Istana Basa Pagaruyung, Sebuah Jejak Sejarah Minangkabau

By Ibonk May 01, 2021 538

Indonesia adalah negeri surga budaya, boleh dikata sejak zaman dahulu kala, Nusantara telah menawarkan sejuta pesona keangekaragaman budaya yang menarik minat berbagai bangsa dari belahan dunia manapun. Tak terkecuali bumi Minangkabau di Sumatra Barat. Kebudayaan Minangkabau merupakan salah satu pesona budaya yang tak boleh dilewatkan untuk dinikmati. Ada begitu banyak destinasi wisata budaya yang bisa anda jelajahi di Sumatra Barat.

Salah satu destinasi yang wajib anda lihat adalah Istana Basa atau lebih populer dengan sebutan Istana Pagaruyung. Istana ini terletak di Kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat dan hanya berjarak lebih kurang 5 kilometer dari pusat kota Batusangkar. Istana ini merupakan objek wisata budaya yang terkenal di Sumatra Barat dan menjadi salah satu destinasi wisaya budaya paling terkenal di Sumatra Barat.

Sebenarnya ada kisah pilu dari istana yang memiliki hamparan halaman yang begitu luas. Istano Basa yang ada pada saat ini sebenarnya hanyalah replika dari istana yang asli yang dulu terletak di atas bukit Batu Patah. Tragisnya, Istana Pagaruyung yang asli ini terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804 pada zaman Belanda. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar pada tahun 1966.

Konstruksi Istana Basa dilakukan dengan peletakan Tunggak Tuo (Tiang Utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatra Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di lokasi istana yang asli, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya.

Tak hanya sampai disitu saja, pada malam tanggal 27 Februari 2007, Istana Basa kembali mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat.

Meskipun replika ornamen yang ada di Istana Basa ini tetap merujuk ke ornamen asli IbonkMeskipun replika, ornamen yang ada di Istana Basa ini tetap merujuk ke ornamen asli (Ibonk)

Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istana Silinduang Bulan, yang berjarak 2 kilometer dari Istana Basa.

Setelah melewati gerbang Istana dan hamparan halaman yang luas, pengunjng bisa beranjak memasuki istana. Jarak dari pintu gerbang menuju pintu masuk istana sendiri cukup jauh. Begitu melewati pintu masuk, penunjung akan mendapati Istana Pagaruyung yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama berupa ruangan luas yang memajang berbagai benda dalam etalase, kamar-kamar, dan sebuah singgasana dibagian tengah.

Jika Istana Pagaruyung dilihat dari luar, maka akan tampak bangunan yang memanjang dengan bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kirinya.

Bagian ini disebut sebagai Anjuang dan keberadaannya menjadi salah satu ciri khas rumah adat Koto Piliang. Anjuang yang berada di sebelah kanan disebut sebagai anjuang Rajo Babandiang sedangkan yang di sebelah kanan disebut anjuang Perak. Anjuang ini adalah ruang kehormatan bagi keluarga kerajaan.

Beliau akan duduk di sana sehari-hari untuk mengawasi setiap tamu yang datang. Apabila kerajaan mengadakan perjamuan atau rapat maka ibunda raja yang akan memastikan setiap orang duduk pada tempatnya yang benar, hidangan disajikan tepat waktu dan mengawasi apapun keperluan dalam ruangan sedangkan raja berada di anjuang Rajo Babandiang.

Lantai dua disebut sebagai anjuang Paranginan yaitu kamar anak perempuan raja yang belum menikah.

Seorang pengunjung tengah berfoto dengan pakaian adat Kerajaan Pagaruyung IbonkSeorang pengunjung tengah berfoto dengan pakaian adat Kerajaan Pagaruyung (Ibonk)

Adapun lantai tiga adalah ruang penyimpanan harta pusaka raja sekaligus tempat rapat khusus Raja 3 Selo. Raja 3 Selo adalah institusi tertinggi dalam hirarki kerajaan Pagaruyung, berasal dari keturunan yang sama dan masing-masing bertugas untuk memutuskan perkara-perkara yang berhubungan dengan alam, adat dan ibadat.

Banyak cerita dan sejarah tentang keberadaan Istana ini bisa ditanyakan kepada para penghuni dan petugas yang ada disini. Selain menjelajahi bagian dalam Istana Pagaruyung, pengunjung juga bisa mencoba pakaian adat dari Kerajaan Pagaruyung. Beberapa penjaga di lantai pertama Istana Pagaruyung juga menyewakan pakaian adat sebagai bahan properti foto. Pengunjung diperbolehkan memakainya dan berfoto, namun tidak untuk dibawa pulang.

Puas berjalan-jalan, pengunjung dapat berwisata belanja di areal parkir kendaraan. Disana ada begitu banyak toko cinderamata yang menawarkan berbagi pernik-pernik khas Sumatra Barat, termasuk t-shirt dengan gambar Istana Pagaruyung, tas dan masih banyak lagi.

Perlu diketahui, sebelum terbakar Istana Pagaruyung asli dibangun seluruhnya dengan batang-batang kayu, namun bangunan yang terbaru dibangun dengan struktur beton modern dengan tetap mempertahankan teknik tradisional dan material kayu yang dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau.

Istana ini sendiri memiliki tiga lantai dengan 72 tiang dan gonjong sebagaimana pada umumnya Rumah Gadang, yang dilengkungkan serupa tanduk dari 26 ton serat ijuk. Istana ini juga dilengkapi dengan lebih dari 100 replika furnitur dan artefak antik Minang, yang bertujuan agar istana dihidupkan kembali sebagai pusat budaya Minangkabau serta objek wisata di Sumatra Barat./ JOURNEY OF INDONESIA