Kisah Fariz RM Tentang Lagu ‘Sakura’, 'Barcelona' dan 40 Tahun Tanpa Royalti

By Ibonk July 05, 2020 803
Kisah Fariz RM Tentang Lagu ‘Sakura’, 'Barcelona' dan 40 Tahun Tanpa Royalti Fariz RM (Ibonk)

Ada yang menarik saat Journey Of Indonesia sengaja bertandang ke markas besar DSS Music dibilangan Pesanggrahan, Jakarta Selatan pada hari Sabtu 5/7/20 sore untuk menyaksikan secara langsung live streaming Konser 7 Ruang yang menampilkan Fariz RM Anthology. Musik streaming Konser 7 Ruang ini merupakan episode ke 26 dan diprakarsai DSS Music dibawah komando Donny Hardono yang dimulai pukul 20.00 WIB.

Dijadwalkan selama 80 menit, Fariz RM Anthology yang dikawal Fariz RM (vokal, piano dan synthesizer), Eddy Syakroni (drum), Adi Darmawan (bass), Iwan Wiradz (perkusi), Eugen Bounty (saxophone) dan Michael Alexander (gitar) membawakan 8 lagu hits milik Fariz.

Nah, untungnya lagi satu jam sebelum mereka tampil, Journey Of Indonesia bersama beberapa teman media berkesempatan untuk berbincang sedikit dengan Fariz RM tentang penampilannya dalam acara ini, dan cerita lain tentang lagu 'Sakura' yang tepat tercipta pada 4 Juli, 40 tahun lalu, dan lagu 'Barcelona'.

Fariz RM sendiri mengaku sangat antusias sekali bisa bergabung dan tampil di Konser 7 Ruang. Dirinya sangat berterima kasih dengan kesungguhan DSS Music yang membuat konser streaming ini berjalan 3x kali dalam seminggu dan melibatkan semua musisi di tanah air. Apalagi latar belakang diciptakannya Konser 7 Ruang ini karena keprihatinan seorang Donny Hardono terhadap efek yang terjadi dari pandemi Covid-19 kepada para insan musik di tanah air.

Fariz sendiri mengakui karena keterbatasan waktu, akhirnya ia memutuskan untuk menampilkan karya-karyanya yang full hits saja seperti 'Penari’, ‘Sungguh’, ‘Hasrat dan Cita’, ‘Suzie Belel’, ‘Nada Kasih’, ‘Sakura’, ‘Selangkah ke Seberang’, ‘Barcelona’ dan 'Pesimpangan'. "Mau tak mau harus dinyanyikan yang hits, yang banyak diminta saja," ungkapnya.

"Banyak juga yang sudah menunggu live streaming malam ini, seperti dari komunitas Fariz RM yang saya dengar seperti di Melbourne, Swedia, Norwegia, Belanda, Perancis Inggris, Canada sudah menunggu acara malam ini. Saya bersyukur sbg pemusik lewat karya bisa memberikan kebahagiaan, . Apalagi saat pandemi seperti ini," sumringahnya.

Fariz RM LiveFariz RM (ist)

Selanjutnya Fariz mencoba menjawab pertanyaan terkait lagu "Sakura' yang memasuki tahun ke 40 terciptanya lagu tersebut. Fariz menceritakan bahwa banyak yang menyangka bahwa album pertama yang diciptakannya adalah "Sakura". Padahal menurut Fariz album pertama yang dibuatnya adalah album "Selangkah Ke Seberang".

Pada saat album "Selangkah ke Seberang" sudah selesai diproduksi, ditangan distributornya Prambors Aquarius pada saat itu diputuskan untuk menahan dahulu album tersebut, dengan alasan bahwa musiknya dianggap terlampau baru dan sangat dance serta tidak cocok dengan tren musik pada waktu itu.

Secara kebetulan master album tersebut pernah didengar oleh sutradara Fritz G. Schadt yang juga merupakan ayah dari Atalarik. Saat itu Fritz tengah menyutradarai sebuah film berjudul "Sakura Didalam Pelukan" dan dirinya sangat tertarik dengan ritmik karya yang dibuat Fariz.

Lalu Fritz pun menghubungi pihak Fariz dan menyatakan sangat ingin sebuah lagu yang modern, dance seperti lagu 'Selangkah ke Seberang" untuk menjadi soundtrack filmnya tersebut. "Nah, saya langsung garap musiknya, makanya di album "Sakura" tersebut ada beberapa lagu di album "Selangkah ke Seberang" saya masukkan dengan di rekam kembali. Setelah album "Sakura" sukses, barulah pihak Prambors Aquarius berani meluncurkan album "Selangkah Ke Seberang" yang sebetulnya adalah album pertama saya", kisah Fariz.

Fariz juga mengakui bahwa dirinya tidak pernah mempersiapkan karya-karyanya untuk menjadi hits. "Yaaa... mengalir, saya mencipta saja. Saya bersyukur ketika lagu-lagu tersebut jadi hits, seperti 'Sakura', ataupun 'Barcelona' bisa long lasting sampai sekitar 30, 40 tahun masih di dengar orang terus, merinding juga. Apalagi kemudian bisa lintas generasi dan diingat oleh masyarakat.

Fariz menceritakan bahwa lagu 'Sakura' memang diciptakan murni dari skenario film "Sakura Dalam Pelukan" arahan Fritz G. Schadt tersebut. Ini juga yang menjadi alasan pribadinya kenapa ia lebih bangga dengan lagu 'Barcelona'. "Karena memang lagu Barcelona mutlak karya saya yang muncul bukan dari skenario atau apapun".

Sementara album "Living in the Western World" yang didalamnya ada lagu Barcelona punya banyak keistimewaan lain. Saya tulis lagu tersebut ketika saya saya tinggal disana untuk beberapa waktu. Di kota ini saya menjumpai perbedaan pandangan timur dan barat yang signifikan berbeda, baik tentang cinta, kehidupan, ataupun point of view di dalam banyak hal.

Selain itu makin istimewa bagi saya karena dibuat tanpa bantuan alat musik. Semua itu ada di kepala saya, saya hanya menulis scoringnya saja. Dan ketika pulang scoring tersebut saya mainkan tanpa tambahan apapun. Album ini yang paling membanggakan saya secara pribadi, karena menciptakan 10 lagu untuk sebuah album tanpa bantuan alat musik.

Fariz RM tengah membawakan lagu penutup di Konser 7 Ruang IstFariz RM tengah membawakan lagu penutup di Konser 7 Ruang (Ist)

"Saya di Barcelona tahun 1978 pada saat Barcelona terpilih jadi kota Olympiade 1982. Itu kotanya pestanya minta ampun, dan saya belum pernah melihat pesta kota yang spontan dan sebesar itu. Kebayangkan, kota yang dipenuhi wanita Spanyol yang luar biasa cantik menari-nari di pusat kota. Mereka mengajak dansa siapapun pengunjung dan itu sungguh romantis", kenangnya.

Ia melanjutkan, "Disini saya tengah mengikuti Summer Course tentang produksi dan pertelevisian. Kebetulan ada mahasiswa juga yang mengikuti program tersebut, yang cowok dari Filipina dan ceweknya Inggris. Nah, kisah percintaan mereka ini sangat menarik dan menginspirasi saya. Sampai saya melihat ketika mereka harus berpisah, karena masing-masing harus pulang kenegaranya, ternyata sang cowok sangat bermasalah sekali dengan perpisahan tersebut".

Fariz melihat bahwa orang timur ketika memaknai cinta akan menempatkannya sangat sakral, dan tidak dengan pandangan barat. "Bagi orang barat cinta hanya follow up dari sebuah relationship saja. Ya, putus putus aja," gelaknya.

Pada tahun 2020 ini Fariz RM juga tengah membuat lompatanan besar untuk karyanya. Bekerjasama dengan Raintree Music yang berbasis di Berlin, ia kembali meremastered seluruh album-albumnya terdahulu yang berjumlah 21 album solo, 3 album duet, dan 12 album grup dan akan merilisnya sendiri.

"Sampai akhir 2020 ini akan keluar semua album saya secara komplit dan original yang diterbitin oleh Fariz RM Management lewat Raintree disemua digital platform seperti spotify, ataupun apple music. Untuk itu saya titip lewat kawan-kawan media, kalau ingin mencari lagu-lagu original Fariz RM, tolong dowload lagu/ album yang diterbitkan oleh Fariz RM Management," harapnya.

Ia kembali melanjutkan bahwa nantinya di album-album yang cukup melegenda akan diterbitkan juga rekaman dalam bentuk fisik berupa album vinyl.

Ketika disinggung kenapa seorang Fariz RM melakukan hal ini, me-remastered seluruh album karyanya kembali dan bekerjasama dengan pihak internasional dirinya mengakui bahwa selama 40 tahun dirinya berkarier di dunia musik ia belum pernah menerima royalti dari apa yang telah dihasilkannya. Bah!!. / JOURNEY OF INDONESIA