Smile Train, Membuka Jalan Terang Bagi Penderita Celah Bibir/ Langit-Langit

By Ibonk January 31, 2020 331
Smile Train, Membuka Jalan Terang Bagi Penderita Celah Bibir/ Langit-Langit Para penggiat Smile Train beserta keluarga bekas pasien (Ibonk)

Penderita kelainan celah bibir/ langit-langit atau kerap di masyarakan di sebut bibir sumbing masih sering dijumpai di Indonesia, berbanding 600:1 di setiap kelahiran. Tinggingnya angka tersebut membuat Smile Train sebuah organisasi nirbala yang fokus memberikan operasi kepada penderita celah bibir/ langit-langit secara gratis. Smile Train juga bekerja sama dengan dokter ahli bedah dan terapis wicara untuk memberikan perawatan secara komprehensif.

Anak-anak yang terlahir dengan kondisi celah tidak sempurna cukup mengalami kesulitan dalam berbicara, bahkan jika telah melalui rangkaian operasi sekalipun. Nah, karena hal ini jugalah Smile Train memberdayakan para tenaga ahli medis dalam negeri dengan pelatihan, pendanaan, dan sumber daya untuk memberikan operasi celah gratis dan perawatan celah yang komprehensif untuk anak-anak di seluruh dunia.

Pentingnya untuk menyebarluaskan "informasi baik" dalam kasus ini, bertempat di Sumatera 2 Room, Hotel Mercure Gatsu, Jakarta pada Kamis (30/1/20) kemarin mengadakan kegiatan edukasi pada media. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran mengenai celah bibir dan/atau langit. Sekaligus menjelaskan dampak terapi wicara dan perawatan komprehensif terhadap kualitas hidup pasien.

Dalam kegiatan edukasi tersebut dihadirkan beberapa penggiat tetap kegiatan ini seperti Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, terapis wicara; drg.Andi S Budihardja SpBM(K), dokter spesialis bedah mulut; Deasy Larasati, Program Director & Country Manager Smile Train Indonesia, dan Bunga Jelitha, duta Smile Train Indonesia.

Bunga Jelitha IbonkBunga Jelitha, duta Smile Train Indonesia (Ibonk)

Penderita celah bibir dan langit-langit tidak hanya mengalami gangguan estetik pada wajah saja, tapi penderita akan kesuliatan untuk makan dan minum. Memiliki gangguan bicara karena bibir atau langit-langitnya terdapat celah, akibatnya akan menghambat tumbuh kembang penderita. "Harus dilakukan secara interdisipliner, melibatkan dokter-dokter, tenaga medis, terapis wicara, dan juga peran social worker sangat penting untuk mendampingi pasien. Semua harus bekerja sama dengan baik supaya pasien mendapatkan perawatan yang paripurna," ujar drg. Andi Budiharja SpBM(K).

Adapun karena wajahnya dan kesulitan berbicara atau suara saat berbicara sengau, banyak penderita yang minder dan menutup diri sehingga jika berkelanjutan bisa mengakibatkan gangguan psikologis. Maka dari itu, harus dilakukan perawatan secara menyeluruh, tidak hanya selesai saja setelah dioperasi, tetapi harus berlanjut dengan melakukan terapi wicara.

Setelah dua pekan operasi bisa dilakukan terapi wicara. Terapi ini sangat disarankan diberikan kepada pasien untuk meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan membangun kepercayaan diri. Terapi dapat dilakukan setidaknya 2 minggu setelah operasi apabila pasien dinyatakan sehat dan mampu mengikuti rangkaian terapi, serta mendapat persetujuan dari dokter terkait.

“Latihan yang diberikan pada setiap pasien akan berbeda, bergantung pada kebutuhan pasien. Namun, pada umumnya terapi wicara dilakukan agar pasien dapat mengembangkan keterampilan artikulasi, mempelajari keterampilan bahasa ekspresif, meningkatkan pengucapan huruf k dan konsonan, serta meningkatkan perbendaharaan kata. Lamanya terapi juga akan disesuaikan dengan kemampuan pasien tersebut,” jelas Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, terapis wicara.

Desti IbonkDesti (Ibonk)

Diluar itu semua, kesulitan terhadap kasus ini tidak hanya dialami oleh penderita, tetapi juga orang tuanya. Banyak orang tua belum siap secara psikologis saat melahirkan anak penderita celah bibir dan langit. Rita Rahmawati memberi tahu cara orang tua menghadapinya.

"Yang pertama, orang tua cari tahu dengan sumber yang tepat bagaimana penanganan komprehensif untuk anak bibir sumbing. Kedua, ada support sistem untuk lebih memotivasi orang tua, sekarang di social media banyak grup support sistem, bisa gabung saja biar tidak merasa sendiri, ternyata bukan sendiri yang punya anak seperti ini, tapi banyak yang lain juga," kata Rita.

Smile Train Indonesia sendiri telah beroperasi sejak tahun 2002, dan telah membantu lebih dari 80.000 masyarakat Indonesia mendapatkan perawatan celah komprehensif yang aman, berkualitas dan konsisten. Dalam kegiatan tersebut juga diperdengarkan pengalaman dari Bunga Jelitha yang menjadi duta Smile Train dan aktif terlibat dalam kampanye kepedulian pada anak-anak dengan celah bibir.

Juga Desti yang saat ini berusia 19 tahun yang berbagi pengalamannya sebagai penderita sampai akhirnya dapat kembali menumbuhkan rasa percaya dirinya dan mampu berprestasi secara akademis. Saat ini Desti juga tengah menimba ilmu di sebuah Universitas Negeri di Jawa Tengah di bidang Terapis Wicara./ JOURNEY OF INDONESIA