Sebuah catatan pinggir dari Gideon Momongan….
JAKARTA – Alkisah, di sekitar penghujung Desember pada tahun 2024. Dwiki Dharmawan bersyukur karena memperoleh kesempatan melakukan perjalanan ke Athena, ibu kota Yunani. Ia tampil dalam sebuah konser. Serta juga ternyata punya kesempatan rekaman. Asyik kan?
Album rekamanpun lantas dibuatnya di sana, serta materi tersebut disimpannya sekian waktu. Secara parallel, album tersebut dirampungkannya sampai tahap mixing dan mastering. Dwikipun lantas mendapatkan kata sepakat dari label internasional, Moonjune Records untuk mengedarkan album tersebut di waktu mendatang.
Dalam proses rekaman album tersebut, Dwiki didukung oleh para musisi mancanegara seperti Kimon Karoutzos (bass), Nikos Sidirokastritis (drums), Harris Lambrakis (Ney, yang adalah alat tiup asal Timur Tengah serupa suling), Vironas Ntolas (guitar). Dan Gilad Atzmon (saxophone dan clarinet). Gilad yang diajaknya ke Indonesia.
Pada kesempatan tour beberapa kota di Indonesia, Dwiki Dharmawan mengajak beberapa musisi Indonesia, antara lain ada Rudy Zulkarnaen (upright-bass). Cucu Kurnia (kendang) dan suling (berbahan pralon, buatan sendiri) oleh Bang Sa’at Syah, serta drummer muda lulusan Berklee College of Music, Boston, Kelvin Andreas.

Untuk posisi gitaris, khusus di Jakarta, ada Dewa Budjana. Sementara di kesempatan kota-kota lain, gitarisnya adalah Aditya Bayu. Karena Budjana berhalangan waktunya, alias ada pekerjaan lain. Sebenarnya Dewa Budjana dan Aditya Bayu statusnya adalah gitaris pengganti. Harusnya Agam Hamzah yang bermain. Tapi jelang konser, Agam Hamzah mengalami musibah, 2 jari tangan kirinya patah karena kecelakaan kecil di bandara Soetta. Yang membuatnya tak mungkin untuk tetap ikut tampil.
Dengan persiapan yang lumayan terbatas dan singkat sebenarnya. Dimana Gilad Atzmon baru bisa tiba di Jakarta mepet sekali waktunya, sebelum konser berlangsung. But, the show must go on… Yang tentunya berlaku kemudian, seperti biasanya adalah, memberlakukan format jam-session saja. Ada 10 repertoar, yang juga merupakan song-list isi albumnya. Sebagian besar merupakan karya Dwiki Dharmawan sendiri. Aman harusnya….
Konser dibuka dengan “Toledo Trane” (disalahejakan di rilisan digital dan vinyl), langsung mengedepankan permainan piano Dwiki dan saxophone dari Gilad. Kemudian “Lima Dadakan”. Disusul berikutnya, “Gambang Suling”, dimana titlenya menjadi “Gambang Nev”, karena pada album lagu ini mengetengahkan Nev sebagai suara utama berada di depan. Ada komposisi bertajuk, “Jazz For Freeport”, yang menurut Dwiki dipersembahkan bagi kemegahan Freeport di Timika, di bawah pimpinan Tony Wenas. Ada juga “Bubuy Bulan”, lagu tradisional yang diaransemen ulang menjadi “kaya dan agak liar”. Disambung lagu tradisional lain, “Paris Berantai”.

Berikutnya, “Frog Dance”, menggambarkan “keriuhan” suara kodok di waktu malam, yang seringkali dijumpai Dwiki selama di Bali. Berikutnya, “Pacu Jawi”, tentang balapan sapi ala Karapan Sapi di Madura. Tapi ini, balapan sapi di Sumatera Barat.
Dwiki mengakui, ia ada salah mengerti saat menulis lagu ini. Dipikirnya ini lagu Jawa, kan ada “Jawi”nya? Ternyata malah tentang Sumatera Barat…. Adapun 2 lagu penutup konser adalah, “Gaza Mon Amour”. Sebuah komposisi yang secara khusus merupakan apresiasi dan rasa kebersamaan dengan Masyarakat Palestina mengenai Gaza. Dan ditutup lagu megah dan “relatif meriah” yang diberi judul, “The Spirit of Peace”.
Lagu bertema perdamaian itu diberi suasana damai, dengan mengedepankan suara piano dan saxophone, soprano dan alto. Sepanjang konser, Gilad Atzmon, bergantian memainkan soprano dan alto saxophone selain clarinet. Gilad juga sebenarnya, pada beberapa konser kerapkali memainkan akordeon selain flute. Musisi Inggris kelahiran Israel ini, selain sebagai musisi tiup. Ia juga adalah novelist. Selain itu di Eropa selama ini ia dikenal sebagai seorang aktifis kemanusian, terutama anti-rasisme.
Adapun mengenai Anagnorisis, tercatat sebagai album keenam ataupun juga kesebelas secara kesluruhan dari Dwiki Dharmawan. Seperti yang diketahui, Dwiki adalah musisi Indonesia yang paling banyak melanglangbuana. Tercatat, ia telah tampil di sekitar 80 negara di seluruh dunia. Mulai dengan Krakatau Band, terutama format world-music. Berlanjut dengan pelbagai solo-projectnya, sejak tahun 1985.

Judul album tersebut adalah berarti “kebangkitan”, bisa juga “pengenalan”. Bahasa Yunani sengaja diambil dan telah disetujui oleh pihak label, Moonjune Records. Karena poses produksi album sepenuhnya memang diambil di kota Athena, Yunani, pada sekitar satu setengah tahun silam.
Diantara para penonton yang menyesaki areal De Concert Room di Deheng House malam itu. Terlihat hadir Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi. Selain itu ada tokoh Muhamadiyah, Din Syamsudin. Ada juga Wakil Ketua MPR, dari Fraksi PKB, Rusdi Kirana. Serta beberapa duta besar dari negara-negara sahabat. Datang juga executive producer album Anagnorisis, pemilik Moonjune, Leonardo Pavkovic.
Well, Dwiki Dharmawan. Sukses selalu dalam penjelajahan berkelanjutan terus eksplorasi musiknya. Teruslah berkarya, dan terus ikut mengharumkan nama Indonesia ke pentas music dunia./ JOURNEY OF INDONESIA | *dM

















