Menghadap langsung ke Samudera Hindia yang luas, pulau Sumba yang terletak di dekat Pulau Komodo di provinsi Nusa Tenggara Timur cukup populer sebagai surga peselancar. Namun di luar itu, sejarah mencatat bahwa Sumba selama berabad-abad dikenal sebagai pulau Sandalwood karena kayu harumnya yang dicari terutama oleh bangsawan Cina. Disebabkan alasan inilah, kuda Sumba yang gesit disebut Sandalwood Ponies yang paling populer untuk pacuan kuda. Kuda-kuda ini adalah puncak dari tradisi tahunan yang menarik yakni Festival Pasola.

Kuda Sandal adalah salah satu jenis kuda terbaik di Indonesia, sebagian karena fakta bahwa ini adalah jenis campuran dengan kuda-kuda Arab. Mereka sangat populer di pacuan kuda, baik di jalur flat atau harness. Mereka juga digunakan dalam pacuan tanpa pelana yang diadakan di pulau-pulau, dengan trek yang sering mencakup lebih dari tiga mil. Secara tradisional hewan ini digunakan untuk pekerjaan ringan, pertanian, ataupun mengangkut barang.

Memeriahkan Festival Sandalwood 2019 di hari kedua pada Jumat (12/7/19), sebanyak 210 ekor kuda mengikuti Parade Kuda Sandal di padang savana Puru Kambera, Kanantang, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Masyarakat yang berpartisipasi dalam parade itu berasal dari 5 Kecamatan seperti Waingapu, Kambera, Pandawai, Kanatang, serta Haharu.

Inilah ikon Sumba tersebut. Kuda Sandal yang perkasa ditampilkan lewat beberapa tema fragmen dengan segala macam pernak pernik yang menyertainya. Ini merupakan aksi yang paling ditunggu masyarakat.

Para peserta Parade Kuda Sandal IbonkPersiapan iring-iringan parade kuda Sandal (Ibonk)

Dibuka dengan lagu khas Sumba, dan pembacaan syair. Dengan background hamparan bukit savana yang berbatasan langsung dengan pantai Puru Kambera, parade dimulai dengan kehadiran delegasi Pandawai yang menampilkan tema Peristiwa Penguburan Raja.

Tampil lengkap dengan beragam piranti upacara, kelompok ini merekonstruksi prosesi penguburan, lewat simulasi pengorbanan berupa kuda dan hambanya. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, bila raja meninggal harus disertai dengan kuda dan seorang hamba. Masyarakat setempat percaya, kuda dan hamba itu menjadi pendamping sang raja di alam baka.

Suasana kian meriah, saat perwakilan dari Haharu menampilkan simulasi Tradisi Berburu Masyarakat Bumi Merapu. Suasana menjadi hiruk pikuk ketika dari jauh terlihat serombongan kuda dilarikan dengan kencang menuju pusat kumpul di tengah panggung. Debu-debu putih berterbangan menjulang menyongsong langit

Prosesi meminang Purru Ngadi IbonkProsesi meminang (Purru Ngadi) (Ibonk)

Mereka menaiki kuda lengkap dengan beragam peralatan berburu, seperti tombak. Biasanya masyarakat setempat berburu babi dan rusa. Tradisi yang sudah dijalankan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Apalagi, Haharu dipercaya sebagai lokasi pendaratan nenek moyang mereka di Sumba.

Tema berbeda disajikan utusan Kecamatan Kanatang. Mereka menampilkan simulasi Perang, lengkap dengan tombak dan perisai. Ini menjadi simbol masyarakat Bumi Merapu siap mempertahankan tanahnya dari cengkeraman penjajah. Tema serupa juga ditampilkan delegasi dari Waingapu.

Sementara itu, prosesi meminang (Purru Ngadi) disajikan delegasi asal Pandawai. Aktivitas ini melibatkan 2 keluarga besar dari pihak mempelai putra dan putri. Saat meminang, keluarga mempelai lelaki membawa beragam barang-barang hantaran. Selanjutnya, delegasi Pandawai menampilkan prosesi membawa pengantin wanita atau Plai Ngandi Tau.

Fragmen tersebut akhirnya menutup jalannya Parade Kuda Sandal dengan segala kemeriahannya...

Simulasi Perang IbonkSimulasi perang yang dipertontonkan (Ibonk)

Sebelumnya Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Laiskodat mengatakan sangat bersyukur bisa menikmati Parade Kuda Sandal di alam bebas seperti ini. Udaranya juga sangat segar di sini. "Untuk penyelenggaraan festival tahun depan harus dibuat lebih hebat dan menarik lagi. Berbagai infrastruktur juga harus ditambahkan di venue ini,” janjinya.

Rencananya, Festival Sandalwood mendatang pada 2020 akan diikuti perwakilan masyarakat dari seluruh kabupaten di Pulau Sumba. Bukan cuma 210 ekor, nantinya festival tersebut bakal diikuti 5.000 ekor Kuda Sandal. Pemerintah pun berkomitmen menghadirkan infrastruktur pendukung di venue Puru Kambera.

Seperti yang disebutkan oleh Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Event (CoE), Esthy Reko Astuti, dirinya mengapresiasi masyarakat Sumba yang selalu menjaga tradisi. Ia menilai, Sumba memiliki potensi pariwisata yang luar biasa. “Dan tentu bagus, khususnya secara ekonomi. Agar potensi makin optimal, maka perlu dilakukan penguatan amenitasnya. Konsep Nomadic Tourism sangat ideal diterapkan di Sumba,” ujarnya.

Sementara Menteri Pariwisata, Arief Yahya berpendapat, gelaran Festival Kuda Sandal pada tahun depan mesti menampilkan sesuatu yang baru. Tak cuma itu, sinergi berbagai pihak mesti dijalin demi mendukung pengembangan pariwisata di Sumba. "Kami tentu gembira karena event digelar lancar. Respon publik juga positif. Kalau ingin maksimal, maka perubahan harus dilakukan tahun depan," ujar Menpar./ JOURNEY OF INDONESIA

Kekayaan budaya dipamerkan Sumba Timur, yang miniaturnya diawali melalui Festival Sandalwood 2019, lewat kekentalan detail yang terhampar melalui gerak gemulai tariannya. Warnanya semakin kental dengan busana adat khasnya.

Seperti yang dilakukan pada malam Gala Dinner Festival Sandalwood 2019 digelar pekan silam Rabu (10/7) malam WITA. Dilaksanakan di Rumah Jabatan Bupati Sumba Timur, Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Aktivitas ramah tamah tersebut dihadiri Kemenpar, stakeholder Sumba Timur, Perwakilan 4 Kabupaten di Sumba, juga Delegasi Italia. Selain menikmati kuliner khas, undangan juga menikmati beragam keramahan Sumba Timur.

“Kami ucapkan selamat datang kepada semua di Sumba Timur. Gala dinner tentu menjadi ajang ramah tamah sebelum event. Bagaimanapun, ada yang baru kali pertama datang ke Sumba Timur. Ada banyak hal yang bisa dinikmati dari Sumba Timur ini,” ungkap Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora.

Penari mengenakan hiasan kepala berupa Tidohai dengan bahan lurung penyu dan ikat kepala berwarna kuning pertanda kekayaan IbonkPenari mengenakan hiasan kepala berupa Tidohai dengan bahan lurung penyu dan ikat kepala berwarna kuning pertanda kekayaan (Ibonk)

Menyajikan kekayaan budaya Sumba Timur, ada beberapa tarian yang diditampilkan, salah satunya Tari Kalbuasi Kadingang Kabokang. Dibawakan Sanggar Pulu Bamba, Wangga, Sumba Timur, tarian tersebut bercerita tentang kegembiraan. Ditampilkan oleh 6 penari putri, Kalbuasi Kadingang Kabokang menjadi kolaborasi dari 3 jenis tarian yakni Panapang Baru, Kadingang Patau Njangu, dan Kabokang. “Sumba Timur memang sangat kaya. Selain alamnya, budaya di sini sangat eksotis. Mereka memiliki banyak sekali tarian. Posisinya semakin menaikan daya tawar pariwisata di Sumba Timur. Yang jelas, ada banyak sekali sisi eksotis Sumba Timur yang bisa dieksplorasi sepanjang event,” jelas Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar, Esthy Reko Astuty. Sebagai gambaran, Tari Kabokang merupakan kekayaan asli Sumba Timur. Tarian ini kerap ditampilkan pada acara adat, pertunjukan seni, hinga penyambutan tamu. Secara umum, Tari Kabokang menjadi gambaran bentuk suka cita. Gerakan tariannya anggun. Dominasi gerakan tariannya adalah kaki dan tangan yang memainkan kain panjang.

Kain adat yang dikenakan sebagai busana berwarna hijau menjadi penanda kesuburan dan kekayaan pertanian Sumba Timur IIbonkMotif kain adat yang dikenakan sebagai busana, berwarna hijau menjadi penanda kesuburan dan kekayaan pertanian Sumba Timur (Ibonk)

Menguatkan rasa kegembiraan, Tari Kabokang diiringi dengan musik tradisional gong dan gendang. Ritme musiknya disesuaikan dengan gerakannya, khususnya saat penari menghentakan kakinya. Sebab, suara pengiring akan bertemu dengan gemerincing giring-giring.

Lalu ornamen busana para penarinya. Mereka memakai hiasan kepala berupa Tidohai dengan bahan Lurung Penyu. Ada juga hiasan Bulu Ekor Kuda di tangan. Untuk kaki memakai Walagiring dengan suara gemerincing khasnya. Mereka juga menyertakan nuansa Tenunan Pahikung lengkap dengan sulamannya.

Menegaskan tradisi, penari juga mengenakan ikat kepala berwarna kuning. Warna ini mejadi bagian inti dari adat tradisi Sumba Timur. Kuning menjadi simbol kekayaan barang tambang dan selalu dijaga agar tidak cepat habis. Selain kuning, ada warna hijau yang dominan pada kain adat yang dikenakan sebagai busana. Hijau menjadi penanda kesuburan dan kekayaan pertanian Sumba Timur./ JOURNEY OF INDONESIA

Ada beragam cara untuk menikmati Pulau Sumba. Terutama saat Festival Sandalwood 2019 berlangsung. Salah satunya dengan menikmati keindahan Bukit Wairinding. Destinasi ini sangat direkomendasikan selama Festival Sandalwood 2019 pada 10-12 Juli. Hamparan bukit yang terlihat menakjubkan dengan vegetasi padang rumputnya yang luas.

Kondisi jalan menuju lokasi Wairinding sudah cukup baik, aspal yang mulus dan lebar menawarkan kesan tersendiri, apalagi dengan disuguhi jalan naik turun dan berkelok-kelok ciri khas jalan trans Sumba Waingapu-Waikabubak. Sesampainya di sana, pengunjung dapat memarkirkan kendaraannya di lahan parkir yang tersedia di sekitar warung yang sekaligus menjadi tempat tinggal masyarakat setempat. Dari situ, pengunjung masih harus berjalan kaki mendaki bukit yang berada di belakang warung kurang lebih 500 meter.

Mengenakan tenun Sumba seorang Umbu Rambu Wanita Sumba di Wairinding IbonkMengenakan tenun Sumba, seorang Umbu Rambu (Wanita Sumba) tengah menikmati Bukit Wairinding (Ibonk)

Bukit Wairinding berada di Pandawai, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Memakan waktu sekitar 30 sampai 40 menit dari kota Waingapu. Kawasan bukit ini sangat eksotis, karena memiliki bentang alam bergelombang dan menjadi salah satu spot terbaik yang bisa dikunjungi di daerah ini. Bukit dengan pemandangan lansekap yang indah dengan udara yang sangat bersih dan asri, serta sepoi-sepo angin yang membuat betah diatasnya.

Saat musim penghujan, bukit ini akan didominasi warna hijau bagai pemandangan di Eropa dan saat musim kemarau disekitar bulan Juli dan Oktober hamparan tanah dan rumput kering berwarna keemasan tersaji sejauh mata memandang, memantulkan sinar surya yang pongah menebarkan sinarnya.

“Bukit Wairinding pemandangannya memang indah, banyak orang datang baik lokal ataupun wisatawan asing. Bisa berfoto dengan latar belakang bukit-bukit dan juga kuda-kuda di sini. Wairinding sendiri artinya Air Tergenang, atau danau tempat kami sering memandikan kuda yang ada di bawah bukit tak jauh dari sini,” ujar Kebahanggar, salah seorang pemilik kuda di bukit ini. Bukit ini juga menjadi tempat terbaik untuk menjemput sunset, bias gradasi berwarna oranye menyajikan keindahan luar biasa dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Anak anak Waingapu tengah bermain sambil menemani sang ayah menyewakan kuda IbonkAnak anak Waingapu tengah bermain sambil menemani sang ayah menyewakan kuda (Ibonk)

Eloknya hamparan hamparan padang savana yang terhampar luas memberikan kesan yang sangat mendalam. Journey of Indonesia sendiri merasa beruntung hadir disaat bukit ini di dominasi warna keemasan, disaat musim kemarau. Menyaksikan kuda-kuda dipunggung bukit dan anak-anak Sumba yang hidup disekitar perbukitan ini bermain disekitarnya. Tak hanya bermain, terkadang juga sambil membantu orang tuanya menawarkan kuda untuk ditunggangi oleh para wisatawan.

Bagi para peminat fotografi, tak ada timing dan spot yang sia-sia. Semuanya akan menghasilkan frame to frame yang cantik yang bisa anda pamerkan di halaman socmed anda. What a wonderful place to captured!

Wisatawan mancanegara Ibonk

Wisatawan mancanegara di Wairinding (Ibonk)

Tidak terdapat fasilitas penunjang apapun di sekitar lokasi. Hanya terdapat sebuah warung kecil sebelum sampai dipuncak bukit, itu pun tidak lengkap. Tapi cukuplah untuk menikmati semangkuk mi instan dan menyeruput segelas kopi Sumba. Nikmehhhh sekali.....

Tidak ada pungutan tiket masuk resmi di Wairinding, namun setiap tamu yang datang disarankan untuk mengisi buku tamu dan memberikan uang seikhlasnya saja untuk kesejahteraan para masyarakat setempat. Sudah sepantasnya kita panjatkan rasa syukur kepada sang Khalik dengan apa yang diberikannya terhadap bumi Nusantara ini./ JOURNEY OF INDONESIA

Festival Sandalwood 2019 yang resmi dibuka pada Kamis (11/7) menghadirkan warna warni tenun Sumba. Beragam motif ditampilkan seperti motif tenun Kaliuda dan Kambera. Suasana semakin kental dengan kehadiran 200 penenun dari Kambera dan Kanatang yang memenuhi Lapangan Pahlawan, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Beragam motif tenun bisa dijumpai di setiap sudut venue, karena seluruh stand memajang tenun. Tak hanya penjual dan peserta yang hadir , namun mayoritas pengunjung mengenakan tenun khas Sumba.

“Festival Sandalwood 2019 menjadi event bersejarah. Sebab, beragam tradisi budaya ditampilkan. Saat ini tenun Sumba Timur terus menjadi daya tarik wisata. Tenun Sumba Timur makin maju dengan tradisi yang dilestarikan. Apalagi, masyarakat Sumba Timur sudah menenun sejak lama. Yang jelas, kami ingin berterima kasih kepada Kemenpar atas dukungannya,” kata Bupati Sumba Timur Gidion Mbiliyora.

Prosesi pembukaan diawali dengan Tari Ninggu Harama yang menjadi gerak tari penyambutan para tamu. Ada juga sajian lagu-lagu khas Sumba Timur dengan iringan Jungga. Setiap aksi budaya tersebut disambut dengan Kalakak yakni yel-yel khas Sumba. Lalu ditampilkan juga Fashion Show bermotif tenun oleh 12 orang generasi muda Sumba Timur.

Seorang penenun yang ikut serta menjadi bagian dari pembukaan Festival Sandalwood IbonkSeorang penenun yang ikut serta menjadi bagian dari pembukaan Festival Sandalwood (Ibonk)

Memberikan pendapatnya, Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Event (CoE), Esthy Reko Astuti mengatakan bahwa Potensi yang dimiliki Sumba Timur sangat luar biasa. Alam dan budayanya sangat eksotis. " Tradisi juga masih dipertahankan dengan sangat bagus di sini, seperti tenun. Tenun Sumba Timur sangat terkenal karena motifnya sangat unik. Secara historisnya juga sangat mengispirasi,” terangnya.

Secara historis, Sumba Timur memiliki sekitar 5 motif tenun, dan beberapa diantaranya merupakan motif yang sakral. Sebab, pada zaman dahulu motif tenun ini hanya boleh digunakan oleh raja atau kaum bangsawan seperti Kaliuda dan Kambera. Motif Kaliuda memiliki ciri utama warna merah, meski juga dikembangkan dasar biru dn corak utamanya simbol Sumba, seperti Njara (Kuda) dan Manu (Ayam).

Dalam perkembangannya, Motif Kaliuda juga mengadopsi corak Penyu. Corak Penyu menjadi simbol kebesaran. Untuk corak Njara menggambarkan kekuatan dan karakter tegas masyarakat. Corak Manu menjadi simbol penghidupan. Motif Kaliuda menggunakan pewarnaan alami. Warna merah diambil dari akar Mengkudu (Kombu) yang diramu dengan daun Loloba. Ada juga penggunaan minyak kemiri dan dicampur kulit mangga. Setelah direndam lagi, bahan baku tenun lalu dijermur dan ditreatment serupa.

Tenun Sumba IbonkTenun Sumba (Ibonk)

Sementara motif sakral lainnya adalah Kambera yang pada zaman dahulu, motif ini hanya boleh dikenakan raja dan bangsawan. Secara umum ada 3 corak, seperti Rusa, Ayam, dan Patularatu. Untuk corak Patularatu melambangkan kebesaran dari karakter raja dan para bangsawan. Lalu, motif Kambera didominasi oleh warna biru. Warna ini diperoleh dari Daun Nila (Wora). Kambera banyak dijumpai di daerah Marada, Lambatapu, Kalu, dan Prailiu.

“Dengan potensinya, pariwisata Sumba Timur akan terus berkembang. Apalagi, kalau aksesibilitas udara menuju Sumba Timur lebih dioptimalkan lagi,” tegas Esthy.

Selanjutnya Asisten Depduti Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenar, Muh. Ricky Fauziyani menjelaskan, wisatawan bisa melihat dari dekat proses pembuatan tenun di Festival Sandalwood 2019. Bukan hanya melihat, wisatawan juga bisa ikut belajar./ JOURNEY OF INDONESIA