JAKARTA – Eksistensi sebuah karya sinematik di televisi Indonesia jarang ada yang mampu melampaui angka satu dekade, namun sinetron religi legendaris “Para Pencari Tuhan” (PPT) justru membuktikan sebaliknya. Memasuki Jilid 19 dengan tema sentral “Tobat Woy”, serial ini kembali mengukuhkan dominasinya di slot sahur Ramadan dengan catatan rating dan share yang tetap mengesankan meski telah mengudara selama hampir 20 tahun.
Keberhasilan menjaga nafas panjang ini tidak lepas dari tangan dingin sang aktor kawakan sekaligus produser dan sutradara, Deddy Mizwar. Dalam sesi bincang daring yang digelar pada Rabu (25/2/2026), Deddy mengungkapkan bahwa kunci utama dari fenomena PPT adalah ketelitian dalam proses di balik layar, terutama mengenai pemilihan peran. Ia menekankan bahwa kualitas sebuah cerita sangat bergantung pada siapa yang membawakannya di depan kamera.
“Penonton tidak melihat siapa yang membuat atau menulisnya. Mereka melihat siapa yang memainkan tokoh itu. Maka tanggung jawab aktor sangat besar,” tegas Deddy Mizwar. Menurutnya, kesalahan dalam memilih pemeran bisa berakibat fatal pada penyampaian pesan moral yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Deddy percaya bahwa para pemain memikul beban profesional untuk benar-benar menghidupkan karakter agar penonton merasa sedang bercermin melalui layar kaca.

Tantangan terbesar yang dihadapi tim produksi setiap tahunnya adalah bagaimana menjaga agar cerita tetap relevan dengan dinamika sosial. Deddy menjelaskan bahwa tim berusaha menghadirkan tema yang lebih fleksibel namun tetap kontekstual. Ia ingin menghadirkan tontonan yang memiliki isi dan korelasi kuat dengan kehidupan nyata. Baginya, kritik sosial dalam PPT harus disampaikan secara elegan tanpa terkesan menghakimi. “Kritik sosial pun disampaikan lewat humor dan dialog yang rileks, sehingga terasa sebagai cermin, bukan sindiran yang menyakitkan,” terangnya.
Sentuhan emosional juga dirasakan oleh aktor senior Tio Pakusadewo yang kembali memerankan tokoh ikonik Bang Galak. Bagi Tio, keterlibatannya dalam beberapa jilid terakhir PPT bukan sekadar tuntutan profesi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang personal. Ketika disinggung mengenai motivasinya untuk terus kembali ke set produksi yang sama selama empat musim terakhir, ia memberikan jawaban yang mendalam. “Cinta tak bersyarat,” ujarnya singkat. Tio merasa banyak dialog dalam naskah PPT yang justru menjadi bahan perenungan baginya mengenai makna hijrah yang sesungguhnya.
Penyegaran cerita di Jilid 19 ini juga diperkuat dengan kehadiran karakter-karakter baru yang membawa konflik lebih kompleks dan dekat dengan realita pemuda masa kini. Raihan Khan, yang memerankan sosok Muluk, menggambarkan karakternya sebagai manusia sederhana yang sedang berproses belajar memahami kebenaran. Selain Raihan, hadir pula Farisha Fasha sebagai Pipit dan Ridwan Ghany yang memerankan tokoh Jarot, memberikan dinamika baru dalam jajaran pemain.

Sisi lain perjuangan karakter ditunjukkan oleh Angga Putra yang berperan sebagai Samsul. Ia memerankan sosok yang memiliki ketakutan besar dalam mengejar mimpinya menjadi guru. Angga mengakui bahwa memerankan Samsul memberikan tantangan intelektual tersendiri karena perbedaan pola pikir. “Memerankan Samsul itu sulit karena cara berpikir dan dialognya tidak pernah terlintas di kepala saya. Jadi saya harus banyak belajar dan latihan,” ungkap Angga.
Pada akhirnya, “Para Pencari Tuhan” Jilid 19 tetap setia pada benang merahnya: pencarian jati diri dan keberanian untuk memulai langkah perubahan melalui tobat. Di usia yang hampir menyentuh dua dekade, serial ini membuktikan bahwa pesan-pesan religius yang dikemas secara ringan dan tidak menggurui tetap memiliki tempat spesial di hati pemirsa setianya. Sinetron ini bukan sekadar hiburan pengisi waktu sahur, melainkan sebuah refleksi kemanusiaan yang terus tumbuh bersama penontonnya./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















