Pada masa pandemi ini, SCTV seperti tak kehilangan akal agar penggemar sinetron-sinetron favorite nya tetap eksis dimasa pandemi ini. Rutin menggelar acara Virtual 3xtraOrdinary Meet & Greet disetiap pekannya ini membuat kesempatan mengenal lebih dekat para idolanya tetap terjaga.

Pada silam pekan lalu, 3xtraOrdinary Meet & Greet menghadirkan para pemeran sinetron "Love Story The Series" dan "Samudra Cinta". Acara ini di pandu David Rizal dan Dazen Vrilla menghadirkan Giorgino Abraham, Yasmin Napper, Leo Consul, Emeraldy Rafael, Nabila Atmaja serta Raisya Bawazier, Rangga Azof, Haico Van Der Veken, Mischa Chandrawinata, Cut Syifa, Ben Kasyafani dan Dinda Kanya Dewi.

Banyak hal menarik dalam kehadiran 3xtraOrdinary Meet & Greet pada Sabtu (16/1/2021), terutama kesan romantis yang ditampilkan oleh beberapa pasangan pemeran dari kedua sinetron tersebut.

Seperti yang tunjukkan oleh Giorgino Abraham. Ia mengungkapkan kebahagiaannya dapat eksis kembali lewat sinetron terbaru SCTV, "Love Story The Series", usai vakum selama 3 tahun dari dunia sinetron Indonesia.

Baginya, momen yang paling dirindukan adalah rasa kekeluargaan dan kebersamaan saat proses syuting. Apalagi kehadiran Yasmin Napper dalam produksi yang sama, turut membuatnya bersemangat menjalani proses syuting sinetron kali ini.

“Senang aja tiap melihat wajahnya,” kata Gino yang membuat Yasmin yang duduk disebelahnya tersenyum.

Keseruan para pemeran sinetron Samudra Cinta dan Love Story The Series di 3xtraOrdinary Meet Greet IbonkSerunya 3xtraOrdinary Meet & Greet para pemeran sinetron Samudra Cinta dan Love Story The Series (Ibonk)

Menanggapi apa yang disampaikan Gino, Yasmin Napper mengaku sudah memahami barang yang selalu dibawa Giorgino Abraham selama menjalani proses syuting, yakni telepon genggam, tas, dan tidak bisa terlepas dari aksesoris.

Nah, kekompakan keduanya terbuktikan ketika mereka secara bersamaan menyebutkan makanan favorit dan penyanyi idola masing-masing.

Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Haico Van Der Veken dan Rangga Azof, keduanya membuktikan kekompakan dalam pemainan games yang disediakan, dengan menjawab nama sahabat Rangga dan nama penyanyi favorit Haico.

Yang tak luput juga dari perhatian pesinetron lainnya adalah keberadaan Dinda Kanya Dewi dan Ben Kasyafani. Aksi keduanya cukup mengundang gelak tawa.

Dari semua kejadian ada hal yang cukup membuat haru, dimana terlihat Cut Syifa muncul dengan mengenakan hijab. Bintang "Samudra Cinta" ini kemudian memohon didoakan agar selalu istiqomah menutup aurat. “Doakan saja semoga bisa selalu istiqomah,” pinta Cut Syifa menyambut kesan dari rekan-rekannya.

Karena kejadian ini, Syifa mendapat panggilan istimewa dari rekan-rekannya yakni Cut Adem Syifa./ JOURNEY OF INDONSIA

Wanita muda itu berjalan pelan mengitari penanjakan Gunung Bromo. Tangannya menggenggam plastik merah berisikan sembilan pak bunga eidelweiss, hasil budi daya dari kebunnya. Bunga abadi itu hendak ia jual kepada para wisatawan yang mengunjungi gunung berketinggian 2.393 mdpl tersebut.

Pagi itu, hanya terlihat sorot mata tajam saja dari wanita bernama asli Fanny. Hidungnya rapat tertutup masker, sementara pada bagian kepala dan sekujur badan ia pasangi ponco dipadupadankan dengan sarung sewek (kain khas Tengger). Ia bilang supaya hangat, karena hari itu langit sedang menangis, tak henti-hentinya menitikkan hujan.

Tentu saja hujan pagi di Bromo menimbulkan kekecewaan bagi para pelancong, yang sedianya sudah terjaga sejak pukul tiga pagi, demi melihat pesona matahari terbit beserta lanskap jajaran Pegunungan Tengger hingga menatap si atap Jawa, Gunung Semeru.

Namun, karena hantaman badai pagi dan kondisi Gunung Semeru yang kala itu sedang batuk, tiada panorama indah terlihat, jarak pandang saja hanya 20 meter lantaran tertutup tebalnya kabut. Mungkin, pagi itu saya memang belum mujur, diharuskan datang lagi ke sini di luar musim hujan.

Akan tetapi, hujan di suatu pagi itu justru memberikan berkah bagi Fanny, sebab selain berjualan bunga eidelweiss hasil budidaya di kebunnya, matras hitam yang ia tenteng pun laris manis disewa pewisata. Hari itu, saku celananya nampak tebal berisikan warna-warni kertas rupiah.

Fanny wanita Tengger yang menggantungkan rezeki dagangannya dari para pelancong gunung Bromo Morteza Syariati AlbannaFanny, wanita Tengger yang menggantungkan rezeki dagangannya dari para pelancong gunung Bromo (Morteza Syariati Albanna)

Dengan wajah sumringah, wanita 23 tahun ini mengaku memang sudah lama tidak mengantongi segepok uang. Musababnya adalah hantaman pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Syukurnya, kata Fanny, sejak November 2020, pariwisata Bromo mulai dibuka kembali. Otomatis, cuan pun mengalir kembali, semata untuk membiaya si buah hati yang saat ini duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.

Fanny bercerita, hantaman pandemi Covid-19 ini sangat nyata menjadi pukulan telak bagi dirinya beserta Suku Tengger yang sehari-hari mencari nafkah di penanjakan Gunung Bromo.

Selagi pariwisata Bromo ditutup total lebih dari setengah tahun, ia berfokus mencari nafkah memanfaatkan keberadaan pekarangan untuk menanam kubis, kol, kentang, tomat, cabai, hingga membudidayakan tanaman eidelweiss. Fanny secara terbuka berkata apa adanya, kalau dari hasil tani saja, tentu hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Ia juga bercerita betapa pentingnya Hari Kasada bagi kaum mereka. Sekitar Agustus 2020 kemarin, bersama Suku Tengger lainnya Fanny turun ke bawah kawah Bromo menunaikan ritual tahunan, dengan membawa buah tangan seperti sayur mayur, buah-buahan dan lainnya.

"Dibuat sesaji. Satu tahun sekali, satu kabupaten, semoga hasil tanam lancar, dikasih rezeki, hewan biar hidup, pengunjung (pelancong) datang lagi. Itu bentuk rasa terima kasih Suku Tengger ke Bromo," ucapnya kepada JOI di titik penanjakan Bromo, Probolinggo, Jawa Timur pada Rabu, pertengahan Desember 2020 kemarin.

Penunggang Kuda di Bromo Morteza Syariati AlbannaPenunggang Kuda di Bromo (Morteza Syariati Albanna)

Fanny bersama Suku Tengger lainnya yang setiap hari mencari rezeki di titik penanjakan Bromo, mengaku sudah lama sekali tak menjajakan eidelweiss, tikar, sarung tangan, udeng, hingga cinderamata yang berkaitan dengan Gunung Bromo kepada para pengunjung. Untuk diketahui, keberadaan pedagang di penanjakan tergolong singkat karena sekitar pukul 08.00 - 09.00 WIB, mereka harus turun bertani lagi ke ladang.

Jadi, kedatangan wisatawan ke Bromo, sangatlah membantu kebangkitan perekonomian warga sekitar. Fanny pun berharap mata rantai corona lekas berakhir, supaya banyak wisatawan kembali mendatangi kawasan Bromo, Tengger, Semeru seperti sediakala.

Hal senada dikatakan Joko, pria berkumis ini sehari-hari bekerja sebagai pengemudi jeep. Jeep merupakan kendaraan utama yang membawa wisatawan membelah lautan pasir Bromo, menggapai titik penanjakan tuk menyaksikan matahari terbit.

Dengan nada sedikit jengkel ia bilang, pandemi corona ini betul-betul membuatnya terpukul hampir tak berdaya. Betapa tidak, sudah 15 tahun ini ia bertugas mengantar pelancong ke Bromo nyaris tanpa masalah. Namun, baru pada tahun 2020, pariwisata lokal dianggapnya mati suri, syukurnya mulai berdetak lagi di penghujung Oktober-November 2020.

Jadi, dari Maret sampai awal Oktober 2020, Joko memilih banting setir menjadi petani dadakan. Bahkan, jadi kuli harian pembangunan jalan pun sanggup ia lakoni. Pokoknya, ujar dia, segala usaha akan ia coba untuk tetap bertahan hidup di tengah pandemi ini.

Sambil tertawa terbahak-bahak, ia menceritakan kenangan pahit saat dirinya berhasil memanen sayur yang hanya dihargai di pasaran Rp500 per kilogram. Alhasil, sayur mayur yang ia tanam itu dikonsumsi sendiri, ditumpuk, hingga pada akhirnya ada yang membusuk.

Segelintir pengunjung dan lautan pasir di gunung Bromo Morteza Syariati AlbannaSegelintir pengunjung dan lautan pasir di gunung Bromo (Morteza Syariati Albanna)

"Kalau dihargai Rp1.500-Rp2.000 kita masih dapat untung. Kita sudah coba tawarkan sayur ke Semarang, kemana-mana saya siap antar. Tapi ndak ada yang mau. Ini daya beli masyarakat yang enggak ada toh," ucapnya sambil terkekeh.

Maka itu, bapak tiga anak ini amat mengharapkan situasi di Indonesia pada tahun 2021 berangsur membaik, tidak seperti tahun 2020 yang ia anggap suram. Besar harapannya, wisatawan mulai memberanikan diri berpelesir dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti yang selalu ditekankan oleh pemerintah, agar setelah berwisata tidak ada kasus terpapar wabah menular dari Bromo.

Sementara, SubKoordinator Pemasaran Pariwisata Regional I Area IVB Kemenparekraf untuk pasar Australia, Nurdiansyah, yang ikut turun membantu pemulihan pasar wisata domestik, mengaku optimis sektor pariwisata Indonesia secara perlahan namun pasti akan beranjak pulih.

Namun, ia menekankan bagi wisatawan yang hendak mendatangi Bromo harus mengindahkan standar protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environment Sustainability), dan disarankan jika tujuan utama pengunjung Bromo ingin melihat sunrise, mohon ditunda dahulu lantaran kondisi cuaca sedang kurang bagus.

"Protokol itu (CHSE) harus dipatuhi, agar tidak ada penumpukan massa pengunjung di lokasi wisata. Hal itu supaya orang yang berwisata bisa pulang ke rumah tetap dalam kondisi sehat. Kemenparekraf juga sedang gencar memberikan sertifikasi CHSE (InDOnesia CARE) secara gratis kepada industri pariwisata di seluruh Indonesia" ucapnya kepada JOI pertengahan Desember 2020 kemarin.

Pantauan JOI di lokasi penanjakan Gunung Bromo, sudah ada pembuatan tanda kuning physical distancing, agar pengunjung bisa menjaga jarak aman. Sayangnya, belum terlihat pihak Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 di lokasi wisata tersebut./ JOURNEY OF INDONESIA

Sejatinya kabupaten Parigi Moutong sejak tahun 2012 telah menggelar Festival Teluk Tomini  (FTT) yang kemudian menjadi agenda rutin setiap tahunnya. Bertolak dari tahun-tahun sebelumnya Festival Teluk Tomini kemudian menjadi perhelatan akbar berskala Internasional bertajuk “Sail Tomini” pada tahun 2015.

Untuk tahun 2019 ini, Festival Teluk Tomini resmi dibuka pada Jumat (19/4) sore sekitar pukul 16:00 WITA di halaman kantor Bupati Sulawesi Tengah. Lewat tema “Parigi Moutong Truly Indonesia“, FTT 2019 ini sendiri dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya yang diwakili oleh Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti.

Esthy Reko Astuti dengan didampingi oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Sulawesi Tengah Norma Mardjanu, Bupati Parigi Moutong Samsurizal, Kadis Pariwisata Parigi Moutong, Zulfinachri Achmad serta beberapa lembaga terkait seperti Ketua TP PKK Kab. Parigi Moutong, Ketua DPRD Kab. Parigi Moutong, bersama-sama melakukan pemukulan alat musik Gimba sebagai tanda dibukanya Festival Teluk Tomini 2019.

Dalam sambutannya, Esthy menyatakan sangat mengapresiasi festival tahunan ini yang sudah berlangsung sejak 2015. “Saya sangat mengapresiasi kesinambungan festival ini, yang juga  merupakan tindak lanjut dari event sebelumnya Sail Tomini dan terus digelar sampai sekarang”, ungkap Esthy Reko Astuti. Selanjutnya Esthy juga mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan dan mendorong perekonomian daerah, maka pemda perlu membuat event-event sejenis yang berkelas sebagai daya tarik wisatawan.

Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti beserta pejabat terkait melakukan pembukaan Festival Teluk Tomini Ibonk2

Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti beserta pejabat terkait melakukan pembukaan Festival Teluk Tomini (Ibonk)

Sebagai sebuah event, FTT 2019 sendiri mengalami kemajuan ditandai dengan berhasilnya masuk ke dalam 100 Calendar of Event (CoE) Kemenerian Pariwisata. “Ini patut diapresiasi, karena untuk dapat masuk ke dalam 100 CoE, FTT harus melalui kurasi oleh tim khusus dengan menilai 5C yakni creativity, communication, commercial, commitment dan consistency,” tandas Esthy.

Sesuai dengan namanya, event ini digelar untuk mengeksplor Teluk Tomini agar lebih dikenal masyarakat luas. Dengan festival ini, diharapkan kunjungan wisatawan semakin meningkat, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pada seremoni pembukaan FTT 2019, sejumlah penari mementaskan "Tari Mokambu" yang juga merupakan tari selamat datang menyambut tamu tamu besar yang datang bertandang ke provinsi Sulawesi Tengah. Tarian ini bernuatan pesan untuk mendatangkan keselamatan dan rezeki bagi mereka yg berkunjung di tanah Kaili Parimo.

Staf Ahli Gubernur Sulawesi Tengah, Norma Mardjanu yang mewakili Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah mengatakan bahwa pihaknya yakin dan percaya mampu meningkatkan pariwisata daerah ini. “Sulawesi Tengah adalah daerah yang sangat kaya akan destinasi dan budaya sehingga mendapat julukan Miniatur Indonesia. Ini adalah sebuah potensi. Untuk pengembangan parawisata daerah ini selanjutnya, semua unsur 3A (Atraksi, Amenitas, dan Akseksibilitas) akan terus dimaksimalkan,” tandasnya.

Tari bonkTari Mokambu menjadi sajian kolosal pembuka dalam opening perhelatan Festival Teluk Tomini (Ibonk) 

FTT 2019 yang berlangsung pada 19-23 April 2019 ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik seperti Pemilihan Putra Putri Bahari, Fashion Carnival, Lomba Fotografi Objek Wisata, Festival Musik Tradisional, serta Festival Kuliner dan Pameran Kerajinan Rakyat.

Diharapkan juga dengan adanya FTT ini juga bertujuan untuk menjadikan Kabupaten Parigi Moutong sebagai daerah pelopor pelaksana Fashion Carnival di Provinsi Sulawesi Tengah serta meningkatkan kunjungan wuisatawan Nusantara (Wisnus) di Provinsi Sulawesi Tengah Khususnya di Kabupaten Parigi.

Diujung prosesi pembukaan dihadirkan defile sekitar 20-an  peserta yang menampilkan busana karnaval dari para milenial Sulawesi Tenggara. Menampilkan warna warni dan kreatifitas busana karnaval yang cukup menarik perhatian pengunjung. Defile karnaval tersebut sengaja melintasi panggung utama dimana Staf Khusus Menteri Bidang Multikultural Kemenpar, Esthy Reko Astuti dan pejabat lainnya berada./ JOURNEY OF INDONESIA

Memulai karir solonya dengan lagu ‘Sayang 2’, Sarah Brillian sukses menarik perhatian para pecinta dangdut.  Ditambah lagi lagu ‘Sayang 2’ memang sebelumnya telah banyak dinyanyikan artis-artis dangdut ternama.

Sarah Brillian merupakan penyanyi dangdut asal Ponorogo, yang memulai karirnya melalui Orkes Melayu (OM) Sera. Kepiawaiannya bernyanyi membuat Trinity Optima Production melalui sub-labelnya 3D Entertainment yang menaungi musik bergenre dangdut, langsung tertarik untuk memproduseri penyanyi daerah ini, yang kini tengah menyelesaikan pascasarjana-nya di Institut Seni Indonesia Surakarta.

Kini Sarah Brillian kembali meramaikan kancah dangdut dengan lagu berjudul ‘Ending Sayang’ yang diciptakan Anton Obama, pencipta lagu ‘Sayang 2’ dan ‘Sayang’ yang dipopulerkan Via Vallen. Anton Obama menciptakan lagu ini khusus untuk Sarah Brillian, jadi tak heran jika musik dan lirik telah disesuaikan dengan karakter Sarah yang lembut. “Sebagai pencipta, Om Anton Obama membebaskan Sarah untuk eksplorasi, karena waktu menciptakan memang khusus untuk Sarah,” ungkap Sarah Brillian.

Lagu ‘Ending Sayang’ bercerita tentang sebuah perpisahan. “Lagunya tentang perpisahan sepasang kekasih. Salah satu dari mereka berusaha untuk menguatkan, mengikhlaskan hubungan mereka,” terang penyanyi yang sejak SD sudah nyanyi panggung ke panggung ini.

Bahkan, disampaikan oleh tim A&R 3D Entertainment, lagu ini menjadi penutup lagu ‘Sayang’.  “Awal mulanya karena sebetulnya kalau dicermati liriknya itu sequel dari ‘Sayang’ dan ‘Sayang 2’. Terus juga banyak sekali komposer  yang  membuat judul Sayang 3,4,5, dst sampai Sayang 12. Sang komposer pun memutuskan  mengakhiri judul lagu Sayang, agar publik tidak bingung,” jelas Dwi.

Lagu yang memiliki lirik bahasa Jawa-Indonesia mengisyaratkan kesedihan yang mendalam, seirama dengan balutan musiknya.  “Ending sayang ini secara musikalitasnya dikemas dengan aransemen yang berbeda dengan ‘Sayang’ Via Vallen dan ‘Sayang 2’, tidak dengan genre koplo tapi lebih slow karena memasukkan unsur tabla, jadi yang mendengarnya terasa lebih menyayat dan menyentuh kalbu,” lanjutnya.

Melalui lagu ini Sarah punya pesan khusus nih, “Ikhlas aja, kalau emang udah nggak saling cocok, nggak jodoh, nggak perlu dipaksakan,” tutur Sarah.  Sarah pun berharap lagu ini dapat diminati para pecinta dangdut, khususnya penikmat genre pop dangdut. “Harapannya mudah-mudahan bisa diterima di masyarakat luas, semakin banyak yg bisa mengenal & hapal lagu dangdut yg ada kombinasi lirik Jawa,” tutup Sarah.

Selain meluncurkan video lirik ‘Ending Sayang’, pada tanggal 5 April ini, lagu tersebut sudah bisa kamu dengarkan dan download di semua digital platform, seperti Joox, Spotify, Langit Musik, Apple Music, Itunes, dan Deezer./ JOURNEY OF INDONESIA

Kehebatan ratu bulutangkis Indonesia, Susi Susanti melahirkan sejarah tersendiri ketika mampu mempersembahkan emas Olimpiade pertama untuk Indonesia. Susi pada saat itu berhasil menumbangkan atlet asal Korea Selatan, Bang Soo-hyun. Ini merupakan momentum bagi bangsa Indonesia yang erat bersatu memiliki doa dan harapan yang satu yaitu kemenangan Susi. Karena sejak berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952, baru pertama kali Indonesia merenggut medali emas.

Nah, Barcelona 1992 adalah sejarah bagi Indonesia, sejak itu atlet Indonesia makin termotivasi untuk membawa pulang medali. Perjuangan Susi dalam menggapai impiannya yang bertujuan untuk kebaikan Indonesia akan muncul di film “Susi Susanti - Love All” yang dijadwalkan tayang pada tahun 2019 ini.

Film ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia sebagai prestasi yang membanggakan bagi Indonesia dan perlu diingat oleh generasi muda saat ini. Film ini disutradarai oleh Sim F, sutradara yang sudah lama malang melintang di iklan televisi dan video musik. Penayangan teaser film “Susi Susanti – Love All” mengingatkan akan apa yang bisa kita raih ketika kita semua dekat dalam persatuan tanpa mengenal perbedaan namun tetap sama- sama berjuang untuk Indonesia.

Video teaser yang rilis di masa tenang kampanye Pilpres 2019 ini sengaja ditayangkan untuk mengingatkan kembali ketika kita semua dekat saat meraih kejayaan Indonesia bersama Susi Susanti di Olimpiade Barcelona 1992. Cerita kepahlawanan Susi Susanti yang layak disebarkan untuk generasi muda saat ini. Video yang menampilkan Laura Basuki yang diberikan peran sebagai Susi Susanti sedang menahan air mata dan terharu di atas podium dengan bendera merah putih yang dikibarkan sambil diiringi lagu “Indonesia Raya” pada saat Indonesia berhasil mendapatkan medali emas di Olimpiade Barcelona 1992.

Film ini sendiri dipersembahkan oleh Time International Films dan diproduksi oleh Damn I Love Indonesia Movies bersama Oreima Films, East West Synergy, dan Melon Indonesia.

Susi Susanti Love All 1Fira Basuki sebagai Susi Susanti (Ist)

Susi hingga kini pun masih menjadi panutan para atlet muda Indonesia. Di Asian Games 2018 kemarin Susi merupakan manajer timnas Indonesia dan mampu menyalakan api untuk Indonesia dari usia yang masih muda dan masih tetap setia berbakti kepada negara melalui bulu tangkis yang sampai kini merupakan idola yang patut dibanggakan.

Diharapkan, melalui film ini semangat, pengorbanan dan cinta Susi terhadap keluarga, passion yang dimilikinya, pasangan hidupnya dan Indonesia akan diteruskan ke generasi milenial. Nantikan segera film “Susi Susanti - Love All” di bioskop kesayangan anda./ JOURNEY OF INDONESIA

 

Page 1 of 44