Lagu Sujiwo Tedjo Berikan Energi pada Novel Psycho Thriller “Rainbow Cake”

Lagu Sujiwo Tedjo Berikan Energi pada Novel Psycho Thriller “Rainbow Cake” Rayni N Massardi, Radhar Panca Dahana dan Sujiwo Tejo (Yulia)

Selama lebih dari setahun, novel psycho-thriller “Rainbow Cake” rampung ditulis oleh pengarang dua generasi yang berbeda, Rayni N. Massardi dan Christyan AS. Novel setebal 260 halaman yang beredar sejak tanggal 27 Mei 2019 ini menggunakan dua lagu karya Sujiwo Tedjo 'Titi Kolo Mongso' dan 'Ingsun'.

“Lagu ini telah mengilhami saya dalam menyelesaikan novel ini, sekaligus mempunyai energi yang sangat luar biasa dalam proses dan penulisan novel Rainbow Cake ini. Tanpa kedua lagu ini mungkin novel ini tak pernah lahir,” ujar Rayni N. Massardi di sela acara bedah buku Rainbow Cake di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis (30/5/2019).

Rayni yang tidak begitu hafal dengan kedua lagu karya Sujiwo Tedjo ini ternyata sangat menyukai lirik dan senandung kedua lagu tersebut. Ia pun menceritakan saat menulis novel ini di paragraf terakhir ia menemukan kecocokan cerita dalam lagu yang dibawakan oleh Sujiwo Tedjo.

“Saya memang dasarnya sangat menyukai penyanyi cowok, padahal nggak terlalu hafal lagunya tapi suka aja. Tiba-tiba waktu mau menyelesaikan novel ini ada masuk lagu yang berhubungan dengan lagu ini. Nggak tau cocok atau ngganya, pokoknya suka aja lagunya,” ungkap wanita kelahiran Brussels, Belgia, pada 29 Mei 1957 itu.

Karya fiksi yang ditulis oleh kedua pengarang ini memang unik dan langka. Proses penulisannya pun cukup unik, gagasan utama yang dituliskan Rayni pada 2018 hingga selesai kemudian diserahkan kepada Christyan untuk dilengkapi dan ditambah kurangi sesuai dengan imajinasi dan kreasinya sendiri. Baru setelah rampung, novel ini kemudian didiskusikan dan disunting ulang sambil sama-sama saling melengkapi hingga final di tahun 2019. Sebuah proses yang cukup panjang.

Rayni N. Massardi Sujiwo Tejo diantara jurnalis yang hadir IstRayni N. Massardi Sujiwo Tejo diantara jurnalis yang hadir (Ist)

Christyan yang tinggal dan bermukim di Bali bukan pertama kalinya bekerja sama dengan Rayni. Sebelumnya dalam kumpulan cerita pendek “Daun Itu Mati” (Prenada Media – 2017), Rayni meminta Christyan untuk membuat ilustrasi dan gambar sampulnya. Dan kini mereka terlibat kembali, Christyan bukan hanya menulis dan melengkapi teks, tapi juga membuat ilustrasi di setiap bab dan membuat rancangan sampulnya. Ke depannya mereka juga tengah menyiapkan sebuah karya baru cerita bergambar (graphic story) “Pocong Ketakutan”.

Sujiwo Tedjo yang hadir pada kesempatan yang sama mengungkapkan rasa keterkejutannya ketika kedua lagunya tersebut dijadikan bahan penulisan oleh Rayni N. Massardi. Namun, ia mengakui sangat tertarik dan menyukai akan isi dari novel Rainbow Cake. “Jujur tadinya dia (Rayni) nggak bilang mau nulis buku. Saya pingin ketawa waktu baca novelnya, tapi ternyata saya suka. Isinya emak-emak banget, agak nyolot gitu. Tapi di sini saya lihat novel ini mau berkomunikasi dengan orang tanpa arti verbal. Dari covernya pun sudah terlihat kalau novel ini perempuan banget,” katanya.

Bagi Rayni “Rainbow Cake” ini merupakan karya fiksinya yang kesembilan, dan merupakan pengalaman pertamanya menulis sebuah novel bergenre thriller. Novel yang dijiwai dan digerakkan oleh kedua lagu karya Sujiwo Tedjo ini menjadi novel kedua Rayni setelah “Langit Terbuka” (Prenada Media-2017). Sebelumnya, Rayni dikenal sebagai fashion styliste, dan pengarang cerita pendek dan sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan cerpen, serta menulis beberapa buku nonfiksi.

Tertarik dengan novel “Rainbow Cake”? Buku ini sudah beredar di seluruh toko buku Gramedia dengan harga Rp78.000,-

Rayni N Massardi YuliaRayni N. Massardi (Yulia)

SINOPSIS
Pengalaman di-bully pada masa remaja, membuat Hilda selalu tidak nyaman dengan dirinya hingga hatinya semakin mengeras. Melanjutkan sekolah ke Paris, ia perlahan mengubah cara pandang terhadap diri dan gaya hidupnya. Di Kota Budaya itu Hilda belajar memasak dan bikin kue.

Kegemaran barunya mengunjungi galeri seni, membuatnya terpaku di hadapan sebuah lukisan yang menggetarkan dan perlahan membuka pengalaman aneh pada tubuhnya. Hijrah ke Ubud Bali, ia mulai dihantui musik dan lagu yang tiba-tiba bersarang di kepala dan telinganya.

Selain merasa ngeri dan membuatnya mual dan pening, ia juga menikmati gairah dan energi aneh dari apa yang didengarnya. Sampai ia bertemu dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah melukai hati dan sangat dibencinya. Balik ke Jakarta dan sukses sebagai pembuat dan pemilik toko kue, masa lalunya semakin menghantui dan merusak jiwanya. Cinta, benci, rindu, dan dendam telah mengaduk-aduk emosi dan energinya yang luar biasa.

Alunan musik dan lagu misterius yang terus menghantuinya telah mendorongnya untuk melakukan hal-hal tak terduga termasuk mewujudkan seni instalasi “Kue Terindah”. Sebuah “Rainbow Cake” yang berakhir dengan kengerian dan malapetaka./ JOURNEY OF INDONESIA

Last modified on Saturday, 01 June 2019 09:25