Merasakan langsung kesegaran berendam di kolam berair biru di Curug Mariuk dapat menghilangkan kepenatan di kepala anda, para pecandu traveling. Medan yang dilalui pun tergolong tidak mudah tentunya. Namun, terasa menggoda mata tatkala berjalan naik turun bukit, membelah kebun kopi yang panen tiap setahun sekali tersebut.

Untuk menuju Curug Mariuk yang terletak di Sukamakmur, Bogor, Provinsi Jawa Barat ini tentunya sangat mudah, karena saat ini ada beberapa aplikasi maps, akurat mengarahkan traveler hingga tiba di lokasi destinasi wisata.

Jika berangkat dari DKI Jakarta, disarankan melalui trek Mekarsari-Jonggol-Sukamakmur. Sebab, di sepanjang perjalanan berkelok itu, sejauh mata memandang terbentang lanskap memukau jejeran gunung kapur mengarah ke area Gunung Pancar.

Curug Mariuk bisa dibilang bertetangga dengan belasan air terjun yang terdapat di Sentul, Bogor. Bahkan, penduduk setempat bilang, air di sini lah yang mengaliri Curug Leuwihejo, Curug Hordeng, serta curug-curug tersohor lainnya di Sentul. Namun, bedanya, Curug Mariuk lebih sepi pengunjung ketimbang air terjun lainnya di kawasan wisata tersebut.

Untuk masuk area Curug Mariuk, setidaknya pengunjung yang datang berboncengan menaiki kendaraan roda dua diharuskan mengeluarkan kocek Rp35.000. Diketahui, objek wisata ini masih dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat. Trek didominasi tanah merah, cukup licin jika hujan mengguyur kawasan tersebut.

Wisatasan di Curug Mariuk Morteza Syariati Albanna Wisatasan di Curug Mariuk (Morteza Syariati Albanna)

Saat berjalan membelah hutan mengarah ke Curug Mariuk, pengunjung pasti melewati dua air terjun, salah satunya dinamakan Curug Romantis. Ambil jalan ke kiri untuk menuju destinasi utama.

Curug Mariuk berada di paling ujung kawasan wisata ini. Airnya tak pernah berhenti mengalir meski musim kemarau panjang tiba.

Kalau anda tak mau rugi karena terkurasnya fisik setelah melewati 'track gurih' Curug Mariuk, bisa saja langsung muntahkan adrenalin dengan melompat dari atas batu ke dalam kolam jernih berwarna biru tosca berkedalaman 3-4 meter itu. Jika memiliki kacamata renang, alangkah baiknya dipakai saja, 'tuk melakukan freedive di sini.

Tommy Gunawan, 37 tahun, mengaku siap kembali dan tak keberatan jika harus mendatangi curug ini lagi kapanpun. Terlebih di saat weekdays, suasananya lebih sepi. Dia berujar, sudah dua kali datang ke Curug Mariuk dan selalu mendapatkan kemujuran setelahnya.

"Memang itu yang saya cari. Sepi, suasana tidak bising seperti di perkotaan. Sudah gitu, sepulang dari sini, bisnis (berdagang sambal ikan roa) laris manis. Ini yang saya senang," ucap pelancong asal Bekasi tersebut saat dijumpai Journey Of Indonesia di Curug Mariuk pada Desember 2020 lalu.

Bermalam dengan tenda di tepi Curug Mariuk menjadi kesan tersendiri yang bikin nagih Morteza Syariati AlbannaBermalam dengan tenda di tepi Curug Mariuk menjadi kesan tersendiri yang bikin nagih (Morteza Syariati Albanna)

Sementara, Fabiano Ezra, 24 tahun, merasa senang diberi kesempatan berlibur tuk kedua kalinya ke Curug Mariuk. Baginya, tempat ini terasa amat spesial karena memberikan kemujuran tersendiri pada nasibnya di tengah pandemi berkepanjangan ini. Setelah melakukan kunjungan pertama ke Curug Mariuk, Fabiano mengaku langsung dipinang perusahaan yang memberinya kesempatan bekerja di bidang teknik.

"Pertama saya datang nih ya, tiga hari setelah itu, saya langsung dapat pekerjaan di salah satu perusahaan di Cibubur. Air terjun (Curug Mariuk) ini membawa hoki (keberuntungan)," tuturnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Nurdin, 28 tahun, mengharapkan pemerintah daerah ataupun dinas pariwisata Provinsi Jawa Barat sebaiknya memperbaiki akses jalan menuju Curug Mariuk, agar wisatawan semakin banyak yang berpelesir ke sini.

Nurdin, yang membuka warung dagangan beserta lokasi berkemah di dekat Curug Mariuk itu pun merasa percaya diri, suatu saat nanti lokasi ini akan berkilau karena ia nilai memang layak disebut sebagai mutiara wisata area Bogor. Hanya saja, menurutnya, dibutuhkan kekompakan dari pelbagai pihak tuk mencari formulasi yang membuat nyaman pengunjung.

"Kita akan berupaya duduk bareng, meminta warga setempat jangan ada premanisme deh ke pengunjung. Jangan sampai mereka kapok datang ke sini. Ini tempat wisata terbaik di Bogor deh pokoknya, silakan dicoba sendiri. Memang benar ada saja orang-orang bilang, Curug Mariuk membawa kemujuran buat pengunjung. Ini bukan sekali dua kali saja saya dengar dari cerita pengunjung yang setelah itu nasibnya berubah setelah berenang di sini," kata dia./ JOURNEY OF INDONESIA

Kampung Sindang Barang disinyalir merupakan kampung tertua yang ada di Bogor, Kampung Sindang Barang terlatak di Desa Pasireurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor dan sebagian besar penduduknya bertani. 

Menurut sejarahnya, diperkirakan kampung Sindang Barang sudah ada sejak zaman Kerajaan Sunda sekitar abad XII, di sinilah dahulu terdapat kerajaan Bawahan yang bernama Sindang Barang dengan ibu kotanya Kuta Barang. Disini pula kebudayaan Sunda Bogor bermula dan bertahan hingga kini, salah satunya adalah "Upacara Adat Seren Taun". 

Istilah Seren Taun berasal dari Bahasa Sunda, seren yang artinya serah, seserahan dan taun yang berarti tahun. Jadi Seren Taun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya.

Dalam tradisi masyarakat peladang Sunda, Seren Taun merupakan wahana bersyukur kepada Tuhan atas hasil pertanian tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang. 

Lebih khusus lagi, upacara Seren Taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau ‘leuit’. Ada dua lumbung, Leuit Indung (lumbung utama) sebagai tempat penyimpan padi dan lumbung pengiring untuk menyimpan benih untuk musim tanam mendatang./ JOURNEY OF INDONESIA