Menpar Proyeksikan Devisa Pariwisata Akan Tembus 18 Miliar Dolar AS

By Ismed Nompo May 14, 2019 106
Menpar Proyeksikan Devisa Pariwisata Akan Tembus 18 Miliar Dolar AS Menteri Pariwisata, Arief Yahya (Ist)

Menteri Pariwisata Arief Yahya, memproyeksikan devisa pariwisata Indonesia akan menembus kisaran 17,6 hingga 18 miliar dolar AS atau jauh melampaui CPO yang selama ini menjadi penghasil devisa terbesar. Hal tersebut diungkapkannya seusai melantik Pejabat Administrator, Pejabat Pengawas, Pejabat Fungsional, dan Pejabat Badan Pelaksana Otorita pada lingkup Kementerian Pariwisata di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, kantor Kemenpar, Selasa pagi (14/5/2019).

Menpar menjelaskan bahwa angka proyeksi 18 juta wisman tersebut memang masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 20 juta. Namun tetap menunjukkan pertumbuhan pariwisata Indonesia selama lima tahun ini sudah dua kali lipat atau rata-rata di atas 20 persen pertahun. “Saya sudah sampaikan angka ini kepada Presiden Joko Widodo ketika Presiden menanyakan proyeksi pariwisata tahun ini,” kata Arief.

Tahun lalu, menurut Arief Yahya, ketika devisa pariwisata mencapai 16,1 miliar dolar AS dari kunjungan sebanyak 16,4 juta wisman posisi pariwisata sudah menyamai CPO. Sedangkan devisa dari batubara stabil berada di posisi ketiga. “Kalau dahulu di era 1980-an ketika migas berjaya, kita menyebut dua sumber terbesar devisa yaitu migas dan nonmigas, sekarang kita ubah sumber devisa pariwisata dan nonpariwisata,” kata Arief Yahya.

Selanjutnya Menpar juga menyampaikan bahwa Kemenpar bersama stakeholder pariwisata akan menjalankan empat program realistis untuk mencapai 18 juta kunjungan wisman yakni border tourism, hot deal, tourism hub, dan LCC Terminal. Dari program border tourism dapat diproyeksikan akan mendapat 3,4 juta wisman. "Bila tahun lalu sebesar 18 persen, diproyeksikan naik menjadi 20 persen dari target wisman tahun ini,” kata Arief Yahya.

PelantikanSelepas pelantikan pejabat dilingkup Kementerian Pariwisata (Ist)

Ia memberi perbandingan Malaysia yang mampu menjaring wisman dari border tourism sebesar 60-70 persen. Sedangkan Prancis dan Spanyol di atas 80 persen karena secara natural wisman Eropa yang berkunjung ke negeri itu adalah wisatawan overland. Sementara itu untuk program hot deal (diskon besar-besaran kunjungan wisman di saat low seasons) tahun ini, menurut Arief Yahya, diharapkan menghasilkan 2 juta hingga 2,5 juta wisman. Sementara itu program tourism hub dilakukan melalui Singapura dan Kuala Lumpur Malaysia.

“Program ini sebagai solusi terhadap ‘direct flight’ yang sulit dilakukan dan membutuhkan waktu relatif lama,” kata Arief Yahya. Menpar mengataka bahwa program yang menentukan dalam mencapai target wisman tahun ini adalah Low Cost Carrier Terminal (LCCT). Kemenpar mencatat kunjungan wisman tahun 2017 lebih dari 55 persen menggunakan Full Service Carrier (FSC) sisanya menggunakan Low Cost Carrier (LCC).

Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12 persen di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21 persen. “Untuk mendorong kunjungan wisman LCC kita harus memiliki terminal LCC dan program mulai terwujud. Per 1 Mei 2019, Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta resmi menjadi LCCT, jadi kita harapkan akan terjadi lonjakan 1 juta wisman,” tandas Arief Yahya./ JOURNEY OF INDONESIA

Last modified on Tuesday, 14 May 2019 23:53