Pupuk Rasa Cinta Budaya Tanah Air, PT. Sarinah Sukses Hadirkan Pekan Budaya Kain Nusantara

By Ibonk October 31, 2019 102
Pupuk Rasa Cinta Budaya Tanah Air, PT. Sarinah Sukses Hadirkan Pekan Budaya Kain Nusantara Cletus Beru, Mama Martina, Lies Permana Lestari dan Sita Hanimastuty selaku Ketum KCBI (Ibonk)

Ada yang menarik sebenarnya jika kita melangkahkan kaki ke Sarinah yang berada dibilangan Thamrin, Jakarta pada beberapa hari ini. Betapa tidak, karena sejak 22 Oktober 2019 lalu, pusat perbelanjaan ini menggelar Pekan Budaya Kain Nusantara hingga 31 Oktober 2019 hari ini.

Yang paling menarik adalah kita dapat menemukan dari banyaknya stand sedehana yang memajang kain-kain dari banyak daerah di Indonesia, ada sebuah spot menarik yang banyak mendisplay kain-kain cantik khas Maumere, Nusa Tenggara Timur. Journey of Indonesia sendiri menyaksikan banyaknya pengunjung yang berdesak-desakan untuk membeli kain ataupun hanya sekedar pernak-pernik khas Maumere.

Dalam tanggapannya, Lies Permana Lestari selaku Direktur Bisnis Retail PT Sarinah Persero memang tak menampik bahwa beberapa hari usai pembukaan memang sepi dari pengunjung."Sayang memang", ujarnya. "Ini adalah event bagus, tapi mungkin juga karena kurangnya publikasi. Untuk itu Sarinah dan KCBI (Kelompok Cinta Berkain Indonesia) serta Wastra Prema selaku partner event ini mengimbanginya dengan syiar di social media. Selain itu diadakan pula beberapa kegiatan sepanjang pameran seperti angklung, flash mob, serta fasion show," tandasnya.

Lies Permana Lestari selaku Direktur Bisnis Retail PT Sarinah Persero IbonkLies Permana Lestari selaku Direktur Bisnis Retail PT Sarinah Persero (Ibonk)

“Lewat penetrasi tersebut, akhirnya mulai banyak pengunjung yang hadir. Malah tadi sempat dikunjungi 3 wanita penggiat fashion dari Perancis. Mereka sangat terpesona dan membeli beberapa kain dari Maumere dan langsung membawanya ke Eropa. Sayang waktu mereka sangat sempit karena baru mendengar ada kegiatan Budaya Kain Nusantara ini dipenghujung kunjungan mereka” urainya di sela-sela langkahnya menuju stand Maumere.

Yang tak kalah menarik lagi adalah kehadiran seorang penenun asal Maumere, Mama Martina. Walau sudah berusia 70 tahunan, namun mata sang mama masih terlihat awas dan tangannya cukup cekatan memilah benang beraneka warna dan menggerak-gerakkan alat tenunnya. Irama kayu beradu yang konstan dan warna warni urai benang yang ditenun menjadi sebuah karya seni berbentuk kain adalah sebuah keasyikan tersendiri.

Lewat salah seorang rekannya yang fasih berbahasa, menyebutkan kalau Martina cukup cepat dalam menyelesaikan pekerjaan menenun. Ia mampu menyelesaian sebuah kain Maumere dengan warna-warni alami dalam waktu seminggu, sedangkan kalau selendang hanya butuh 3 sampai 4 hari saja.

"Iya, inilah Mama Martina yang sempat viral, berawal dari postingan salah satu pengunjung di media sosial yang mengangkat, sepinya pengunjung dipameran yang ia ikuti di Sarinah," ungkap Lies Permana tersenyum.

Mama Martina IbonkMama Martina (Ibonk)

“Kita memang ingin mengangkat pengrajin seperti ini Mama Martina. Selain agar mereka juga tahu pangsa pasarnya seperti apa, mereka juga bisa mengetahui akses pasar. Sarinah ini memang lapaknya, tempat orang-orang yang memang semangat untuk mempertahankan kebudayaan,” ungkapnya lagi.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Cletus Beru (50), sebagai pengrajin tenun asal Maumere ini bahwa dirinya sangat berterima kasih kepada Sarinah dan KCBI yang memberikan kesempatan kepada mereka sehingga bisa menggelar lapak di pusat perbelanjaan ini. "Saya mewakili kawan-kawan disini sangat berterima kasih pada Sarinah dan KCBI telah diperlakukan dengan baik. Terus terang kami tidak mengetahui jika ada berita yang viral bahwa event ini sangat sepi".

“Kalaupun memang sepi itu memang sudah takdir, dan memang Tuhan kasih rezekinya seperti itu. Tidak ada masalah," ungkapnya lagi. Walaupun pada akhirnya, Cletus Beru dan kawan-kawan harus panik karena setelah berita tersebut menyebar, banyak pengunjung yang datang dan membeli kain tenun mereka.

Pengunjung tengah memilih pernak pernik khas Maumere IbonkPengunjung tengah memilih pernak pernik khas Maumere (Ibonk)

Ia menerangkan sebanyak 200 lembar kain yang dibawanya nyaris ludes dibeli pengunjung, dan Cletus mau tidak mau harus mendatangkan kembali kain dengan beragam motif langsung dari Maumere. "Yang jelas besok (hari ini.red) sudah datang lagi kain yang baru dan sekalian bisa kami bawa untuk event selanjutnya yakni eksebisi ke Amerika," ujarnya sumringah.

Cletus menerangkan bahwa kain Maumere ini menggunakan bahan alami dan sangat ramah lingkungan dan memiliki nilai jual yang tinggi. "Kami mengambil bahan-bahan pewarna ini dari halaman atau tumbuhan disekitar pemukiman seperti kunyit, daun katuk, daun indigo dan beberapa akar berwarna dari hutan. Ada ratusan makna yang bisa dijelaskan dari pola yang diterapkan di setiap kain yang diciptakan", ungkap Cletus sambil menerangkan beberapa arti dari pola kain yang dipergunakannya.

Dipenghujung bincang-bincangnya dengan pihak media, Lies Permana Lestari mengungkapkan bahwa pameran kali ini adalah salah satu upaya Sarinah memperkenalkan dan menggaungkan keindahan kain Nusantara khususnya dari Indonesia Timur. “Acara ini memang kita buat untuk menggaungkan kembali kain tenun Maumere yang sangat bagus, tapi masih banyak orang yang belum mengenalnya. "Ini juga sekaligus menyatakan bahwa Sarinah mendukung kain Nusantara khususnya Indonesia Timur”, tutupnya./ JOURNEY OF INDONESIA

Rate this item
(1 Vote)
Last modified on Thursday, 31 October 2019 17:04