Wednesday, March 25, 2026
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
Banner Iklan
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    danau kelimutu

    7 Tempat Wisata Terunik di Indonesia yang Bikin Kamu Tak Percaya Sebelum Melihat Sendiri!

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
  • Home
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    “Legacy on the Move”, Menier Cognac Resmi Debut Siap Bawa Warisan Eaux-de-Vie Prancis ke Palate Modern Indonesia

    danau kelimutu

    7 Tempat Wisata Terunik di Indonesia yang Bikin Kamu Tak Percaya Sebelum Melihat Sendiri!

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Semangat Generasi Muda Lestarikan Aksara Batak Lewat Parsiajaran Marsurat Batak

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    Festival Budaya Lembah Baliem 2025, Jayawijaya Kembali Tampilkan Warisan Leluhur ke Pentas Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    AirAsia MOVE Dorong Wisata Budaya Dayung Indonesia ke Kancah Dunia

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

    Pohon Mandala di Borobudur: Simbol Kesadaran Semesta yang Mengakar dalam Spiritualitas Nusantara

  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile
No Result
View All Result
Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia
No Result
View All Result

Mengenal Sejarah Kebaya Encim

by Yulia Dewi
13/08/2018
Reading Time: 4 mins read
Mengenal Sejarah Kebaya Encim

Model tengah memperagakan Kebaya Encim modern (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter

Kebaya Encim merupakan baju tradisional Betawi yang sudah cukup tua umurnya dan kurang lebih sudah ada sejak 500 tahun lalu. Baju tradisional yang kerap digunakan oleh masyarakat Betawi ini sangat identik dengan peranakan Tionghoa namun sangat dekat dengan budaya Betawi.

Kata Encim sendiri menurut antropolog Diyah Wara berasal dari bahasa Hokkien, salah satu etnis Tionghoa yang berarti Bibi. Pada zaman dahulu mereka inilah yang paling banyak terdapat di Nusantara.

Baca juga :

Jelajah Kampung Betawi dan Berburu Diskon Fashion Pria di Jakarta Fair 2024

Rayakan HUT DKI Jakarta ke-496 Galeri Indonesia Kaya Hadirkan Lenong Betawi “Jakartaku Semangatku”

Melalui ASOI Diharapkan Pelaku Seni Ondel Ondel Untuk Lebih BerKreatif

“Jadi dulu pakaian ini dipakai oleh perempuan-perempuan China, mereka pakai kebaya dan orang-orang selalu bilang “Oh, Kebaya yang dipakai si Encim, lama-lama disebutnya kebaya Encim,” ujar Diyah dalam festival kebudayaan Betawi di Jakarta Pusat, Sabtu (12/8) lalu.

Pakaian ini dahulu disebut juga kebaya Nyonya karena memang yang memakainya pada saat itu hanya orang-orang dari golongan menengah keatas. Namun jauh sebelum orang Tionghoa memakainya, kebaya juga telah dipakai oleh perempuan Eropa yang ada di Nusantara.

Diyah mengatakan, bahwa bentuk Kebaya sebetulnya merupakan baju panjang atau disebut juga baju kurung yang kebanyakan dipakai oleh orang Sumatera, Palembang, Aceh dan dimodifikasi oleh perempuan Belanda karena disesuaikan dengan iklim yang ada di Batavia. “Di Batavia kan panas, jadi kalau mereka gunakan baju dari Eropa mereka nggak tahan,” kata Diyah.

Namun yang dipakai oleh perempuan Belanda kebanyakan warna putih, sementara menurut Tionghoa Putih melambangkan kesusahan, kedukaan dan tidak keberuntungan. “Kebaya akhirnya mengalami inovasi dan bentuknya seperti sekarang ini, ada pengaruh budaya Tiongkok atau Cina,” tambah Diyah.

Diyah Wara saat menerangkan perihal Kebaya Encim bilangan Jakarta Pusat Sabtu 12/8 lalu (Yulia)

Sebagai bawahannya menurut Diyah, mereka mengaplikasikannya dengan sarung atau kain bermotif bunga atau motif parang dari Jawa yang identik dengan warna sogan. Bahkan perempuan Eropa menggunakan motifnya sendiri dengan warna biru dan ungu dan beragam motif bunga seperti bunga tulip.

Identitas Tionghoa

Pada zaman pendudukan Belanda di Batavia, banyak imigran China yang mengambil perempuan lokal sebagai isteri. Perempuan-perempuan tersebut kemudian mulai mengembangkan kebaya dengan menggunakan motif-motif yang sesuai dengan keberuntungan mereka.

Dalam hal pewarnaan, ketika timbul adanya perkembangan mengenai pakaian, mereka mulai menggunakan warna seperti merah, kuning, oranye dan hijau yang disesuaikan dengan warna keberuntungan bangsa Tionghoa.

“Kalau dalam tradisi Tionghoa itu kan putih melambangkan kejelekan, kurang beruntung. Perempuan Tionghoa berfikir itu tidak bagus jadi mereka kasih motif,” kata Diyah.

Namun pada waktu itu ternyata selain mereka gunakan sehari-hari, ternyata pemerintah Belanda yang ada di Nusantara mewajibkan masyarakatnya untuk menggunakan pakaian sesuai dengan etnis masing-masing.

“Wajah orang Tionghoa itu kan mirip dengan penduduk asli Nusantara karena mamang mereka sudah berbaur, begitupun dengan orang Tiongkok yang datang ke Nusantara. Makanya mereka bedakan dengan pakaiannya sesuai dengan identitas asal mereka,” ujar Diyah.

“Makanya ada daerah di Batavia yang bernama Kampung Melayu, Matraman, Kampung Ambon, dan Kampung Makassar dan mereka diperintahkan untuk memakai baju sesuai dengan etnis masing-masing,” tuturnya.

Pada saat itu bangsa China yang ada di Nusantara di bagi menjadi dua, Tiongkok dan China peranakan. Sehingga pakaian merupakan hal penting bagi pemerintah Belanda saat itu. Dari segi politis Belanda sangat takut dengan jumlah mereka yang memang lebih banyak, sehingga mereka dipisahkan. Tapi juga Belanda sangat memerlukan mereka sebagai perantara kepentingan mereka di Nusantara.

Motif Kebaya Encim Modern (Ist)

Percampuran Budaya

Orang Tionghoa juga tak lepas dari tradisi leluhur mereka, saat menghadiri perayaan Imlek atau Cap Gomeh mereka selalu mengenakan pakaian yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Oleh karenanya seiring dengan perkembangan zaman, perempuan Tionghoa memodifikasinya dengan wara dan motif yang tentu saja mempunyai makna bagi mereka. Begitupun dengan bentuk dan potongan pakaiannya.

“Motif yang sesuai dengan tradisi Tionghoa itu seperti bunga persik dan anyelir. Atau ada juga motif binatang, seperti burung merak yang menggambarkan kebahagiaan,burung phoenix yang melambangkan kesejahteraan dan kura-kura yang melambangkan panjang umur,” papar Diyah.

Begitupun dengan bentuknya yang persegi juga mempunyai makna, kesempurnaan, kokoh yang diumpamakan dengan bangku yang memiliki dua kaki yang tidak dapat berdiri tegak akan tetapi jika ada empat kaki pasti bangku tersebut dapat berdiri dengan tegak.

Banyaknya pendatang di Batavia, kebudayaan yang ada di Betawi pun merupakan budaya bentukan antara budaya Jawa, Arab, dan Tiongkok. Sebutan Tionghoa sendiripun adalah bentukan dari perpaduan antara Tiongkok dengan penduduk asli Batavia. Kebaya-kebaya yang digunakan oleh perempuan Tionghoa akhirnya dikenal dengan sebutan Kebaya Encim.

Kebaya Encim sangat identik dengan budaya Betawi karena budaya Betawi merupakan budaya bentukan dan perpaduan dari berbagai macam budaya, termasuk budaya Tionghoa. / JOURNEY OF INDONESIA

Tags: BetawiBudaya BetawiDiyah WaraKebaya Encim
Share732Tweet458

Related Posts

Klook Rilis Spring Readiness Index, Ungkap Tren Wisata Musim Semi 2026
Tourism

Klook Rilis Spring Readiness Index, Ungkap Tren Wisata Musim Semi 2026

10/03/2026
Mengadu Peruntungan di Pasar Outbound Indonesia, Dari Albania hingga Eksotisme Portugal
News

Mengadu Peruntungan di Pasar Outbound Indonesia, Dari Albania hingga Eksotisme Portugal

11/02/2026
Dan Queen Akhirnya Menyatukan UI dan ITB
Music

Dan Queen Akhirnya Menyatukan UI dan ITB

05/02/2026
Konser Kolaborasi Gitaris demi Pulihkan Sumatra dari Dampak Bencana
Music

Konser Kolaborasi Gitaris demi Pulihkan Sumatra dari Dampak Bencana

28/01/2026
Padukan Apresiasi dan Harmoni Musik, ZAP Bikin Pecah Malam bertajuk “ZAPHRODITE Friends & Family Gathering 2026”
Show

Padukan Apresiasi dan Harmoni Musik, ZAP Bikin Pecah Malam bertajuk “ZAPHRODITE Friends & Family Gathering 2026”

27/01/2026
Next Post
Menikmati Ratusan Anggrek Langka di Rumah Anggrek Orchid Forest Cikole

Menikmati Ratusan Anggrek Langka di Rumah Anggrek Orchid Forest Cikole

ADVERTISEMENT

Recomended

Satu Earbuds untuk Semua Momen, Samsung Galaxy Buds4 Series Hadir Lebih Pintar dan Nyaman
Gadget

Satu Earbuds untuk Semua Momen, Samsung Galaxy Buds4 Series Hadir Lebih Pintar dan Nyaman

22/03/2026
Bukan Sekadar Mengelola Hotel, NATTA Hadir dengan Cara yang Berbeda
Hotels

Bukan Sekadar Mengelola Hotel, NATTA Hadir dengan Cara yang Berbeda

21/03/2026
Anis Byarwati Sebut Perempuan Harus Mampu Menjadi Penjaga Ekonomi Keluarga
News

Anis Byarwati Sebut Perempuan Harus Mampu Menjadi Penjaga Ekonomi Keluarga

20/03/2026
YPJI Salurkan Sembako dan Takjil, Rawat Solidaritas Jurnalis di Penghujung Ramadan 1447
News

YPJI Salurkan Sembako dan Takjil, Rawat Solidaritas Jurnalis di Penghujung Ramadan 1447

20/03/2026
HAM Meet CEO, Menata Ulang Nafas Industri Perhotelan, Tren Wellness dan Digitalisasi
News

HAM Meet CEO, Menata Ulang Nafas Industri Perhotelan, Tren Wellness dan Digitalisasi

19/03/2026
GAC Siaga Lebaran 2026, Siapkan Posko 24 Jam & Bengkel untuk Pemudik
Automotive

GAC Siaga Lebaran 2026, Siapkan Posko 24 Jam & Bengkel untuk Pemudik

18/03/2026
Journey of Indonesia

Journey of Indonesia is a popular online newsportal and going source for technical and digital content for its influential audience around the globe. You can reach us via email.


journeyofid@gmail.com

  • Journey of Indonesia
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Editorial
  • Kontak

© 2024 Journey of Indonesia.

No Result
View All Result
  • Journey of Indonesia
  • News
    • Berita Foto
  • Events
  • Travel
    • Tourism
    • Culinary
    • Hotels
  • Lifestyle
    • Automotive
    • Gadget
    • Fashion
    • Health
  • Culture
  • Entertainment
    • FIlm
    • Music
    • Show
  • Profile

© 2024 Journey of Indonesia.