euy. Eh baru keinget lagi. Jadi sering sengaja nyiapin tas plastik begitu, masukkin kantong celana,” lanjut Arief lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, Arief masih terus main dengan rutin. Sesekali, masih bermain dengan Indra Lesmana Reborn, dengan catatan kalau memang diajak, begitu jelasnya. Tapi grup tetapnya memang Phylosophy ABG. Selain itu dengan Nial Djoeliarso. Masih ada juga, grup akustikan gitu. Dimana Arief bermain dengan Oele Pattiselanno dan Jeffrey Tahalele. Awalnya, formasi lengkap dengan drummer Jacky Pattiselanno dan pianis Glenn Dauna juga. Tapi saat bung Jacky sakit, akhirnya diteruskan dalam format trio saja.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM.jpg" alt="" class="wp-image-23017" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Arief-Setiadi-2-dM-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Lanjut ya. Boleh ga? Di saat itu, seingatku, ia juga mengajar. Di sekolah musiknya Otti Djamalus dan Yance Manusama, di kawasan Radio Dalam. Menurutnya, selalu ada saja anak-anak yang kepengen mencoba belajar saxophone. Sebagian sih ada yang terus dan jadi musisi tiup beneran. Walau ada juga yang kelihatannya, hanya pengen tahu saja. Tapi bagusnya, lanjut Arief, sebagian besar anak-anak muridnya sekarang sudah mempunyai saxophone sendiri. Modal mereka lumayan ya ga?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, ia sesekali kerap mengajarkan secara private untuk orang-orang tua. Ya ada juga yang kayak pejabatlah, petinggi gitu. Yang kepengen bisa main saxophone. Banyak yang serius lho, jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Well, menyenangkan betul ngobrol dengannya. Ia memang unik, periang. Tentu saja, juga jenaka. Peramah dan sopan. Lalu? Menyangkut Arief, memang ya uniknya begitu. Pemain piano sebetulnya. Ia pernah belajar piano klasik, beberapa waktu. Semua anak belajar musik, begitu ceritanya. Ga heran sih, ayahnya itu memang pemain biola dan ibunya sempat menyanyi. Tapi dari piano lalu pindah ke flute, dan saxophone. “Pernah dikasih sebuah saxophone sama keluarga saya, jadi makin seneng maininnya. Sekarang sih udah ga ada saxophone itu,”ceritanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia saya temui pertama kali di Bumi Sangkuriang. Waktu ia masih menjadi pianis&nbsp;Wachdach, itu lho grup legendaris Bandung. Kalau di Jakarta pernah ada Gold Guys di Green Pub, nah di Bandung itu Wachdach. Arief “Jesus” adalah pianisnya. Saya mah cuma nonton aja. Lihat, sambil nongkrong dengan teman-teman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi, di Wachdach juga, kemudian Arief pindah instrumen, ya ke tiup. Flute dulu, baru saxophone. Dari&nbsp;Wachdach, grup berikutnya adalah&nbsp;Straight Ahead. Dan kemudian, penggemar Scott Hamilton dan Oscar Petterson ini, baru saya ketemu lagi di…studionya&nbsp;Bintang Indrianto. Waktu itu mereka rekaman&nbsp;Jazzy Duet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari situlah, persahabatan begitu lengketnya dengan Bintang Indrianto dimulai. Ya, sampai ini harilah. Rekaman Jazzy Duet, lantas&nbsp;Jazzy Sax, sebagai solo album pertamanya. Ia mengisi banyak rekaman lain, yang diproduseri Bintang. Namanya juga, bassis paling aktif en paling kreatif. Soal itu, Arief juga langsung bilang, Bintang mah susah dicari tandingannya soal aktif, kreatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Idenya banyak banget. Dan suka ngagetin dan mendadak, juga unsur spontannya gede. “Asyik dan seru kalau dengan Bintang. Baik soal ide, juga mainnya. Kalau soal main, ga pernah sama mainin satu lagu itu…,” Arief terkekeh-kekeh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu kegilaan Bintang adalah membentuk Phylosophy ABG Trio. Namanya itu, sekian waktu Bintang aja ga ketemu. Mungkin lebih tepatnya,kurang begitu peduli. Yang penting memang musiknya. Cerita Arief, saking free-nya musiknya itu, sampai rekaman aja di stasiun! Dilihatin orag, ah udah hajar aja, musisi kan kita…. Hahahaha, musisi niii yeeee. Dan kerjaan rada iseng itu, rekaman di stasiun, eh beneran masuk album. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu album pertama ABG Trio, yang bertajuk Phylosophy. Dimana cover depannya adalah…VW kodok 1967 milik Arief! Masih ada yang lebih seru, Trio itu mau main di Salihara, dalam waktu sangat cepat, Bintang minta Arief dan Gerry Herb untuk bikin solo album! Buat apaan? Ya, buat dijual waktu di Salihara itu. Jadilah album paling unik. Yaitu ketiga personil Trio itu, masing-masing ada album solo. Isinya? Ya saxophone saja, drums saja dan bass saja. “Bintang bikin dengan cepet banget. Gendeng sih, tapi asyik banget kan? Mana pernah kebayang, bikin solo album asli saxophone aja?” Arief lagi-lagi senyum lebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya juga baru inget ide gokil itu. Bintang tiba-tiba saja punya ide itu. Rekaman dibuat sangat cepat, langsung di duplikasi. Jadilah album. Ya memang ada 3 album. Saya inget, Bintang pernah bilang,”Nanti kita lihat saja, siapa yang paling laku albumnya, berarti dia paling banyak fansnya…” Hahahaha. Ada-ada saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arief juga pernah mengembara di Australia, ngendon beberapa tahun di Sydney. Ia sempatkan belajar dengan gurunya, Dan Burrows. Iya, jadi ceritanya dia kursus dengan gurunya itu. “Lha sering ketemu, malah diajak main bareng. Ya gitu deh, saya mah seneng-seneng aja.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pulang dari negeri Kangguru itu, Arief balik jadi musisi lagi. Nah ia makin sering di Jakarta jadinya, malah pindah menetap di Depok. Bandung dia tinggalin. Sampai di 1996 dan 1997, dia sempat tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag. Dia inget, dia tampil di Belanda antara lain dengan&nbsp;Oele Pattislanno,&nbsp;Yance Manusama, grupnya namanya&nbsp;Mahadewa. Penyanyinya itu,&nbsp;Warren Wiebe, yang ditemenin kibornya. “Saya lupa nama kibordisnya. Tapi saya inget-inget, waktu itu drummernya&nbsp;Inang Noorsaid, kalau ga salah. Ada juga&nbsp;Eka Bhakti&nbsp;ikut main.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Catatan saja, Warren Wiebe itu penyanyi yang diajak kerja bareng David Foster. Lagu,’This Must Be Love’ dari album&nbsp;River of Love, dinyanyikan oleh Wiebe bersama Jeff Pesceto. Dalam album yang dirilis oleh Atlantic di&nbsp; penghujung tahun 1990 itu, Wiebe juga menyanyikan lagu lain seperti,’Living for a Moment’ dan ‘Is There a Chance’. Salah satu album David Foster yang cukup populer di sini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah tragisnya, setahun setelah mereka main di North Sea itu, jadi di 1998, Wiebe ditemukan meninggal pada 25 Oktober. Ia meninggal karena bunuh diri, dengan menembak pakai pistol. Menurut kabar, ia diduga stress berat saat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para pembaca yang budiman. <em>Seriously</em>, tulisan aseliku di websiteku lumayan panjang. Kalau diterusin, lumayan juga sih. Aku pilih untuk copas, tiada alasan lain, atas nama<em> respect and appreciation</em> terhadap “Si” Arief nan lincah itu. Kepergiannya pada Minggu 19 April 2026 memang mengejutkan, dan membuat sedih. Banyak orang pasti bersedih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Musisi yang penuh persahabatan itu telah pergi, untuk selama-lamanya. Meninggalkan banyak kenangan, memori yang pastinya sulit dilupakan. KangBro Arief, sayang lama juga kita tak jadi-jadi untuk bertemu ya. Hampura, kangBro. Hampura juga, rekaman wawancara dengan dirimu di “podcast”ku tahun 2015 lalu, akhirnya ga jelas “nasib”nya dan tidak tayang-tayang juga. Padahal banyak sekali cerita seru di dalamnya… Ngobrol hampir 2 jam!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi baiknya, elo udah ga sakit lagi. Elo sakit kan, kondisi tubuhmu terlihat menurun terus. Elo terbebaskanlah dari sakitmu. Hatur nuhun untuk persahabatan seru kita, bro. Miss you so much…/ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | Gideon Momongan</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/selamat-jalan-arief-setiadi-sahabatnya-banyak-orang/">Selamat Jalan, Arief Setiadi&#8230; Sahabatnya Banyak Orang…</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">23013</post-id>	</item>
		<item>
		<title>80 Tahun Sudah Usia Oele Pattiselanno! Dan dipersembahkanlah…Remember March</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/80-tahun-sudah-usia-oele-pattiselanno-dan-dipersembahkanlahremember-march/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 00:13:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Oele Pattiselanno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=22940</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; What, sudah 80 tahun usianya! Oho, incredible! Bayangkanlah, ia masih sehat dan segar, aktif terus bermain musik. Masih main regular lho. Dengan kerapkali menenteng gitarnya sendiri. Dan astaga, still smoking! Ia merokok elektrik. Dia adalah Julius Sjoerd Pattiselanno, begitu nama lengkapnya saat kelahirannya. Ah, always happy ya?. Hati yang gembira adalah obat, ya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/80-tahun-sudah-usia-oele-pattiselanno-dan-dipersembahkanlahremember-march/">80 Tahun Sudah Usia Oele Pattiselanno! Dan dipersembahkanlah…Remember March</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; <em>What</em>, sudah 80 tahun usianya! <em>Oho, incredible! </em>Bayangkanlah, ia masih sehat dan segar, aktif terus bermain musik. Masih main regular lho. Dengan kerapkali menenteng gitarnya sendiri. Dan astaga, still smoking! Ia merokok elektrik. Dia adalah Julius Sjoerd Pattiselanno, begitu nama lengkapnya saat kelahirannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ah, always happy ya?. Hati yang gembira adalah obat, ya kan? Iapun tersenyum dan mengangguk “Ya amin,” jawabnya pelan. Jadi terlihatlah ia tetap saja sehat dan segar. Tetap bisa bermain musik terus, tanpa “gangguan” berarti. Melanjutkan perjalanan bermusiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, dia adalah seorang <strong><em>Oele Pattiselanno</em></strong>. Ayahnya adalah seorang musisi, bermain untuk sebuah kelompok musik Hawaiian, di kota Surabaya. Lahir di kota Malang, tapi masa kanak-kanak dan remaja Oele muda dihabiskan di Surabaya. Remaja beranjak dewasa, dihabiskan di kota Bandung dari 1968 ke 1970. Barulah ke Jakarta, sejak tahun 1970 itu, dan menetap seterusnya di ibukota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oele terlahir dari pasangan Piet dan Nini Pattiselanno. Dengan kedua adiknya, Jacky Pattiselanno dan Perry Pattiselanno juga musisi, yang aktif bermain regular sampai akhir hayat mereka. Kedua adik kandungnya telah tiada.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan.jpg" alt="" class="wp-image-22943" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Oele-Pattiselanno-2-Gideon-Momongan-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Perry meninggal dunia pada November 2005. Ia menjadi salah satu korban tewas saat tragedi bom yang diledakkan teroris di kota Amman, Jordania. Dan Jacky meninggal dunia di Jakarta pada 12 September 2017, karena sakit. Ketiganya pernah membuat grup band “keluarga”, The Pattiselanno Brothers atau The Pattiselanno’s, yang sempat tampil di beberapa konser dan festival jazz di tanah air.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oele menyebut nama Jack Lesmana (dulu, Jack Lemmers) sebagai guru musiknya yang utama. Sejak ia di Surabaya. Guru yang ngemong dan cukup sabar mengajarkan. “Setelah beberapa tahun bertemu dan belajar dengan Jack Lesmana, lalu aku pindah ke Bandung. Dari Bandung, pindah ke Jakarta dan bertemu lagi dengan Jack Lesmana. Nerusin belajar sebenarnya…,”cerita Oele.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi kemudian Jack Lesmana mengajaknya rekaman. Sampai juga ikut manggung, terutama di Taman Ismail Marzuki. Ia antara lain akhirnya mendukung rekaman Margie Segers dan Rien Djamain. Dari dirinya, lalu kedua adiknya juga berguru dengan Jack Lesmana. Salah satu kesempatan bagus di awal saat di ibukota, Oele dan Perry pernah ikut mendukung pergelaran yang terbilang “bersejarah”. Konser Jazz Masa Lalu dan Kini, yang diadakan Jack Lesmana, tentu dibantu istrinya, Nien Lesmana, di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki, Mei 1976.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu diketahui, pada acara tersebut, yang direkam dan diedarkan rekaman live-nya dalam format kaset, “diperkenalkan”lah Indra Lesmana muda. Masih muda banget, 10 tahun lho. Indra tampil bermain piano elektrik, memainkan ,”All In Love is Fair”. Ia bermain dipangku, karena kakinya belum bisa menyentuh pedal piano saat itu. Dipangku Broery Pesolima (tapi ada juga yang menulis, Indra dipangku Bubi Chen).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konser bersejarah tersebut, menampilkan nyaris seluruh musisi jazz terkemuka saat itu, antara lain The Jazz Riders, kelompok jazz legendraris. Juga dua vokalis perempuan, Mona Sitompul dan Rien Djamain. Selain Abadi Soesman, Kiboud Maulana, Dullah Suweileh, Benny Likumahuwa dan lainnya. Menjadi bersejarah karena baru kali itu dilakukan perekaman langsung. Dan hasil rekaman dijual kemudian, dalam format kaset. Album tersebut adalah rekaman live pertama di Indonesia.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan.jpg" alt="" class="wp-image-22941" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Oele-Pattiselanno-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Cendi Luntungan, Oele Pattiselanno, Yance Manusama (Gideon Momongan)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke seorang Oele Pattiselanno, yang mengaku memang menyukai betul jazz. Juga menyukai gitar model hollow-body. Gitaris idolanya sejak dulu adalah Jim Hall dan Joe Pass. Ia juga banyak menyimak rekaman dari Wes Montgomery. Saat ini gitarnya adalah, salah satu gitar legendaris (untuk jazz), Gibson ES 335. Ia juga punya satu gitar akustik merek Dragon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Oele, ia sekian lama mengidam-idamkan gitar legendaris lain, Gibson juga. Tapi tipenya ES 175. “Susah mendapatkannya. Memang juga ga murahlah. Lama banget saya mendambakan bisa punya, tapi belum berhasil juga sampai saat ini…”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adalah 3 sosok pemusik kawakan Indonesia, yang menjadi tokoh panutan Oele. Ia menyebut nama Lody Item, yang adalah ayah dari Jopie Item. Lalu Sadikin Zuchra. Dan juga, tentunya, Jack Lesmana. Satu nasehat dari gurunya, Jack Lesmana pada dirinya, yang diingatnya selalu. Kata Jack Lesmana, “Selalu jadilah dirimu sendiri. Tak perlu berusaha menjadi orang lain.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu pada tahun 2018. Oele pun bertemu dengan dua sahabat, Dewa Budjana dan Tohpati . Mereka berdua mempunyai ide untuk mengajak Oele rekaman solo album. Sempat dikerjakan, memakai studio pribadi Tohpati di rumahnya di Bintaro.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi lantas terhenti. Karena kesibukan mereka masing-masing. Tak bisa dihindari, jadi rencana itu terbengkalai. Masuk di awal 2026, mereka tetiba kepikiran dengan rencana itu. Merekapun menyolek lagi Oele. Oele menyambut hangat ajakan tersebut. “Hayo, mumpung aku masih hidup”. Pernyataan Oele itu yang seperti menyadarkan baik Tohpati maupun Budjana, kali ini harus selesai nih. Harus kejadian, solo albumnya. Kebetulan ada momentum ulang tahun ke 80 itu.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan.jpg" alt="" class="wp-image-22942" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Cendi-Luntungan-Dewa-Bujana-Oele-Pattiselanno-Tohpati-Yance-Manusama-Gideon-Momongan-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Cendi Luntungan, Dewa Bujana, Oele Pattiselanno, Tohpati, Yance Manusama (Gideon Momongan)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Rencana tersebut didasarkan atas apresiasi dan respek Tohpati dan Budjana terhadap senior mereka, yang sampai saat ini tetap eksis. Masih aktif bermain. Yang pada saat pelaksanaannya lagi, dimulai pada Maret 2026, ternyata juga disambut hangat oleh banyak musisi. Mereka bersedia ikut mendukung rekaman Oele Pattiselanno dengan sangat bersemangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka ada para musisi orkestra, yang sebagian berdomisili di kota Yogyakarta. Lalu para musisi muda seperti Barry Likumahuwa, Odi Purba, Rega Dauna, Rio Manuel, Timoti Hutagalung. Termasuk penyanyi, Dira Sugandi. Selain itu diajak serta juga, Cendi Luntungan dan Yance Manusama dan Indra Lesmana. Selain perkusionis, Andika Monoarfa, yang menyediakan pula studionya, Bro’s Studio untuk menjadi salah satu studio rekaman album tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai solo album perdananya adalah, Oele Plays Standard, diedarkan pada tahun 2006 oleh Musikita. Label tersebut milik musisi Dwiki Dharmawan. Dalam album itu, Oele bermain bersama 4 musisi asal Belanda. Yaitu, drummer Peter Ypma, pianis Erick van de Lutj. Ada Marcus Beets, memainkan contrabass, dan Ab Schaap (tenor saxophone).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau mendukung proyek rekaman lain, ada beberapa lainnya sebenarnya. Antara lain bisa disebut Talks yang adalah kolaborasinya dengan Riza Arshad, yang memainkan akordeon. Lalu album Jazz Masters dari Benny Likumahuwa. Atau, OST film Rumah Ketujuh dari Indra Lesmana. Ada juga album, Doa dan Restumu, dimana Oele bermain dengan Arief Setiadi dan Jeffrey Tahalele.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun album dari Oele Pattiselanno, yang bersama Dewa Budjana dan Tohpati tersebut bertajuk, Ode to You. Pada 22 April 2026, diedarkan terlebih dahulu, single berjudul, “Remember March”. Dan pada album yang direncanakan diedarkan dalam bentuk CD di bulan Mei mendatang, memuat 8 komposisi. Ada karya mereka bertiga, “Remember March” dan “Ode to You”.. Selain karya Tohpati dan Budjana.. Ada 2 karya Oele Pattiselanno sendiri adalah “Lullaby” dan “Song for Geva”. Terselip juga lagu standard, “Body and Soul”, oleh Johnny Green.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meneer Oele Pattiselanno, God zij met u. Sukses untuk albumnya, tentu juga selamat kepada Dewa Budjana dan Tohpati. Album tersebut tentu saja menjadi album yang layak betul untuk dimiliki para penggemar musik Indonesia, terlebih untuk para penyuka jazz./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | Gideon Momongan</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/80-tahun-sudah-usia-oele-pattiselanno-dan-dipersembahkanlahremember-march/">80 Tahun Sudah Usia Oele Pattiselanno! Dan dipersembahkanlah…Remember March</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22940</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Format Baru Buitenstage, Musisi Kini Lebih Puas Unjuk Gigi di Panggung</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/format-baru-buitenstage-musisi-kini-lebih-puas-unjuk-gigi-di-panggung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 23:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Brokenscene]]></category>
		<category><![CDATA[Buitenstage Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Cadaazz Pustaka Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[Gigs Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Joanna Andrea]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Independen]]></category>
		<category><![CDATA[RANGR]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=22878</guid>

					<description><![CDATA[<p>BOGOR &#8211; Udara malam Bogor yang sejuk di Kopi Wangsa terasa berbeda pada Kamis malam, 9 April 2026 beberapa pekan silam. Ada getaran gairah baru yang menjalar di antara para penikmat musik yang berkumpul di sana. Malam itu bukan sekadar edisi kelima dari gelaran musik kolektif Buitenstage, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang bagaimana sebuah panggung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/format-baru-buitenstage-musisi-kini-lebih-puas-unjuk-gigi-di-panggung/">Format Baru Buitenstage, Musisi Kini Lebih Puas Unjuk Gigi di Panggung</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">BOGOR &#8211; Udara malam Bogor yang sejuk di Kopi Wangsa terasa berbeda pada Kamis malam, 9 April 2026 beberapa pekan silam. Ada getaran gairah baru yang menjalar di antara para penikmat musik yang berkumpul di sana. Malam itu bukan sekadar edisi kelima dari gelaran musik kolektif Buitenstage, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang bagaimana sebuah panggung apresiasi seharusnya disajikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu menunjukkan pukul 20.15 WIB ketika keriuhan itu dimulai. Duo pemandu acara, Ogi dari Buitenfest dan Qenny dari Boleh Music, mengambil alih mikrofon dengan energi yang langsung membakar suasana. Tanpa banyak basa-basi yang menjemukan, mereka langsung memanggil pahlawan lokal ke atas panggung: Brokenscene.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trio pop punk asal Bogor yang baru saja menetaskan single baru ini langsung menghajar telinga penonton dengan distorsi ramah ala punk awal era 2000-an. Lagu &#8216;We’re Friends Anyway&#8217; dari EP perdana mereka yang rilis tahun 2024 menjadi pemantik yang sempurna. Penonton yang awalnya berdiri canggung mulai merapat. Energi itu terus dijaga lewat rentetan nomor seperti &#8216;Catastrophic Love&#8217;, &#8216;Lost Interest&#8217;, hingga &#8216;Someday (The Sun You Run Into)&#8217;. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup yang manis, mereka membawakan single teranyar, &#8216;At Least I Don’t Hate You&#8217;. Penampilan Brokenscene malam itu seolah menegaskan betapa hidup dan liatnya denyut nadi skena musik di Bogor saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika peluh penonton belum sepenuhnya kering, suasana Kopi Wangsa perlahan bergeser menjadi lebih kontemplatif namun tetap terasa ramah di telinga. Giliran Joanna Andrea yang mengambil alih kemudi. Solois asal Jakarta yang tampil dengan format band penuh ini membawakan deretan nomor populernya, mulai dari &#8216;Hanya Satu&#8217;, &#8216;Lepaskan&#8217;, &#8216;Tak Bertahan Lama&#8217;, &#8216;Wajah Yang Membawa Aku Pulang&#8217;, hingga &#8216;Dinikmati Saja&#8217;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Momen paling magis terjadi di tengah-tengah penampilannya saat ia membawakan lagu terbarunya, &#8216;Tenanglah&#8217;. Lagu ini bukan sekadar komposisi nada, melainkan sebuah pengakuan jujur dari Joanna yang sempat berada di titik nadir dan hampir menyerah pada mimpinya di belantika musik. Di panggung Buitenstage Vol. 5, air muka dan vokalnya membuktikan sebaliknya: ia telah berdamai dengan masa lalu dan kembali dengan musikalitas yang jauh lebih matang sekaligus tangguh.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-22879" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Buitenstage-Vol-5-Ist-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Buitenstage Vol 5 (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Sebagai penutup malam yang nyaris sempurna, unit alternatif asal Bandung, RANGR, naik ke panggung. Menggunakan nama baru sebagai bentuk transformasi dari identitas sebelumnya, Ranger, mereka tampil sangat ekspresif. Membawakan materi dari EP teranyar mereka yang bertajuk Masa Depan Kita, RANGR mengawali aksinya dengan lagu &#8216;Perih&#8217;. Ini adalah kali pertama mereka menginjakkan kaki di panggung Kota Hujan, namun kehangatan respons penonton membuat jarak itu seketika lebur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain menyuguhkan materi segar dari EP terbarunya, RANGR tidak melupakan akar mereka dengan tetap membawakan &#8216;Walau Ku Mencoba&#8217; serta beberapa lagu kover dari band favorit mereka. Malam yang intim itu akhirnya resmi ditutup dengan syahdu lewat single teranyar mereka &#8216;I’m In Pain&#8217;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada alasan kuat mengapa atmosfer malam itu terasa begitu padat, bernyawa, dan tidak terburu-buru. Mulai edisi kelima ini, Buitenstage secara sadar mengambil langkah berani dengan menerapkan &#8216;aturan main&#8217; baru: hanya menampilkan maksimal tiga band dalam satu acara. Langkah ini diambil demi memberikan pengalaman pertunjukan penuh yang maksimal bagi para musisi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami ingin band yang tampil mendapatkan pengalaman panggung yang sesuai dengan konsep yang mereka usung. Dengan hanya tiga band, mereka tidak perlu terburu-buru oleh durasi terbatas yang biasanya terjadi jika kita memainkan 4-5 band dalam satu edisi,&#8221; jelas <strong>Nanang Yuswanto</strong>, salah satu penggagas Buitenstage.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah strategis ini pun diamini oleh <strong>Fransiscus Eko</strong> dari <em>Cadaazz Pustaka Musik</em>. Menurutnya, ada hal esensial yang harus dijaga dalam sebuah pertunjukan musik independen, yaitu keintiman dan sinergi yang utuh. &#8220;Konsep dasar Buitenstage adalah menciptakan gigs se-intim mungkin tanpa jarak antara musisi dan penonton, didukung oleh rekan-rekan jurnalis musik. Kami ingin Buitenstage menjadi etalase dan ruang bagi musisi untuk memperkenalkan karya baru mereka dengan konsep panggung yang sebaik-baiknya,&#8221; tambah Eko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, kolaborasi apik yang diinisiasi oleh Buitenfest dan Cadaazz Pustaka Musik ini membuktikan satu hal. Musik independen tidak hanya butuh panggung untuk sekadar bising, melainkan ruang tumbuh yang sehat. Di jantung kota Bogor malam itu, Buitenstage berhasil menjadi tempat di mana karya-karya baru tidak hanya didengarkan secara selewat, melainkan dihargai dan diapresiasi sedalam-dalamnya./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | Nuhaa</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/format-baru-buitenstage-musisi-kini-lebih-puas-unjuk-gigi-di-panggung/">Format Baru Buitenstage, Musisi Kini Lebih Puas Unjuk Gigi di Panggung</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22878</post-id>	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Come On&#8217; Sebuah Single Sentuhan Tangan Dingin Ian Antono dalam Refleksi Batin Ade Hubart</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/come-on-sebuah-single-sentuhan-tangan-dingin-ian-antono-dalam-refleksi-batin-ade-hubart/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 09:10:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Ade Hubart]]></category>
		<category><![CDATA[Come On]]></category>
		<category><![CDATA[Ian Antono]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Maestro Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Rock Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Single Baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=22871</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Musik sering kali menjadi katarsis paling jujur bagi penciptanya. Bagi Ade Hubart, merilis karya bukan lagi soal kompetisi di tangga lagu, melainkan sebuah upaya untuk membasuh luka batin dan membagikan energi positif kepada sesama. Setelah sukses dengan karya sebelumnya, Ade kini memperkenalkan &#8216;Come On&#8217;, sebuah single yang kembali mempertemukan visinya dengan kejeniusan maestro [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/come-on-sebuah-single-sentuhan-tangan-dingin-ian-antono-dalam-refleksi-batin-ade-hubart/">&#8216;Come On&#8217; Sebuah Single Sentuhan Tangan Dingin Ian Antono dalam Refleksi Batin Ade Hubart</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA &#8211; Musik sering kali menjadi katarsis paling jujur bagi penciptanya. Bagi Ade Hubart, merilis karya bukan lagi soal kompetisi di tangga lagu, melainkan sebuah upaya untuk membasuh luka batin dan membagikan energi positif kepada sesama. Setelah sukses dengan karya sebelumnya, Ade kini memperkenalkan &#8216;Come On&#8217;, sebuah single yang kembali mempertemukan visinya dengan kejeniusan maestro rock tanah air, Ian Antono.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagu ini lahir dari ruang-ruang gelap dalam pikiran yang mungkin pernah disinggahi oleh siapa saja. Ade membedah kompleksitas emosi saat tekanan hidup datang bertubi-tubi, menciptakan labirin kebingungan yang melelahkan. Namun, alih-alih terjebak dalam melankoli yang gelap, &#8216;Come On&#8217; justru menawarkan tangan untuk bangkit. Ada narasi tentang optimisme yang diselipkan di antara dentuman musik rock yang emosional, sebuah pesan bahwa badai di dalam kepala pun pasti akan reda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Di lagu ini saya mencoba mengungkapkan perasaan yang pernah saya alami, tentang beban pikiran yang membuat saya merasa tertekan, bingung, dan lelah dengan keadaan. Tapi saya juga ingin menyampaikan bahwa kita harus berusaha untuk tidak terpuruk, dan mencoba mencari ketenangan, salah satunya lewat hal-hal yang kita cintai seperti musik,&#8221; tutur Ade Hubart.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran Ian Antono sebagai produser memberikan nyawa yang sangat spesifik pada lagu ini. Sebagai sosok yang telah mengawal karier legenda seperti Nicky Astria hingga Iwan Fals, Ian tahu betul bagaimana cara menerjemahkan keresahan Ade ke dalam aransemen yang berkelas. Musiknya megah namun tetap intim, memberikan ruang bagi lirik Ade untuk bernapas dan sampai ke telinga pendengar dengan bobot emosi yang pas. Kualitas produksinya menjaga standar tinggi musik rock Indonesia yang seolah tidak lekang oleh zaman.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-22872" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Ian-Antono-sebagai-produser-kembali-menjadi-elemen-penting-dalam-warna-musik-Come-On-Ist-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Ian Antono sebagai produser kembali menjadi elemen penting dalam warna musik &#8216;Come On&#8217; (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Ade Hubart membawa semangat yang sangat personal dalam proyek ini. Di tengah tren musik instan, ia tetap memilih jalur yang organik. Baginya, &#8220;Come On&#8221; adalah lembaran buku harian yang dibacakan dengan lantang. Ia tidak sedang mengejar algoritma, melainkan kejujuran dalam berkarya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya tidak mengejar viral atau komersial. Ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya. Kalau ternyata lagu ini bisa diterima dan memberi makna bagi orang lain, itu menjadi kebahagiaan tersendiri,&#8221; tambahnya lagi, menegaskan posisinya sebagai musisi yang menghargai proses ketimbang sekadar hasil akhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak dirilis pada 16 April 2026, &#8216;Come On&#8217; sudah bisa dinikmati di berbagai layanan streaming digital. Bagi mereka yang merindukan perpaduan lirik yang reflektif dengan sentuhan rock ala Ian Antono, karya ini menjadi oase yang menyejukkan sekaligus membangkitkan semangat. Visualisasi dari kegelisahan dan harapan ini pun telah dituangkan dalam video musik yang dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi <a href="https://www.youtube.com/@AdeHubartOfficial" type="link" id="https://www.youtube.com/@AdeHubartOfficial">Ade Hubart Official.</a>/ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong> | Nuhaa</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="jeg_video_container jeg_video_content"><iframe loading="lazy" title="Ade Hubart  - Come On (Official HD Video)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/ySdMhpu5zVg?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/come-on-sebuah-single-sentuhan-tangan-dingin-ian-antono-dalam-refleksi-batin-ade-hubart/">&#8216;Come On&#8217; Sebuah Single Sentuhan Tangan Dingin Ian Antono dalam Refleksi Batin Ade Hubart</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22871</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
