Kabar baik kembali datang dari salah satu musisi tanah air, Sandhy Sondoro. Setelah terakhir merilis album “Beautiful Soul” di tahun 2018, dan beberapa single kolaborasi bersama dengan musisi-musisi papan atas kini ia akan menjadi salah satu juri di acara talent show baru di Jerman yakni "All Together Now".

All Together Now adalah sebuah talent show yang pertama kali ditayangkan di BBC One pada 27 Januari 2018 dan pertama kali dibawakan oleh Rob Beckett dan Geri Halliwell. Michael Rice dinobatkan sebagai pemenang musim pertama pada 3 Maret 2018.

Setelah pertama kali ditayangkan di UK, “All Together Now” juga ditayangkan di beberapa negara lainnya, diantaranya Brazil, Colombia, Portugal, dan salah satunya adalah Jerman, dimana musim pertama akan tayang di channel TV Jerman bernama Sat1. dan Sandhy Sondoro akan menjadi salah satu jurinya.

“Sebuah kebanggan dan apresiasi yang tiada batas bisa menjadi salah satu Juri untuk acara Talent Show bergengsi bertaraf Internasional, dan membawa nama Indonesia keranah Internasional yang lebih luas lagi,” ujar Sandhy.

Sandhy Sondoro sendiri mengawali karir musik profesionalnya di Berlin, Jerman sejak lima belas tahun yang lalu. Pada tahun 2007, Sandhy Sondoro sempat menjadi finalis dari sebuah talent show vokal di salah satu stasiun TV Jerman, dan pada tahun 2009 Sandhy Sondoro menjuarai kompetisi New Wave 2009 di Riga, Latvia./ JOURNEY OF INDONESIA

Apa yang dibayangkan sebelumnya akhirnya menjadi kenyataan, Erwin Gutawa berhasil menghibur dan membuat senang hati ratusan penonton dalam Pentas Chrisye Live Tour by Erwin Gutawa yang digelar Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung, Rabu (11/12/2019). Ini merupakan pentas langka, tidak mainstream dan mengusung konsep multimedia ini dikelola EG (Erwin Gutawa) Production, bersama Trisatya Show & Entertainment dan KIMS.

Di atas panggung, Chrisye hanya muncul lewat video yang ditayangkan ke layar besar yang diletakan di tengah dan sisi kiri kanan panggung. Dari layar, terlihat Chrisye dalam video yang tengah menyanyi. Video ini diambil dari berbagai panggung antara tahun 1994 – 2002. Sementara suara musik dimainkan secara live oleh Erwin (piano) dan sejumlah musisi pengiring, antara lain Jeane Phialsa (drum), Adenanda Refano (bass), Yessi Kristianto (keyboard), Noni Dju (Keyboard & Synth), Erik Nur Firmansyah (Guitar 1) , Galih Galinggis (Guitar 2), Marcella Aprillia (Violin), Dwipa Hanggana Pratala (Cello ), Andika Candra (Saxophone/Flute), Dorry Windhu (Contra Bass/Mallet /Guitar Accoustic/Cuk/Timpani), dan Gelar Restusubada (Percussion)

Bersama para musisi itu pula, Erwin dengan mudah membujuk penonton bernyanyi bahkan bergoyang. Suasana terasa seolah Chrisye hadir secara nyata di depan penonton. Padahal, Chrisye telah 12 tahun wafat. Sejumlah lagu Chrisye yang dimainkan malam itu, hampir semuanya lagu hits sepanjang masa. Maka tak heran jika lagu-lagu seperti 'Semusim', 'Aku Cinta Dia', 'Kisah Cintaku', 'Anak Sekolah', 'Kidung', juga 'Gita Cinta' habis di lahap penonton yang hadir.

Apalagi ketiga intro 'Kala Cinta Menggoda', terdengar, seluruh penonton dalam gedung Sabuga mendadak tersugesti bergoyang. Lagu ini ditutup dengan penampilan bass solo dari Erwin yang mengundang tepuk tangan bersemangat. Bass memang alat musik pertama yang membuat Erwin terkenal di pentas musik Indonesia.

Erwin Gutawa back to bassist IbonkErwin Gutawa, back to bassist (Ibonk)

Sangat terasa memang jika Erwin tak ingin membuat panggung malam itu sekadar pentas nostalgia yang terlihat biasa saja. Karena itu, ia memunculkan Gita Gutawa dan Sandhy Sondoro untuk ambil bagian. Diawali oleh Gita yang secara solo menyanyikan lagu 'Sendiri' dan 'Kala Sang Surya Tenggelam' dengan mulus dan indah. Dan secara cemerlang, Erwin khusus merancang Gita menyanyi duet virtual dengan Chrisye, lewat lagu 'Anggrek Bulan'.

Lagu yang diambil dari album Chrisye bertajuk Dekade, yang aslinya dinyanyikan Chrisye bersama Sophia Latjuba. Sophia sendiri pernah dimunculkan dalam duet virtual di atas panggung konser “Kidung Abadi” pada 2012. Sebuah konser yang didedikasikan untuk memperingati 5 tahun wafatnya Chrisye. Pola rekaman duet dan penampilan video “Anggrek Bulan” versi Gita-Chrisye, bagi anak milenial dianggap seperti mengadopsi gaya nyanyi karaoke pada aplikasi Smule.

Jauh sebelum Smule lahir, sesungguhnya ide virtual duet rekaman semacam ini, pernah dilakukan David Foster (1991), dengan mempertemukan suara Natalie Cole dan ayahnya Nat King Cole yang sudah wafat 26 tahun sebelum rekam dibuat. Khusus penggarapan duet Gita-Chrisye dalam ‘Anggrek Bulan’, Erwin meninggalkan jejak cerdas yang patut dicatat sekaligus dikenang baik sebagai karirnya pribadi, karir almarhum Chrisye dan Gita maupun catatan emas pentas musik rekaman Indonesia.

Selayaknya, lagu tersebut bisa disebarluaskan menjadi rekaman dan dijaja di toko digital maupun dalam bentuk fisik. Kalau memungkinkan, jangan ditunda terlalu lama waktu edarnya. Agar nasibnya tidak seperti lagu ‘Kidung Abadi’. Lagu unik pertama di dunia, karya Erwin dan Gita ini, seperti kita tahu, diciptakan Erwin Gutawa secara khusus, dengan lirik ditulis Gita dari menggabungan 264 suku kata, yang diambil dari lagu-lagu yang pernah direkam Chrisye.

Gita Gutawa dan Sandhy Sondoro IbonkGita Gutawa dan Sandhy Sondoro (Ibonk)

“Ini mungkin pertama kali dalam sejarah dunia, sebuah lagu diciptakan dan direkam dari suara orang yang sudah wafat,” kata Erwin. Sayangnya, prose penciptaan lagu tersebut, terlambat diserbarluaskan dalam bentuk rekaman. Sehingga moment “kebaruan” dan "keistimewaan" penggarapannnya, seperti kurang mendapat atensi masyarakat.

Selanjutnya muncul Sandhy Sondoro yang menyuguhkan lagu 'Anak Jalanan' dan 'Andai Aku Bisa', sekaligus berduet dengan Gita dalam 'Badai Pasti Berlalu'. Ini menjadi duet “maut” dan indah yang tak terbayangkan sebelumnya. Penyanyi pop dengan jenis suara soprano, dipertemukan dengan penyanyi soul dan blues. Sungguh paduan indah dan sempurna.

Bandung sebagai kota pembuka dari rangkaian tur Chrisye Live Tour by Erwin Gutawa, kelhatannnya kurang antusias menjadi saksi sejarah dari konser nostalgia untuk mengenang almarhum Chrisye (16 September 1957 - 30 Maret 2007). Terbukti, hanya separuh kapasitas Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung yang terisi penonton.

“Bisa jadi harga tiketnya kemahalan, terutama yang di posisi festival,” ungkap Ferry Mursyidan Baldan, Penggagas dan Pendiri Komunitas Kangen Chrisye (K2C), sesaat sebelum konser digelar. Ferry bersama Komunitas Kangen Chrisye (K2C) ikut ambil bagian menjadi penonton. Ferry juga mengajak lebih dari 60 orang sahabat dan kerabat untuk bernostalgia dengan Chrisye./ JOURNEY OF INDONESIA

Inspirasi sebuah lagu bisa datang dari manapun, baik reka imaji ataupun juga dari pengalaman hidup. Hal ini juga terjadi pada SERIAN, sebuah band yang digawangi oleh Usman (Kumz) pada vokal, Denny Yunizar pada gitar dan Anton Widiastanto pada drum. Lewat sebuah single terbarunya berngaran 'Masih Ada Lady', sebuah lagu yang terinspirasi dari kisah seorang sahabat mereka.

"Lagu ini terinspirasi dari curhatan seorang kawan. Tadinya benar-benar mendapat seseorang yang dia sayang dan menyatu sampai menjalani percintaan. Tapi sayangnya putus dengan jarak waktu yang sangat cepat,” ungkap Kumz sebagai front man di band ini dan juga pencipta lagu 'Masih Ada Lady'.

Tak banyak perubahan dari karya-karya mereka sebelumnya, SIRIAN masih menghadirkan pola lagu yang easy listening dan enak untuk didengar. Yang sedikit membedakan dan menjadikan single terbarunya ini menjadi lebih kuat, karena ada keterlibatan seorang Sandhy Sondoro di dalamnya. Vokal Sandhy yang khas sedikit banyak menjadikan single terbarunya kali ini terasa lebih berkarakter dan memberikan amunisi baru bagi band besutan Music Management ini.

"Siapa yang nggak kenal Sandhy? Kita sangat mengidolakannya dan nggak nyangka akhirnya bisa berkolaborasi. Bang Sandhy sendiri bilang lagu ini keren. Alhamdulillah lagu ini jadi menambah warna baru SERIAN, khususnya di lagu ini jadi lebih enak didengar dengan bang Sandhy menyanyikannya. Bang Sandhy bagi kami adalah musisi yang sangat humble, mau menambahkan vokal bahkan menerima masukan dari kami," puji Kumz.

Masih Ada Lady IstMasih Ada Lady (Ist)

Senada seperti yang disampaikan Kumz sebelumnya, Sandhy Sondoro yang digandeng oleh band ini mengakui bahwa single 'Masih Ada Lady' ini cukup menjanjikan. "Saya suka dengan musik mereka, dan di sini saya support mereka karena memang suka dengan musik mereka yang easy listening, pop rock, kemudian liriknya juga santai mudah dimengerti dan tidak alay. Kebetulan kami juga satu management," beber Sandhy.

Usut punya usut, keinginan besar SERIAN melibatkan Sandhy Sondoro dalam proyek mereka karena Sandhy adalah idola bagi grup band asal Jakarta ini. Ada perasaan bahagia dan excited yang tidak bisa disembunyikan ketika ajakan mereka untuk kolaborasi diterima. Selama proses rekaman sendiri, tak ada kesulitan berarti yang ditemui.

'Masih Ada Lady' menceritakan kisah seseorang yang sedang patah hati dan ajakan-ajakan untuk bisa move on. "Pemilihan judul menurut gue, ketika lu putus cinta atau patah hati itu nggak perlu bersedih. Jangan menganggap lagi dia adalah segalanya bagi kita masih banyak untuk kita kembali move on," papar Kumz.

Dari sisi musik, kami coba menambah instrumen lain yang mungkin bisa menambah indah musiknya dan berharap lebih nikmat dan lebih indah dihayati. Kami masih bermain di musik yang simple enak didengar. Cuma yang berbeda kami masukan string cello, di intro, dalam lagu dan juga reff-nya biar lebih menambah nuansa pada lirik,” kata Kumz.

Begitulah, diluar dari makna lirik dan kekuatan pesan pada lagu untuk mengajak bangkit dari keterpurukan, SERIAN juga berharap single terbarunya kali ini bisa diterima dengan baik, khususnya bagi pecinta musik Indonesia. Lagu ini sudah bisa dinikmati di seluruh digital platform./ JOURNEY OF INDONESIA