Tingginya Harga Tiket Pesawat, Pemerintah Akan Terapkan Sistem Open Sky

Tingginya Harga Tiket Pesawat, Pemerintah Akan Terapkan Sistem Open Sky Menpar Arief Yahya saat Rakernas PHRI ke IV (Komblikpar)

Masih terkait dengan tingginya harga tiket pesawat di tanah air beberapa waktu belakangan ini yang mengakibatkan menurunnya kegiatan dunia usaha pariwisata terutama untuk jasa travel dan penginapan. Hal tersebut diungkapkan juga oleh Hariyadi Sukamdani selaku Ketua Umum PHRI pada Jumat (31/5), saat Rakernas PHRI ke 6 di Jakarta. Dirinya menyebutkan pihaknya menduga tingginya harga tiket disebabkan kurangnya persaingan maskapai di Indonesia.

"Kami pernah mengusulkan ke pemerintah agar membuka pintu masuk regional airlines ke Indonesia untuk menambah rute domestik. Bisa saja itu Jetstar, AirAsia, dan lainnya. Jadi ini tentu saja kabar yang sangat menggembirakan," kata Hariyadi.

Pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini mengatakan, dengan hanya ada dua maskapai penerbangan di Indonesia maka dinilai kurang ada persaingan yang sehat. Menurutnya, kondisi pasar duopoli memunculkan kerentanan persaingan harga yang tidak sehat dalam suatu industri. Sebab, ketika misalnya salah satu pelaku usaha menerapkan kenaikan harga, maka pelaku usaha yang lain tidak serta merta akan mempertahankan harga.

"Justru, pemain lain bisa saja melakukan kenaikan harga juga, meski tidak setinggi pemain sebelumnya. Hal ini lantaran pemain itu melihat ada peluang untuk tetap mendapat keuntungan dalam persaingan yang pasarnya dikuasai oleh dua pemain saja. Masyarakat jadi tidak ada pilihan," tuturnya.

Presiden Jokowi KomblikparPresiden Joko Widodo (Komblikpar)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mewacanakan akan menerapkan sistem open sky. Caranya, dengan mengundang maskapai asing masuk ke Indonesia. Sebab, semakin banyak maskapai, harga tiket pesawat akan semakin bersaing.

Presiden menerangkan bahwa pemerintah telah berupaya menurunkan harga tiket pesawat lewat langkah menurunkan Tarif Batas Atas (TBA) dan menaikkan Tarif Batas Bawah (TBB). Kemudian, harga avtur juga telah diturunkan karena dinilai berkontribusi hampir 40 persen terhadap total biaya yang ditanggung maskapai penerbangan.

"Tarif Batas Bawah dan harga avtur kan sudah diturunkan, hanya tidak kembali ke harga semula. Memang harga tiket pesawat masih belum kembali ke titik normal. Mungkin kompetisinya kurang banyak," ujar Presiden Joko Widodo.

Seperti diketahui, industri penerbangan Tanah Air saat ini dikuasai oleh dua pemain besar, yakni Lion Air Group (Lion Air, Batik Air, dan Wings Air) dan Garuda Indonesia Group (Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, dan Nam Air). Terbatasnya pemain di industri berdampak pada penentuan harga tiket pesawat yang kurang kompetitif. Seyogyanya dengan diperbanyaknya kompetisi antar maskapai, akan menjadikan maskapai yang terlibat menjadi semakin efesien./ JOURNEY OF INDONESIA

Last modified on Saturday, 01 June 2019 08:42