Keberadaan UU Kefarmasian dan Kemandirian Farmasi Nasional sangat dinantikan dan dibutuhkan bangsa Indonesia. Selain untuk meningkatkan ketahanan nasional dengan upaya kemandrian di bidang farmasi dengan mengurangi ketergantungan bahan baku obat dari luar negeri, Undang Undang ini juga menjadi dasar hukum bagi pemerintah dalam memfasilitasi dan memberikan insentif bagi pengembangan sediaan farmasi produksi dalam negeri.

Disamping itu juga menjamin dan memberikan kepastian hukum bagi Apoteker, dalam menjalankan Praktik Kefarmasian yang merupakan masa depan mahasiswa calon Apoteker yang tergabung dalam organisasi ISMAFARSI (Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia).

Atas dasar hal tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia memberikan dukungan penuh atas rencana kegiatan aksi ISMAFARSI yang diselenggarakan pada Jumat, 19 November di Gedung DPR RI. Aksi akan melibatkan segenap mahasiswa farmasi di seluruh Indonesia. Dukungan tersebut dituangkan dalam surat bernomor B1.1086/PP.IAI/1822/XI/2021, yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP IAI, apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang serta Sekjen apt Nofendri Roestam, SSi.

"PP IAI mendukung penuh kegiatan adik-adik ISMAFARSI dalam menyampaikan aspirasi ke DPR RI, sepanjang dilakukan sesuai peraturan yang berlaku, menjaga ketertiban umum dan menerapkan protokol kesehatan," ungkap Ketua Umum PP IAI, apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang.

Menurut Nurul Falah, PP IAI memandang penting kegiatan ini dalam rangka mendorong DPR RI agar berkenan menjadikan RUU Kefarmasian dan Kemandirian Farmasi Nasional ke dalam Prolegnas Prioritas tahun 2022 dilanjutkan dengan pembahasan yang pada saatnya disahkan menjadi Undang-undang.

Sejauh ini berbagai upaya telah dilakukan oleh PP IAI dalam mewujudkan RUU Kefarmasian dan Kemandirian Farmasi Nasional, yaitu :
1. Menyampaikan Naskah Akademik dan draft awal RUU Kefarmasian dan Kemandirian Farmasi Nasional kepada Alat Kelengkapan DPR RI (Pimpinan, Komisi IX, Badan Legislasi dan Fraksi)
2. Menyampaikan permohononan audiensi kepada Alat Kelengkapan DPR RI, 12 Kementerian/Lembaga dan DPD
3. Mendapatkan kesempatan beraudiensi dengan Fraksi dan kementerian/Lembaga, diantaranya :
a. Fraksi PKS (21 September 2021)
b. Fraksi PKB (23 September 2021)
c. Fraksi PAN (23 September 2021)
d. LKPP (12 Oktober 2021)
e. Kemenko Perekonomian (19 Oktober 2021)
f. Ditjen Farmalkes Kemenkes RI (4 November 2021)
g. Kemenko PMK (9 November 2021)
4. Menghimpun masukan dari stakeholder untuk penyempurnaan muatan RUU (on going)

Nurul Falah berharap agar kegiatan aksi tersebut dapat dijamin aman, lancar, tertib dan terkendali, serta aspirasi ISMAFARSi ini dapat diterima dan ditindaklanjuti oleh DPR RI sebagaimana harapan kita bersama.

Sementara itu, Sekjen ISMAFARSI, Damas Raja mengatakan, aksi yang dilakukan mulai pukul 13.30 wib tersebut akan diikuti oleh 50 mahasiswa farmasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

"Aksi ini merupakan tindaklanjut Tuntutan Tritura Farmasi (Tri Tuntutan Rakyat Farmasi) pada saat Hari Kesehatan Nasional, 12 November 2021, dengan tuntutan memasukan dan mendesak RUU Kefarmasian masuk dalam pembahasan Prolegnas Prioritas 2022," ungkap Damas mengenai aksi yang akan mengambil rute Gelora Bung Karno – Depan TVRI – Palmerah – DPR RI ini. ISMAFARSI menuntut Tritura Sebagai Revolusi Farmasi Untuk Kesehatan Negeri.

Damas mengungkap bahwa RUU Kefarmasian bukan kepentingan ISMAFARSI, farmasi, atau apoteker. Melainkan kepentingan kesehatan masyarakat secara umum. Maka dari itu Aliansi Organisasi Mahasiswa Kesehatan (AOMKI) juga turut mendukung kegiatan tersebut.

Aksi ini juga menuntut agar paling lambat satu bulan setelah hari ini, ISMAFARSI dan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) sebagai organisasi profesi serta leading sector elemen kefarmasian duduk bersama dengan DPR RI dalam menyempurnakan draft tersebut./ JOURNEY OF INDONESIA

Penggunaan teknologi informasi diharapkan menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan ditengah pandemic Covid-19 sekarang ini. Pemerintah selalu mendukung upaya pemanfaatan teknolog dalam dunia kesehatan, salah satunya menerbitkan Permenkes mengenai pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi terkait pelayanan Kesehatan.

Saat membuka Rakernas dan PIT Ikatan Apoteker Indonesia, Kamis pada 26 Agustus 2021 secara virtual, Wamenkes Dante Saksono Harbuwono mengatakan Kementerian Kesehatan sangat mengapresiasi Langkah IAI dalam menyelenggarakan pertemuan ilmiah ini. Upaya memajukan dan mentransformasikan praktek kefarmasian ini oleh Kementerian Kesehatan diharapkan bisa menjadi momentum bagi apoteker untuk menginkatkan pelayanan Kesehatan.

Rakernas dan PIT IAI 2021 diselenggarakan pada 23-28 Agustus secara virtual ini, digelar atas kerjasama Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia dan Pengurus Daerah IAI Kalimantan Timur. Diikuti oleh hampir 4000 apoteker dari seluruh Indonesia, kali ini mengangkat tema ‘The Opportunities of Pharmacists’ Digital Services in Pandemic Recovery’.

Lebih lanjut Wamenkes Dante mengatakan, apoteker sebagai salah satu tenaga Kesehatan yang melayani masyarakat secara langsung, diharapkan dapat beradaptasi untuk mengimplementasikan teknologi komunikasi dan informasi secara komprehensif dan holistic.

"Selamat atas Rakernas dan PIT IAI 2021, semoga menjadi momentum untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama dalam pandemi saat ini, dengan memanfaatkan teknologi digital pada pelayanan kefarmasian," jelas Wamenkes.

Kepala BPOM Penny K. Lukito IstKepala BPOM Penny K. Lukito (Ist)

Dalam kesempatan itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikit juga menyempatkan menyampaikan ucapan selamat atas diselenggarakannya Rakernas dan PIT IAI. Menkes mengharapkan peran lebih besar dari apoteker untuk menanggulangi pandemi Covid-19.

Apresiasi yang sama diberikan oleh Kepala BPOM Penny K. Lukito serta Gubernur Kaltim, Dr H Ihsan Noor, MSi yang juga hadir memberikan sambutan. "Digitalisasi sangat penting dalam upaya memberikan pelayanan kefarmasian, baik kini maupun di masa depan," tutur Penny.

Sementara Ketua Umum PP IAI, apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang mengatakan, tema yang diambil kali ini sangat kekinian, actual dan up to date untuk dibahas. Ini agar apoteker tidak gagap dan gugup menghadapi teknologi digital di bidang kesehatan, utamanya dalam praktek kefarmasian diseluruh pharmaceutical sites mulai industri farmasi, distribusi farmasi dan pelayanan kefarmasian.

Saat ini teknologi informasi begitu digdaya berevolusi dan digitalisasi menjadi anak kandungnya, dunia kesehatan termasuk kefarmasian, bahkan seluruh aspek kehidupan mengalami keadaan yang penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), situasinya menjadi kompleks dan rumit (complexity) dan serba tidak jelas (ambiguity), yang kalau disingkat menjadi VUCA.

"Kebayang kan, bahwa dunia kefarmasiaan juga tidak lepas dari VUCA. Sehingga kalau praktik kefarmasian yang kita lakukan masih secara konvensional, maka bukan tidak mungkin kalau di masa yang tidak terlalu lama ke depan menjadi using bin tunggang langgang," ungkap Nurul Falah.

Gubernur Kaltim Dr H Ihsan Noor MSi IstGubernur Kaltim, Dr H Ihsan Noor, MSi (Ist)

Melalui Rakernas dan PIT Virutal 2021 ini, Ikatan Apoteker Indonesia untuk kesekian kalinya berupaya menganalisis, menambah pengetahuan, meningkatkan kompetensi digital agar profesi apoteker semakin digandrungi masyarakat dan berkontribusi besar, yaitu manfaatnya dirasakan oleh negara dan bangsa. "Pendeknya, apoteker harus bersahabat akrab dengan wilayah digital," tegas Nurul lagi.

Beberapa jawaban untuk lebih akrab dengan dunia teknologi digital disajikan dalam rakernas dan PIT Virtual 2021. Ada 42 webinar digelar secara pararel yang bukan hanya menghadirkan narasumber berlevel nasional tetapi juga mendunia.

Di sesi motivasi, hadir Jamil Azzaini di forum Rakernas dan di forum inspirational session, Jumat 27 Agustus mulai pukul 18.30 WIB hadir Levana Sani, Co-Founder 7 CEO Nalagenetics, apt Susanti, PhD, Co-Founder PathGen Diagnostic, Indra Rudiansyah MSc, DPhil Student Jenner Institute University of Oxford, anggota Tim Uji Klinis Covid-19 Astra Zeneca dan dipandu apt Drs Indiarto Priadi, seorang jurnalis dan presenter TV./ JOURNEY OF INDONESIA

Ketua Umum Pengurus Pusat Apoteker Indonesia, apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang, pada Rabu, 25 Agustus 2021 melantik Perhimpunan Farmasi Militer dan Perhimpunan Saintis Farmasi Indonesia. Pelantikan ini sekaligus menandai ditutupnya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Apoteker Indonesia 2021 secara daring, yang berlangsung sejak Senin, 23 Agustus 2021 lalu.

Pagi harinya, Kamis, 26 Agustus 2021, dilanjutkan dengan pembukaan Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) yang akan berlangsung hingga Sabtu, 28 Agustus 2021.

Nurul Falah dalam Rakernas sebelumnya menyampaikan, Indonesia sedikit tertinggal dalam hal pengembangan Perhimpunan Farmasi Militer (Hisfarmil), mengingat negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu memilikinya.

"Setiap kali pertemuan FIP (The International Pharmaceuticl Federation), Organisasi Farmasi Sedunia, selalu ada seksi farmasi militer, dan kedua negara tetangga kita selalu menghadirkan perwakilannya dengan menggunakan seragam militer lengkap. Alhamdulillah, kini Indonesia juga sudah memiliki Perhimpunan Farmasi Militer," ungkap Nurul Falah di depan sidang pleno Rakernas IAI 2021.

Hal senada disampaikan oleh Prof Dr apt Yahdiana Harahap, MSi, yang merupakan salah satu pelindung Hisfarmil. Yahdiana saat ini adalah Guru Besar Fakultas Farmasi UI dan juga Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pertahanan. "FIP sudah memiliki seksi Farmasi Militer sejak tahun 1952, jadi kalau Indonesia baru memiliki sekarang, sebenarnya bisa dikatakan terlambat. Pendidikan Farmasi Militer sangat berbeda dibanding pendidikan farmasi pada umumnya. Di farmasi militer ada kurikulum Pendidikan kemiliteran," terang Yahdiana.

Sore itu, Nurul Falah melantik Ketua Perhimpunan Farmasi Militer, Kolonel Kes Dr Apt Drs Yuli Subiakto, MSi, Sekretaris Dr apt Bantari Wisnu KW, M.Biomed, Bendahara apt Editha Romesten, MSc. Dewan Penasehat antara lain ReKtor Universitas Pertahanan, Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Kepala Puskes TNI, Kepala Puskes AD dan Dekan Fakultas Farmassi Militer Universitas Pertahanan.

Kolonel Kes Dr Apt Drs Yuli Subiakto MSi IstKolonel Kes Dr Apt Drs Yuli Subiakto, MSi (Ist)

Dalam kesempatan itu, Yuli Subiakto menyampaikan pentingnya dibentuk Perhimpunan Farmasi Militer, mengingat prajurit TNI bekerja dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding masyarakat pada umumnya. Perubahan lingkungan kerja tersebut berdampak terhadap fisiologis tubuh, nasib obat dalam tubuh, nasib makanan dan minuman, sehingga prajurit TNI perlu dilatih indoktrinasi dan Latihan fisiologi (aerofisiologi, hiperbarik fisiologi).

Menurut Yuli, saat ini kemandirian farmasi nasional masih merupakan cita-cia bangsa dalam wujudkan kedaultan bidang kesetahan. Upaya mengembangkan formula sediaan farmasi, bahan baku aktif, bahan tambahan, bahan pengemas (antibiotika), nonantibiotika, simtomatik, suplemen, PKRT, Alkes habis pakai dengan memanfaatkan sumberdaya alam (tumbuhan, hewan, mineral).

Pengembangan farmasi militer dilakukan dalam rangka dukungan Kesehatan, kosmetika militer, nutrasetikal militer, toksikologi militer, ransum militer, bahan dekontaminsasi CBRNE, pengendali huru hara yang aman (riot control agent) dan pelayanan Kesehatan masyarakat.

Untuk itu Kemhan dan TNI mengembangkan industri farmasi, biomedis dan vaksin, antara lain melalui Lembaga farmasi Puskesad, Lembaga Biomedis Puskesad, Lembaga Biologi dan vaksin Puskesad, Lembaga Farmasi Angkatan Laut dan Lembaga Farmasi Angkatan Udara.

Dalam kesempatan yang sama, Nurul Falah juga melantik pengurus Perhimpunan Saintis Farmasi Indonesia yang diketuai oleh apt Firzan Naimu, M. Biomed.Sc, PhD dengan Sekretaris apt Muh Akbar bahar, M.Pharm, PhD dan Bendahara apt Eka Noviana, MS, PhD. Dewan penasehat antara lain Prof Dr apt Yahdiana Harahap, MS, Prof Dr apt Elly Wahyudin, DEA dan Prof Dr apt Edy Meiyanto, MSi./ JOURNEY OF INDONESIA

Menanggapi video yang beredar mengenai seorang wanita penyintas Covid-19 yang membagikan pengalamannya setelah meminum oseltamivir, dua pakar IAI, Prof Dr apt Zullies Ikawati dan Prof Dr apt Keri Lestari, MSc berpendapat kemungkinan yang dialami oleh wanita tersebut adalah reaksi alergi dan bukan disebabkan oleh oseltamivir.

"Sebab yang diminum oleh penderita Covid-19 bukan hanya satu jenis obat, tetapi ada beberapa. Kita tidak tahu persis yang mana yang menyebabkan reaksi hebat, yaitu mual, muntah dan vertigo seperti yang dirasakan oleh ibu itu," ungkap Prof Dr apt Zullies Ikawati dari Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI).

Dalam video berdurasi 1 menit 37 detik tersebut, ditunjukan kemasan strip oseltamivir yang telah berkurang 1 kapsul. Suara seorang wanita menuturkan, dirinya mengalami reaksi berupa muntah hebat dan kepala terasa berputar, selang 1 menit setelah mengkonsumsi obat tersebut. Akibat reaksi tersebut, ia tidak melanjutkan mengkonsumsi obatnya dan membawanya pulang setelah diperbolehkan pulang dari RS. Suara wanita dalam video tersebut menyebutkan bahwa obat ini sangat berbahaya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua PP IAI, Prof Dr apt Keri Lestari yang menyebutkan, kemungkinan besar yang dialami wanita tersebut adalah reaksi alergi dan belum tentu disebabkan oleh oseltamivir. Bisa saja berasal dari obat lain atau suplemen yang diberikan oleh dokter. "Kalau toh ada efek samping juga tidak akan separah itu. Memang ada efek samping yang disebabkan oleh oseltamivir, tetapi bukan efek samping yang parah. Oseltamivir ini obat antivirus yang cukup aman," tegasnya.

Sementara itu menurut Zullies, untuk dapat memberikan efek seperti yang diharapkan, obat memerlukan waktu yang cukup apabila digunakan secara oral atau diminum. Berbeda dengan obat yang diberikan secara injeksi, memang akan memberikan efek yang lebih cepat. Dalam hal obat yang diminum, maka obat memerlukan waktu dan proses hingga sampai ke lambung. Di lambung obat akan diuraikan, kemudian diserap oleh lambung maupun usus. Obat tersebut kemudian akan diedarkan atau didistribusikan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah hingga sampai ke tempat aksinya untuk bekerja.

"Proses itu memerlukan waktu, jadi kalau dikatakan dalam waktu kurang dari 1 menit sudah terjadi reaksi yang cukup hebat seperti itu, maka dugaan saya bukan karena obat, mungkin karena ada faktor lain, bisa jadi ada faktor psikologisi, atau mungkin memang ada faktor fisik. Gejala covid-19 ada yang sampai mual, muntah dan sebagainya, maka ada kemungkinan adalah karena faktor tersebut. Sekali lagi, dugaan saya bukan karena obat," tegas Zullies.

Sebab bila terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit, Zullies menduga, obat tersebut masih berada di lambung dan belum diadsorbsi sepenuhnya, sehingga belum akan memberikan efek terhadap tubuh.

Sebagai obat antiinfluenza, oseltamivir diketahui memiliki keamanan yang cukup baik. Efek sampingnya tidak terlalu berat, meskipun diketahui ada beberapa efek seperti mual, muntah, insomnia dan vertigo. "Namun sekali lagi, kalau toh terjadi efek samping tidak akan secepat itu, yaitu terjadi dalam waktu kurang dari 1 menit. Sekali lagi obat membutuhkan proses untuk memberikan efek. Begitupun kalau toh itu adalah reaksi alergi efek berlebihan yang mungkin berbeda dari orang lain, juga tidak akan terjadi secepat itu, tetap membutuhkan proses," tutur Zullies.

Prof. Dr. apt Keri Lestari MSc IstProf. Dr. apt Keri Lestari, MSc (Ist)

Menanggapi wanita dalam video tersebut tidak meneruskan mengkonsumsi obatnya, Keri Lestari sangat menyesalkannya. "Obat harus dipatuhi dosisnya, kalau memang ada efek samping harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat untuk dapat dipikirkan apa langkah selanjutnya. Ada yang disebut dengan monitoring efek samping obat (MESO), ini akan dilaporkan ke regulator dalam hal ini BPOM bila memang terjadi efek samping obat yang hebat," papar Keri.

Tetapi, lanjut Keri dalam hal ini ada satu pelajaran berharga yang patut diambil, bahwa wanita tersebut pada akhirnya pulang kembali dari rumah, setelah dirawat di rumah sakit, tanpa meneruskan meminum oseltamivir, itu menunjukkan bahwa SARSCov-2 ini memang adalah virus jenis self limiting disease. Virus SARSCov-2 penyebab Covid-19 tersebut akan mati dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu.

"Karena dia tidak minum oseltamivir dan ternyata sembuh, buktinya sudah pulang kembali ke rumah, artinya sudah ada progres, ada kemajuan. Cukup dengan terapi supportif atau pendukung saja, tanpa antivirus ternyata juga bisa sembuh," kata Keri.

Dalam hal penggunaan Oseltamivir bagi pasien Covid-19, dalam berbagai webinar, Zullies sudah acapkali menyampaikan, bahwa sejatinya obat ini bukan pilihan yang tepat. Secara mekanisme obat, oseltamivir tidak cocok digunakan untuk Covid-19, sebab oseltamivir adalah penghambat enzim neuroaminidase. Enzim tersebut memang ada dalam virus influeza, tetapi tidak ada dalam SARSCov-2, virus penyebab Covid-19.

Jadi memang oseltamivir tidak bisa digunakan untuk mengobati Covid-19 karena targetnya tidak ada. Di awal pandemik, karena pengetahuan mengenai Covid-19 ini belum cukup memadai, para ahli masih belum bisa memastikan apakah Covid-19 ini termasuk jenis flu atau bukan. Seiring perkembangan penyakit, kemudian diketahui bahwa Covid-19 bukan jenis flu. Oleh karena itu, dalam panduan terapi terbaru, Oseltamivir hanya diberikan bila ditemukan gejala koinfeksi dengan influenza. "Jadi sekali lagi menurut saya oseltamivir masih relatif aman untuk digunakan, jika memang ada indikasi untuk menggunakan," ungkap Zullies kembali./ JOURNEY OF INDONESIA

 

Terkait dengan wacana salah satu lembaga pemerintahan yang menyerukan untuk menggunakan Ivermectin, sebagai obat yang mampu mengatasi Covid-19. Hal ini menjadikan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) akhirnya mengambil sikap dan menyerukan agar masyarakat Indonesia sangat berhati-hati dalam menyikapi informasi yang beredar terebut.

Masyarakat diharapkan tidak melakukan selftreatment di masa pandemik ini, melainkan berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosa penyakitnya dan mengkonsultasikan obat-obatan dengan apoteker.

Lewat jumpa pers yang digelar secara daring oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), Jumat (2/7) malam lalu, Apt Drs Nurul Falah Eddy Pariang didamping oleh sejumlah Dewan Pakar PP IAI serta Komite Penanganan Covid-19 dan Pemiluhan Ekonomi Bidang Farmasi, menyampaikan keprihatinan mengenai maraknya penggunaan Ivermectin secara bebas beberapa waktu terakhir.

"Ivermectin memang sudah memiliki ijin edar dari BPOM sebagai obat anti parsit atau obat cacing, tetapi memang penelitian secara in vitro diketahui berpotensi untuk obat Covid-19. Penelitian secara in vitro, artinya baru penelitian dalam skala laboratorium, masih sangat awal dan membutuhkan uji klinik untuk memastikan. Yang pasti, Ivermectin adalah golongan obat keras yang harus didapatkan dengan resep dokter. Karena itu kami menghimbau agar sejawat apoteker di apotek dalam melayani Ivermectin dipastikan ada resep dokter,’’ ungkap Nurul Falah.

Dalam acara tersebut hadir para guru besar di bidang farmakologi, analisis farmasi serta farmasetika mengupas Ivermectin dari berbagai aspek.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Dr apt Keri Lestari, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Bidang Farmasi menyampaikan, selama pandemik, IAI dalam seluruh tingkatan bahu membahu memberikan berbagai informasi kepada masyarakat, termasuk informasi mengenai obat herbal dan penggunaannya secara bijaksana. Mengenai penggunaan Ivermectin, meski telah mencantumkan Ivermectin dalam panduan, namun WHO belum merekomendasikan sebagai obat Covid-19. Ivermectin baru tercantum dalam guidelines dengan batasan hanya digunakan untuk uji klinik semata. Uji klinik ini nantinya akan memastikan adanya evidence base atau bukti akan keamanan dan khasiat penggunaannya.

Ivermectine IstIvermectine (Ist)

"Kami sangat tidak menganjurkan pembelian obat secara bebas apalagi melalui online, karena Ivermectin adalah golongan obat keras. Beredar informasi bahwa obat ini bisa digunakan untuk pencegahan, untuk pengobatan saja belum direkomendasikan, apalagi untuk pencegahan, karena adanya efek samping yang masih perlu ditelaah lebih dalam mengenai keamanan penggunaan obatnya. Profil obat tersebut sebagai obat cacing atau obat anti parasit yang sesuai ijin edar, dinyatakan obat tersebut indikasinya digunakan hanya satu tahun sekali, kalau digunakan untuk pencegahan berarti penggunaannya rutin dalam jangka panjang, ini tentu memerlukan perhatian khusus dan pembuktian lebih jauh,’’ ungkap Keri Lestari.

Sementara itu, Dewan Pakar IAI, Siswandono, berpendapat, seharusnya Ivermectin dihindari sebagai obat Covid-19. Dia membawa contoh kasus penggunaan Ivermectin di India yang memberikan risiko efek samping hingga akhirnya India mencabut izin obat tersebut.

"Saya imbau perlu penelitian lebih lanjut, tapi rasanya kalau melihat kasus di India, kok, ya, mestinya enggak usah pakai Ivermectin sebagai obat Covid-19," kata Siswandono.

Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mendapati PT Harsen memproduksi Ivermectin ilegal dengan nama dagang Ivermax 12. Obat tersebut disebut menggunakan bahan baku, kemasan, waktu kedaluwarsa, dan jalur distribusi tidak sesuai ketentuan.

BPOM bahkan mengingatkan bahaya penggunaan Ivermectin tanpa anjuran dokter karena tergolong obat keras. Selain itu, Ivermectin adalah obat yang terdaftar untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis) di Indonesia.

Meski begitu, BPOM telah menerbitkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) untuk uji klinis Ivermectin mulai Senin (28/6). PPUK merupakan dasar ilmiah guna membuktikan khasiat dan keamanan Ivermectin untuk Covid-19.

Uji klinis dilakukan di delapan RS, seperti RSUP Persahabatan, Jakarta; RSUP Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta; RSUD dr. Soedarso, Pontianak; RSUP H. Adam Malik, Medan. Kemudian RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta; RSAU Dr. Esnawan Antariksa, Jakarta; RS dr. Suyoto, Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan RI, Jakarta; dan Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta./ JOURNEY OF INDONESIA

Page 1 of 2