Goodwood, West Sussex – Rumah mode otomotif asal Goodwood, Rolls-Royce, kembali mendefinisikan ulang batas kemewahan dengan memperkenalkan koleksi terbaru mereka, Cullinan Yachting. Seri ini bukan sekadar kendaraan sport utility vehicle (SUV) mewah biasa, melainkan sebuah narasi maritim yang diterjemahkan ke dalam empat unit Private Commissions eksklusif. Mengambil inspirasi dari arah mata angin Utara, Selatan, Timur, dan Barat membuat setiap unit menjadi penghormatan visual bagi dunia yachting modern yang elegan dan penuh petualangan.
Kaitan antara Rolls-Royce dan dunia air bukanlah hal baru. Desain ikonis mereka selama bertahun-tahun telah mengadopsi apa yang disebut sebagai waft line, sebuah garis desain pada bodi bawah mobil yang terinspirasi langsung dari siluet lambung kapal pesiar saat membelah air. Namun, pada Cullinan Yachting, hubungan tersebut diperdalam melalui penggunaan material Open Pore Teak di seluruh interior, mulai dari panel pintu hingga bagian rear Waterfall. Kayu jati berkualitas marine-grade ini sengaja dipilih untuk memberikan tekstur alami dan kehangatan visual yang biasa ditemukan pada dek kapal mewah di Riviera.
Detail artistik menjadi nyawa dari koleksi ini. Para artisan Rolls-Royce menghabiskan waktu dua bulan untuk menyempurnakan teknik pengecatan tangan pada fascia dan meja piknik. Hasilnya adalah sebuah karya seni yang menggambarkan jejak gelombang dari tender (kapal penolong) yang melaju menuju yacht utama.

Teknik ini sangat rumit; pigmen disemprotkan ke atas lapisan lacquer yang masih basah, lalu dibentuk secara manual menggunakan kuas halus untuk menciptakan efek gerakan air yang hidup. Warna yang digunakan pun tidak sembarangan, yakni Bespoke Piano Milori Sparkle, sebuah biru metalik yang menangkap nuansa laut Côte d’Azur yang jernih.
Keunikan setiap unit juga terpancar dari skema warna eksteriornya. Unit North hadir dengan balutan warna Crystal over Light Blue yang mendinginkan mata, layaknya perairan kutub. Sementara itu, unit South tampil lebih berani dengan Arabian Blue IV, mencerminkan kehangatan laut tropis. Unit East menggunakan Dark Silk Teal yang misterius, dan unit West ditutup dengan Sapphire Gunmetal yang menggambarkan dramatisnya langit badai di tengah samudera.
Kesamaan dari keempatnya adalah motif kompas yang dilukis tangan pada bagian sayap depan serta velg 22 inci Fully Polished yang berkilau bak detail metalik pada yacht modern.
Masuk ke dalam kabin, penumpang akan disambut oleh kombinasi kulit Arctic White dan Navy Blue yang bersih. Salah satu detail yang paling memikat adalah pola jahitan pada kursi yang terinspirasi dari teknik rigging atau pelintiran tali kapal. Menariknya, pola ini dirancang oleh seorang artisan yang memiliki latar belakang di Royal Navy. Ia menerjemahkan kekuatan dan struktur tali pelaut ke dalam bordir diagonal yang sangat halus.

Di atas kepala, Starlight Headliner yang legendaris kini menampilkan pola angin Mediterania yang dibuat dari serat optik statis dan dinamis, memberikan sensasi seolah sedang berada di bawah langit malam di tengah laut lepas.
Sentuhan personal sejarah keluarga pendiri juga tertanam kuat dalam proyek ini. Jauh sebelum ia bertemu Henry Royce, keluarga Charles Rolls adalah pemilik Santa Maria, sebuah steam yacht bergaya schooner. Charles Rolls muda bahkan sempat mengasah kemampuan tekniknya sebagai Third Engineer di kapal tersebut setelah lulus dari Cambridge pada 1898. “Keluarga Charles Rolls memiliki Santa Maria, sebuah steam yacht dengan dua tiang layar bergaya schooner yang mencerminkan gaya hidup maritim kalangan elite,” tulis catatan sejarah perusahaan.
Cullinan Yachting bukan sekadar penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga jembatan menuju masa depan desain Bespoke. Dengan elemen marquetry pada rear Waterfall yang terdiri dari 40 potongan kayu Sycamore, Teak, Ash, dan Black Bolivar, Rolls-Royce membuktikan bahwa kemewahan sejati terletak pada detail yang dikerjakan dengan tangan secara presisi. Mobil-mobil ini adalah karya seni yang mengapung di atas aspal, membawa semangat pelayar sejati ke mana pun mesin V12 mereka melangkah./ JOURNEY OF INDONESIA | Jasmine Alamanda

















