Festival Sandalwood 2019, Menjadi Incaran Para Fotografer

Festival Sandalwood 2019, Menjadi Incaran Para Fotografer Festival Sandalwood 2019 (Ist)

Pulau Sumba memang memiliki daya tarik luar biasa. Sumba bahkan pernah disebut sebagai Pulau Terindah di Dunia. Status tersebut disematkan oleh Majalah Focus asal Jerman. Pada artikelnya, majalah Focus memberi judul ‘Sumba Kein Tanz, aber ein Traum’ yang artinya itu ‘Sumba, Bukan Nama Sebuah Tarian, tapi Sebuah Mimpi’. Sumba juga masuk big three destinasi paling dicari publik melalui Google Search. Periodenya Januari 2017 hingga Juli 2018 dan diukur Google Indonesia.

“Keindahan budaya dan alam bertemu di Festival Sandalwood 2019. Moment ini tentu spesial bagi yang mencari konten foto atau video. Detail-detailnya sangat eksotis. Tinggal siapkan saja perangkat kamera terbaik. Namun, bermodalkan kamera handphone juga bisa. Nanti bisa bertanya pada fotografer senior ini, bagaimana mendapatkan hasil bagus,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Nah, daya tarik Sumba dikemas pula dalam sebuah festival yang cukup luar biasa, Festival Sandalwood 2019. Festival ini menghadirkan Parade 1001 Kuda Sandalwood dan Pameran Tenun Ikat Sumba Timur. Hal inilah yang akhirnya menarik minat para fotografer senior Indonesia untuk memastikan diri hadir dalam event yang digelar pada 10-15 Juli 2019.

Seperti yang disampaikan oleh Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora bahwa festival ini menawarkan beragam obyek foto yang unik dan menarik. “Budaya Sumba Timur ini khas. Semuanya akan ditampilkan dalam Festival Sandalwood. Event tersebut menyajikan banyak obyek yang luar biasa. Pasti bagus untuk fotografi. Kami tentu menyambut hangat kehadiran seluruh fotografer yang bergabung di Festival Sandalwood 2019,” jelas Gidion, Jumat (5/7).

Sementara Ketua Tim Pelaksana CoE, Esthy Reko Astuty mengungkapkan, kehadiran para fotografer kawakan Tanah Air ini akan membuat Festival Sandalwood semakin populer. “Festival Sandalwood dijamin akan semakin populer. Fotografer-fotografer ini yang terbaik. Mereka ini pakarnya fotografi. Detail konten yang dihasilkan dari event pasti bagus-bagus. Kehadiran mereka di Sumba tentu menjadi momentum bagus. Bagi fotografer pemula bisa belajar sedikit dari mereka. Sebagai figur luar biasa, mereka pasti mau berbagi pengetahuan,” ungkap Esty.

Parade 1001 Kuda dalam Festival Sandalwood IstParade 1001 Kuda dalam Festival Sandalwood (Ist)

Salah satu nama yang sangat familiar adalah sosok Arbain Rambey. Ia kerap menjadi juri lomba foto yang diadakan Kementerian Pariwisata. Selain foto, pria berusia 58 tahun ini dikenal sebagai redaktur foto Harian Kompas.

Arbain juga piawai dalam menulis. Ia telah menghasilkan beberapa karya. Sebut saja Mist of Time yang diterbitkan di London, Inggris, pada tahun 2005. Ada juga Adventure Smartphone Photography. Beberapa pameran mancanegara yang digelarnya seperti, Crossing Bridges, Singapura, 2004. Pameran lainnya, Persatoean di Melbourne, Australia, 2005, dan Indonesia in 50 Picture, Kuwait, pada 2009.

Nama besar lainya adalah Darwis Triadi, sosok yang dikenal sebagai pakarnya fotografer glamor dan fashion. Karyanya pernah mejeng di majalah tahunan Hesslblad, 1990. Setahun berikutnya, karyanya ditampilkan Majalah Vogue pada artikel tentang Indonesia. Dirinya juga kerap mengisi seminar dan workshop. Dia juga punya lembaga pendidikan fotografi.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar, Muh Ricky Fauziyani, menilai kehadiran sosok-sosok ini menjadi nilai lebih festival.

“Festival Sandalwood akan semakin meriah dengan kehadiran para fotografer senior tersebut. Nantinya ada banyak obyek yang ditawarkan melalui beragam paradenya. Kalau ingin mencari konten unik dan menarik untuk lomba, maka festival ini menyediakan segalanya,” terang Ricky Fauziyani./ JOURNEY OF INDONESIA

 

Rate this item
(1 Vote)
Last modified on Wednesday, 10 July 2019 03:30