Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran Kemenparekraf/Baparekraf, Masruroh, dalam keterangannya pada saat gelaran simulasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) pada wisata MICE di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bahwa simulasi ini penting agar para stakeholders MICE dapat memiliki pemahaman yang sama akan pentingnya menjalankan protokol yang telah disusun dalam panduan.

Selanjutnya Masruroh berharap wisatawan nusantara dapat berkembang dan bertumbuh lebih dahulu, sebelum wisatawan mancanegara boleh masuk kembali ke Indonesia setelah dibukanya perbatasan.

Sementara itu, Koordinator Promosi dan Pendukung Wisata, Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran, Titik Wahyuni, menjelaskan simulasi ini merupakan lanjutan dari kegiatan sosialisasi panduan protokol kesehatan berbasis CHSE bagi pelaku wisata MICE.

“Simulasi yang dilaksanakan selama tiga hari ini bertujuan untuk menerapkan secara langsung panduan protokol CHSE yang telah dibuat dalam melaksanakan kegiatan wisata MICE. Sehingga, ke depan pelaku usaha wisata MICE dapat mengimplementasi panduan tersebut dengan baik,” ujar Titik Wahyuni.

Simulasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran pentingnya penerapan protokol kesehatan dalam pelaksanaan wisata MICE. “Untuk itu, saya mengajak kita bersama-sama menerapkan panduan protokol kesehatan ini, agar wisata MICE dapat kembali berjalan serta pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dapat produktif namun tetap aman Covid-19,” kata Titik Wahyuni.

Simulasi ini diikuti oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Dewantoro Umbu Joka, Ketua Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) NTB Aswanandi Aswinabara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima Sukri, Dinas Pariwisata Kota Mataram Vidi Partisan, pelaku wisata MICE serta media lokal.

Sebelum berkeliling ke beberapa destinasi wisata, seluruh peserta wajib menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Selain itu, penyelenggara kegiatan diwajibkan juga memakai face shield beserta masker, lalu menggunakan sarung tangan, serta mengukur suhu tubuh para peserta yang ikut dalam kegiatan wisata MICE.

Pada kegiatan simulasi untuk Meeting, juga menerapkan insentif trip diajak berkeliling ke beberapa destinasi wisata yang ada daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat, diantaranya pada hari pertama, Jumat (2/10/2020) peserta berkunjung ke Desa Sade dan Desa Sukarara.

Lalu, pada hari kedua, Sabtu (3/10/2020) para peserta berkeliling ke Desa Sembalun. Peserta juga diajak melihat keindahan alam di Pucuk Sembalun, Lumbung Pangan Sembalun, Kebun Strawberry, dan mendaki Bukit Selong untuk melihat Gunung Rinjani. Kemudian, pada hari ketiga, Minggu (4/10/2020), peserta ke destinasi terakhir, yaitu Gili Trawangan/ JOURNEY OF INDONESIA

“Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (Covid-19)” yang diselenggarakan pada Rabu malam (29/4/2020) lalu telah menghasilakn joint statement yang memuat tujuh butir kesepakatan bersama seluruh menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama pariwisata, salah satu sektor ekonomi yang paling terpukul dalam pandemi.

Dalam pertemuan para menteri pariwisata negara-negara ASEAN tersebut, Indonesia diwakili oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo mengatakan bahwa kerjasama yang kuat dibutuhkan dalam upaya menangani bersama dampak Covid-19 dalam sektor pariwisata di kawasan ASEAN.

Dalam pandangannya, Angela menyatakan bahwa Indonesia berkomitmen bersama seluruh negara anggota ASEAN untuk mendorong visi bersama melakukan mitigasi dan pemulihan sektor pariwisata, baik selama maupun usai pandemi Covid-19.

"Beberapa studi menyatakan sedikitnya butuh waktu lima tahun bagi sektor pariwisata untuk kembali normal dari Covid-19. Tapi saya percaya ASEAN bisa lebih baik dari itu, pariwisata di regional kita akan pulih lebih cepat namun dengan satu kondisi kita harus perkuat kerja sama dan kolaborasi," ungkap Angela optimis.

Negara-negara anggota ASEAN melaporkan kinerja pariwisata yang menurun sekitar 36 persen pada kuartal pertama 2020, dibandingkan periode yang sama di tahun 2018 dan 2019.

Tingkat kedatangan wisatawan internasional tercatat menurun sekitar 34 persen, dan tingkat hunian kamar hotel saat ini berada pada titik terendah dan banyak terjadi pembatalan dalam industri tur dan travel.

Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo IstWamenparekraf Angela Tanoesoedibjo (Ist)

Negara-negara anggota ASEAN pun kini telah merevisi atau sedang melakukan mengoreksi target mereka dalam jumlah kunjungan wisatawan internasional dan penerimaan dari sektor pariwisata.

Ketujuh butir kesepakatan yang telah disetujui negara-negara anggota ASEAN tersebut adalah:

Pertama, para menteri sepakat untuk membina koordinasi ASEAN dalam mempercepat pertukaran informasi tentang perjalanan, terutama terkait standar kesehatan dan langkah-langkah lain yang diperlukan negara-negara anggota ASEAN dalam mengendalikan penyebaran wabah COVID-19 melalui peningkatan operasi Tim Komunikasi Krisis Pariwisata ASEAN (ATCCT).

Kedua, mengintensifkan kolaborasi Organisasi Pariwisata Nasional (NTOs) ASEAN dengan sektor-sektor ASEAN lain yang relevan, terutama di bidang kesehatan, informasi, transportasi, dan imigrasi serta dengan mitra eksternal ASEAN, untuk bersama-sama mengimplementasikan langkah-langkah yang komprehensif, transparan dan respons yang cepat dalam mitigasi dan mengurangi dampak Covid-19 serta krisis lain di masa depan.

Ketiga, para menteri juga sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang lebih erat dalam berbagi informasi dan praktik terbaik di antara negara-negara anggota ASEAN serta dengan mitra dialog ASEAN dalam mendukung sektor pariwisata.

Perwakilan Indonesia dalam M ATM on Covid 19 IstPerwakilan Indonesia dalam M-ATM on Covid-19 (Ist)

Keempat, kerja sama ini juga mencakup penerapan kebijakan dan langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan antara pengunjung domestik dan internasional ke Asia Tenggara, termasuk pengembangan standar dan pedoman dalam meningkatkan faktor keamanan dan kesehatan guna melindungi para pekerja dan masyarakat di industri perhotelan dan industri lainnya terkait pariwisata.

Kelima, para menteri pariwisata juga sepakat untuk mendukung pengembangan dan implementasi rencana pemulihan krisis pasca Covid-19 serta membangun kemampuan pariwisata ASEAN serta upaya promosi dan pemasaran pariwisata bersama dengan tujuan memajukan ASEAN sebagai single tourism destination.

Keenam, para menteri sepakat untuk mempercepat penerapan kebijakan mikro dan makro ekonomi, memberikan dukungan teknis dan stimulus keuangan, pengurangan pajak, peningkatan kapasitas dan kemampuan, terutama keterampilan digital bagi para stakeholder industri perjalanan dan pariwisata.

Ketujuh, mempercepat kerja sama dengan mitra dialog ASEAN, organisasi internasional dan industri yang relevan untuk membangun Asia Tenggara yang tangguh dan siap untuk secara efektif menerapkan dan mengelola pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif setelah krisis./ JOURNEY OF INDONESIA

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menegaskan bahwa Indonesia sangat berkomitmen untuk mendukung program dan kegiatan Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025 dan sejenisnya. Terutama di masa-masa sulit seperti saat ini untuk mendorong kegiatan yang dapat mempercepat pemulihan pariwisata di ASEAN.

Hal tersebut disampaikan Angela saat berbicara dalam Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), Rabu (29/4/2020) hari ini. Pertemuan secara virtual ini dihadiri para menteri pariwisata dari negara-negara ASEAN, sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap pariwisata yang merupakan sektor paling terdampak wabah Covid-19.

M-ATM Covid-19 dipimpin oleh Kamboja selaku Chair dan Indonesia sebagai Vice-Chair. Negara-negara anggota ASEAN yang berpartisipasi dalam agenda ini adalah Brunei Darussalam, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Pertemuan ini merupakan gagasan Menteri Wishnutama Kusubandio untuk membahas dampak Covid-19 terhadap pariwisata di ASEAN, sekaligus menemukan solusi kerja sama untuk memitigasinya.

Dalam tanggapan lainnya Angela mengatakan, sejak kasus Covid-19 terkonfirmasi pertama kali di Indonesia pada awal Maret 2020, pemerintah Indonesia telah bersiap menghadapi dampak yang tak dapat dipungkiri. Pemerintah Indonesia bekerja keras untuk mengatasi dampak pandemi ini di bawah kebijakan stimulus ekonomi dengan anggaran lebih dari 24 miliar dolar AS untuk jaring pengamanan sosial, keringanan pajak, bantuan bagi pekerja yang terdampak, dan lain sebagainya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengimplementasikan instruksi Presiden Joko Widodo yakni program perlindungan sosial untuk para pekerja, stimulus ekonomi untuk bisnis di sektor ini, serta realokasi anggaran kementerian ke dalam berbagai program yang diantaranya padat karya. Disini Kemenparekraf telah memformulasikan berbagai program dan aktivitas untuk mendukung lebih dari 13 juta tenaga kerja langsung dan 32,5 juta tenaga kerja tidak langsung di sektor pariwisata Indonesia.

Suasana Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers M ATM on Covid 19 IstSuasana Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Covid-19 (Ist)

Program dan aktivitas itu diantaranya mendistribusikan kebutuhan sehari-hari serta perlengkapan kebersihan dan sanitasi, juga pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi para pekerja pariwisata yang terdampak, serta menerapkan standar protokol untuk kesehatan, kebersihan dan keselamatan di destinasi.

Kemeparekraf juga bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendukung ribuan tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam menghadapi Covid-19 dengan penyediaan akomodasi, layanan antar-jemput (transportasi), makanan dan minuman, serta binatu. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap industri pariwisata yakni bisnis hotel dan transportasi agar tetap bisa mempekerjakan pegawainya.

Di sisi lain, Angela mengatakan, saat ini kita melihat bagaimana teknologi dan media digital memberi cara baru dalam rutinitas dan kehidupan yang akan menjadi "New Normal". Untuk itu ia kembali menegaskan dukungan Indonesia untuk memasukkan pariwisata digital ke Rencana Strategis Pariwisata ASEAN 2016-2025.

“Pandemi ini akan membawa kita pada kondisi "New Normal". Di samping mendorong pentingnya standar kesehatan dan kebersihan bagi para profesional pariwisata, melalui pertemuan virtual ini, kita ditunjukkan bagaimana teknologi dan media digital membawa kita pada rutinitas dan cara hidup yang baru. Ini yang akan segera kita alami dalam industri pariwisata kita,” ujar Angela.

Special Meeting of the ASEAN Tourism Ministers (M-ATM) on Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) kemudian menghasilkan dua hal penting, yakni Consolidated Paper dan Joint Statement.

Consolidated Paper digunakan sebagai referensi mengenai penilaian dan langkah awal mengurangi dampak Covid-19 terhadap negara anggota ASEAN. Sedangkan Joint Statement memuat komitmen para negara, usulan pembentukan ASEAN Tourism Crisis Communication Team, dan eksplorasi kebijakan bersama untuk dibahas oleh para Head of National Tourism Organisations (NTOs) and Committee./ JOURNEY OF INDONESIA

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah bekerjasama dengan Grand Sahid Jaya Hotel untuk menyediakan akomodasi menginap tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Pelni yang menjadi salah satu rumah sakit rujukan penanganan Covid-19. Hal tersebut disampaikan Menparekraf Wishnutama saat meninjau langsung kesiapan akomodasi bagi tenaga kesehatan di Grand Sahid Hotel, Jakarta, Jumat (17/4/2020)

Sampai saat ini, Kemenparekraf terus berupaya memfasilitasi kebutuhan tenaga kesehatan dengan menggandeng industri pariwisata dalam masa darurat pandemi COVID-19.
"Kita terus bahu-membahu menyediakan fasilitas dan akomodasi ini. Namun dengan kesiapan dan persyaratan yang harus dipenuhi pihak hotel," kata Menpar.

Wishnutama menjelaskan, Kemenparekraf telah melakukan realokasi anggaran Rp 500 miliar, salah satunya untuk menyediakan akomodasi dan transportasi untuk tenaga kesehatan yang disesuaikan dengan permintaan kebutuhan dari rumah sakit.

"Hingga saat ini terdapat 1.725 tenaga kesehatan di Jakarta yang telah terfasilitasi. Kerja sama ini juga sebagai bentuk dukungan Kemenparekraf terhadap industri pariwisata yakni perhotelan termasuk staf dan pekerja di dalamnya," katanya.

Dalam peninjauan langsung Menparekraf tersebut hadir juga Direktur Utama Grand Sahid Hariyadi Sukamdani dan Plt Direktur Utama RS Pelni Mohamad Kartobi.

Dalam penjelasannya Hariyadi Sukamdani mengatakan pihaknya menyiapkan 220 kamar dimana 60 kamar akan digunakan untuk 100 tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Pelni. Selain akomodasi, juga disiapkan makan tiga kali sehari dan fasilitas laundry.

Physical distancing dilakukan pada saat check in IstPhysical distancing dilakukan pada saat check in (Ist)

Selain di Jakarta, Sahid Group juga menyiapkan hotel sebagai lokasi menginap tenaga kesehatan di Ternate dan Morotai. Ia juga sedang mempersiapkan jaringan hotel miliknya di Yogyakarta dan Cikarang. "Kami mempersiapkan sesuai kebutuhan. Karena yang di Ternate dan Morotai memenuhi standar untuk siap menerima tim medis. Termasuk Cikarang yang minggu depan sudah menerima tim medis," katanya.

Ia juga memastikan pihaknya menjalankan Standard Operational Procedure (SOP) yang berkaitan dengan pelayanan tamu sebagaimana yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan terkait penanganan Covid-19 seperti penyemprotan disinfektan secara rutin terutama di pintu masuk hotel, kegiatan sanitasi, pengaturan physical distancing di seluruh area hotel termasuk penggunaan lift, meminimalkan interaksi pelayanan secara langsung, dan langkah-langkah lainnya yang telah direkomendasikan Kementerian Kesehatan.

Seluruh tenaga medis yang menginap dan para karyawan hotel akan melewati beberapa protokol kesehatan seperti cek suhu badan dan pemakaian alat pelindung diri sebagai bentuk tahapan wajib dalam mengantisipasi penularan COVID-19.

"Pihak hotel melaksanakan SOP khusus dalam menjalankan tugas sehari-harinya baik di bagian yang bertemu langsung atau tidak langsung dengan seluruh tenaga medis, misalnya SOP di housekeeping dari prosedur sanitasi, frekuensi pembersihan, hingga pemberian ekstra amenities," ujar Hariyadi Sukamdani./ JOURNEY OF INDONESIA

Kegiatan familiarization trip (fam trip) dengan tema 'Bali and Beyond' sukses membuat peserta yang terdiri dari jurnalis, travel blogger dan YouTuber asal India merasakan dan belajar pengalaman baru akan keindahan alam, budaya dan masyarakat Bali dan Lombok.

Terkait hal tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf, Nia Niscaya, Sabtu (9/11/2019) mengatakan program ini ditujukan untuk menggaet market wisatawan mancanegara (Wisman) khususnya India, untuk datang dan berlibur di Lombok dan Bali. Adapun pemilihan Lombok sebagai destinasi yang dikunjungi bertujuan untuk memperkenalkan wisata unggulan lain di Indonesia yang juga kerap disebut 'Bali Baru'.

"Kami sengaja mengundang jurnalis, travel blogger serta YouTuber asal India agar meng-influence para calon wisatawan mancanegara (wisman) India untuk berlibur di Lombok dan Bali," ujar Nia Niscaya. Program famtrip berlangsung dari tanggal 3 hingga 10 November 2019 dengan mengunjungi berbagai destinasi di Lombok dan Bali.

Rangkaian Fam Trip di Lombok meliputi kunjungan ke Bukit Merese, Pantai Tanjung Aan, Desa Ende Sasak, Desa Penghasil Kerajinan Tenun Sukarara, Desa Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek, Gili Meno, Gili Trawangan, serta menyicipi kajian kuliner khas Lombok. Sementara di Bali, peserta kegiatan fam trip diajak eksplor Celuk Village, Alas Harum, Tegallang Rice Field, Uluwatu Temple, Melihat Tari Kecak dan Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Pemandangan di Uluwatu Bali IstUluwatu, Bali (Ist)

"Harapan saya dengan adanya program ini, akan lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) khususnya India untuk berlibur ke Lombok dan Bali dan Indonesia secara umum," kata Nia Niscaya.

Indrani Ghose, salah seorang peserta Fam Trip mengatakan banyak pengalaman yang tidak akan ia lupakan selama mengikuti kegiatan. Salah satunya saat melihat Tari Kecak di Uluwatu. "Mata saya tidak rela untuk berkedip dan melewati momen tersebut. Pengalaman ini akan saya tulis dalam blog saya agar teman-teman saya dapat membaca dan merasakan apa yang saya rasakan disini.
Lalu saya akan merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan liburan," ujar Indrani Ghose.

"Saya akan merencakan kembali untuk berlibur di Bali, karena saya masih ingin tahu banyak tentang budaya di Bali," kata peserta lainnya, Shrinidhi Hande.

Tercatat sejak Januari hingga Oktober 2019 jumlah wisman asal India yang berkunjung ke Indonesia berjumlah 506.062, lebih besar dari periode yang sama di tahun lalu yakni sebanyak 487.256 wisman. Untuk tahun ini ditargetkan kunjungan wisman India ke Indonesia mencapai 700.000 wisman./ JOURNEY OF INDONESIA

Page 1 of 51