Pojok Iklim dan The Climate Reality Project, Usung Diskusi Keterkaitan Kopi dan Iklim

Pojok Iklim dan The Climate Reality Project, Usung Diskusi Keterkaitan Kopi dan Iklim Suasana diskusi bertajuk "Solusi Perubahan Iklim dalam Secangkir Kopi"(Ist)

Menandai genap 10 tahun kiprahnya di Indonesia, The Climate Reality Project mengadakan diskusi bertajuk "Solusi Perubahan Iklim dalam Secangkir Kopi". Mengambil lokasi di Manggala Wanabhakti, event ini merupakan kolaborasi bersama dengan Pojok Iklim. Hadir dalam diskusi ini tiga pembicara yakni Pangesti Bernardus, Head of Corporate Communication PT Kapal Api Global, Seniman Pelukis Kopi dari Komunitas Lingkar Rupa, Irma Haryadi dan pegiat agroforestry dari Koperasi Klasik Beans Ilham Faturohman, yang dipandu oleh Amanda Katili dari Climate Reality Indonesia.

Dalam diskusi tersebut disampaikan bahwa sesuai mandat Perjanjian Paris, pada 19 Oktober 2016 yang ditetapkan melalui Undang-undang (UU) No 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim), Pemerintah Indonesia menyusun Nationally Determined Contribution (NDC) pertama, yang menjadi landasan bagi pengembangan kerangka kerja kebijakan, rencana dan program tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Peran aktor non-negara untuk mempercepat tindakan membangun prakarsa kerja sama yang konkret, ambisius dan berkesinambungan juga diakui oleh Pemerintah Indonesia. Aktor non-negara (dunia usaha, kota, wilayah dan entitas sub nasional lainnya, masyarakat sipil, masyarakat adat, pekerja seni, perempuan, pemuda, dan perguruan tinggi) dapat bertindak sebagai entitas individual atau dalam kemitraan dengan pemangku kepentingan lainnya. Termasuk juga didalamnya pengusaha yang bergerak dari hulu ke hilir, mengelola hasil produksi tanaman perkebunan kopi, hingga ke tangan konsumen, hingga ke seniman peduli alam yang melukis dengan kopi.

Biji kopi adalah jenis komoditas perkebunan yang akan sangat terdampak oleh perubahan iklim. Sayangnya dalam memenuhi rantai suplai bagi ketersediaannya sebagai bahan baku pokok produksinya sesuai permintaan konsumen, sering kali perkebunan kopi, dikelola dengan manajemen yang tidak ramah iklim. Seperti menggunakan teknik deforestasi untuk perluasan lahan perkebunan demi memenuhi kapasitas produksi yang diharapkan. Kondisi yang sejatinya meresahkan, jika terus dibiarkan kenikmatan secangkir kopi setiap hari akan tinggal kenangan.

Agar Nusantara tidak mengalami situasi darurat kopi, diperlukan solusi budidaya kopi berkelanjutan berbasis masyarakat yang ramah iklim, dan dapat menjadi salah satu solusi unggulan dalam perbaikan tata kelola lingkungan. Selain itu kita perlu mengeksplorasi kemungkinan tata kelola lahan kopi dan manajemen rantai suplai terbaik, agar ketersediaan biji kopi, dapat tetap memenuhi kapasitas permintaan kopi nasional dan internasional.

10 Years The Climate Reality Project Komblikpar10 Years The Climate Reality Project (Komblikpar) 

“Kapal Api yang telah dikenal di berbagai pelosok Indonesia selalu mengedepankan produk-produk kopi yang berasal dari berbagai pelosok di Indonesia. Selain memiliki perkebunan sendiri di Toraja, berbagai jenis kopi single origin asal Indonesia seperti Luwak Toraja, Kalosi Toraja, Sumatera Mandheling dan Java Arabica khusus disajikan di kafe Excelso. Ini sebagai bagian dari gerakan mencintai kopi asli Indonesia, karena dengan demikian akan mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dibandingkan ketika kita menikmati secangkir kopi yang berasal dari luar Indonesia,” ungkap Pangesti Bernardus pada Kamis (31/7/2019) lalu.

Sebagaimana di belahan dunia lain, di Indonesia sejak 2010 sebenarnya juga telah mengenal komoditi berlabel sustainable coffee dan menurut data yang dihimpun sedikitnya terdapat 7% produksi kopi Indonesia yang berlabel sustainable.

Upaya-upaya yang mengarah ke produksi sustainable coffee cukup beragam, mulai dari melakukan penanaman kopi di hutan penyangga yang termasuk dalam kategori agroforestry hingga melakukan penanaman dengan minim, atau tanpa menggunakan pupuk kimia, dan masih banyak lagi. “Istilah sustainable juga mencakup harga penjualan yang harus adil atau fair trade, dan harus transparan sehingga kesejahteran petani kopi dapat terjamin,” imbuh Pangesti.

Dalam diskusi kali ini, juga ditampilkan karya-karya lukisan menggunakan ampas kopi karya Irma Hariyadi dan Komunitas Lingkar yang mencoba untuk turut serta berkampanye dan menggugah masyarakat melalui karya mereka. Tujuannya adalah mengetuktularkan kesadaran dalam memperluas gerakan budidaya kopi berkelanjutan dalam menjaga keberlangsungan kawasan hutan, dengan tetap mempertahankan kualitas kopi di tengah ancaman perubahan iklim yang terus terjadi.JOURNEY OF INDONESIA

 

Last modified on Thursday, 08 August 2019 00:47