Kalau punya kesempatan ke Bandung, selain mengunjungi taman - taman cantik yang tersebar di seluruh penjuru mata angin, sempatkan juga menjelajahi Kota Bandung dengan Bandros (Bandung Tour On Bus) yang didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Bandros yang telah hadir sejak 2015 silam ini memiliki banyak rute yang dilewati sesuai warna Bandros. Seperti Bandros biru akan melewati Alun-Alun Bandung hingga kawasan Buah Batu dan Bandros Kuning akan melalui Braga hingga Taman Dewi Sartika.

Keliling Bandung dengan Bandros dipastikan selalu memberikan sensasi yang berbeda. Apalagi saat ini kualitas pelayanan merek semakin ditingkatkan dan penerapan protokol kesehatan yang disiplin. Ini memungkinkan Bandros akan semakin digemari wisatawan selama masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), khususnya bagi pelancong.

Tur menggunakan Bandros dilayani dengan penerapan protokol kesehatan yang baik, bus selalu dibersihkan dengan desinfektan setiap kali menyelesaikan trip, driver & tour guide yang memakai masker serta juga tersedia hand sanitizer selama perjalanan berlangsung.

Bandros beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB dengan tarif Rp 20 ribu per orang. Sekali perjalanan Bandros menempuh jarak 10 kilometer. Banyak objek wisata dilalui rute Bandros. Di antaranya Alun-Alun Kota Bandung, Museum KAA, hingga kawasan Buah Batu. Kemudian ada Jalan Braga hingga Taman Dewi Sartika./ JOURNEY OF INDONESIA

Walaupun sering bertandang ke Bandung, bisa dipastikan banyak pelancong yang tidak membelokkan tujuannya berkunjung ke Gedung Sate. Padahal bangunan tua yang satu ini adalah ikon kota Bandung yang cukup terkenal dan tentu saja menjadi spot yang semakin cantik untuk swafoto sejak.

Tepat pada tanggal 27 Juli 2020 lalu, Gedung Sate yang dulunya bernama Gouvernements Bedrijven merayakan hari jadinya yang ke-100 tahun. Sejak peletakan batu pertamanya pada tahun 1920, Gedung Sate sudah diplot sebagai gedung pemerintahan pada masa itu dan resmi digunakan pada tahun 1924.

Nah, sebagai penanda usia seabad Gedung Sate kemudian dibukalah kawasan bangunan ini untuk umum dan menjadi salah satu destinasi wisata di kota Bandung, Jawa Barat. Peruntukannya agar masyarakat dapat menyusuri jejak – jejak historis Jawa Barat dengan menghadirkan tour guide berpengalaman di Museum Gedung Sate.

Seperti yang disampaikan Azis Zulfikar selaku Kepala Bidang Industri Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat bahwa awalnya pembangunan Gedung Sate direncanakan terdiri dari 17 bangunan berbeda. Namun hanya tiga bangunan yang mampu direalisasikan oleh Hindia Belanda pada saat itu.

Para pengunjung Museum Gedung Sate IbonkPara pengunjung Museum Gedung Sate (Ibonk)

“Awalnya Gedung Sate ini hanya akan menjadi awal dari pembangunan Kompleks Pemerintahan Pusat Hindia Belanda untuk menggantikan peran Batavia. Menurut masterplan-nya akan dibangun 17 gedung hanya saja yang terealisasi baru 3 bangunan dikarenakan adanya krisis ekonomi akibat perang dunia ke-1,” ungkapnya pada Sabtu (29/8/2020).

Menurutnya lagi rencananya Kompleks Gedung Sate ini akan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata yang ramah bagi pejalan kaki dengan pembangunan pedesterian hingga mencapai Monju (Monumen Juang). Harapannya bisa menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Gedung Sate dan menjadi centrepoint pariwisata Kota Bandung.

Jadi yang berencana liburan ke Bandung, sebaiknya sempatkan mengenal lebih dekat Gedung Sate dan rasakan sensasinya saat berada di dalamnya./ JOURNEY OF INDONESIA

Mengambil tempat di pelataran Gedung Sate, Bandung, event seminar bertema "Pariwisata di Era Adaptasi Kebiasaan Baru" pun digelar dengan menghadirkan sejumlah pembicara yang kompeten di bidangnya pada Sabtu (29/8) malam.

Tampak hadir pada event ini Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, Kepala Biro Humas & Keprotokolan Provinsi Jawa Barat, Hermansyah, selanjutnya Alexander Reyaan selaku Direktur Wisata Alam, Budaya & Buatan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif dan Direktur Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, Martini Mohamad Paham.

Seperti yang diakui oleh Dedi Taufik terkait penerapan protokol kesehatan pada destinasi wisata di Jawa Barat, dirinya mengakui setelah berbulan-bulan pandemi Covid-19, kini pariwisata Jawa Barat secara bertahap mulai dibangkitkan lagi. "Lewat penerapan protokol kesehatan, Jawa Barat sudah harus mulai bersiap menghadapi gelombang wisatawan domestik yang hadir ke Jawa Barat saat PSBB di beberapa kota mulai mengalami pelonggaran,” ungkapnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa Pemprov Jawa Barat sudah harus melakukan berbagai evaluasi terhadap destinasi wisata yang telah dibuka untuk wisatawan. "Harus dipastikan setiap destinasi wisata tak hanya menerapkan protokol kesehatan saja, akan tetapi wajib memiliki management Gugus Covid-19 yang dapat menjadi pengawas pelaksanaan protokol kesehatan yang tepat di destinasi wisata Jawa Barat.”

Para pembicara seminar Pariwisata di Era AKB di pelataran Gedung Sate Bandung IbonkPara pembicara seusai seminar "Pariwisata di Era AKB" di pelataran Gedung Sate, Bandung (Ibonk)

Hal senada juga disampaikan oleh Hermansyah selaku Kepala Biro Humas & Keprotokolan Provinsi Jawa Barat ketika menjawab pertanyaan terkait upaya yang telah dilakukan Pemprov Jawa Barat bahwa membangun public trust adalah hal yang pertama dilakukan. "Masyarakat perlu diperlihatkan berbagai pencapaian yang dilakukan pemerintah, seperti misalnya kini Jawa Barat telah mampu membangun banyak fasilitas kesehatan, memperbanyak test Covid-19, produksi APD & produksi mesin ventilator,” sebutnya.

Sejauh ini, Pemprov Jabar telah membuka destinasi pariwisata sejak 5 Juni 2020. Proses pembukaannya pun secara bertahap yaitu dimulai dari destinasi wisata outdoor atau wisata alam terlebih dahulu lalu menyusul wisata indoor seperti tempat hiburan. “Kami punya 62 destinasi wisata berbasi alam, dan kami bekerjasama dengan Perhutani rencananya ada 100 destinasi wisata alam lagi yang akan dibuka untuk menggairahkan pariwisata di jawa Barat."

Selanjutnya Alexander Reyaan selaku Direktur Wisata Alam, Budaya & Buatan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif memberikan gambaran program yang sedang disiapkan Kemenparekraf untuk merangsang bangkitnya pariwisata Indonesia. “Tepat pada bulan September mendatang, Kemenparekraf telah menyiapkan Program Pemulihan Perekonomian Nasional dan siap menggandeng sebanyak-banyaknya pihak untuk melakukan Familiarization Trip ke berbagai destinasi pariwisata pilihan,” jelasnya.

Sementara Martini Mohamad Paham selaku Direktur Komunikasi Pemasaran Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif mengatakan bahwa Jawa Barat ini positioning-nya sudah kuat sehingga tidak terlalu terdampak pandemi.

“Sekalipun pandemi Covid-19 ini telah sangat memukul berbagai sektor khususnya pariwisata, akan tetapi bisa saya bilang bahwa Jawa Barat ini positioning-nya sudah kuat sehingga tidak terlalu terdampak pandemic,” katanya./ JOURNEY OF INDONESIA

Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) dalam kegiatan Press Tour & Seminar Series: Bandung, Kuningan dan Cirebon berkesempatan mengunjungi desa Wisata Cibuntu. Dalam kunjungannya di Desa Cibuntu, para anggota Forwaparekraf disambut oleh Kepala Desa Cibuntu H. Awam.

Berada dibawah kaki Gunung Ciremai, desa wisata Cibuntu merupakan desa yang berada di Kabupaten Kuningan dan berbasis mengangkat pemberdayaan masyarakatnya.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Cibuntu, H. Awam mengatakan bahwa keadaan yang diraih desa ini adalah berkah dan anugerah bagi desa mereka. Itu merupakan kebanggaan bagi masyarakat di desa Cibuntu. Cibuntu juga mendapatkan predikat dari Kementerian Pariwisata menjadi desa terbaik kedua di Indonesia sebagai desa wisata.

“Tanpa menguntungkan masyarakat, tanpa kami berusaha untuk kesejahteraan masyarakat, apa gunanya menjadi desa wisata. Yang paling penting adalah bagi saya, apapun Insya Allah masyarakat harus tetap di nomorsatukan,” ujarnya pada saat menerima  kunjungan Forwaparekraf, Jumat (28/8).

Kampung Domba Desa Cibuntu Kuningan IbonkKampung Domba, Desa Cibuntu, Kuningan (Ibonk)

Awam menambahkan, Desa Cibuntu hanya menampilkan kesederhanaan. Disini masih banyak peninggalan-peninggalan bersejarah megalitikum, neolitikum, tempat petilasan, arca dan sebagainya. Selain itu, desa Cibuntu juga siap untuk menerima wisatawan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditentukan.

“Kami cukup bangga menjadi bagian dari Desa Wisata Cibuntu yang memiliki daya tarik bukan karena hiasan saja yang mempercantiknya, akan tetapi pembinaan berkesinambungan dan komitmen komunitas masyarakatnya dalam menjaga keberadaan Desa Wisata Cibuntu yang jadi kekuatan utama. Masyarakat Desa Wisata Cibuntu pun selalu menjaga Sapta Pesona sebagai acuan mengelola keberlangsungan Desa Wisata ini,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Forwaparekraf, Johan Sompotan memberikan pujian terhadap Desa Wisata Cibuntu yang pernah menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia maupun Asia Tenggara.

“Kami terpesona dengan sambutan hangat Desa Wisata Cibuntu. Kenapa kami pilih Desa Wisata Cibuntu, karena Desa Wisata ini telah menerapkan protokol kesehatan yang baik, kondisinya yang merupakan kawasan wisata luar ruang sehingga punya resiko penyebaran Covid-19 yang rendah dan tentunya telah siap menerima kehadiran wisatawan dari berbagai tempat karena sudah terjamin kualitasnya yang telah diakui di Indonesia maupun Asia Tenggara,” ungkap Johan.

Salah seorang pengrajin Suling di Desa Cibuntu tengah mencoba suling hasil buatannya IbonkSalah seorang pengrajin Suling di Desa Cibuntu tengah mencoba suling hasil buatannya (Ibonk)

Untuk menuju lokasi ini, jika anda pergi dari Cirebon, maka rute yang dilalui adalah melalui Cirebon – Sumber (Plangon) – Mandirancan – Paniis – Cibuntu yang berjarak sekitar 30 km. Suasana desa yang asri, bersih, sejuk udaranya, indah, ramah tamah penduduknya, membuat pengunjung betah berwisata ke Desa Cibuntu.

Wisatawan juga dapat menyaksikan kesenian dari bambu seperti angklung, calung, seruling di saung di Pojok Awi. Bisa juga melihat peternakan domba, Desa Cibuntu yang memiliki Kampung Domba. Dari jauh, sepintas mirip rumah-rumah penduduk. Padahal itu kandang domba yang beratapkan genting dari tanah liat.

Atau jika ingin melihat situs-situs megalitikum dan situs peninggalan kerajaan dapat langsung menetapkan hari untuk berkunjung kesini.

Selain itu, ada mata air “Ci Kahuripan”. Ci artinya air, Kahuripan artinya hidup. Air tersebut aman diminum langsung. Tak jauh dari mata air tersebut, ada kawasan konservasi bambu petung. Di kawasan konservasi, wisatawan dapat menjumpai air terjun. Namun, saat kemarau, debit airnya sedikit.

Tertarik untuk bermalam di sini, tak perlu khawatir. Di Cibuntu ada 60 homestay yang merupakan rumah warga. Bahkan ada homestay di Cibuntu yang mendapat penghargaan homestay terbaik tingkat ASEAN dengan biayanya Rp100 ribu per orang per malam. Harga tersebut blm termasuk biaya makan.

Selain homestay, ada pula camping ground. Uniknya, di areal camping ground tersebut ada kolam renang yang airnya berasal dari Gunung Ciremai. Untuk sewa tenda, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 100 ribu per tenda./ JOURNEY OF INDONESIA

Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu memiliki Standard Operational Procedure (SOP) tentang manajemen krisis kepariwisataan agar bisa memberikan rasa nyaman bagi wisatawan jika terjadi bencana. Apalagi kedepan Jabar akan banyak menjadi tuan rumah penyelenggaraan event internasional.

Guna mempersiapkan SOP tersebut, digelar Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan kebencanaan Jawa Barat pada Selasa (12/11/2019) di Bandung, Jawa Barat. Dalam FGD membahas sinergi ABGCM (Pentahelix) untuk manajemen krisis kepariwisataan yang akan dituangkan dalam dokumen hukum.

FGD juga membahas Draf Keputusan Gubernur (Kepgub) tentang Manajemen Krisis Kepariwisataan Provinsi (MKKP), Pusat Krisis Kepariwisataan Provinsi (PKKP), dan SOP Pengelolaan Krisis Kepariwisataan Provinsi Jabar. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari disahkannya Peraturan Menteri Pariwiata Nomor 10 Tahun 2019 tentang Manajemen Krisis Kepariwisataan (Permenpar MKK).

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Tim Manajemen Krisis Kepariwisataan (MKK) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Guntur Sakti bahwa dirinya menyambut baik diselenggarakannya FGD sebagai langkah awal pembentukan Standard Operational Procedure (SOP) tentang manajemen krisis kepariwisataan.

Suasana FGD Pemprov Jabar susun SOP Pengelolaan Krisis Kepariwisataan IstSuasana FGD Pemprov Jabar susun SOP Pengelolaan Krisis Kepariwisataan (Ist)

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian khusus pemangku kepentingan pariwisata dan kebencanaan Jawa barat untuk nantinya dipahami seluruh pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Barat. “Adalah perlunya kajian khusus dalam merancang tata kelola destinasi wisata, penempatan signage dan warning yang efektif namun tidak menakutkan wisatawan,” kata Guntur Sakti.

Selain itu juga perlu dilakukan peningkatan pemahaman masyarakat sekitar destinasi pariwisata tentang perlunya ketersediaan tanda-tanda tersebut untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.

"Kemenparekraf mengapresiasi komitmen dan langkah tepat Pemerintah Jawa Barat untuk manajemen krisis kepariwisataan. Langkah-langkah strategis yang dilakukan ini akan menjadi pembahasan yang menarik dan akan menimbulkan kesan baik bila dipaparkan pada saat Jawa Barat menjadi tuan rumah pertemuan internasional antar-Kepala Daerah Seluruh Asia Pasifik pada November 2020 nanti," ujar Guntur Sakti yang juga Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar.

Selanjutnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat akan bergerak cepat menindaklanjuti SOP ini dengan menyusun Petunjuk Teknis pengelolaan krisis di Sesar Lembang, Pangandaran, dan Gunung Padang.

Pembahasan penyusunan regulasi MKKP dan PKKP Jawa Barat akan dilanjutkan dengan sosialisasi dan table top exercise (TTX) pada bulan Desember 2019./ JOURNEY OF INDONESIA