Rumah Batik Azmiah, Pertahankan Ciri Khas Batik Jambi

By Yulia May 10, 2019 608
Rumah Batik Azmiah, Pertahankan Ciri Khas Batik Jambi Bagoes merupakan generasi ketiga dari Rumah Batik Azmiah Jambi (Ibonk)

Gelar Batik Nasional (GBN) yang digelar sejak tanggal 8 hingga 12 Mei nanti, memamerkan beragam pesona batik yang ada di seluruh Indonesia. Beragam corak dan motif dari berbagai daerah mendominasi setiap sudutnya.Pada gelaran GBN ke-11 kali ini, pihak penyelenggara sengaja menonjolkan ragam batik dari Sumatera, khususnya dari daerah Jambi.

Acara yang digelar di Jakarta Convention Center ini, sejak memasuki pintu utama mata pengunjung sudah dimanjakan dengan berbagai macam warna dan juga corak batik Sumatera. Salah satu stand yang masih konsisten mempertahankan ciri khasnya dengan menggunakan warna merah yaitu Rumah Batik Azmiah Jambi yang tahun ini adalah ke empat kalinya mengikuti event GBN.

Rumah Batik Azmiah Jambi yang berdiri sejak tahun 1975 ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi penggemar batik lokal maupun mancanegara. Ditemui JourneyofIndonesia, Bagoes yang menjadi pelaku batik asal Jambi ini merupakan generasi ketiga yang mewarisi usaha dari orang tuanya, ibu Azmiah.

Batik di Rumah Batik Azmiah ini mempunyai keunikan tersendiri, makanya tak heran jika pelanggannya adalah kalangan pejabat dan juga selebriti tanah air. Dengan dominasi warna merah khas dari batik ini, Bagoes mengatakan kalau warna yang dimiliki oleh Rumah Batik Azmiah ini merupakan trademark yang dimiliki mereka.

"Sejak tahun 2000 saya dan adik saya berusaha mempertahankan keberadaan batik kami. Warna merah ini memang menjadi trademark kami mulai dari generasi kedua, yaitu ibu saya," kata Bagoes kepada JourneyofIndonesia.

Beberapa motif batik dari Jambi yang masih eksis sampai saat ini Ibonk

Beberapa motif batik dari Jambi yang masih eksis sampai saat ini (Ibonk)

Dengan teknik pewarnaan yang rumit, warna yang dihasilkan terkesan natural dan klasik. Dari awal Rumah Batik Azmiah memang mengambil benang merah dari kain lama Sumatera yang banyak dipengaruhi oleh India dan Persia yang kebanyakan berwarna merah. "Batik Jambi sebetulnya dari awal sangat dipengaruhi oleh India dan Persia dengan kain Patola yang berwarna merah. Yang kedua, sebelum Islam masuk, Jambi juga dikenal sebagai pusat agama Budha, jadi banyak pengaruh China. Dan juga dipengaruhi oleh kain-kain impor dari pulau Jawa. Masyarakat Sumatera khususnya Jambi sangat suka dengan warna merah," imbuh Bagoes.

"Sebetulnya warna lain tetap kami pertahankan sekitar 20 sampai 30 persen," tambahnya.

Pengaruh Jawa juga tampak sangat mendominasi motif dari Rumah Batik Azmiah ini, seperti Kapal Kandas dari Kudus, Babon Angrem dari Lamongan, namun motifnya dibuat lebih sederhana. Warna dan motif Jambi juga dominan dengan warna merah dan biru gelap, sama persis dengan motif Patola.

"Batik kami 90 persen menggunakan motif lama seperti Patola tersebut. Kalau di Jawa namanya Kapal Kandas, kalau di Jambi namanya menjadi Kapal Sanggahan. Di Jawa juga ada motif Babon Angrem, kalau di kami Merak Ngeram. Ada juga motif yang dipengaruhi Islam, motif Jambi lebih sederhana tidak seperti budaya batik dari Jawa," papar Bagoes.

Sama seperti ibunya, Bagoes juga sangat aktif mengikuti berbagai event dari tingkat lokal sampai nasional untuk memperkenalkan dan melestarikan kain produksi Jambi. Salah satu inovasinya adalah melakukan kolaborasi dengan beberapa seniman Batik Gedok di Tuban. Lewat ciri khas kainnya berwarna kecoklatan dan sedikit lebih tebal lewat bahan seperti sutera dan katun. Kain hasil kolaborasinya ini menjadi produk yang paling dicari dan paling laris, begitu juga di ajang pameran GBN 2019 ini. Dengan harga yang masih terjangkau, Bagoes juga menjamin batik produksinya relatif murah.

"Harga menurut saya memang masih terjangkau, karena memang batik saya untuk kalangan menengah ke atas. Harga sekitar Rp. 500 ribu sampai Rp. 6 juta, karena memang kami pertahankan produksi tangan yang tidak bisa terkejar dengan produksi batik printing. Karena pembeli juga sadar kualitas yang mereka beli pasti dicari," ujar Bagoes.

Proses pembuatan batiknya bisa membutuhkan waktu sekitar 30 hari, bahkan kalau dari kain seperti tenun bisa mencapai 2.5 bulan. Hal inilah yang membuat Bagoes sangat optimis kalau batiknya sudah ada pasar tersendiri.

Stand Rumah Batik Azmiah IbonkStand Rumah Batik Azmiah (Ibonk)

Pada event GBN kali ini, kain produksi Rumah Batik Azmiah membawa sekitar 40 motif yang bisa digunakan baik oleh pria maupun wanita terutama bagi generasi milenial saat ini. "Kelebihan motif Jambi tidak ada motif larangan seperti di Jawa. Semuanya bisa pakai, unisex. Alhamdulillah kami juga terbantukan dengan beberapa outlet di Jakarta seperti Batik Chick di Kemang yang memiliki koleksi ready to wear-nya yang dipadupadankan menjadi model yang casual sehingga banyak milenial yang memakainya. Tidak terkesan kuno dan jadul," pungkasnya.

Dengan adanya event seperti GBN ini, Bagoes juga mengatakan kalau acara ini selain dapat mengedukasi juga dapat memperluas jaringan konsumennya. Hingga selama 5 tahun terakhir ini geliat batik Jambi di skala internasionalpun cukup menjanjikan dan dapat bersaing dengan produk batik yang beredar di pasaran saat ini.

"Tinggal bagaimana caranya para penggiat batik ini memberikan edukasi yang tidak putus kepada masyarakat, mana batik printing ataupun batik tulis dan juga memberikan alternatif pilihan agar batik bisa bersaing di pasaran," kata Bagoes menutup pembicaraan.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut batik produksi Rumah Batik Azmiah, pengunjung dapat mengunjungi booth yang berada di main lobby Jakarta Convention Center sampai dengan tanggal 12 Mei 2019, atau anda juga dapat mengunjungi mereka lewat instagram: @Rumahbatikazmiah, facebook: Rumah Batik Azmiah dan website: www.rumahbatikazmiah.com./ JOURNEY OF INDONESIA