JAKARTA — Fajar baru saja menyingsing di sudut Jabodetabek, namun rutinitas pagi bagi sebagian pekerja yang telah memasuki usia kepala lima kini mulai bergeser. Jika biasanya suara deru mesin yang dipanaskan menjadi penanda dimulainya hari, kini keheningan justru menjadi simbol baru. Fokus utama mereka bukan lagi memantau fluktuasi harga bahan bakar minyak, melainkan memastikan indikator baterai kendaraan pada layar panel digital telah terisi penuh. Fenomena ini bukan sekadar upaya mengikuti perkembangan teknologi, melainkan sebuah keputusan matang dalam manajemen ekonomi rumah tangga menjelang masa purna bakti.
Selama ini, narasi mengenai kendaraan listrik sering kali didominasi oleh kelompok usia muda yang adaptif terhadap inovasi. Namun, temuan terbaru dari riset ID COMM yang bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?” memberikan perspektif yang berbeda. Selain menyasar kelompok usia produktif 25 hingga 50 tahun, terdapat satu segmen yang mulai menunjukkan penetrasi signifikan namun jarang mendapatkan sorotan, yakni kelompok usia di atas 50 tahun.
Bagi mereka yang berada di fase transisi menuju pensiun, di mana pendapatan tetap akan segera tergantikan oleh dana simpanan, efisiensi operasional menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Keputusan untuk beralih ke mobilitas elektrik sering kali berawal dari langkah pragmatis. Dalam riset tersebut, ditemukan pola menarik di mana kendaraan listrik mulanya dibeli sebagai mobil kedua atau pendamping. Namun, seiring berjalannya waktu, kenyamanan berkendara dan drastisnya penurunan biaya harian membuat mobil listrik perlahan menggeser posisi kendaraan konvensional sebagai pilihan utama untuk mobilitas sehari-hari. Dengan rentang harga pasar yang sangat dinamis, mulai dari Rp 189.000.000 hingga Rp 1.586.000.000, konsumen di usia senja memiliki fleksibilitas untuk memilih kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan fungsional maupun kapasitas finansial mereka.
Motivasi di balik pergeseran ini kian nyata ketika melihat dinamika sosial di kota-kota besar. Masa pensiun tidak lantas menghentikan langkah seseorang untuk tetap aktif, mulai dari mengantar cucu ke sekolah, mengurus keperluan rumah tangga, hingga menjaga silaturahmi dengan kerabat dan komunitas sosial. Di sinilah aspek kemudahan perawatan dan kepastian biaya operasional menjadi faktor penentu.
Seorang responden berusia 59 tahun asal Tangerang Selatan yang telah memiliki mobil listrik memberikan penegasan yang lugas mengenai motif di balik pilihannya. “Kami pilih mobil listrik sebagai persiapan pensiun supaya biayanya lebih hemat.”

Dari sisi industri dan pengamatan perilaku konsumen, fenomena ini menunjukkan adanya kesadaran akan perencanaan jangka panjang. Isu kelestarian lingkungan memang tetap menjadi nilai tambah yang dihargai, namun bagi kelompok usia 50 tahun ke atas, aspek keamanan dan prediktabilitas pengeluaran bulanan jauh lebih mendesak. Insentif fiskal dari pemerintah serta biaya pengisian daya yang jauh lebih murah dibandingkan bensin premium menjadikan mobil listrik sebagai solusi yang “ramah” bagi kantong pensiunan yang ingin tetap menjaga kemandirian gerak tanpa terbebani biaya perawatan mesin yang kompleks.
Asti Putri, Co-Founder dan Director ID COMM yang memimpin riset ini, membedah lebih dalam mengenai profil psikologis para pemilik kendaraan listrik ini. “Pada umumnya, konsumen pemilik mobil listrik adalah para early adopters, yaitu orang-orang yang berani berinvestasi dan berkendara dengan teknologi baru. Khusus kelompok usia 50 tahun ke atas, ada faktor unik dimana mereka sadar kegiatan hariannya akan menurun, namun ingin tetap mempertahankan mobilitas dengan biaya relatif hemat. Meskipun mereka harus beradaptasi dengan fitur-fitur mobil listrik, namun hal ini tidak menghambat keinginan mereka untuk memilikinya. Justru hal inilah yang membuat mereka bangga karena bisa mengadopsi tren berkendara dengan cara berbeda,” jelasnya.
Kendati demikian, transisi menuju ekosistem kendaraan listrik sepenuhnya di Indonesia masih menyisakan sejumlah catatan. Tantangan klasik seperti pemerataan infrastruktur pengisian daya, kecemasan mengenai jarak tempuh untuk perjalanan jauh, serta kesiapan layanan purna jual tetap menjadi pertimbangan kolektif bagi semua kelompok usia.
Namun, arah perubahan nampaknya sudah tidak terbendung lagi. Ketika efisiensi biaya hidup menjadi prioritas utama di masa tua, mobil listrik telah menemukan relevansi paling praktisnya di tengah masyarakat yang kian rasional dalam berkendara. Bagi Anda yang ingin mendalami data lebih lanjut mengenai kesiapan pasar Indonesia, hasil lengkap penelitian ini dapat diakses melalui laman https://bit.ly/RisetMobilListrik_IDCOMM./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo


















