Gerakan #akuberdaya yang digagas desainer Nina Nugroho, kembali berkolaborasi dengan Evapora, digital event organizer, menggelar Diskusi Publik Kementrian Koperasi dan UMKM bersama komunitas UMKM Indonesia ‘Peluang dan Strategi 2022’.

Sebanyak 8 tokoh dari komunitas UMKM berdiskusi langsung dan memberikan insight terkait kesiapan UMKM menghadapi tantangan di 2022. Para tokoh tersebut adalah Coach Ridwan Abadi dari SBC, Rachmat Sutarno M, dari KPMI, Iwan Kurniawan dari Gen Pro, Ridwan Hamid dari Aumi Kadin, Afdal Marda dari Forum UKM Rendang, Menhefari dari Dimensi, dan Subagiyo ST, dari Kul-Ind.

Dalam kesempatan tersebut, Mentri Koperasi dan UMKM Teten Masduki dalam sambutannya mengakui peran UMKM sebagai tonggak perekonomian Indonesia. Sehingga pemerintah terus memperbaiki ekosistem supaya UMKM berkembang. Menurutnya, di masa pandemi ini UMKM yang mampu bertahan adalah yang terhubung dengan ekosistem digital, dengan memanfaatkan platform e-commerce, marketplace.

“Adaptasi, kreativitas dan inovasi adalah kunci keberlanjutan UMKM dimasa pandemi dan juga menghubungkan UMKM ke pasar global. Untuk itu, sudah saatnya dan mau tidak mau UMKM bertransformasi ke digital. Penetrasi digitalisasi, bagi UMKM akan mendapatkan margin lebih dan memangkas mata rantai penjualan,”papar Teten, lagi.

Usai memberi sambutan, diskusi dilanjutkan bersama Deputi Bidang Usaha Mikro, Eddy Satriya yang secara seksama mendengarkan sejumlah harapan dan insight dari 8 tokoh komunitas UMKM agar UMKM semakin bertumbuh di tahun depan. “Seiring pertumbuhan ekonomi yang kian menunjukkan tren yang positif, kami berharap pemerintah dapat melakukan stimulasi untuk menaikkan daya beli di masyarakat,” kata Luftiel Hakim, dari komunitas Tangan Di Atas (TDA).

Kemudian, Abah Iwan dari komunitas Genpro mendorong pemerintah untuk menggiatkan pusat inkubasi kelompok usaha berbasis digital. Seperti yang sudah berjalan adalah Tasik Digital Native. Dimana para generasi millennial terfasilitasi untuk menjalankan bisnis online.

Sementara itu Menhefari dari komunitas pebisnis online, Digital Marketing Enthusiast Indonesia (Dimensi) membawa sejumlah harapan dari membernya yang saat ini berjumlah 7800 orang di seluruh Indonesia.

Peserta Diskusi Publik Peluang Strategi 2022 IstPeserta Diskusi Publik Peluang & Strategi 2022 (Ist)

“Kami dari pebisnis online berharap pemerintah dapat mempercepat proses pemberian ijin edar dari BPOM dan sertifikat HAKI, Pak. Karena terus terang tanpa legalitas itu, kami nggak bisa jualan. Kalau nggak ada Haki, brand kami terancam ditiru. Ini jelas merugikan kami. Lalu terkait pelayanan pajak, kami dituntut untuk bayar pajak".

"Tolong kami diberikan pelatihan sederhana terkait pajak, karena kami sungguh-sungguh tidak mengerti bagaimana cara melaporkan pajak kami. Karena kami hanya pedagang kecil yang berusaha untuk bertahan hidup. Jadi pajak ini sangat menakutkan bagi kami. Terakhir, masalah ekspedisi, sistem COD yang semakin marak. Adakah bantuan hukum untuk UMKM, karena ada sekitar 40 teman kami yang disomasi oleh perusahaan ekspedisi terkait sistem COD ini,” kata Menhefari, bersemangat.

Kementerian Koperasi dan UKM melalui, Eddy Satriya, Deputi Bidang Usaha Mikro berjanji akan menindak lanjuti masukan dari para tokoh UMKM pada acara diskusi publik tersebut. “Terkait HAKI, pelatihan pajak sederhana dan ekspedisi harus dibahas tersendiri. Memang kalau produk UMKM dibajak, marketplace seharusnya memberikan perlindungan. Juga untuk BPOM, sudah ada kemudahan-kemudahan yang diberikan . Jadi sebelum ijin edar dari BPOM keluar, tetap bisa memasarkan produknya,” jelas Eddy Satriya.

Nina Nugroho sebagai penggagas gerakan #akuberdaya berharap diskusi public ini dapat menjawab tantangan untuk UMKM Indonesia agar dapat naik kelas di 2022.

“Dari webinar ini diharapkan semakin terlejitkan keberdayaan para UMKM. Dimana para pelaku UMKM dapat melihat peluang-peluang yang terbuka lebar di tahun 2022, sehingga mereka dapat menyusun strategi untuk pulih dan meroket,” pungkas Nina./ JOURNEY OF INDONESIA

Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021, Bank Indonesia bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) menyelenggarakan Mastermind Class Modest Fashion. Acara yang diselenggarakan di JCC beberapa waktu lalu ini, menggundang 10 fashion desainer Indonesia terdepan di lini masing-masing yakni Dian Pelangi, Vivi Zubedi, Ria Miranda, Khanaan, Chyntia Mahendra, Irna Mutiara, Tuty Atib, Jeny Tjahyawati, Nina Nugroho dan Istafiana Candarini.

Acara yang juga dihadiri para ahli di bidang produk halal yaitu Sapta Nirwandar (Chairman of IHLC & Indonesia Tourism Forum), Jetti Rosila Hadi selaku (Vice Chairwoman IHLC), Diana Yumanita (Deputy Director Sharia Economy & Finance Department of Bank Indonesia), Ria R. Christiana (CEO DBRANCOM) serta Prof Carla Jones, antropolog dari Universitas Colorado, AS yang hadir secara virtual.

Mastermind Class sendiri adalah sebuah forum yang bertujuan untuk menjadikan para pengusaha modest fashion di Indonesia menyadari bahwa mereka adalah mastermind (orang dibalik) kesuksesan industri modest fashion Indonesia untuk bisa berjaya di pasar global. Selain untuk membentuk kesadaran tersebut, kegiatan ini juga dilengkapi dengan business linkage dimana akan dilakukannya perkenalan dari lembaga wakaf produktif untuk membuka potensi-potensi kerjasama antara pengusaha modest fashion dan lembaga wakaf produktif.

Dalam paparannya secara virtual, Prof Carla Jones menyebutkan selama ini Indonesia sebenarnya telah dikenal sebagai salah satu pusat fashion dunia, namun sayangnya, lebih kepada fast fashion yang dalam banyak hal berseberangan dengan prinsip sustainability yang kini tengah menjadi perhatian dunia, dalam upaya merawat bumi.

Sementara modest fashion mengusung sustainability, inclusivity dan equity yang merupakan hal pokok dalam konsep halal,  dan banyak dicari oleh konsumen di luar negeri, terutama Amerika Serikat. "Karena itu modest fashion dari Indonesia yang mengusung faktor-faktor tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan akan menjadi produk yang dicari oleh konsumen global", ungkap Carla Jones, antropolog yang banyak meneliti perkembangan Islam di Indonesia.

Carla Jones menambahkan bahwa saat ini lebih dari 2 miliar penduduk dunia yang beragama Islam ingin berpakain sesuai aturan agama namun tetap mementingkan pula keindahan, keinginan, sikap dan etika, faktor budaya ini menjadi penentu dibandingkan factor-faktor ekonomi lainnya.

Nina Nugroho CEO PT. Nina Nugroho Internasional bersama Sapta Nirwandar Chairman of IHLC IstNina Nugroho, CEO PT. Nina Nugroho Internasional bersama Sapta Nirwandar, Chairman of IHLC (Ist)

"Para ahli menghitung, pada tahun 2024-2025 masyarakat dunia akan membelanjakan 360 miliar dollar AS untuk busana. Tentu mereka ingin mengenakan busana sesuai karakter dan keyakinan sehingga merasa lebih nyaman dan oke", sebutnya.

Untuk itu desainer modest fashion Indonesia perlu melakukan sejumlah inovasi, diantaranya dengan mengkombinasikan bahan, desain dan bahkan brand ambassador antara dari dalam dan luar negeri. Dengan begitu, maka masyarakat global akan lebih mengenal karya busana Indonesia, tidak hanya sebagai fast fashion tetapi juga modest fashion yang sangat dekat dengan konsep sustainability.

Sesi acara mastermind class yang dipandu oleh Ria R. Christiana menjadi sesi interaktif dengan para desainer. Perbincangan tersebut membahas bagaimana mimpi-mimpi para desainer direalisasikan dalam real action dan membangun sinergi kolaborasi.

Dalam kesempatan tersebut, desainer Nina Nugroho menyampaikan mimpinya, yakni ingin membangun mentalitas perempuan Indonesia agar terlejitkan keberdayaannya. "Nina Nugroho tidak ingin hanya bisa berjualan, tetapi juga membangun value. Saat ini sedang mengkampanyekan Gerakan #akuberdaya yang bertujuan bersama melejitkan keberdayaan melalui apapun yang dimiliki", ungkap Nina.

Nina telah membangun kolaborasi dengan sejumlah stakeholder dan UMKM supaya bersama bergerak sehingga fashion Indonesia diakui secara global. "Kalau desainer lain bergerak dengan memberi pelatihan desain agar lebih berkualitas misalnya, maka Nina lebih menitikberatkan membangun sisi mentalitasnya. Bekerjasama dengan asosiasi trainer untuk menggebrak mental perempuan Indonesia, agar memiliki mental sekuat baja dan menjadi lebih berdaya," tutupnya optimis./ JOURNEY OF INDONESIA

Busana dan makeup merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan keduanya saling bersinergi memberi tampilan sempurna bagi para wanita. Pada event Professional Women’s Week (PWW) 2021, yang dilaksanakan Hybrid (online dan offline) dari tanggal 20-24 September kemarin, Wardah Cosmetics, salah satu local brand yang mengedepakan riasan aman dan halal, hadir menjadi narasumber pada acara talkshow di hari keempat.

Mengangkat tema “Professional Make up Look”, Ajeng Ayu Cahya Ditha, Wardah Demand Creation Manager mengulas penggunaan makeup dan skin care di masa pandemi ini. Menurutnya, meski bekerja dari rumah, namun meeting-meeting yang kerap dihadiri melalui zoom meeting mengharuskan para wanita tetap aware terhadap penampilan.

Bahkan manfaat berdandan itu tidak sekedar memberi penampilan yang terbaik dihadapan orang banyak, namun sekaligus menutupi kekurangan pada wajah kita. “Begitu pun dengan penggunaan skin care yang teratur bukan hanya membuat kulit sehat, tapi juga mampu membuat make up merekat sempurna pada kulit dan tidak mudah crack,” papar Ajeng.

Pada kesempatan yang sama, Wahyu Retnowati, Make Up Expert dari Wardah, mencontohkan cara makeup praktis perempuan, terutama pada hari hari belakangan ini, dimana masker menjadi sesuatu yang wajib. Dia menekankan pengaplikasian makeup pada bagian mata yang dapat diandalkan untuk memberi kesan terbaik untuk penampilan. “Intinya konsentrasikan makeup pada bagian mata. Bentuk alis secara natural, kenakan eye liner dan maskara,” ungkap Wahyu Retnowati yang akrab disapa Reret.

Reret memberi beberapa tip agar saat bepergian, para wanita tidak lupa membawa perlengkapan makeup ‘wajib’. “Seperti bedak cusion, lipstick, pensil alis , eye liner dan maskara sebaiknya jangan sampai ketinggalan ya. Benda-benda ini wajib ada di dalam tas para wanita,” katanya, seraya tersenyum.

Ajeng Ayu Cahya Ditha dan Wahyu Retnowati dari Wardah Cosmetics Nuhaa Ajeng Ayu Cahya Ditha dan Wahyu Retnowati dari Wardah Cosmetics (Nuhaa)

Pada sesi kedua, talkshow menghadirkan desainer Nina Septiana sekaligus penggagas Professional Women’s Week (PWW) 2021 yang mengangkat tema “Professional Modest Fashion”. Dikatakan Nina, terdapat beberapa elemen penting dalam berbusana agar wanita tampil lebih percaya diri, antara lain; skema warna yang semestinya dipilih bukan berdasarkan tren melainkan value atau maksud di balik warna tersebut.

“Pilihan warna memberikan asosiasi terkait perasaan tertentu. Misalnya, hati lagi mendung, jadi pakai warna hitam saja. Lagi ceria, baru jadian. Yang tadinya enggak suka warna pink sekarang pakai pink,” ujar Nina.

Begitu pula dengan biru yang memilik arti kepercayaan, kecerdasan, dan menimbulkan efek profesional khususnya navy blue. Cokelat berarti kuat sekaligus dapat diandalkan. Kuning menyiratkan optimisme.

Dalam soal design, garis cutting Nina Nugroho selalu menampilkan model yang clean dan tidak ribet, straight to the point, tegas, tidak terkesan menye-menye. Tidak heran, Nina selalu mengeluarkan rancangan dengan konsep 2 in 1, yaitu busana kantoran atau kasual yang membuat pemakainya seperti memakai 2 baju berlapis, padahal hanya memakai 1 lapis baju. “Konsepnya 2 in 1, seperti memakai 2 baju. Tapi sebenarnya 1 baju. Seperti memakai blazer dan kemeja. Sementara itu, pada bagian lengan baju, pasti selalu wudhu friendly,” urainya.

Lebih jauh, Nina menerangkan brand Nina Nugroho sejak awal dirancang untuk lebih memaksimalkan daya kaum perempuan. “Fashion itu bisa melejitkan keberdayaan wanita. Saya mau menyampaikan bagaimana hubungan fashion dengan keberdayaan perempuan,” papar ibu 4 anak ini.

Nina Septiana dan paparan ciri khas desain Nina Nugroho INuhaaNina Septiana dan paparan ciri khas desain Nina Nugroho (INuhaa)

Dalam sebuah riset di Amerika, Nina menemukan fakta bahwa fashion dan psikologi memiliki hubungan erat. “Seseorang yang menggunakan sebuah clothing spesifik, akan memberikan sebuah rasa tertentu, terkait performancenya. Ini yang disebut Psychological Statement,” jelasnya.

Rupanya pengalaman pribadi Nina juga membuktikan hasil riset tersebut. Dia banyak menerima ulasan positif dari para pengguna rancangan karyanya. “Mereka bilang merasa jadi lebih percaya diri, merasa bahagia, kelihatan lebih berwibawa, dan mampu mengerjakan hal hal yang lebih baik setelah menggunakan busana rancangan Nina Nugroho dan lain-lain.

Kuatnya karakter busana Nina Nugroho, bahkan membuat Nina punya pengalaman menarik pada suatu ketika dirinya tengah melakukan pemotretan koleksi busana terbaru sebelum pandemi Covid,19.

“Jadi ketika sedang pemotretan, tiba-tiba ada salah satu pelanggan mendekat dan bertanya; Mbak, ini pemotretan baju Nina Nugroho? Kebetulan saya sedang berada disana, saya jawab iya. “Kok tahu? Lalu dia menjawab... ya, dari desainnya sudah ketahuan."

"Waah disitu saya langsung bersyukur, Alhamdulillah ya busana Nina Nugroho lebih dikenal karakternya dibanding wajah saya. Ha ha ha, enggak apa-apa. Saya kerja keras saat ini bukan buat ingin tampil, tapi ingin suatu saat nanti bisa nyaman dan santai dengan keluarga,” tutup Nina./ JOURNEY OF INDONESIA

Wanita multiperan banyak kita ditemui pada masa sekarang. Mereka sukses berkarier bahkan membangun bisnis di usia yang relatif muda. Memiliki segalanya, seolah dunia dalam genggamannya. Namun bagi yang sudah berumah tangga, wajib memberi ‘pupuk’ terbaik untuk merawat pernikahannya.

Menurut Konsultan Pernikahan, Indra Noveldi, hati-hatilah dengan fokus yang ingin dicapai oleh seorang perempuan pada hari ini. Sebab apabila orientasinya hanya untuk membangun bisnis dan mengenyampingkan perasaan orang-orang di sekitarnya, maka kemungkinan di masa yang akan datang dia tidak akan menikmati sama sekali jerih parahnya di masa sekarang.

“Duit banyak, tapi hatinya kosong. Duit banyak, tapi keluarganya berantakan. Bahkan tak perlu menunggu lama, pernikahan pun bubar jalan. Kenapa bubar? Karena istri yang bekerja ini merasa bahwa kariernya tidak didukung oleh suami, tidak didukung oleh anak-anaknya. Padahal dia merasa melakukan semua ini demi keluarga. Demi membantu perekonomian keluarga,” ujar Indra Noveldy pada acara talkshow daring bertajuk Membangun Keluarga Yang Bisa Menjawab Tantangan, sebuah rangkaian dari event PWW 2021.

Bahkan pemberlakuan WFO dikambinghitamkan sebagai salah satu penyebab utama terjadinya perceraian pada pasangan. Ironisnya perceraian terjadi tidak saja dari kalangan muda namun juga pasangan yang sudah lama menikah.

Di masa pandemi ini, interaksi antar pasangan berlangsung selama 24 jam setiap harinya. Padahal pada masa sebelum pandemi, interaksi antar pasangan terjadi minimal 1 jam sehari. Selebihnya masing-masing sibuk dengan urusan domestik dan pekerjaan di kantor.

Photo_02

“Sebelum pandemi jika sedang bete dengan pasangan, pelariannya ke kantor. Tapi begitu pandemi, yang mengharuskan bekerja dari rumah. Mau kabur ke kantor nggak bisa, mau ke kafe kena pembatasan karena PPKM. Sehingga situasi ini menjadi pemicu terjadi ketidak harmonisan dengan pasangan,” ungkap Indra Noveldy.

Indra membeberkan data bahwa tingkat perceraian tertinggi didominasi di kepulauan Jawa. Di urutan pertama Jawa Tengah, diikuti Jawa Timur , kemudian Jawa Barat. Selain dipicu oleh faktor ekonomi, penyebab perceraian lebih banyak ditenggarai oleh kondisi ketidak harmonisan pada pasangan.

Dalam talkshow ini, Indra secara langsung mengajak audience secara aktif menyampaikan uneg-unegnya. Ada yang mengeluhkan karakter suaminya yang tidak pernah menghargai apapun yang dilakukan istri. Indra mengatakan banyak terjadi kesalah pahaman dalam memaknai pernikahan. Ada yang mengatakan titik rawan sebuah pernikahan adalah di 5 tahun pernikahan. Memakai istilah jaman sekarang, pernyataan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya alias hoax. Justru menurut Indra, penyesuaian dalam pernikahan terjadi sepanjang usia pernikahan itu sendiri.

Indra menyebut pandemi merupakan miniature dari masa pensiun seseorang. Namun sayangnya masa pensiun tidak dipersiapkan secara baik oleh kebanyakan orang. Akibatnya masa pension bukannya menjadi sebuah masa untuk menikmati hidup, sebaliknya sibuk melakukan berbagai macam pengobatan untuk sekedar bertahan hidup.

Dr. Muhammad Faisal di Konsultan Pernikahan di evet PWW 2021 IstDr. Muhammad Faisal di Konsultan Pernikahan di event PWW 2021 (Ist)

Satu hal yang belakangan terjadi, banyak wanita sukses di pekerjaan atau membangun bisnis. Tapi rumah tangganya rapuh. Indra mengingatkan agar para wanita multi peran selalu menempatkan dirinya sebaik mungkin, sebagai istri, ibu dan anak bagi orang tuanya.

Merujuk pada #akuberdaya yang dikampanyekan PWW 2021, dikatakan Indra hendaknya para wanita sebelum memutuskan berkarier di luar rumah atau menjalankan bisnis, tetap menjalankan peran utamanya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. “Sudahkah pasangan anda merasa dicintai oleh anda? Karena sekarang ini gak penting lagi klaim kita cinta pada pasangan. Tapi yang paling penting tersirat dari perilaku. Pasangan kita tahu nggak kalau kita mencintai dia?,” ujar Indra.

Sementara itu pada talkshow sesi kedua, Dr. Muhammad Faisal, Executive Director & Youth Researcher, Youth Laboratory Indonesia, PT Kreasi Pemuda Indonesia, mengatakan wanita memiliki peran penting dalam menyiapkan anak-anaknya sebagai generasi pejuang.

Hal ini penting dilakukan lantaran dengan segala dinamika persaingan di dunia luar, anak-anak harus memiliki kecakapan untuk menghadapi kehidupan yang penuh tantangan di masa sekarang dan akan datang.

Sejatinya persiapan itu tidaklah rumit, jauh dari yang selama ini telah dipersiapkan oleh kebanyakan para orang tua di masa sekarang. “Orang tua sekarang khususnya para ibu, lebih menyiapkan anak-anaknya dengan skill ketimbang mempersiapkan watak yang kuat bagi anak-anaknya.

Anak-anak kita saat ini mudah galau, mudah gelisah. Jadi sangat rental mempunyai masalah dengan mental health. Kenapa mental health karena anak-anak ini hidup di tengah kehidupan yang penuh persaingan. Setiap orang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan diri orang lain,” ujarnya.

Untuk itu Dr. Muhammad Faisal mengingatkan para ibu agar tidak ikut-ikutan menjebak anak terjerumus ke dalam jurang. Berusahalah untuk tidak mengapresiasi anak dengan pencapaian-pencapaian yang diperolehnya.

“Jangan terpengaruh dengan komparasi, karena anak kita tidak perlu diperbandingkan dengan orang lain. Tidak salah juga kalau orang tua memfasilitasi anaknya dengan berbagai les ini itu. Tapi jangan melupakan mengasah dengan watak yang baik. Kalau ini kan nggak ada tempat lesnya? Adanya didalam keluarganya sendiri, bagaimana keluarga membentuk watak si anak,” ujar Dr. Faisal.

Apabila watak yang baik sudah terbentuk, dengan sendirinya ilmu pengetahuan sebagai penunjang peningkatan skill tinggal mengikuti saja. Setelah itu jangan lupa mengajarkan anak-anak kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur./ JOURNEY OF INDONESIA

Masih menghadirkan sederetan nama-nama moncer yang sangat berpengaruh di bidangnya, khususnya perempuan-perempuan yang berkecimpung di dunia usaha dan inisiator. Professional Women’s Week (PWW) 2021, pada Selasa 21 September 2021 kemarin menghadirkan Tri Mumpuni yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) dan Linda Amalia Sari Gumelar selaku Founder Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

Pada sesi awal talkshow ini, Tri Mumpuni mengangkat tema dengan tajuk "Menolong Sesama Melalui Wirausaha". Menurut perempuan yang dijuluki Wanita Listrik ini, pemberdayaan masyarakat akan berhasil apabila keterlibatan mereka tidak sekedar sebagai subjek belaka. Namun seharusnya masyarakat harus terlibat aktif.

Ibu tiga anak yang salah satunya mengikuti jejak dirinya menjadi seorang sociopreneur, memberi contoh kongkrit yang terjadi di IBEKA dimana masyarakat terlibat langsung dalam program penyediaan fasilitas umum yang mereka butuhkan.

“Kalau proyek yang hanya menguntungkan satu orang, biasanya tidak akan berhasil. Tapi masyarakat yang diberdayakan itu harus mengerti bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk mereka. Dan memang sebenarnya harus begitu. Jadi jangan bilangnya pemberdayaan tapi hanya mencari keuntungan. Beberapa program yang sudah dilakukan IBEKA menunjukkan bahwa keterlibatan semua warga, kerja sama dan gotong royong akan menjadi kunci sukses suatu program pemberdayaan di wilayah terpencil. Kalau semua terlibat maka semua akan merasa memiliki. Apalagi jika ada kaum perempuan, yang umumnya secara budaya memiliki porsi besar dalam kehidupan sehari-hari,” papar Puni, lagi.

Terhitung sudah 30 tahun, Puni keluar masuk desa untuk sebuah tujuan membangun desa. Passion ini ternyata diperoleh dari ibundanya yang juga aktif sebagai socipreneur. Meski cukup disibukkan karena mengurus 8 orang anak, namun sang bunda masih meluangkan waktu untuk berkeliling kampung guna memberikan kursus membaca, membantu masyarakat membersihkan koreng-koreng sampai mengajarkan masyarakat bagaimana caranya membasmi kutu di rambut anak-anak di pedesaan.

Miss Via selaku moderator Professional Womens Week PWW 2021 IbonkMiss Via selaku moderator Professional Women’s Week (PWW) 2021 (Ibonk)

Tri Mumpuni mengakui bahwa sosok ibunya menjadi sumber inspirasi sehingga dirinya berada diposisi terbaik saat ini. "Peran beliau luar biasa banget. Saya dulu sering diajak ibu terjun ke desa-desa. Kalau saat membasmi kutu rambut bisa menghabiskan waktu sampai tiga hari. Dari mulai melumuri rambut dengan obat kutu, membungkusnya dengan handuk, lalu hari berikutnya sebelum dikeramas kutunya ditampung dalam baskom. Itu kutunya jatuh semua dalam keadaan mati. Jadi banyak sekali yang dilakukan ibu saat itu,” kenang Puni.

Semangat berbagi ini turut ditularkan Puni melalui program Patriot Desa yang dijalankan bersama pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam hal ini Puni mengajak para sarjana teknik terjun ke desa-desa membantu masyarakat di desa-desa. “Program ini sudah berjalan 2 tahun, para sarjana ini dikirim ke pelosok-pelosok, salah satunya Papua. Disana mereka mencari tahu apa yang dibutuhkan masyarakat.

"Cari tahu passion masyarakat yang akan dibantu, apa yang mereka inginkan, sehingga program yang akan dijalankan benar-benar menjadi bagian dari diri mereka. Akhirnya mereka mau ikut terlibat dan menjaga. Kita masih kekurangan manusia yang berkualitas yang mau tinggal di desa dan membangun desa itu dengan cara yang benar. Itu kuncinya di situ,” tutur Tri Mumpuni.

Sementara itu Founder Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar, pada sesi talkshow berikut yang bertajuk "Perempuan Bangkit saat Mengalami Perubahan Drastis dalam Hidupnya", mengatakan kaum perempuan dengan sifat dasar yang penuh kasih sayang sekaligus dengan karakteristik perempuan yang multitasking, tidak sulit bagi mereka untuk melakukan pekerjaan sosial ditengah urusan domestic maupun tuntutan pekerjaan.

Dalam hal ini, Linda mendorong kaum perempuan untuk mampu bangkit dari kondisi apapun bahkan pada situasi drastis dalam kehidupannya. Kaum perempuan harus sadar akan perannya dalam pembangunan yang setara dengan pria. Dan perempuan harus dimotivasi untuk mengeksplore dan meningkatkan kemampuan dalam setiap peran yang dijalankannya.

Founder Yayasan Kanker Payudara Indonesia Linda Amalia Sari Gumelar IbonkFounder Yayasan Kanker Payudara Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar (Ibonk)

"Pesan saya jangan terlalu lama berada di ‘sudut ruangan’ ketika Anda tengah berada pada posisi terendah dalam hidup. Berusahalah untuk segera bangkit, karena pada saat Anda merasa sendiri, saat terpuruk meratapi nasib maka matahari akan tetap bersinar di pagi hari, bulan akan tetap keluar di malam hari. Artinya hidup ini akan terus berjalan, sehingga berusahalah untuk bangkit. Karena masih banyak hal positif yang dapat dilakukan,” ujar Linda.

Linda pribadi pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, tepatnya sekitar 25 tahun silam kala dirinya divonis menderita kanker payudara. Sementara saat itu dia dan sang suami, Agum Gumelar tengah menikmati kesuksesan dalam karier.

Diawali dengan rasa putus asa, akhirnya Linda mampu untuk bangkit dan tidak larut dalam suasana kesedihan. Ia melakukan sesuatu untuk segera lepas dari keterpurukan itu,” papar Linda.

“Waktu itu saya mengikuti jejak sahabat saya, Mba Rima Melati (aktris senior Indonesia-red) yang sudah sembuh dari kanker payudara, dia melakukan pengobatan ke sebuah rumah sakit di Belanda. Pada saat itu saya memiliki nazar di dalam diri saya. Yaitu apabila Allah masih berikan saya umur yang panjang, saya berjanji akan membuat orang lain , khususnya kaum perempuan untuk dapat sembuh dari kanker payudara. Alhamdulillah , qadarullah saya diberi kesembuhan, seperti doa saya agar dapat mendampingi suami dalam kariernya, mendampingi anak-anak hingga menyelesaikan sekolah, dapat menimang cucu. Sudah 25 tahun berlalu, saat ini usia saya sudah menjelang 70 Tahun,” ujar Linda, lagi.

Saat ini melalui Yayasan Peduli Kanker Indonesia (YKPI), Linda berkiprah memberi edukasi, pendampingan kepada pasien kanker untuk tetap bersemangat mengejar kesembuhan. “Walaupun seringkali perasaan kita naik turun karena mendampingi pasien kanker yang meninggal dunia, sementara anak-anaknya masih kecil. Kami turun ke daerah-daerah memberikan edukasi tentang kanker, memberi pemahaman jika sudah divonis kanker jangan pergi ke pengobatan alternatif, tradisional tapi lakukan pengobatan secara medis. Karena penyakit berkejaran dengan waktu,” ujarnya, lagi.

Serupa Tri Mumpuni, Linda juga tidak menafikkan bahwa pembentukan karakter diri sejak dini perlu dilakukan, agar ketika menghadapi kondisi tak terduga , seorang perempuan dapat menghadapinya dengan tenang. “Saya bersyukur memiliki ibu yang menempa saya untuk menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Jadi pembentukan karakter diri harus dibentuk sejak dini, karena hal ini akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan,” tuturnya.

Ia juga berpesan untuk tidak melihat sesuatu dalam satu sisi saja, tapi dari berbagai sisi. Berpikir positif, tidak curiga dan berburuk sangka. Karena ini akan merusak diri sendiri serta berpikiran negatif hanya buang-buang waktu saja./ JOURNEY OF INDONESIA

Page 1 of 3