JAKARTA – Dunia musik Tanah Air mengawali tahun 2026 dengan sebuah kejutan nostalgia yang dibalut dalam kemasan modern yang memukau. Sang maestro gitar, Tohpati, kembali menunjukkan taringnya dalam meramu ulang karya-karya abadi miliknya. Setelah sebelumnya sukses menggandeng Nadhif Basalamah untuk lagu ‘Semusim’ pada akhir 2025, kini pilihan jatuh pada lagu hit yang pernah membesarkan nama Reza Artamevia di tahun 2002 yaitu ‘Cinta Kita’.
Langkah ini diambil Tohpati bukan tanpa alasan yang mendalam. Jarak waktu lebih dari dua dekade memicu rasa penasaran sang musisi untuk melihat bagaimana sebuah karya klasik berinteraksi dengan talenta masa kini. Tohpati mengungkapkan alasan kuat di balik keputusan merilis ulang lagu tersebut setelah lebih dari dua dekade. “Lagu ini dulu pernah populer di tahun 2002. Dengan jarak yang begitu lama dari 2002 ke 2026, saya ingin tahu seperti apa hasilnya kalau dinyanyikan oleh penyanyi baru. Saat itu, saya terpikir untuk mengajak kerja sama Fabio Asher karena selain pernah berkolaborasi, ia juga jebolan berbagai ajang musik. Jadi, saya sudah tahu vokalnya seperti apa dan secara kualitas tidak perlu diragukan lagi.”
Bagi Fabio Asher, ajakan ini layaknya sebuah pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia mengakui bahwa kesempatan bekerja sama dengan musisi sekelas Tohpati adalah sebuah tonggak penting dalam perjalanan kariernya. Fabio menuturkan betapa ia sama sekali tidak ragu saat tawaran itu mampir kepadanya melalui tim manajemen. “Awalnya Mas Perry dan Mas Iman dari WeCord menghubungiku, menginfokan kalau Mas Tohpati sedang mengerjakan remake lagu-lagu hits-nya dan tertarik untuk bekerja sama. Tanpa pikir panjang, tentu saja aku langsung mengiyakan kesempatan emas untuk bekerja dengan salah satu maestro musik Indonesia ini,” tuturnya.
Meski demikian, menghidupkan kembali lagu yang sudah melekat di hati masyarakat memiliki beban tersendiri. Fabio menyadari bahwa ‘Cinta Kita’ adalah lagu dengan identitas yang sangat kuat. Ia mencoba memberikan sentuhan personal agar versi terbaru ini memiliki nyawa yang berbeda tanpa harus mematikan esensi aslinya. Fabio pun mencoba menghadirkan pendekatan vokal yang personal, tanpa menghilangkan identitas lagu.

“Di versi remake ini, aku mencoba membawakannya dengan gaya vokal yang mungkin sedikit lebih ballad dibandingkan saat dibawakan oleh Teh Reza. Dengan sentuhan produksi yang lebih modern dari Mas Tohpati, lagu ini akan tetap terasa familiar, tapi memberikan pengalaman mendengar yang lebih fresh.”
Di balik kemegahan suaranya, proses produksi lagu ini melibatkan kerja sama internasional yang impresif. Tohpati menyuntikkan elemen orkestrasi yang dikerjakan bersama Budapest Orchestra, memberikan nuansa yang lebih kolosal dibandingkan versi orisinalnya. Namun, dari segi struktur, ia tetap mempertahankan fondasi yang sudah ada. “Saya tidak mau terlalu mengubah beat-nya karena memang tidak perlu. Tapi, aransemennya sekarang lebih grande, orkestrasinya juga dibantu Budapest Orchestra, jadi lebih powerful. Mood-nya juga jelas berbeda karena dulu vokalisnya perempuan, sementara sekarang laki-laki. Dari yang saya dengar, Fabio membawakannya dengan baik dan menyatu dengan musiknya. Kalau dibilang, ini pop Indonesia sekali.”
Perjalanan menuju hasil akhir yang sempurna ini tidak lepas dari dinamika kreatif antara produser dan penyanyi. Menariknya, sempat terjadi perbedaan pandangan mengenai tempo lagu. Fabio sempat memiliki ide untuk membawa ‘Cinta Kita’ ke arah yang lebih energik. Terkait hal ini, Tohpati menceritakan tantangan yang justru muncul saat ia dan Fabio melakukan diskusi, terutama soal arah aransemen. “Sempat ada perdebatan kecil karena Fabio mengusulkan lagu ini dibuat lebih upbeat. Tapi, setelah dicoba, feeling saya tetap lebih cocok ballad. Akhirnya, aransemen kembali lagi ke ballad. Namun, di luar itu, proses pengerjaan single ini berjalan dengan lancar,” ungkapnya.
Fabio Asher sendiri tidak menampik bahwa ada rasa was-was saat mengolah lagu yang sudah sangat populer. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kehormatan lagu tersebut di mata para penggemar lama. “Aku merasa tertantang untuk tetap bisa menjaga roh dari versi orisinal ‘Cinta Kita’ karena itu yang membuatnya digemari. Lagu ini sudah punya tempat istimewa di hati banyak orang, jadi aku harus sangat berhati-hati agar pada saat menyanyikannya, esensinya tidak hilang.”

Kehadiran ‘Semusim’ dan ‘Cinta Kita’ di pasar musik digital seolah menjadi sinyal akan lahirnya sebuah album besar dari Tohpati di masa depan. Namun, bagi para pendengar yang mengira album tersebut hanya akan berisi lagu-lagu melankolis, Tohpati memberikan bocoran bahwa ia menyiapkan variasi genre yang lebih luas. Menurut sang gitaris, ballad bukan hanya genre yang ada di albumnya mendatang. “Saya tidak ingin isi album saya semua lagu mellow, harus ada variasi agar pendengar tidak bosan. Jadi, nanti ada lagu-lagu dengan beat cepat juga, salah satunya ‘Panah Asmara’ yang dulu dinyanyikan oleh Chrisye, kemudian Afgan,” tambahnya.
Sebagai penutup dari perilisannya kali ini, baik Tohpati maupun Fabio menaruh harapan besar agar karya ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, melampaui batasan usia. Mereka ingin musik ini menjadi penghubung yang manis antara mereka yang tumbuh bersama lagu tersebut di masa lalu dan anak muda zaman sekarang.
“Harapan kami, single remake ini bisa menjadi jembatan antara generasi. Semoga pendengar lama tetap bisa merasakan nostalgia dan emosi yang sama, sementara pendengar baru bisa mengenal dan jatuh cinta pada lagunya. Yang paling penting, semoga lagu ini kembali hidup dan punya makna baru bagi siapa pun yang mendengarkan,” tutup Fabio.
Kini, “Cinta Kita” sudah resmi tersedia dan dapat dinikmati melalui berbagai platform musik digital di seluruh dunia./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















