<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bayu Skak Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/bayu-skak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/bayu-skak/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Aug 2023 14:57:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Bayu Skak Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/bayu-skak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Film Jadi Corong Strategis Dalam Melestarikan Bahasa Daerah</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/film-jadi-corong-strategis-dalam-melestarikan-bahasa-daerah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Aug 2023 14:51:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[FIlm]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Bayu Skak]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Suwardi]]></category>
		<category><![CDATA[FFWI]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Susi Ivvati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=9257</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat sekarang ini, bisa mengikis sisi kedaerahan, termasuk dalam soal bahasa. “Jika kedaerahan kita terkikis, kita akan menjadi manusia yang lupa pada akar budaya!” ujar Bayu “Skak” Eko Moektito, YouTuber, komedian, sutradara, dan penulis skenario dalam bahasan webinar berjudul “Penggunaan Bahasa Daerah dalam Film Indonesia,” yang digelar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/film-jadi-corong-strategis-dalam-melestarikan-bahasa-daerah/">Film Jadi Corong Strategis Dalam Melestarikan Bahasa Daerah</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>JAKARTA &#8211; Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat sekarang ini, bisa mengikis sisi kedaerahan, termasuk dalam soal bahasa. “Jika kedaerahan kita terkikis, kita akan menjadi manusia yang lupa pada akar budaya!” ujar<strong> Bayu “Skak” Eko Moektito</strong>, <em>YouTuber</em>, komedian, sutradara, dan penulis skenario dalam bahasan webinar berjudul “Penggunaan Bahasa Daerah dalam Film Indonesia,” yang digelar <a href="https://festivalfilmwartawan.id">Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI)</a>, Selasa, 15 Agustus 2023.</p>



<p>Karena hal itu pula, Bayu menolak kedaerahan, terpinggirkan dan lenyap sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.</p>



<p>Selain Bayu, webinar yang merupakan bagian dari FFWI kali ini juga menampilkan narasumber Susi Ivvaty, mantan wartawan harian Kompas, peliput bidang seni dan film yang kini aktif di Tradisi Lisan dan Lesbumi—Lembaga Seni dan Budaya di bawah naungan ormas Nahdatul Ulama (NU).</p>



<p><a href="https://journeyofindonesia.com/news/dewan-juri-ffwi-2023-sosialisasikan-pedoman-penilaian/">Webinar</a> seri kedua FFWI yang diikuti 57 peserta aktif ini dipandu Supriyanto, wartawan Tabloid Bintang Indonesia.com. Dari webinar ini terungkap, adat dan budaya beragam yang unik menjadi sumber cerita berbagai genre film, termasuk bahasa daerah.</p>



<p>Wacana mengangkat film berbahasa daerah tidak saja terkait untuk kepentingan komersial, tetapi juga sebagai hiburan. Hal ini karena ada istilah atau dialek daerah yang bisa memunculkan tawa penonton. Lebih dari itu, penggunaan bahasa daerah dalam film, sekaligus bisa menadi salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah, yang kini kian tereliminasi dalam bahasa pergaulan generasi Z.</p>



<p>Bayu Skak menceritakan pengalamannya ketika harus menawarkan cerita film berbahasa daerah Jawa ke berbagai production house dan ditolak. Bayu yang berasal dari Malang, Jawa Timur, kemudian bertemu produser Starvision Chand Parwez Servia yang tertarik dengan cerita itu. Namun ragu dengan penggunaan Bahasa Jawa.</p>



<p>Untuk meyakinkan, Bayu nekad bertaruh. “Kalau film berbahasa Jawa ini tidak bisa meraih penonton sampai 500 ribu, honor saya tidak usah dibayar!” ungkapnya kala itu.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Bayu-Skak-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-9260" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Bayu-Skak-Ist.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Bayu-Skak-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Bayu-Skak-Ist-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Bayu Skak (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Namun pada kenyataannya film “Yo Wis Ben” yang digarapnya, berhasil mengumpulkan penonton sampai sekitar 900 ribu. “Bukan cuma saya yang ketagihan, produsernya pun memproduksi film “Yo Wis Ben 2”, ”Yo Wis Ben 3” dan ”Yo Wis Ben Finale,” ungkap Bayu yang memulai karier sebagai <em>YouTuber</em> tersebut.</p>



<p>Bayu mengaku bangga dan sangat percaya diri untuk memproduksi film berbahasa daerah. Ini bukan semata-mata karena “Yo Wes Ben” telah berhasil meraih jumlah penonton sampai ratusan ribu. Lebih dari itu, film berbahasa daerah bisa ikut melestarikan penggunaan bahasa daerah.</p>



<p>“Saya bersyukur masih bisa berbahasa Jawa halus. Anak- anak generasi Z sekarang ini berbahasa Jawa dicampur dengan bahasa Indonesia,” kata Bayu. Oleh karena itu dia mengajak sineas dan para produser film terus meningkatkan produksi film berbahasa daerah.</p>



<p>Bayu menegaskan, dalam kosa kata bahasa daerah penonton juga menemukan idiom-idiom dan dialek khas kedaerahan tertentu, yang tidak ada di bahasa daerah lain. Makanya Bayu bertekad akan terus mengembangkan film berbahasa daerah seperti memakai bahasa Jawa Ngapak, bahasa Madura dan lain-lain.</p>



<p>Pengalaman<strong> Susi Ivvaty</strong> menemukan film memegang peranan strategis dalam upaya pelestarian bahasa daerah. Dia mencontohkan beberapa film seperti “Siti“ dan “Turah“ yang menggunakan bahasa daerah Jawa, lalu ada film “Uang Panai “yang menggunakan bahasa Makasar–Bugis, dan juga film “Yuni“, yang mengangkat cerita tradisi masyarakat Serang Banten.</p>



<p>Dalam film “Yuni” bahasa yang digunakan Jawa Serang. Jawa yang bercampur dengan bahasa Sunda. Orang Jawa dan Sunda yang tinggal di pesisir provinsi Banten, dalam percakapan sehari- hari terbiasa menggunakan bahasa masing-masing, tetapi uniknya mereka saling mengerti. “Di sinilah kita lihat bahasa itu menjadi keutamaan rasa, bahasa budaya dan dalam bahasa daerah itu kuat sekali,” urai Susi di webinar FFWI ini.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Susi-Ivvati-Ist.jpg" alt="" class="wp-image-9261" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Susi-Ivvati-Ist.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Susi-Ivvati-Ist-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2023/08/Susi-Ivvati-Ist-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Susi Ivvati (Ist)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Film, kata Susi, perlu memanfaatkan bahasa daerah jika cerita yang diangkat beratar belakang adat dan budaya suata daerah tertentu. “Karena feelnya ada di dalam bahasa itu,” jelasnya. Susi memberi contoh, kalau film “Uang Panai” tidak menggunakan bahasa daerah, pasti terasa hambar dan tidak ada <em>feel</em> nya.”</p>



<p>Dia mengingatkan penggunaan bahasa daerah sebuah cara menghindari kepunahan bahasa. Dalam bidang kebahasaan itu juga Susi merasa kehilangan sosok Remy Silado, seniman yang mahir berbagai bahasa daerah dan bahasa asing. Remy Silado yang wafat tahun lalu, bagi Susi pribadi yang mengingatkan pentingnya merawat dan menggunakan bahasa daerah.</p>



<p>Sementara itu, <strong>Edi Suwardi</strong>, <em>Kapokja Apresiasi dan Literasi Film</em> mewakili Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik dan Media, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, dalam sambutan mengakui kini semakin banyak film Indonesia yang menggunakan bahasa daerah.</p>



<p>Edi Suwardi menuturkan hal ini antara lain berkat upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menggalakkan penggunaan bahasa daerah di berbagai media pandang dengar. Kementerian juga telah mendanai produksi film yang menggunakan bahasa daerah.</p>



<p>Alasan lain meningkatnya penggunaan bahasa daerah dalam film Indonesia, tambah Edi, maraknya era digital. Sekarang jauh lebih mudah memproduksi dan mendistribusikan film, dan hal ini menyebabkan pembuatan film menjadi lebih beragam. Termasuk film-film yang menggunakan bahasa daerah./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/film-jadi-corong-strategis-dalam-melestarikan-bahasa-daerah/">Film Jadi Corong Strategis Dalam Melestarikan Bahasa Daerah</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">9257</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yo Wes Ben 2, Ketika Budaya Jawa dan Sunda Bertemu</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/yo-wes-ben-2-ketika-budaya-jawa-dan-sunda-bertemu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yulia Dewi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Mar 2019 08:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[FIlm]]></category>
		<category><![CDATA[Anggika Bolsterli]]></category>
		<category><![CDATA[Anya Geraldine]]></category>
		<category><![CDATA[Arief Didu]]></category>
		<category><![CDATA[Bayu Skak]]></category>
		<category><![CDATA[Brandon Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Cut Meyriska]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar Nugros]]></category>
		<category><![CDATA[Gading Marten]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabumi]]></category>
		<category><![CDATA[Joshua Suherman]]></category>
		<category><![CDATA[Laura Theux]]></category>
		<category><![CDATA[Ridwan Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Badriah]]></category>
		<category><![CDATA[Starvision]]></category>
		<category><![CDATA[Timo Scheunemann]]></category>
		<category><![CDATA[Tutus Thomson]]></category>
		<category><![CDATA[Yo Wes Ben 2]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=725</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kesuksesan Yo Wes Ben yang meraih sukses dengan meraup sebanyak 800.000 ribu penonton dan mendapatkan penghargaan pada Festival Film Bandung 2018 sebagai kategori Film Remaja yang Memuat Kearifan Lokal, rasanya tak salah jika akhirnya Starvision kembali membuat sekuelnya yang berjudul Yo Wes Ben 2. Film yang kental dengan keberagaman bahasa daerah ini berhasil menempati posisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/yo-wes-ben-2-ketika-budaya-jawa-dan-sunda-bertemu/">Yo Wes Ben 2, Ketika Budaya Jawa dan Sunda Bertemu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kesuksesan Yo Wes Ben yang meraih sukses dengan meraup sebanyak 800.000 ribu penonton dan mendapatkan penghargaan pada Festival Film Bandung 2018 sebagai kategori Film Remaja yang Memuat Kearifan Lokal, rasanya tak salah jika akhirnya Starvision kembali membuat sekuelnya yang berjudul <strong>Yo Wes Ben 2</strong>.</p>



<p>Film yang kental dengan keberagaman bahasa daerah ini berhasil menempati posisi <em>box office</em>, Yo Wes Ben 2 datang dengan semangat kedaerahan dibalut dengan cinta, persahabatan dan keluarga yang dibumbui dengan komedi kocak hampir disetiap dialog dan scene yang ditampilkan. Film garapan sutradara <strong>Fajar Nugros</strong> dan <strong>Bayu Skak</strong> ini mengkombinasikan dua budaya Jawa dan Sunda dengan latar belakang sebagian berada di daerah Bandung.</p>



<p>Cerita diawali dengan para personil Yo Wes Ben yang terdiri dari Bayu (Bayu Skak), Doni (<strong>Joshua Suherman</strong>), Nando (<strong>Brandon Salim</strong>), dan Yayan (<strong>Tutus Thomson</strong>) bersiap meninggalkan bangku SMA. Bayu yang berpacaran dengan Susan (<strong>Cut Meyriska</strong>) harus putus di tengah jalan, karena ternyata Susan akan melanjutkan sekolahnya di Jerman. Usai diputus Susan, Bayu dihadapkan dengan permasalahan keluarganya. Ibunya yang hanya penjual pecel tak bisa membayar kontrakan rumahnya dan terancam diusir dari kontrakannya.</p>



<p>Bayu yang juga tinggal bersama sang paman, Cak Jon (<strong>Arief Didu</strong>) kemudian mencari akal bagaimana mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan rumahnya. Dengan memanfaatkan kepopuleran Yo Wes Ben di kota Malang, jadi harapan Bayu untuk menyelesaikan masalah keuangannya.</p>



<p>Namun celakanya, masing-masing personil mempunyai masalah. Mulai dari Yayan yang menikah, Nando yang dihadapkan dengan krisis keluarga karena ayahnya akan menikah lagi sampai dengan masalah Doni yang berambisi ingin memiliki pacar. Persoalan semakin rumit ketika Cak Jon yang ditunjuk sebagai manager Yo Wes Ben tak mampu mencarikan <em>job </em>untuk mereka.</p>



<p>Krisis keuangan yang menimpa Bayu membuatnya melupakan Susan. Bayu kemudian memecat Cak Jon dari manajer Yo Wes Ben dan mempercayakan Yo Wes Ben kepada Cak Jim (<strong>Timo Scheunemann</strong>), bule yang mengklaim dirinya sudah membesarkan banyak artis nasional bersama dengan asistennya, Mia (<strong>Anggika Bolsterli</strong>). Namun, Bayu dan kawan kawan harus hijrah ke Bandung, kota yang dianggap dapat menghasilkan band-band nasional yang terkenal.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="640" height="360" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/Bayu_Skak__Anya_Geraldine_Ist.jpg" alt="" class="wp-image-727" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/Bayu_Skak__Anya_Geraldine_Ist.jpg 640w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/Bayu_Skak__Anya_Geraldine_Ist-300x169.jpg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption><em>Bayu Skak &amp; Anya Geraldine (Ist)</em></figcaption></figure></div>



<p>Tiba di Bandung, Bayu dan Yo Wes Ben harus menghadapi masalah. Ketika tiba di Bandung, ternyata semua yang dijanjikan Cak Jim tidak terbukti. Kredibilitas Cak Jim yang katanya telah mengorbitkan beberapa artis nasional malah mencurigakan. Bayu yang butuh uang harus menggadaikan komitmennya dengan Yo Wes Ben, band inipun akhirnya terpecah. Nando dan Yayan tidak sependapat dengan Bayu, merekapun memutuskan untuk berpisah. Di tengah kemelut yang menimpa mereka, Bayu jatuh cinta dengan Asih (<strong>Anya Geraldine</strong>) yang mempunyai bapak yang galak. Bayu pun berusaha menaklukan hati bapaknya Asih. Bagaimana kemudian nasib Bayu dan Yo Wes Ben?</p>



<p>Film yang tayang pada 14 Maret 2019 ini hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa dan Sunda. Namun penonton tak perlu khawatir dengan penggunaan bahasa ini, film ini telah dilengkapi dengan subtittle bagi untuk kedua bahasa tersebut. Sehingga dialog yang mengundang tawa pun tetap dapat dinikmati.</p>



<p>Dua sutradara di film ini terlihat sangat mampu mengolah kalimat demi kalimat sehingga menghasilkan komedi yang mengocok perut. Walau dengan bahasa Jawa dan Sunda, masing-masing karakter mampu memerankan dengan baik.</p>



<p>Adegan kocak dan istilah dalam bahasa Jawa populer pun kerap ditampilkan di sini, ketika kata &#8220;<em>Djancuk</em>&#8221; menjadi sebuah kata yang mampu mengundang tawa meski kerap dilontarkan. Apalagi ketika dua bahasa ditemukan, dalam salah satu <em>scene </em>yang menampilkan dialog antara orang Jawa dan Sunda. Masing-masing yang tidak paham dengan apa yang diucapkankannya sanggup mengundang gelak tawa penonton.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="640" height="360" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/03_Yowis_Band_2_Ist.jpg" alt="" class="wp-image-728" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/03_Yowis_Band_2_Ist.jpg 640w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/03_Yowis_Band_2_Ist-300x169.jpg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption><em>Yowis Band 2 (Ist)</em></figcaption></figure></div>



<p>Yo Wes Ben 2 dari sisi cerita semakin berkembang, terutama adanya karakter-karakter baru yang diperankan di film ini. Film ini bukan hanya menampilkan dua budaya, namun memberikan beberapa pesan positif seperti norma agama, persahabatan, nilai-nilai sosial dan kehidupan.</p>



<p>Lihat saja bagaimana cerita ini tidak mudah ditebak dan sarat dengan falsafah hidup dalam budaya Sunda, di mana salah satu tokoh bapak yang memproteksi anaknya ketika didekati oleh seorang laki-laki. Sang bapak menguji calon kekasih anaknya dengan falsafah sunda &#8220;<em>Cageur, bageur, bener, pinter, singer</em> (mawas diri)&#8221;, meski sang anak sangat menyukai laki-laki itu tapi harus patuh dengan sikap ayahnya. Ini merupakan salah satu sikap dan nilai yang sudah jarang diterapkan saat ini.</p>



<p>Daya tarik visual dalam Yo Wes Ben 2 juga masih memanjakan mata, seperti indahnya pemandangan warna warni di kota Malang dan juga suasana segar di kota Bandung. Sebuah kombinasi yang unik dari film ini, di mana dua budaya antara Jawa dan Sunda disatukan menjadi suguhan yang menarik dan kocak untuk disimak.</p>



<p>Ditambah dengan kemunculan beberapa tokoh seperti Cak Jim yang diperankan oleh Timo Scheunemann yang berdarah Jerman, Anggika Bolsterli berdarah Swiss, Brandon Salim (Chinese) dan <strong>Laura Theux</strong> berdarah Perancis. Semangat persatuan juga ingin disampaikan di film ini.</p>



<p>“Karena kita bagian dari republik (Indonesia) jadi ayolah bersatu. Kita saudara semuanya, kita mulai mencoba menjaga persatuan melalui film ini. Ini adalah sebuah gerakan yang tulus untuk meredam isu perbedaan antar golongan,” tukas Bayu di acara press screening Yo Wes Ben 2, di Jakarta, Rabu (6/3).</p>



<p>Hadir juga beberapa tokoh sebagai cameo di Yo Wes Ben 2, seperti Gubernur Jawa Barat, <strong>Ridwan Kamil</strong>, <strong>Gading Marten</strong>, <strong>Siti Badriah</strong>, dan <strong>Gibran Rakabumi </strong>yang masing-masing mampu menghadirkan suasana segar di film ini. Sebuah film sederhana dan menghibur dengan kearifan lokal yang patut untuk disimak./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="jeg_video_container jeg_video_content"><iframe loading="lazy" title="YOWIS BEN 2 - Official Trailer" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/QvEKEl_mrgA?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/yo-wes-ben-2-ketika-budaya-jawa-dan-sunda-bertemu/">Yo Wes Ben 2, Ketika Budaya Jawa dan Sunda Bertemu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">725</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
