GBN ke-11 Bidik Milenial dengan Mengusung Tema Batik Sumatera

GBN ke-11 Bidik Milenial dengan Mengusung Tema Batik Sumatera Shanty A Pranantyo, Ibu Ginanjar Kartasasmita, Ibu Wida D. Herdiawan, Ibu Hj. Wirda Hanim dari Batik Tanah Liek usai preskon GBN 2019 (Ibonk)

Keberadaan batik makin menggeliat akhir-akhir ini. Berbagai upaya dilakukan untuk mempromosikan dan mengembangkan Batik dan aplikasinya di dalam negeri. Salah satunya adalah dengan penyelenggaraan Gelar Batik Nusantara (GBN) yang telah dilakukan sejak tahun 1996 oleh Yayasan Batik Indonesia.

Acara yang digelar dua tahun sekali ini merupakan Gelar Batik Nusantara yang ke-11 kalinya di tahun 2019 ini. GBN sebagai salah satu upaya Yayasan Batik Indonesia kepada para pecinta batik, pengrajin, pengusaha dan pemerhati Batik dengan semangat Sumpah Pemuda dan sekaligus sebagai mitra kerja pemerintah dalam mengembangkan, melestarikan dan membina pengusaha/ perajin Batik Nasional. Pada tahun ini GBN mengusung tema Batik Sumatera yang sasarannya adalah membidik generasi millenial saat ini.

Pagelaran yang dibuka oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan ibu Mufidah Jusuf Kalla ini berlangsung selama lima hari yang dimulai tanggal 8 - 12 Mei 2019 dengan mengambil tempat di Main Lobby dan Assembly Hall, Jakarta Convention Center.

Batik, yang telah diakui keberadaannya oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia, telah dimasukan ke dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) dimana pengakuan tersebut merupakan pengakuan internasional terhadap budaya Indonesia. Sehingga momentum tersebut ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober sejak tahun 2009 lalu.

Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla bersama dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengunjungi salah satu stand batik di acara GBN Yulia

Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla bersama Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengunjungi salah satu stand batik di acara GBN (Yulia)

Seperti yang dikatakan oleh Ibu Ginanjar Kartasasmita, ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, bahwa sejak tahun 1995 YBI berdiri, pengurusnya adalah sosok-sosok yang sangat mencintai batik.

"Selama lebih dari 20 tahun kami bekerja, batik akhirnya diakui sebagai busana nasional. Apa yang diberikan UNESCO itu harus kita pelihara, karena bukan sekedar memberikan penghargaan saja tetapi sebelumnya dilakukan pemeriksaan dan mengesahkan dengan seksama," kata Ibu Ginanjar Kartasasmita di Main Lobby Stage Jakarta Convention Center pada Rabu (8/5/2019).

Batik menurutnya juga saat ini bukan hanya digunakan untuk golongan tertentu saja, tapi juga mengarah ke generasi millenial dan juga segala lapisan. "Saat ini kami terus berupaya mendekatkan batik kepada generasi millenial. Menimbang banyak sekali filosofi yang ada dalam batik," katanya lagi.

GBN 2019 kali ini mengangkat Batik Sumatera sebagai warisan leluhur yang tidak berkonotasi kuno, tapi mencitrakan kebebasan, kedinamisan, serta keceriaan yang sesuai dengan gaya hidup di masa sekarang. Dengan tema Lestari Tak Berbatas, batik yang sudah menjadi budaya Jawa, saat ini semakin berkembang diberbagai wilayah di Indonesia, termasuk juga ke Sumatera.

"Tema kali ini mangangkat batik Sumatera dari beberapa tempat. Batik ini sudah ada lama, tapi mati suri dan kemudian dibangkitkan kembali. Kita bermaksud untuk mengangkatnya kembali," imbuh Wida D. Herdiawan (Ketua Panitia GBN 2019).

Hajjah Wirda Hanim, penggiat batik Sumatera yang hadir pada kesempatan yang sama sebagai pemilik Batik Tanah Liek menceritakan, bermula dirinya melihat sebuah acara adat di Batu Sangkar yang menggunakan kain yang sudah kusam karena saking tuanya.

Sejak saat itulah hatinya tergerak sebagai penggagas pelestarian kain adat dengan beberapa eksperimen sederhana. Dengan menggunakan campuran pewarna dari bahan pembuat kue, hingga akhirnya berhasil memadukannya dengan warna dari berbagai tumbuhan. Seperti, gambir, pinang dan lain-lain dengan memakan waktu yang sangat panjang. "Saya melakukannya karena sangat mencintai kain tersebut hingga melakukan berbagai cara bagaimana kain itu bisa digunakan kembali," katanya.

Gelar Batik Nusantara kali ini tidak hanya memamerkan produk unggulan, tetapi berbagai acara diantaranya Talkshow, Fashion Show, Edutainment, Dialog Batik, Creative Corner, dan juga hiburan berupa pertunjukan musik tradisional.

01 Fashion Show GBN 2019 IbonkSalah satu tampilan fashion show pada Gelar Batik Nusantara 2019 (Ibonk)

"Batik sekarang lebih mengikuti perkembangan zaman, sehingga batik bukan hanya ditampilkan pada acara fashion show saja, tapi juga digunakan sebagai asesoris dan lain-lain. Sehingga batik tidak hanya untuk yang tua atau senior saja, tapi kita melihat juga apresiasi dari kaum milenial terhadap batik," pungkas Ibu Ginanjar Kartasasmita.

Pameran ini menargetkan kehadiran pengunjung sebanyak 13.000 orang selama 5 hari pelaksanaannya yang berlangsung setiap harinya mulai pukul 10.00 - 21.00 WIB. Dalam rangka membidik generasi milenial, GBN 2019 kali ini juga bekerja sama dengan bermacam komunitas muda, sekolah desain busana, serta Putra Putri Batik Nusantara.

GBN 2019 ini diikuti sebanyak 260 booth yang terdiri dari perajin batik dari seluruh Nusantara dan dikemas dalam berbagai program acara menarik. Dengan tiket masuk seharga Rp. 20 ribu. Khusus pada 9 Mei 2019, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk/ JOURNEY OF INDONESIA

Rate this item
(1 Vote)
Last modified on Thursday, 09 May 2019 13:57