JAKARTA – Suasana hangat menyelimuti sudut Pondok Bambu saat paket-paket berisi kebutuhan pokok berpindah tangan. Sebanyak 400 paket sembako telah disiapkan matang untuk meringankan beban masyarakat sekitar. Antusiasme warga yang hadir sejak siang hari menjadi potret nyata betapa bantuan sekecil apa pun sangat berarti di tengah persiapan menyambut Lebaran yang kerap menguras kantong.
Aksi filantropi ini bukanlah sebuah kebetulan atau gerakan instan. Bagi Nyai Dewi Rantian, momen ini adalah simpul dari konsistensi yang telah ia ikat selama lima tahun terakhir. Agenda rutin ini bukan sekadar seremoni pembagian barang, melainkan manifestasi rasa syukur yang mendalam atas perjalanan hidup dan rezeki yang ia terima.
Dalam bincang santai usai penyerahan simbolis kepada Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia, Nyai Dewi menekankan bahwa esensi dari kegiatan ini melampaui bantuan materi. Ia memandang berbagi sebagai jembatan silaturahmi yang mempererat hubungan antarmanusia. Menariknya, ia juga kerap mengajak para tamu yang datang berobat kepadanya untuk ikut memupuk kepedulian serupa, menyisihkan sedikit rezeki demi kebahagiaan orang lain.
“Berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan, merupakan salah satu cara agar kita senantiasa mendapatkan berkah rezeki dan kesehatan dari Tuhan. Doa dari orang-orang yang kurang mampu sangat mujarab,” ungkap Nyai Dewi dengan nada bicara yang tenang namun penuh keyakinan.
Keyakinan akan kekuatan doa inilah yang menjadi bahan bakar utamanya untuk terus bergerak. Meski ia merendah dengan menyebut bantuan tersebut mungkin tidak besar, dampak psikologis dan sosial bagi warga yang menerima sangatlah luas. Bagi warga Pondok Bambu, kehadiran paket sembako ini menjadi napas lega di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok yang biasanya merangkak naik menjelang hari raya.
Harapan besar pun disampirkan Nyai Dewi untuk masa depan. Ia tidak ingin berhenti di angka ratusan paket saja. Dengan binar optimisme, ia menargetkan jangkauan bantuan yang lebih luas pada tahun-tahun mendatang, dengan impian mampu menyalurkan hingga 1.000 atau bahkan 2.000 paket sembako.
Apa yang dilakukan di Pondok Bambu hari itu menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, nilai gotong royong dan kepedulian sosial masih berdenyut kencang. Tradisi berbagi ini bukan hanya soal mengisi dapur yang kosong, tetapi tentang merawat kemanusiaan dan menjaga api kebersamaan tetap menyala menyambut Idul Fitri yang penuh berkah./ JOURNEY OF INDONESIA | Norman


















