Buleleng Siap Gelar Bulfest 2019

Buleleng Siap Gelar Bulfest 2019 Bullfest 2019 sias digelar dengan angkat “Gong Pacek”, sebagai perangkat kesenian asli Buleleng (Ist)

Pemerintah Kabupaten Buleleng kembali akan menggelar ajang festival bergengsi, Buleleng Festival (Bulfest) dengan menghadirkan sejumlah kesenian tradisional khas Buleleng yang kembali dibangkitkan dan ditampilkan dalam festival tahunan yang akan digelar untuk yang ketujuh kalinya ini. Lewat tema “Shining Buleleng” festival ini dimaksudkan sebagai upaya mengangkat dan mengembalikan kejayaan kesenian tradisonal Buleleng sehingga berjaya dan bersinar kembali.

Salah satu yang unik dalam penampilan kesenian nantinya adalah setiap parade gong kebyar wajib menggunakan “Gong Pacek”, sebagai perangkat kesenian asli Buleleng. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kab. Buleleng, Gede Komang bahwa momentum Bulfest tahun ini akan dijadikan ajang untuk mengembalikan kejayaan Gong Pacek yang merupakan warisan kesenian dari Buleleng. Sehingga, dalam setiap penampilan kesenian pada gelaran Bulfest ini, peserta dilarang menggunakan “Gong Gantung”.

“Dari saat ini kami memang harus berusaha mengembalikan kebangkitan Gong Pacek, sebagai warisan leluhur kita (di Buleleng). Jadi Saya tidak mau para seniman di Buleleng meniru-niru gong yang ada di daerah lain,” ungkap Gede Komang saat memberikan konferensi pers di Singaraja, Minggu (4/8) siang.

Pada acara pembukaan Bulfest ke-7 nanti kembali akan ditammpilkan tarian masal, yaitu tari Panyembrama, sebagai tari penyambutan. Sebanyak 500 orang penari yang dibawakan oleh remaja putri dari berbagai desa di Buleleng akan menarikan tarian peyambutan tersebut. Dipilihnya tari Panyembrama ini mengingat tarian ini sudah menjadi tarian tradisional universal khas Bali, dan secara khusus digunakan untuk menyambut tamu.

Bullfest 2019 angkat tema Shining Buleleng IstBullfest 2019 angkat tema Shining Buleleng (Ist)

Adapun perbedaan lain dalam gelaran Bulfest yang akan berlangsung dari tanggal 6 s/d 10 agustus 2019 ini, yaitu diberikannya kesempatan kesenian luar daerah Bali untuk tampil pada panggung utama. Kesenian itu adalah tarian khas etnis Medan, Sumatera Utara, yang direncanakan tampil pada malam kedua Bulfest. Tampilnya kesenian dari luar daerah Bali inipun dianggap sebagai apreasiasi dan pengakuan atas pelaksanaan Bulfest yang sudah masuk Calendar Of Event Kementerian Pariwisata RI.

Motifasi untuk mengembalikan kesenian asli tradisional di Bulfest ini juga dengan menghadirkan kolaborasi kesenian tradisional Gong Kebyar Dauh Enjung-Dangin Enjung. Ditampilkan dengan konsep mebarung, gong kebyar Dauh Enjung – Dangin Enjung ini akan mengiringi tarian khas dari dua sisi daerah budaya tersebut.

Dari Dangin Enjung terdapat nama besar pengawi kesenian antara lain Gde Manik dan Pan Wandres. Adapun kesenian hasil garapan Dangin Enjung antara lain Tari Terunajaya, Tari Legong Kekebyaran, dan Tari Cenderawasih. Sedangkan di Dauh Enjung ada nama besar Ketut Mardana dan I Putu Sumiasa, dengan garapan seni antara lain Tari Wiranjaya, Tari Merpati, dan Tari Nelayan khas Buleleng. Pada acara pembukaan Bulfest tanggal 6 Agustus nanti , juga direncanakan dihadiri oleh sejumlah pejabat Pemerintah Daerah dari luar Bali dan tamu mancanegara. Pejabat dari luar Bali yang sudah diipastikan hadir antara lain anggota DPRD Kota Pangkalpinang sebanyak 30 orang, Wakil Walikota Palembang, dan pejabat dari Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, Jawa Tengah. Yang menarik, kehadiran anggota DPRD Kota Pangkalpinang di atas adalah dalam rangka mempelajari pelaksanaan festival seni di Buleleng. Sedangkan tamu mancanegara akan hadir sedikitnya 200 orang dari berbagai Negara. Tamu ini merupakan peserta seminar internasional di Undiksha Singaraja. Mereka secara khusus meminta pelaksanaan seminar agar bersamaan dengan pelaksanaan Bullfest, sehingga bisa menyaksikan gelaran festival yang dirintis pada tahun 2013 silam./ JOURNEY OF INDONESIA

Rate this item
(1 Vote)
Last modified on Wednesday, 07 August 2019 08:35