JAKARTA – Di tengah perubahan gaya hidup global dan meningkatnya mobilitas masyarakat, industri hospitality tidak lagi sekadar berbicara soal hunian dan layanan menginap. Sektor ini telah berkembang menjadi ekosistem yang menyatukan pengalaman, kesehatan, teknologi, hingga personalisasi layanan yang semakin kompleks.
Perubahan ini mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi, namun di saat yang sama juga menghadirkan tekanan baru yang tidak bisa dihindari. Dalam forum bertajuk HAM Meet CEO, suasana hangat yang tercipta tidak menutupi fakta keras bahwa industri ini sedang tidak baik-baik saja, meski peluang baru justru mulai bermunculan dari celah yang tak terduga.
Industri perhotelan kita kini bukan lagi sekadar urusan menjual kamar atau sarapan pagi. Ia telah bermutasi menjadi ekosistem kompleks yang menyeret kesehatan, teknologi, hingga personalisasi layanan ke dalam satu piring yang sama. Di Indonesia, dinamika ini terasa sangat kencang. Hotel-hotel baru tumbuh bak jamur di musim hujan, namun di sisi lain, regulasi dan kesiapan pasar seolah terengah-engah mengejar ketertinggalan tersebut.
Yohana Gewang, Founder dan CEO Odilia Infinity Corporation, menangkap sinyal perubahan itu dari pergeseran perilaku wisatawan. Menurutnya, konsep wellness atau kebugaran kini telah berevolusi dari sekadar fasilitas spa tambahan menjadi sebuah kebutuhan gaya hidup fisik dan mental. “Konsep ini kini berkembang menjadi destinasi wisata tersendiri yang memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” ungkapnya.
Namun, nada optimisme itu sedikit terbentur oleh realitas di lapangan yang dipaparkan Thomas Matantu yang menduduki posisi CEO Natta Hospitality Management ini menyoroti ketimpangan yang kian lebar antara jumlah properti dengan jumlah pelancong yang ada. Angka-angka yang ia beberkan cukup menggetarkan; kontribusi kegiatan pemerintah yang dulu menjadi “nyawa” bagi okupansi hotel hingga 60 persen, kini merosot tajam hingga tersisa 10 persen saja.

Kondisi ini diperparah dengan menjamurnya vila dan homestay yang menawarkan fleksibilitas harga. Pada periode emas seperti Idulfitri atau akhir tahun, kehadiran akomodasi alternatif ini disebut-sebut telah menggerus pangsa pasar hotel konvensional hingga 40 persen. Sebuah angka yang memaksa para pemilik hotel untuk memutar otak lebih keras agar tetap relevan.
Andhy Irawan, Founder dan CEO MORA Group, melihat ada paradoks di sini. Di satu sisi, investor asing masih melirik Indonesia dengan penuh minat, namun di sisi lain, ia melihat minimnya kebijakan konkret dari pemerintah yang bisa menjadi kompas bagi industri. Ia menyayangkan adanya hotel yang harus bertahan dengan okupansi rendah di angka 20 persen, bahkan sampai harus menjual aset karena tekanan bisnis yang tak lagi terbendung. Bagi Andhy, pemerintah seharusnya bukan sekadar penonton, melainkan pengarah utama dalam ekosistem ini.
Di tengah sengkarut masalah tersebut, teknologi muncul sebagai jembatan penyelamat. Harli Yanto, CEO Power Pro, mengingatkan bahwa digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan napas baru. Penggunaan sistem berbasis cloud seperti Amazon Web Services atau Google Cloud dianggap menjadi solusi untuk efisiensi dan keamanan data yang lebih mumpuni. Tanpa integrasi teknologi, kualitas layanan akan sulit diukur dan kepuasan pelanggan hanya akan menjadi spekulasi.
Pada akhirnya, forum HAM Meet CEO ini menjadi cermin retak yang menunjukkan bahwa masa depan hospitality Indonesia tidak bisa dibangun dengan kerja sendirian. Sinergi antara pemilik modal, penyedia teknologi, dan pembuat kebijakan adalah harga mati. Keberlanjutan industri ini tidak hanya bergantung pada seberapa besar pasar yang dimiliki, tetapi pada seberapa cepat para pemangku kepentingan bisa beradaptasi sebelum momentum itu hilang ditelan perubahan zaman./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















