Universitas Ciputra Siapkan Kampung Wisata Batik Banyuwangi

By Ismed Nompo June 13, 2016 194
Universitas Ciputra Siapkan Kampung Wisata Batik Banyuwangi Batik Banyuwangi (Ist)

Kesuksesan Kampoeng Batik Laweyan hingga Kampoeng Batik Kauman di Kota Solo menginspirasi Universitas Ciputra (UC) Surabaya untuk mengembangkan Kampung Wisata Batik di Banyuwangi. Studi kelayakan akan langsung dilakukan mulai tahun ini. Tahapannya, dalam lima bulan ke depan, UC Surabaya akan membuat konsep kampung wisata batik di Banyuwangi, dilanjutkan dengan persiapan lahan selama tujuh bulan.

Hal ini yang oleh Menpar Arief Yahya sering disebut sebagai pentahelix, gabungan lima unsur yang harus bersatu dan bergerak bersama-sama. Yakni Akademisi, Business, Community, Government, dan Media. “Ketiga lima unsur ini bersatu, dan memiliki visi Pariwisata, maka saya jamin sector ini akan semakin kuat mengakar dan bisa diandalkan,” ungkap Arief Yahya.

Ide dan inisiatif Universitas Ciputra untuk membuat kampung batik di Banyuwangi itu, adalah contoh konkret. Gagasan besarnya bisa darimana saja, kali inspirasi muncul dari akademisi, untuk membuat ekosistem Pariwisata di Banyuwangi semakin hidup. Selanjutnya, prinsip yang harus dipegang adalah Business Lead, Government Support. “Pemerintah hanyalah regulator yang bagus. Dia tidak boleh merangkap menjadi operator, biarkan Business yang menjalankan. Dan Community bisa mendapatkan manfaat yang konkret,” ujar Arief Yahya.

Dosen Universitas Ciputra, Juliuska Sahertian dan Kepala Laboratorium Fashion Department, Fabio Ricardo Toreh, mengaku telah bertemu dengan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. Dan hal ini, langsung mendapat respon positif. "Ini murni inisiatif Universitas Ciputra. Batik merupakan warisan leluhur yang sudah mendunia. Ada UNESCO yang sudah mengakuinya sejak 2 Oktober 2009. Di sisi lain, pariwisata Banyuwangi naik sangat pesat lewat endapatan per kapita naik dari Rp 21 juta di 2010 menjadi Rp 39 juta di tahun 2015 karena pariwisata.,” terang dosen Universitas Ciputra, Juliuska Sahertian, Senin (13/6).

Dari paparannya, Kampung Wisata Batik ini akan menjadi pusat pembelajaran, pengembangan, dan pemasaran batik. “Kampung wisata batik di Banyuwangi nantinya akan menjadi etalase semua jenis batik ramah lingkungan yang ada di Indonesia. Lengkap dengan ceritanya,” paparnya.

Terpilihnya Banyuwangi dilatarbelakangi oleh perkembangan batik yang signifikan. Industri kreatif berbasis fashion di Banyuwangi, dinilai sangat pas untuk dipadukan dengan pengembangan pariwisata. Apalagi, Banyuwangi juga mempunyai infrastruktur transportasi yang lengkap. Dari darat, laut, maupun udara, semua ada di sana. Belum lagi, keuntungan letak geografis yang dekat dengan Bali sebagai jantung utama pariwisata Indonesia.

Kawasan kampung wisata batik Banyuwangi itu, lanjut Juliuska, nantinya mengambil lansekap salah satu motif batik setempat. Di dalamnya akan dilengkapi 13 rumah tradisional dari berbagai provinsi di Indonesia yang merupakan penghasil batik. Selain itu, ada fasilitas penunjang seperti cottages, food and beverage stalls, taman bunga, kolam ikan, wahana permainan alam, jalur berkuda, dan infrastruktur penunjang pariwisata lainnya.

"Kampung wisata batik ini bagian dari Program Wisata Inti Rakyat (PIR) yang kami desain untuk menghidupkan pariwisata pedesaan. Tahun pertama akan kami buat studi kelayakan. Selama lima bulan ke depan kami cari gambaran untuk kampung wisata batik, lalu persiapan lahan selama tujuh bulan. Tahapan berikutnya perencanaan bisnis pembangunan kampung wisata batik.
Bupati Banyuwangi, Azwar Anas langsung merespons positif gagasan tadi. Hadirnya kampung wisata batik Banyuwangi, dinilai bisa mendorong tumbuhnya industri batik dan pariwisata di kabupaten berjuluk Sunrise of Java itu. / JOURNEY OF INDONESIA

 

Last modified on Thursday, 31 January 2019 12:18