LAMPUNG – Dalam lanskap pariwisata modern yang kian mengagungkan autentisitas, Provinsi Lampung baru saja menyuguhkan sebuah narasi visual dan spiritual yang memikat. Tradisi Blangikhan, sebuah ritual penyucian diri yang telah lama menjadi denyut nadi masyarakat lokal, kini naik kelas menjadi representasi dari high-value tourism.
Di tengah kemeriahan Nuwo Balak pada Rabu, 18 Februari 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa hadir untuk memberikan apresiasi mendalam terhadap kearifan lokal yang mampu menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga marwah identitas bangsa.
Blangikhan bukan sekadar perayaan rutin; ini adalah sebuah kurasi spiritual. Menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air suci, masyarakat Lampung melakukan prosesi penyiraman diri sebagai simbol pembersihan lahir dan batin menjelang bulan suci Ramadhan. “Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan,” ungkap Ni Luh Puspa. Bagi sang Wamenpar, budaya adalah napas dari pariwisata yang berkualitas, sebuah elemen yang memberikan jiwa pada setiap destinasi.
Kekuatan Blangikhan terletak pada akarnya yang menghujam kuat ke masyarakat. Inisiatif kolektif ini membuktikan bahwa pariwisata terbaik tidak selalu datang dari intervensi besar, melainkan dari ekosistem yang tumbuh secara organik. Keterlibatan UMKM lokal dalam rangkaian acara ini menciptakan sebuah simfoni ekonomi yang manis. “Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” tambah Ni Luh Puspa dengan nada penuh kebanggaan.

Data menunjukkan bahwa strategi berbasis budaya ini membuahkan hasil yang impresif. Sepanjang tahun 2025, sektor pariwisata nasional mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 3,97%. Dengan 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara, Indonesia membuktikan bahwa daya tarik utamanya terletak pada kekayaan tradisi yang tidak dimiliki belahan dunia lain.
Provinsi Lampung sendiri kini menempati posisi ke-9 dalam daftar kontributor kunjungan wisatawan terbanyak di Indonesia. Namun, ambisi besar tidak berhenti di situ. Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengungkapkan visi strategisnya untuk membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) guna menstimulasi investasi yang lebih luas. “Kami memohon doa dan dukungan dari Wakil Menteri Pariwisata agar program ini dapat terwujud dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya bagi pengembangan pariwisata Provinsi Lampung,” tutur Jihan.
Di tingkat global, pengakuan terhadap pariwisata berbasis komunitas Indonesia semakin bersinar, seperti halnya Desa Wisata Pemuteran di Bali yang diakui UN Tourism. Semangat inilah yang ingin ditularkan ke desa-desa wisata di Lampung. Ni Luh Puspa menegaskan komitmen pemerintah untuk terus berkolaborasi dengan komunitas dan pemerintah daerah. “Kementerian Pariwisata siap mendukung dan berkolaborasi untuk menciptakan pariwisata Indonesia yang lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih berkelanjutan,” tutupnya./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















