Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia telah membuka rute baru Banyuwangi – Denpasar pp. mulai 9 Agustus 2019. Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra mengatakan bahwa langkah pembukaan rute ini merupakan upaya perusahaan dalam mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan konektivitas nusantara di Jawa Timur khususnya Banyuwangi, maupun Bali.

“Jawa Timur maupun Bali merupakan daerah yang sama-sama memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga kami berharap dengan dibukanya rute ini akan membantu percepatan pertumbuhan ekonomi di kedua daerah,” katanya di Jakarta, Jumat (9/8).

Penerbangan rute Banyuwangi-Denpasar akan dilayani oleh penerbangan QG 692 yang beroperasi setiap hari menggunakan pesawat Airbus A320 dengan kapasitas angkut sebanyak 180 penumpang. Penerbangan yang dapat ditempuh dengan waktu 40 menit ini dijadwalkan berangkat dari Banyuwangi pada pukul 08.00 WIB dan tiba di Denpasar pukul 09.40 WITA.

Citilink telah membuka rute baru Banyuwangi Denpasar pp. mulai 9 Agustus 2019 IstCitilink telah membuka rute baru Banyuwangi – Denpasar pp. mulai 9 Agustus 2019 (Ist)

Sedangkan penerbangan sebaliknya rute Denpasar-Banyuwangi dengan nomor penerbangan QG 693 dapat ditempuh dalam waktu 50 menit, dan dijadwalkan berangkat dari Denpasar pada pukul 10.05 WITA dan tiba di Banyuwangi pukul 09.55 WIB.

Ditambahkan oleh Juliandra bahwa selain sektor ekonomi, rute ini diharapkan juga dapat meningkatkan konektivitas di kedua daerah khususnya dalam mengunjungi destinasi wisata mengingat Citilink Indonesia saat ini juga menjadi satu-satunya maskapai yang membuka rute penerbangan langsung yang menghubungkan Banyuwangi dan Bali.

“Penerbangan rute Banyuwangi-Denpasar ini juga akan menambah opsi moda transportasi bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin bepergian dari Banyuwangi ke Denpasar dan sebaliknya, dengan menggunakan moda transportasi pesawat masyarakat dapat menempuh perjalanan dengan waktu yang lebih singkat,” tutup Juliandra./ JOURNEY OF INDONESIA

 

Lion Air member of Lion Air Group telah mengumumkan program spesial bertajuk #jelajahiIndonesiaTimur pada beberapa rute penerbangan domestik efektif 10 Juli 2019 sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Tarif spesial Lion Air akan memberikan kesempatan travelers mengunjungi berbagai kota favorit di Indonesia Timur seperti Makassar, Jayapura dan Merauke semakin besar. Ketiga kota tersebut mempunyai peluang bisnis serta banyak objek wisata, sayang jika dilewatkan begitu saja.

Makassar dikenal sebagai kota popular dengan pantai, alam, aneka sajian cita rasa, budaya. Dan, terpenting lagi ialah kawasan transit di Indonesia bagian timur yang cocok untuk mengembangkan bisnis. Akhirnya kota yang berada di pesisir Pulau Sulawesi ini semakin dilirik para wisatawan sebab dikenal kaya objek wisata memukau dan sudah ramai diperbincangkan keindahannya.

Jayapura berarti “Kota Kemenangan” adalah ibukota provinsi Papua, travelers bisa jelajahi spot wisata alam, danau dan pantai, tempat bersejarah, religi, kuliner hingga lokasi hiburan berbasis kearifan lokal, bahkan ada “pesawat tengah hutan” di Kampung Koya Tengah, distrik Muara Tami.

Lalu Merauke memiliki posisi geografis yang berada di ujung timur nusantara, namun menyimpan pesona khas dan potensi pariwisata. Kehidupan berbagai fauna telah menarik perhatian. Tak heran, bila mendapat julukan “kota rusa” yang siap dijamah para pelancong.

Jayapura IstJayapura (Ist)

Tarif promo sampai dengan 50% dibawah tarif normal tersedia di rute yang ditawarkan kepada pebisnis dan wisatawan (travelers) , antara lain dilayani melalui Makassar – Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan (UPG), Jayapura – Bandar Udara Sentani, Papua (DJJ), Merauke – Bandar Udara Mopah, Papua (MKQ), Jakarta – Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK) dan Surabaya – Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur (SUB).

Lion Air akan memberlakukan harga jual tiket spesial dari tarif dasar batas atas (basic fare), akan diterapkan pada waktu keberangkatan (schedule time departure) dan mengikuti syarat dan ketentuan. Tarif yang berlaku belum termasuk tarif bagasi tercatat (didaftarkan), pelayanan jasa penumpang udara (passenger service charges/ PSC), pajak pertambahan nilai (PPN) dan biaya asuransi (Iuran Wajib Jasa Raharja/ IWJR), sebagai berikut:

Makassar ke: Jayapura mulai dari Rp 1.424.000, dan ke: Merauke mulai dari Rp 1.410.000
Jayapura ke: Makassar mulai dari Rp 1.424.000, dan ke: Jakarta mulai dari Rp 2.326.000
Merauke ke: Makassar mulai dari Rp 1.410.000, ke: Surabaya mulai dari Rp 1.869.000 dan ke: Jakarta mulai dari Rp 2.297.000
Jakarta ke: Jayapura mulai dari Rp 2.326.000, dan ke: Merauke mulai dari Rp 2.297.000
Surabaya ke: Merauke mulai dari Rp 1.869.000

Untuk pemesanan atau pembelian tiket spesial harus dilakukan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan (H-10), dapat memperoleh tarif promo melalui website resmi Lion Air www.lionair.co.id, kantor penjualan tiket Lion Air Group atau agen perjalanan (online dan korporasi).

Turis Milenial IstTuris Milenial (Ist)

Lion Air senantiasa menawarkan alternatif perjalanan udara berkualitas guna memberikan kemudahan dalam mobilisasi pelanggan, pebisnis dan wisatawan antardestinasi dengan tetap Lion Air mengutamakan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan.

Kehadiran tarif spesial #jelajahiIndonesiaTimur merupakan keseriusan Lion Air untuk menjawab tingginya permintaan pasar penerbangan dan wisata seiring tren baru di dunia traveling sejak beberapa tahun belakangan. Lion Air melihat sebagian besar “perjalanan udara kekinian” dipelopori kalangan muda, generasi milenial.

Sejalan menggugah “trend traveling” era milenial, Lion Air terus melakukan berbagai inovasi dan transformasi layanan perjalanan di segala lini, salah satunya armada baru. Pesawat terdiri 66 Boeing 737-900ER (215 kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kelas ekonomi) dan tiga berbadan lebar (wide body) Airbus 330-300 (440 kelas ekonomi)./ JOURNEY OF INDONESIA

Terkait dengan kebijakan maskapai penerbangan Lion Air dan Wings Air yang akan menghapus bagasi gratis per 8 Januari 2018 mendatang. Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Polana B Pramesti mennyebutkan, berdasarkan Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 185 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, kedua penerbangan tersebut tidak menyalahi aturan terkait kebijakan layanan bagasi berbayar.

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa kelompok penerbangan full service dan medium service tidak akan mengenakan biaya bagasi maksimal 20 kilogram dan 15 kilogram. Khusus penerbangan berbiaya murah (low-cost carrier/LCC) akan mengenakan biaya bagasi.

Sebagaimana diatur dalam pasal 3, PM 185 Tahun 2015, terdapat tiga kelompok pelayanan yang diterapkan oleh masing-masing Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal yakni pelayanan dengan standar maksimum (full services), pelayanan dengan standar menengah (medium services) dan pelayanan dengan standar minimum (no frills).

02 Antrian penumpang pada checkin counter Istimewa

Antrian penumpang pada check in counter (Ist)

Dalam kasus ini Lion Air dan Wings Air masuk dalam kategori no frills. Ketentuan soal bagasi ini bagi kelompok full service, paling banyak 20 Kg tanpa dikenakan biaya, bagi kelompok medium service, paling banyak 15 Kg tanpa dikenakan biaya dan kelompok no frills, dapat dikenakan biaya.

Berikut daftar kelompok pelayanan dari masing-masing maskpai:

a. Full Service: PT. Garuda Indonesia dan PT. Batik Air

b. Medium service: PT. Trigana Air service, PT. Travel express, PT. Sriwijaya Air, PT. NAM Air dan PT. Transnusa Air Service

c. No frill Service: PT. Lion Air, PT. Wings Air, PT. Indonesia AirAsia, PT. Indonesia AirAsia Extra, PT. Citilink Indonesia dan PT. Asi Pudjiastuti Aviation

Lebih lanjut Polana menyebutkan apabila terdapat maskapai yang melakukan perubahan terhadap ketentuan pemberian bagasi cuma-cuma (FBA), maka diwajibkan untuk melaksanakan beberapa persyaratan dan tahapan. Persyaratan dan tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Melakukan perubahan SOP Pelayanan Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri (sebagaimana ketentuan pasal 63, PM 185 Tahun 2015) untuk mendapatkan     persetujuan Direktur Jenderal Perhubungan Udara terlebih dahulu.

b. Memastikan kesiapan SDM, personil dan peralatan yang menunjang perubahan ketentuan FBA, sehingga tidak menimbulkan adanya antrian di area check-in counter, di area     kasir pembayaran bagasi tercatat serta kemungkinan gangguan operasional dan ketertiban bandara lainnya yang dapat menimbulkan keterlambatan penerbangan.

c. Melaksanakan sosialisasi secara massif kepada masyarakat luas (calon penumpang) melalui media cetak, elektronik dan media sosial.

d. Melaksanakan koordinasi yang intensif dengan stake holder terkait antara lain Badan Usaha Bandar Udara, Unit Penyelenggara Bandar Udara dan Kantor Otoritas Bandar Udara.

“Dengan dilakukannya hal-hal tersebut maka diharapkan setiap perubahan kebijakan yang dilaksanakan telah dipahami masyarakat dan berjalan dengan baik di lapangan”, pungkas Polana./ JOURNEY OF INDONESIA