Tak lengkap rasanya berkunjung ke Nusa Tenggara Barat (NTB), tanpa menyempatkan diri untuk singgah ke Dusun Ende. Dusun yang hanya memiliki luas wilayah sekitar 1 hektar ini berada di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Dari Kota Mataram, perjalanan sejauh lebih kurang 40 km, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Begitu sampai di lokasi, rombongan disambut ramah oleh masyarakat Suku Sasak yang mendiami Dusun Ende.

Rumah penduduk disana masih sangat sederhana. Siapa sangka, rumah tersebut dibangun hanya menggunakan tanah liat yang dicampur kotoran kerbau. Atapnya terbuat dari ilalang, dan didesain miring sehingga para tamu yang berkunjung harus menundukkan kepala. Hal itu dimaknai sebagai penghormatan kepada pemilik rumah.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Ende menjalani aktivitas dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhur. Salah satunya yaitu prosesi kawin lari.

Beberapa bocah tengah mempertontonkan Peresean yakni permainan masyarakat Sasak Lombok IstBeberapa bocah tengah mempertontonkan Peresean, yakni permainan masyarakat Sasak Lombok

Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang akan dinikahinya. Hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua si wanita. Biasanya, waktu pelarian berlangsung 3 hari. Selanjutnya, orang tua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang pernikahan.

Banyak wisatawan yang datang mengaku takjub dengan rumah Suku Sasak tersebut. Meski bentuknya sederhana, namun cara pembangunannya memberi daya tarik tersendiri untuk disimak. “Saya tidak pernah terpikir ada rumah yang dibangun dari tanah liat dan kotoran kerbau. Meski sepintas membuat saya agak bergidik, tetapi ini sangat unik. Aromanya juga tidak membuat kita mual. Kita ‘enjoy’ di sini,” ujar apna Aidasani, salah seorang pengunjung yang berasal dari Dubai.

Pemerintah, baik pusat ataupun daerah kerap mengadakan famtrip dengan melibatkan peserta dari berbagai negara. Harapannya adalah, agar sekembalinya mereka ke negaranya masing-masing bisa membantu mempromosikannya lewat publikasi media di negaranya, baik cetak maupun online./ JOURNEY OF INDONESIA

Kegiatan familiarization trip (fam trip) dengan tema 'Bali and Beyond' sukses membuat peserta yang terdiri dari jurnalis, travel blogger dan YouTuber asal India merasakan dan belajar pengalaman baru akan keindahan alam, budaya dan masyarakat Bali dan Lombok.

Terkait hal tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf, Nia Niscaya, Sabtu (9/11/2019) mengatakan program ini ditujukan untuk menggaet market wisatawan mancanegara (Wisman) khususnya India, untuk datang dan berlibur di Lombok dan Bali. Adapun pemilihan Lombok sebagai destinasi yang dikunjungi bertujuan untuk memperkenalkan wisata unggulan lain di Indonesia yang juga kerap disebut 'Bali Baru'.

"Kami sengaja mengundang jurnalis, travel blogger serta YouTuber asal India agar meng-influence para calon wisatawan mancanegara (wisman) India untuk berlibur di Lombok dan Bali," ujar Nia Niscaya. Program famtrip berlangsung dari tanggal 3 hingga 10 November 2019 dengan mengunjungi berbagai destinasi di Lombok dan Bali.

Rangkaian Fam Trip di Lombok meliputi kunjungan ke Bukit Merese, Pantai Tanjung Aan, Desa Ende Sasak, Desa Penghasil Kerajinan Tenun Sukarara, Desa Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek, Gili Meno, Gili Trawangan, serta menyicipi kajian kuliner khas Lombok. Sementara di Bali, peserta kegiatan fam trip diajak eksplor Celuk Village, Alas Harum, Tegallang Rice Field, Uluwatu Temple, Melihat Tari Kecak dan Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Pemandangan di Uluwatu Bali IstUluwatu, Bali (Ist)

"Harapan saya dengan adanya program ini, akan lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) khususnya India untuk berlibur ke Lombok dan Bali dan Indonesia secara umum," kata Nia Niscaya.

Indrani Ghose, salah seorang peserta Fam Trip mengatakan banyak pengalaman yang tidak akan ia lupakan selama mengikuti kegiatan. Salah satunya saat melihat Tari Kecak di Uluwatu. "Mata saya tidak rela untuk berkedip dan melewati momen tersebut. Pengalaman ini akan saya tulis dalam blog saya agar teman-teman saya dapat membaca dan merasakan apa yang saya rasakan disini.
Lalu saya akan merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan liburan," ujar Indrani Ghose.

"Saya akan merencakan kembali untuk berlibur di Bali, karena saya masih ingin tahu banyak tentang budaya di Bali," kata peserta lainnya, Shrinidhi Hande.

Tercatat sejak Januari hingga Oktober 2019 jumlah wisman asal India yang berkunjung ke Indonesia berjumlah 506.062, lebih besar dari periode yang sama di tahun lalu yakni sebanyak 487.256 wisman. Untuk tahun ini ditargetkan kunjungan wisman India ke Indonesia mencapai 700.000 wisman./ JOURNEY OF INDONESIA

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak jurnalis, travel blogger serta YouTuber asal India lebih mengenal destinasi Lombok sebagai salah satu Bali Baru melalui familirization trip (fam trip) pada 3 hingga 10 November 2019. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf, Nia Niscaya, mengatakan, Fam Trip bertema Bali and Beyond ini merupakan salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara khususnya dari India.

Adapun pemilihan Lombok sebagai destinasi yang dikunjungi bertujuan untuk memperkenalkan wisata unggulan lain di Indonesia yang juga kerap disebut 'Bali Baru'. "Sebagai salah satu destinasi wisata yang dipromosikan sebagai Bali Baru, Lombok punya potensi luar biasa untuk menarik kunjungan wisman termasuk dari India," ujar Nia Niscaya.

Bekerja sama dengan Malindo Air serta Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) Mumbai, para peserta yang berjumlah sembilan orang tiba di Bali pada Minggu (3/11/2019) setelah terbang menggunakan Malindo Air dengan rute Mumbai atau New Delhi-Kuala Lumpur-Bali. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Lombok pada Senin (4/11/2019).

Rangkaian Fam Trip di Lombok meliputi kunjungan ke Bukit Merese, Pantai Tanjung Aan, Desa Ende Sasak, Desa Penghasil Kerajinan Tenun Sukarara, Desa Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek, Gili Meno, Gili Trawangan, serta menyicipi kajian kuliner khas Lombok.

Para peserta FamTrip Lombok IstPara peserta FamTrip Lombok (Ist)

Nia menjelaskan, belum adanya penerbangan langsung menjadi salah satu tantangan dalam mendatangkan wisman dari India. Karena itu, Kemenparekraf berupaya menarik wisman India melalui hub Kuala Lumpur. "Kita mau coba manfaatkan hub Kuala Lumpur selain Singapura, dan akhirnya kita kerjasama dengan Malindo Air," jelas Nia Niscaya.

Selain mulai menjajaki kerja sama dengan airlines, Kemenparekraf juga merangkul Wholeseller dan Online Travel Agent (OTA) untuk mempromosikan pariwisata tanah air.

Tercatat sejak Januari hingga Oktober 2019 jumlah wisman asal India yang berkunjung ke Indonesia berjumlah 506.062, lebih besar dari periode yang sama di tahun lalu yakni sebanyak 487.256 wisman. Untuk tahun ini ditargetkan kunjungan wisman India ke Indonesia mencapai 700.000 wisman.

Harapan serupa disampaikan oleh Kepala Badan Promosi dan Pengembangan Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok Tengah, Ida Wahyuni Sahabudin. Ia berharap melalui kegiatan ini jumlah wisman India yang berkunjung ke Indonesia, khususnya Lombok bisa meningkat

"Wisman paling banyak berkunjung ke Lombok berasal dari Australia dan Eropa Barat seperti Belanda, Jerman, dan Perancis. Kalau dari India jumlahnya masih terbilang kecil," jelas Ida Wahyuni./ JOURNEY OF INDONESIA

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menggelar acara Penguatan Pranata Adat dan Budaya untuk perdamaian di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Acara ini berlangsung selama tiga hari pada tanggal 14-16 Agustus 2019. Kegiatan ini diawali dengan Festival Pranata Adat dan Budaya, lalu dilanjutkan dengan kegiatan Forum Perdamaian yang diikuti peserta dari unsur Forkopimda, FKUB, Ormas, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Camat, Kepala Desa, Babinsa, Babinkamtibmas dan Pendamping Desa pada tanggal 15 Agustus 2019. Kegiatan yang berlangsung dengan meriah ini mungusung tema: “Adat dan Budaya Desa Membangun Perdamaian Indonesia ”.

Kabupaten Lombok Barat merupakan 1 dari 24 daerah yang menjadi lokus Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (Ditjen PDTu) Kemendes PDTT dalam bidang penanganan konflik sosial tahun 2019 ini, kegiatan yang sama telah dilaksanakan sejak bulan Maret hingga Juli adalah Kabupaten Buru, Nagekeo, Jeneponto, Sumbawa, Parigi Moutong, Malaka, Situbondo, Halmahera Barat, Bima, Seram Bagian Barat, Lombok Tengah, Dompu dan yang terakhir diadakan yakni di Ende, Nusa Tenggara Timur.

Salah satu pementasan tari dalam festival pranata adat dan budaya untuk indonesia damai Lombok Barat IstSalah satu pementasan tari dalam festival pranata adat dan budaya untuk indonesia damai Lombok Barat (Ist)

Menurut Hasrul Edyar. S.Sos. MAP (Direktur Penanganan Daerah Pasca konflik Ditjen PDTU) rangkaian kegiatan di berbagai wilayah ini sudah digelar oleh Kemendesa PDTT sejak 2015 silam. “Kegiatan ini untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan perdamaian di Indonesia yang berbasiskan pada nilai-nilai keragaman bangsa dan budaya setempat. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial,” ujar Direktur PDPK tersebut dalam siaran persnya pada Kamis (15/8/2019).

Hasrul Edyar juga menyebutkan bahwa Ia sangat bangga dengan Pemerintah Daerah Lombok Barat dan masyarakatnya yang hidup rukun, damai bergandengan tangan dalam menjaga perdamaian di Kabupaten Lombok Barat. Menurutnya, keberhasilan Pemerintah daerah hingga tingkat Desa dalam meningkatkan pembangunan berkelanjutan tergantung kekompakan dan kerja sama seluruh elemen yang ada di daerah.

"Kabupaten yang luar biasa, karena masyarakatnya walaupun berbeda suku agama dan ras tetapi bersatu hidup dalam kedamaian dan ketentraman dengan adat yang tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari, kami yakin Lombok Barat bisa menjadi barometer Indonesia sebagai kabupaten yang damai. Kami lihat luar biasa hebat kerukunan antar umat beragama di Lombok Barat," lanjutnya.

Ia juga berharap, melalui kegiatan Festival Pranata Adat dan Budaya untuk perdamaian dan Forum Perdamaian ini diharapkan dapat mewujudkan dan mengaktifkan kembali forum diskusi Desa untuk mewujudkan ketahanan sosial maupun ketahanan ekonomi di level terbawah dan mewujudkan Lombok Barat yang Patut, Patuh dan Patju. Sementara itu kegiatan Festival Adat dan Budaya, mengatakan, Kemendesa PDTT berharap melalui rangkaian kegiatan ini, akan memperat kohesi sosial pada akar rumput masyarakat untuk merawat dan terus berkomitmen pada kondisi perdamaian.

“Dalam Forum Perdamaian semua peserta berdiskusi bersama dengan metode analisa konflik untuk menganalisa kemungkinan-kemungkinan penyebab konflik dan sumber utamanya, yang kemudian hasilnya akan dirumuskan bersama untuk melakukan pencegahan dan berbagai langkah tindakan preventif lain untuk penghentian potensi konflik,” ujar Hasrul.

Penandatanganan untuk Indonesia damai IstPenandatanganan untuk Indonesia damai (Ist)

Sedangkan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, S.Ag M.Si sangat mengapresiasi kegiatan Festival Pranata Adat dan Forum Perdamaian yang digelar oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat sangat berterima kasih karena terpilih menjadi salah satu dari 41 Kabupaten yang menjadi lokasi dari Direktorat PDPK.

H. Fauzan Khalid pun menyampaikan saat ini pemerintah kabupaten Lombok Barat sedang membahas Peraturan Bupati tentang rencana “bale mediasi” yang inti dari peraturan ini berisi tentang penyelesaian konflik sosial di tengah masyarakat seperti di desa atau kelurahan tanpa melalui proses pengadilan. Cukup dengan perdamaian antar kedua belah pihak dengan berita acara yang difasilitasi oleh mediator yang ditunjuk oleh pemerintah daerah dan mempunyai sertifikasi, kemudian dikuatkan dengan akte perdamaian di pengadilan negeri setelah dihadirkan kedua belah pihak.

Sementara itu, Fauzan juga menambahkan bahwa Kegiatan Festival Pranata Adat dan Budaya di Kabupaten Lombok Barat diisi dengan berbagai kegiatan seperti ritual Sorong Serah Aji Krame, Tari Peresean, Tari Perang Topat, Rebaq Jangkih. Selain itu juga dilakukan Ikrar Perdamaian yang dilakukan oleh seluruh tamu yang hadir di Festival Pranata Adat dan Budaya dan juga pameran produk unggulan masyarakat Kabupaten Lombok Barat./ JOURNEY OF INDONESIA

 

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), pada kali ini menggelar kegiatan Perdamaian di pulau yang mendapat julukan negeri 1000 masjid tepatnya di Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 13-15 Juli 2019. Dengan mengangkat tema “Adat dan Budaya Desa membangun Indonesia”.

Acara ini diselenggarakan sebagai wujud keseriusan pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan yang berbasiskan adat istiadat dan kearifan lokal. Direktorat Penanganan Daerah Pascakonflik, Ditjen PDTu, Kemendes PDTT sebagai inisiator kegiatan mengacu pada Undang-Undang Nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Dimana, dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 2012 ditegaskan bahwa upaya penanganan konflik sosial di Indonesia dilakukan melalui pendekatan pranata adat dan kearifan lokal.

Sugito, S.Sos, MH, selaku Sesditjen Pengembangan Daerah Tertentu Kemendesa dalam penyampaian resmi mengutarakan kegiatan ini adalah upaya mengaktifkan kembali penguatan lembaga kemasyarakatan desa sebagai wahana forum perdamaian desa.

Acara ini juga sekaligus memperkenalkan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat desa Lombok Tengah yang disebut dengan Awik-awik yang merupakan suatu tradisi untuk menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan alam serta antar sesama manusia secara seimbang dalam kerukunan dan kehidupan yang damai dan bersatu di tengah-tengah warga.

"Budaya ini perlu terus di dorong dan diangkat kembali dalam proses pembangunan di desa dan dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta suasana hidup rukun dan damai. Tradisi awik-awik ini perlu dilestarikan sebagai bentuk pranata adat lokal dan di jaga sebagai bentuk warisan dari keluhuran dari masa lalu. Terutama untuk meningkatkan ketahanan sosial dan budaya masyarakat dan serta mengangkat kearifan lokal”, ungkap Sugito dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/7/2019).

Sugito juga mengapresiasi banyaknya kehadiran banyaknya stakeholders yang mewujudkan sinergitas pengelolaan konflik dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian untuk menjadi pemantik dalam membangun Lombok Tengah. Tak lupa juga, ia mengucapkan terima kasih kepada Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Tengah.

"Melalui, pemerintah daerah, khususnya pada Bupati, Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Tengah, kami sangat berterima kasih atas kerjasamanya sehingga dipilihnya lokasi Lombok Tengah ini karena memiliki adat yang masih lestari hingga saat ini," tambahnya.

Para individu yang terlibat dalam kegiatan Perdamaian di Praya Kabupaten Lombok Tengah NTB IstPara individu yang terlibat dalam kegiatan Perdamaian di Praya Kabupaten Lombok Tengah NTB (Ist)

"Hal ini tentunya sejalan dengan nawacita yang ke-9 untuk memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan, memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar-warga”, ungkap Sugito.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa melalui musyawarah mufakat yang disepakati bersama, memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam proses kemasyarakatan di desa. Selain itu juga sebagai wujud dari pengakuan atas rekognisi dan subsidiaritas dalam melaksanakan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal di desa.

"Acara ini juga sekaligus merupakan rangkaian dari beberapa agenda, diantaranya forum perdamaian desa, revitalisasi sarana olah raga desa, yang dilanjutkan dengan puncak acara berupa festival pranata adat dan budaya untuk perdamaian yang berlangsung secara meriah," ujar Hasrul Edyar, S.Sos, Msi, selaku Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik dan penanggungjawab kegiatan ini yang mendampingi rombongan Ditjen PDTu Kemendesa di Lombok Tengah.

Forum Perdamaian Desa yang dihadiri oleh 45 Kepala DesaKbupaten Lombok Tengah pun berlangsung tertib dan menghasilkan beberapa kesepakatan bersama. Bertempat di Hotel D, diskusi ini menghadirkan para narasumber antara lain Assisten 1 Kabupaten Lombok Tengah, Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik, Sekretaris Kesbangpol Lombok Tengah, Kepala Satpol PP Lombok Tengah, dan Polres Lombok Tengah.

Forum ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali Rumah Mediasi Desa dan Badan Keamanan Desa yang telah dikuatkan melalui Peraturan desa yang merujuk pada Peraturan Gubernur NTB tentang Lembaga Adat Penyelesaian Konflik Sosial. Pertemuan ini menghasilkan 5 kesepakatan diantaranya : Membentuk wadah untuk forum perdamaian desa di kabupaten Lombok Tengah; Penyusunan Perdes se Kabupaten Lombok Tengah tentang Rumah Mediasi Sasak dan Perdes tentang Badan Keamanan Desa; Sosialisasi Peraturan Gubernur NTB tentang Lembaga Adat Penyelesaian Konflik Sosial; Peningkatan/ optimalisasi terhadap forum-forum yang ada di desa secara tersruktur, sistematis dan masif untuk menciptakan perdamaian desa; dan Penyusunan Perdes tentang Miras dan Narkoba.

Kesepakatan ini merupakan hasil diskusi dan kesepatan yang dutandatangani oleh Hasrul Edyar, S.Sos,MSi, Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik, Lalu Wirakampe, S,Sos Kesbangpol Kabupaten Lombok Tengah, H. Lalu Aknal Afandi, MM, Kasatpol PP Kabupaten Lombok Tengah, H. Amiruddin Polres Kab Lombok Tengah, serta perwakilan Kepala Desa, yaitu Kepala Desa Teratak, Moh. Ipkan, Kepala Desa Bonjeruk, dan Audia Rahman, serta Kepala Desa Sengkol, Satria Wijaya Sarap.

Penandatangan prasasti bantuan oleh Sugito S.Sos MH selaku Sesditjen Pengembangan Daerah Tertentu Kemendesa IstPenandatangan prasasti bantuan oleh Sugito S.Sos MH selaku Sesditjen Pengembangan Daerah Tertentu Kemendesa (Ist)

"Program yang dilaksanakan di Lombok tengah lainnya adalah revitalisasi sarana olah raga lapangan bola volly lokasinya ada di dusun beber barat desa pengenjek kecamatan jonggat yang jaraknya 15 km dari praya," kata Hasrul.

Kegiatan ini ditandai peletakan batu pertama oleh Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik, berturut-turut diikuti oleh Sekda Kab Lombok Tengah, Kadis Olah Raga Lombok Tengah, Camat dan Kepala desa yang dimeriahkan dengan Tarian Adat Bedug Besar, sambutan masyarakat Desa Pengenjek meriah dan luar biasa antusiasnya dan berterima kasih banyak kepada Kemendesa yang telah peduli membantu memperbaiki sarana lapangan bola volly, dalam rangkaian acara peletakan batu pertama ini dilanjutkan dengan pertandingan persahabatan bola volly.

Menurut Ketua Panitia, Lalu Wirakampe, bahwa 3 Kegiatan ini merupakan dana stimulan dari APBN lewat Kemendesa Tahun 2019 ini merupakan hasil kesepakatan antara Pemda Kab Lombok Tengah dengan Kemendesa.

Hal menarik dalam acara yang mengguncang suasana pengunjung yang tumpah ruah dalam festival adat yang diadakan di alun-alun Kabupaten Lombok tengah ini turut dipamerkan produk-produk unggulan yang dihasilkan oleh masyarakat sebagai bagian produk inovasi desa seperti kerajinan kain tenun yang masih di buat secara tradisional, makanan produk olahan dan cenderamata daerah yang penjualannya lewat bumdes yang di desa.

Peletakan Batu Pertama Revitalisasi Sarana Olahraga IstPeletakan Batu Pertama Revitalisasi Sarana Olahraga (Ist)

Rangkaian festival ini menampilkan pagelaran Jarietnika dari Sanggar Tari Rahayu serta dimeriahkan beberapa atraksi kesenian seperti pagelaran gendang Mertak Mi, Marawis yang puncak acaranya berupa pernyataan deklarasi damai, yaitu Pernyataan Sikap Bersama dari Majelis Ulama Indonesia dan Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lombok Tengah. Pernyataan bersama ini dibacakan oleh Ketua MUI Lombok Tengah, Drs. H. Minggre Hamy, adapun poin-poinnya adalah:

1. Menyerukan kepada seluruh masyarakat lombok tengah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya agar selalu menjaga keharmonisan dan toleransi antar umat beragama dan mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyelesaiakan masalah bersama;
2. Tokoh lintas agama, tokoh masyarakat dan semua pihak berkewajiban untuk menyampaikan kepada jamaah/komunitasnya masing-masing agar memanfaatkan media sosial secara sehat, arif, baik, bijak dan benar;
3. Pemerintah dan aparat keamanan (TNI, POLRI) senantiasa memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat beragama di Kabupaten Lombok Tengah Khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya;
4. MUI dan Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lombok Tengah akan selalu mendukung dan berkoordinasi dengan pihak terkait dalam upaya menciptakan dan mempertahankan kerukunan umat beragama;
5. Bersama aparat negara dan pemerintah daerah kami akan selalu siap memelihara dan menjaga keamanan, ketertiban, persatuan dan kesatuan di lombok tengahdalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Seyogyanya kegiatan yang dilaksanakan di Lombok Tengah ini, diharapkan dapat berlanjut secara berkesinambungan hingga ke tingkat desa dengan memanfaatkan alokasi dana desa yang ada. Hal ini untuk menumbuhkan desa-desa di Lombok tengah menjadi tujuan destinasi dan desa wisata yang akan menarik kunjungan wisatawan hingga masuk sampai ke pelosok desa untuk melihat keasrian alam dan budaya di Lombok tengah yang begitu menarik”, pungkas Harsul./ JOURNEY OF INDONESIA

Page 1 of 3