Sunsilk Berikan Pelatihan Bagi 1000 Perempuan Indonesia

By Yulia October 08, 2019 299
Sunsilk Berikan Pelatihan Bagi 1000 Perempuan Indonesia Para wanita yang menginspirasi dalam topik 'Kilaukan Mimpimu' (Ist)

Sunsilk adalah salah satu brand yang ada dalam PT. Unilever Indonesia Tbk. Dalam menghadapi era globalisasi saat ini, Sunsilk selalu berkomitmen bagi perempuan Indonesia yang ingin selalu menghadapi tantangan saat ini. Banyak perempuan muda Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang kerap menghalangi langkah mereka dalam membentuk pengembangan diri dan menjadi individu yang berdaya saing.

Memahami hal ini, Sunsilk mengajak para perempuan Indonesia untuk jadi #TakTerhentikan dan membuka kesempatan bagi mereka untuk meraih mimpinya. Dengan berkolaborasi bersama Girl Rising, Sunsilk akan memberikan serangkaian pelatihan bagi 10.000 perempuan muda Indonesia untuk menginspirasi dan menggali potensi diri mereka melalui program ‘Kilaukan Mimpimu’.

Dalam press conference yang diadakan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Senin (7/10), dihadiri oleh para perempuan yang menginspirasi seperti Ira Noviarti, Beauty and Personal Care Director, PT Unilever Indonesia Tbk, Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR dan Brand Ambassador Sunsilk Raisa dan Isyana Sarasvati.

“Sunsilk percaya akan kekuatan dalam diri perempuan untuk jadi #TakTerhentikan. Sayangnya, masih ada tantangan yang dihadapi perempuan muda Indonesia untuk meraih mimpinya baik dari dalam dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Melalui serangkaian pendekatan yang dilakukan Sunsilk mulai dari inspire, encourage, dan juga equip yang diwujudkan melalui program ‘Kilaukan Mimpimu’ kami berharap dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengeksplor diri, menggali potensi diri dan akhirnya meraih mimpinya," kata Ira Noviarti.

Untuk mengetahui tantangan yang dihadapi oleh perempuan, Sunsilk merilis white paper yang bekerja sama dengan International Centre for Research on Women (ICRW). Riset ini menyebutkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh perempuan muda seperti; pembatasan dari diri sendiri (individual), lingkungan rumah (household), lingkungan sekitar (community) serta masyarakat secara luas (society), menghalangi perempuan untuk menggali potensi diri.

Kurangnya akses terhadap edukasi, pekerjaan dan pelatihan (NEET) pun menjadi bagian dari momok besar yang dihadapi perempuan muda Indonesia dibanding beberapa negara lainnya. 28% populasi perempuan muda Indonesia berisiko NEET dua kali lebih besar dibandingkan laki-laki . Sunsilk memahami dengan mengetahui potensi dan membangun kualitas diri yang baik menjadi faktor penting bagi perempuan untuk berdaya.

“Kontribusi perempuan muda yang terberdaya akan mampu menghadirkan sebuah perubahan besar yang lebih baik, untuk dirinya, keluarga, komunitas maupun masyarakat," ungkap Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR.

Perubahan yang menjadi hasil dari kontribusi perempuan menurut Dr. Devie tentunya dapat mengubah masa depan menjadi lebih baik, secara ekonomi, kultural maupun tatanan sosial lainnya. Hal ini pun telah disebutkan sebagai salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs) tentang pentingnya investasi kepada perempuan muda.

"Diperlukan sebuah pendekatan tepat guna yang menunjang pengembangan diri perempuan dan mampu memotivasi mereka menjadi agen perubahan yang dapat menginspirasi sesamanya. Sehingga, penting dilakukan pembekalan kepada perempuan muda untuk mendorong mereka menjadi pribadi yang terberdaya, khususnya dari dalam individu mereka sendiri. Merujuk pada risiko NEET perempuan muda Indonesia, masih perlu adanya dorongan dan imbauan pentingnya melangkah melampaui batas untuk menghadapi stigma sosial maupun risiko NEET itu sendiri," sambung Dr. Devie.

Para pengisi materi Sunsilk Kilaukan Mimpimu IstPara pengisi materi Sunsilk 'Kilaukan Mimpimu' (Ist)

Setuju akan kekuatan dan kontribusi perempuan Indonesia, Raisa Andriana dan Isyana Sarasvati, yang hadir pada kesempatan yang sama. Dua penyanyi solo Indonesia yang juga Brand Ambassador Sunsilk ini juga terus berusaha memaksimalkan potensi dirinya yang saat ini sebagai ibu rumah tangga tapi tetap berusaha untuk terus berkarya.

“Aku terus memaksimalkan potensi diri dengan tidak hanya berkarier di dunia tarik suara melainkan juga berwiraswasta, serta menjalankan peran sebagai ibu. Aku yakin bahwa sebenarnya perempuan itu hanya butuh keyakinan untuk menjadi tak terhentikan. Aku berharap dengan inisiatif #TakTerhentikan dari Sunsilk, perempuan muda Indonesia tidak hanya terinspirasi namun juga terberdaya melalui program pembekalan diri untuk terus berkarya di setiap langkahnya meraih mimpi," ungkap Raisa.

Raisa juga mencontohkan jika dulu sebagai wanita sangat susah menjalani prinsip yang diyakininya, banyak tantangan dan cibiran yang selalu menghalangi langkahnya dalam berkarir. "Zaman dulu perempuan itu buat prinsip susah banget. Tapi saya berusaha untuk fokus dengan prinsip kita sendiri hingga lambat laun orang juga akan lebih menghargai juga," beber Raisa.

Senada dengan Raisa, Isyana Sarasvati yang bernyanyi di jalur pop saat ini tidak pernah berfikir untuk terjun ke dunia entertainment, bahkan sejak kecil Isyana tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi. Berlatar belakang penyanyi klasik, Raisa sejak kecil adalah seorang yang pemalu dan kurang berani mengekspresikan diri. "Mayoritas orang mengenal aku sebagai seorang penyanyi di jalur pop, padahal aku terjun di jalur musik klasik. Dan aku gak pernah berfikir untuk menjadi penyanyi, karena dunia dan jiwaku pasif banget," ungkap Isyana.

"Duniaku dan jiwaku pasif banget, dari kecil memang suka nyanyi dan bikin lagu tapi ya itu aku sejak kecil memang pemalu dan kurang berani mengekspresikan diri. Gak pernah mau nyanyi tampil sendirian," aku Isyana.

Seiring berjalannya waktu kepercayaan diri Isyana pun bangkit ketika diminta bergabung disebuah label dan diminta untuk menyanyi karena yang dilihat sari diri Isyana bukan hanya sebagai seorang penyanyi tetapi ia adalah musisi. Namun ketika muncul timbul masalah baru, dirinya selalu dikaitkan dengan Raisa yang saat itu kemunculannya menjadi sorotan sebagai penyanyi pop.

"Jujur waktu pertama kali tampil sebenarnya bersyukur banget momen ini aku bisa bangkit apalagi dibandingin sama Raisa. Padahal karakternya beda banget, aku juga baru. Namun, Raisa malah kontak duluan aku dan menyemangati, itu momen benar-benar yang aku ingat sampai saat ini," beber Isyana. Bagi Isyana maupun Raisa, support dari keluarga dan orang-orang sekitarnya menjadi hal penting untuk meraih mimpi dan menggali kekuatan diri.

Sementara itu Drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions Yayasan Unilever Indonesia, mengatakan untuk mendukung Girl Rising dalam memberikan pembekalannya mengunakan modul para fasilitator dengan menghadirkan pendekatan baru untuk membekali perempuan muda Indonesia menjadi agen.

“Bersama dengan Girl Rising, kami secara khusus merancang materi guna untuk mendukung para fasilitator utuk memberikan pembekalan bagi para perempuan untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan kemudian mengejar passion mereka. Di dalam program pembekalan ini terdapat tiga modul yang akan diberikan yaitu mempelajari kekuatan mimpi, memetakan langkah dalam menggapai mimpi, dan membangun support system yang positif, ” pungkas Mirah./ JOURNEY OF INDONESIA

Last modified on Wednesday, 09 October 2019 13:07