Inilah kota Cirebon, sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu kota di Jawa Barat yang masih sangat kental unsur sejarah dan budayanya. Kesultanan Cirebon yang berlokasi di pantai utara pulau Jawa menjadi perbatasan antara wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah membuat Kesultanan Cirebon menjadi pelabuhan sekaligus jembatan antara 2 kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan Jawa dan Sunda tumbuh dengan damai disini. Dan yang menjadi nilai tambah adalah masih dipegangeratnya kebudayaan secara turun temurun hingga kini oleh pihak Keraton, Pemkab Cirebon dan masyarakat sendiri.

Pada kesempatan kunjungan anggota Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) dalam event Press Tour & Seminar Series Cirebon, Kuningan dan Bandung, Raden Muhammad Hafid Permadi selaku Kepala Bagian Pemandu Keraton Kasepuhan Cirebon menerangkan terdapat empat struktur utama yang menyangga berdiri kokohnya Kasepuhan Cirebon ini.

"Ada empat struktur utama yang menjadi penyangga kokohnya Kasepuhan Cirebon ini, yaitu Masjid sebagai pusat dakwah dan pendidikan masyarakat, Pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat, Alun-alun sebagai pusat aktifitas seni dan budaya masyarakat serta Keraton sebagai pusat pemerintahan Keraton," jelasnya pada Kamis (27/8/2020) di saat membawa para jurnalis berkeliling Kesepuhan.

Keraton Kesepuhan Cirebon IbonkKeraton Kesepuhan Cirebon (Ibonk)

Dengan sentralnya peranan Keraton Kasepuhan Cirebon ini di tengah masyarakat, tentu sangat pantas bila Keraton yang arsitektur gedung-gedungnya terpengaruh sentuhan khas Jawa Kuno dan Eropa ini, dianggap sebagai simbol kebangkitan pariwisata Kota Cirebon.

Dari sisi pariwisata, efek pandemi Covid-19 yang menerpa sejak kuartal pertama di tahun 2020 ini mengakibatkan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara ke Keraton Kesepuhan Cirebon menurun hingga 100%.

"Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, jelas Raden, wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Keraton Kesepuhan Cirebon bisa mencapai 1.000 pengunjung setiap harinya", jelasnya lagi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan, Olahraga dan Pariwisata Dinas Pariwisata Cirebon Wandi Sofyan mengatakkan ketika memasuki masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dan mulai dibukanya kembali objek-objek wisata di Cirebon terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Namun, memang harus diakui masih belum bisa mengembalikan ke angka normal.

"Alhamdulillah, dengan masa AKB ada peningkatan kunjungan wisatawan, namun di beberapa destinasi memang belum maksimal, masih sekitar 20-30%," paparnya.

Pendidikan Olahraga dan Pariwisata Dinas Pariwisata Cirebon Wandi Sofyan Ibonk

Pemkab Cirebon terus melakukan inovasi-inovasi guna menarik kunjungan wisatawan ke Cirebon. Salah satunya melalui aplikasi Wistakon (Wisata Kota Cirebon) yang dapat di-install via Google Play Store. "Target awal kami 2 juta pengunjung. Oleh karena itu, inovasi dan promosi menjadi sangat penting untuk mencapai target tersebut", urainya lagi.

Selanjutnya Wandi menambahkan bahwa untuk mengantisipasi kedaan ini pihaknya telah menyiapkan panduan penerapan protokol kesehatan khususnya di objek-objek wisata. "Hampir semua destinasi wisata khususnya di Cirebon telah menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Namun, memang harus diakaui masih ada keterbatasan," ungkap Wandi.

"Kami terapkan protokol kesehatan di setiap destinasi wisata Kota Cirebon. Ada program '3M' yang terdiri dari Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan. Seluruh langkah protokol ini dilakukan karena potensi wisatawan berasal dari kawasan zona merah," tutupnya./ JOURNEY OF INDONESIA

Dalam menekan penyebaran dan juga menyelamatkan para pasien penderita Covid-19 sangat dibutuhkan pelindung diri yang mumpuni. Termasuk yang paling rentan terserang virus ini adalah tim medis yang notabene berada di garda terdepan untuk menyelamatkan para penderita dari kematian.

Di tanah air sendiri kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para tenaga medis tersebut sudah mencapai titik yang memprihatinkan. Ini menjadi sangat krusial dimana mereka harus membentengi diri dari Coronavirus atau Covid-19 saat bertugas.

Meskipun ada, namun harganya sangat melambung tinggi hingga 3 kali lipat bahkan lebih. Beberapa rumah sakit saat ini diketahui bahkan hanya memiliki stok APD untuk satu pekan saja, karena kebutuhan yang terus meningkat akibat bertambahnya penderita dan semakin meluasnya penyebaran virus ini.

Disisi lain ada sebuah gerakan dari dr. Asia Nuraini & timnya di Cibubur yang berkeinginan untuk memproduksi sendiri APD dengan biaya Rp. 50 ribu /pcs. Dengan biaya yang sangat efisien tersebut diharapkan makin banyak APD yang dapat diproduksi dan disebarkan ke rumah sakit, puskesmas yang membutuhkan di Jabodetabek.

Nah, keadaan ini menjadi perhatian khusus dari Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) dengan membuka gerakan Forwaparekraf Berbagi. Gerakan ini dimaksudkan untuk mendukung memberikan bantuan APD tersebut dan membantu gerakan dr. Asia Nuraini bagi tenaga medis di Indonesia.

"Kami sengaja membuka kantung donasi untuk membantu pergerakan dr. Asia Nuraini untuk merealisasikan inisiatifnya memproduksi sendiri APD dengan biaya yang sangat efesien. Kami mengharapkan keikutsertaan dari teman-teman wartawan yang bertugas di Kemenparekraf untuk dapat ikut serta dalam program ini. Namun gerakan ini juga terbuka bagi pihak manapun untuk ikut serta. Mudah-mudahan maksud baik kami ini dapat terealisasi dan membantu tenaga medis bekerja dengan aman dan selamat," ungkap Johan Sompotan selaku Ketua Forwaparekraf.

Bagi anda yang ingin ikutan berpartisipasi dalam gerakan Forwaparekraf Berbagi ini, dapat menghubungi sdr. Pasha dan Ekasanti Elisa di nomor telepon 081289195562 dan 087883736805 untuk mendapatkan informasi yang cukup jelas. Atau dapat langsung menyumbangkan dana ke Bendahara Forwaparekraf di nomor rekening BCA 6070131631 a/n Ekasanti Elisa./ JOURNEY OF INDONESIA

Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) menyatakan pentingnya Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk segera mengaktifkan fungsi komunikasi krisis di sektor pariwisata.

Hal tersebut tercetus dilatarbelakangi dengan makin memburuknya keadaan sektor pariwisata nasional yang terdampak sangat keras disebabkan isu coronavirus (Covid-19) ini. Sementara dari data yang terus saja berkembang, penderita positif Covid-19 telah menembus angka 1.000 kasus penularan dengan tingkat kematian di atas 8%.

Bagi pariwisata, pandemi ini telah dan akan menjadi pukulan yang telak, karena krisis berpotensi membuat industri jasa ini berhenti denyutnya secara total. Sebagai langkah mengatasinya, Forwaparekraf meminta Kemenparekraf perlu menjalankan segera fungsi-fungsi komunikasi krisis khusus sektor pariwisata.

Lewat komunikasi tersebut diharapkan dapat mengelola isu di tengah krisis, agar membangun pengertian hingga dukungan publik terhadap kebijakan dan langkah-langkah khususnya yang dilakukan oleh Kemenparekraf.

Selain itu juga, fungsi komunikasi dua arah akan bisa menyerap aspirasi publik, menghimpun facts and figures, informasi agar tercapai target tersebut tadi. Tujuan akhir dari target-target ini adalah tercapainya target pariwisata yang berfungsi tiga hal, setelah akar permasalahan penyebab krisis dan dampak Covid-19 telah teratasi, yaitu:
a. Pariwisata mengakselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat; b. Pariwisata penghasil devisa terbesar; dan c. Pariwisata sungguh menjadi the core economy in Indonesia.

Hal ini penting untuk menjamin informasi yang jelas bagi semua kalangan yang terlibat di pariwisata.

Penutupan operasional lokasi pariwisata terkait Covid 19 IstPenutupan operasional lokasi pariwisata terkait Covid-19 (Ist)

Cukup disadari dalam kondisi saat ini pemerintah sedang memprioritaskan bidang kesehatan masyarakat, jaring pengaman sosial demi menstabilkan sektor keuangan. Benefit khusus seperti pengurangan pajak bagi hotel dan restoran yang tidak memutus hubungan kerja dengan para karyawan juga merupakan langkah tepat.

Belum lagi langkah lain yang hendak direalisasikan akan sangat berdampak bila dikomunikasikan. Namun hal ini dirasa belum terkomunikasikan dengan baik dengan industri. Forwarparekraf berpendapat bahwa komunikasi krisis sektor pariwisata sangat dibutuhkan.

Seperti yang disebutkan oleh Arifin Hutabarat selaku Pembina Forwaparekraf yang mengusulkan agar Kemenparekraf membuat Pokja (satu kelompok kerja saja) di dalam Biro Komunikasi untuk melaksanakan satu fungsi Crisis Communication Center, tanpa perlu menyebutnya crisis center. Pokja komunikasi itu melaksanakan issues management, yakni krisis di sektor pariwisata sebagai dampak dari wabah Covid-19.

Pokja ini mengeluarkan siara pers yang diproduksi sendiri sebagai informasi kepada media untuk menjawab pertanyaan publik termasuk industri dari kebijakan pemerintah menyikapi situasi ini.

“Pandemi ini cepat atau lambat tentu akan berakhir. Maka tetaplah perlu membina dan menggalang pengertian bersama antara pemerintah, industri pariwisata, dan masyarakat agar tetap berupaya siap memajukan bisnis pariwisata segera setelah akar masalah terjadinya krisis nanti telah teratasi,“ ujar Arifin.

Senada dengan yang disampaikan oleh Ketua Forwaparekraf, Johan Sompotan di Jakarta, Minggu (29/3) yang mengatakan bahwa sebagai bagian dari pentahelix pariwisata, "Forwarparekraf akan berperan aktif dalam menyampaikan kepada publik situasi terkini dan langkah yang telah dan akan dilakukan Kemenparekraf.,“ tutupnya./ JOURNEY OF INDONESIA

Page 2 of 2