<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mitos Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/mitos/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/mitos/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Jan 2026 11:54:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Mitos Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/mitos/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 10:53:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[FIlm]]></category>
		<category><![CDATA[Alas Roban]]></category>
		<category><![CDATA[Batang]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Hadrah Daeng Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Michelle Ziudith]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sinema Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Taskya Namya]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Legend]]></category>
		<category><![CDATA[XXI Epicentrum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=21187</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA — Di peta Pulau Jawa, Alas Roban mungkin hanyalah titik koordinat di Kabupaten Batang yang menghubungkan arus mobilitas masyarakat. Namun, bagi ingatan kolektif para pelintas jalur pantura, kawasan ini adalah ruang di mana batas antara realitas dan mitos sering kali mengabur. Kabut tebal yang turun tiba-tiba dan barisan hutan yang rapat bukan sekadar pemandangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/">Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA — Di peta Pulau Jawa, Alas Roban mungkin hanyalah titik koordinat di Kabupaten Batang yang menghubungkan arus mobilitas masyarakat. Namun, bagi ingatan kolektif para pelintas jalur pantura, kawasan ini adalah ruang di mana batas antara realitas dan mitos sering kali mengabur. Kabut tebal yang turun tiba-tiba dan barisan hutan yang rapat bukan sekadar pemandangan alam, melainkan selimut bagi ribuan kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut, mulai dari bisikan para sopir lintas kota hingga kegelisahan penumpang yang terdiam saat kendaraan mulai memasuki area tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sentimen mendalam terhadap jalur paling melegenda di Jawa inilah yang kemudian diangkat oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu ke layar lebar melalui film berjudul &#8220;Alas Roban&#8221;. Dijadwalkan menyapa penonton pada 15 Januari 2026, karya ini berupaya memindahkan atmosfer mencekam dari jalanan nyata ke dalam sebuah pengalaman sinematik yang intens. Hadrah menempatkan Alas Roban bukan sekadar sebagai latar tempat, melainkan sebagai karakter yang hidup dan menyimpan sejarah panjang yang belum sepenuhnya terungkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses kreatifnya, <strong><a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/film-musuh-dalam-selimut-angkat-pengkhianatan-terkejam-dari-lingkar-terdekat/">Hadrah Daeng Ratu</a></strong> menegaskan bahwa film ini mengambil pendekatan yang cukup kontras dibandingkan karya-karya sebelumnya yang kerap menonjolkan unsur gore. Baginya, &#8220;Alas Roban&#8221; adalah sebuah eksplorasi road movie bergenre horor yang mengedepankan sosok hantu dan tekanan psikologis. “Film Alas Roban buat saya sangat spesial. Dari awal ditawari, ini sudah jelas sebagai road movie horor. Horor yang bukan gore. Kalau sebelumnya saya dikenal dengan horor yang cenderung gore, kali ini benar-benar horor dengan sosok hantu,” ujar Hadrah saat menjelaskan visi penyutradaraannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo.jpg" alt="" class="wp-image-21188" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Michelle Ziudith saat menjawab pertanyaan media (Yayo)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Daya tarik utama dari film ini terletak pada relevansinya dengan budaya masyarakat Indonesia, khususnya tradisi mudik. Jalur Alas Roban memiliki kedekatan emosional bagi para perantau yang mengadu nasib di ibu kota dan selalu kembali ke kampung halaman saat hari besar tiba. Hadrah mencermati bahwa di Jawa, pusat pergerakan manusia sering kali melewati titik ini. Ia menambahkan bahwa keberadaan jalur lama dan jalur baru di kawasan tersebut menambah lapisan misteri yang kaya untuk digali lebih dalam. Menurutnya, jalur lama itulah yang menjadi muara dari banyak kisah ganjil yang dialami pengendara, baik saat melintas maupun setelah mereka meninggalkan kawasan hutan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aspek psikologis dalam film ini semakin diperkuat oleh performa para pemainnya, termasuk <strong>Taskya Namya</strong> yang memerankan karakter Tika. Taskya menceritakan bagaimana ketegangan dalam cerita dipicu oleh perubahan-perubahan kecil yang mengusik logika, seperti saat karakternya menemukan kejanggalan pada sosok Gendis. “Momen ketika Tika menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, kecurigaan muncul makin kuat karena ada yang aneh. Terlebih saat Gendis mengajak main petak umpet, di situ ekspresinya tidak seperti Gendis yang ia kenal,” ungkap Taskya, menggambarkan bagaimana rasa takut dalam film ini dibangun melalui kecurigaan yang perlahan memuncak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga menjadi tonggak penting bagi karier <strong>Michelle Ziudith</strong> yang dikenal luas melalui peran-peran dalam drama romantis. Michelle akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dan mencicipi genre horor untuk pertama kalinya. Berperan sebagai Sita, ia mengaku jatuh cinta pada kekuatan naskah dan alur cerita yang ditawarkan sejak awal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ditemui sebelum Gala Premiere di XXI Epicentrum, Jakarta, Michelle mengungkapkan rasa sayangnya terhadap proyek ini. “Ini film yang aku sayangi sekali, karena ini film horor pertamaku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk terjun ke ranah film horor, untuk icip sedikit. Ternyata tidak membuat kapok, alhamdulillah,” tuturnya dengan antusias.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo.jpg" alt="" class="wp-image-21189" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Para pendukung film Alas Roban (Yayo)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Ketertarikan Michelle bukan tanpa alasan. Ia menilai bahwa &#8220;Alas Roban&#8221; berhasil menyajikan struktur cerita yang solid tanpa meninggalkan celah logika yang mengganggu. Baginya, film ini menawarkan kedalaman drama yang hangat di tengah kepungan teror mistis yang mencekam. Plot yang tegas dan pembangunan karakter yang kuat menjadi alasan mengapa ia merasa yakin untuk mengambil peran Sita meskipun pada awalnya ia belum mengetahui judul besar yang akan diusung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara naratif, &#8220;Alas Roban&#8221; mencoba memotret serangkaian aturan tak tertulis yang selama ini dipercaya oleh masyarakat sekitar dan para pelintas. Mitos-mitos seperti larangan melintas tepat tengah malam, imbauan untuk tidak singgah di warung pinggir jalan yang asing, hingga kewaspadaan terhadap bayangan di spion kendaraan diangkat menjadi elemen penting dalam membangun suasana. Teror dalam film ini tidak selalu hadir dalam wujud fisik, melainkan melalui keyakinan dan ketakutan yang menular di antara para tokohnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Produksi yang merupakan hasil kolaborasi antara Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures ini didukung oleh deretan aktor papan atas seperti Rio Dewanto sebagai Anto, Imelda Therinne sebagai Dewi Raras, serta aktris cilik Fara Shakila sebagai Gendis. Dengan ramuan sejarah, urban legend yang kuat, serta arahan tangan dingin Hadrah Daeng Ratu, &#8220;Alas Roban&#8221; diprediksi akan menjadi suguhan horor yang tidak hanya mengejutkan secara visual, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan memori kolektif penontonnya./ <strong><em>JOURNEY OF IDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/">Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21187</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Morteza]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2018 01:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[7 Summit of Java]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Lawu]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos]]></category>
		<category><![CDATA[Pendaki]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1411</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cukup jauh menapak jejak, hingga akhirnya diberikan kesempatan menginjak Hargo Dumilah, puncak tertinggi di Gunung Lawu. Gunung yang terletak di antara perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah itu, termasuk 7 Summit of Java yang kondisinya tersendiri, letaknya berjauhan dengan gunung api lainnya. Jika Gunung Slamet disebut “Triple S” karena letaknya tidak begitu jauh dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/">Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Cukup jauh menapak jejak, hingga akhirnya diberikan kesempatan menginjak Hargo Dumilah, puncak tertinggi di Gunung Lawu. Gunung yang terletak di antara perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah itu, termasuk 7 Summit of Java yang kondisinya tersendiri, letaknya berjauhan dengan gunung api lainnya. Jika Gunung Slamet disebut “Triple S” karena letaknya tidak begitu jauh dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, maka julukan 2M patut dialamatkan ke Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang memiliki kedekatan dalam jarak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dapat mendaki gunung bertipe <em>stratovolcano</em> ini, merupakan pengalaman yang sungguh istimewa bagi saya pribadi. Dalam 1 tahun sekali bersama rekan pecinta alam di Bekasi, kami berkomitmen untuk eksplorasi ke gunung yang sebelumnya belum sempat dijamah bersama. Hingga suatu waktu datanglah niatan spontan untuk menyambangi Gunung Lawu, setelah melihat foto apik yang beredar luas di lini masa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semisal jadi ke sana (Lawu) harus lewat kaki dulu yakni Cemoro Sewu, lalu turunnya di kepala atau Candi Cetho,” ucap <strong>Andri</strong>, teman saya yang menjiwai kepercayaan Islam Kejawen. Jauh sebelum waktu keberangkatan dirinya sudah wanti-wanti. “Mendaki Lawu tidak bisa disamakan seperti kita naik gunung sebelumnya,” tegasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, di Lawu ada beberapa pantangan yang harus ditaati oleh pendaki. Seperti, tidak boleh berangkat dalam jumlah ganjil, yang menurutnya akan berdampak sial apabila melanggar aturan tersebut. “Selain itu, tidak boleh juga pakai baju atau atribut yang berwarna hijau,” timpalnya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1412" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Padang rumput membentang di dekat Gupakan Menjangan (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Singkat kata, agenda perjalanan ke Lawu harus tetap berlanjut meskipun tanpa Andri, yang hari itu apes ketinggalan kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Setelah<em> voting</em>, 1 regu yang berisikan 8 orang sepakat untuk terobos Lawu via Cemoro Sewu, yang masuk di wilayah Magetan, Jawa Timur. Secara kolektif terkumpul dana Rp. 600.000 dari saku kami, untuk membayar jasa <em>travel</em> yang berangkat dari Stasiun Solo Jebres, Surakarta, pada Juli kemarin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari itu, tidak banyak rintangan besar selama proses pendakian ke puncak. Hanya saja sedikit meleset dari target yang dicanangkan untuk <em>camping</em> di Sendang Drajat, justru kami harus bermalam di Sumur Jalatundo yang menjadi bagian dari Pos V. Hal itu mesti terjadi, lantaran kondisi fisik tim sudah terkuras habis dengan beratnya medan di Cemoro Sewu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi saya, apabila ada satu orang yang sudah tidak sanggup lagi melanjutkan, maka lebih baik jangan dipaksakan. Selain itu, haripun mulai gelap dan tidak memungkinkan apabila tetap memaksakan diri untuk menerobos dinginnya malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sang surya terbit perlahan di ufuk timur, disertai desis angin sepoi yang menggoyahkan pucuk <em>edelweiss</em> hingga jatuh mengering di atas tanah. Nampak jelas, gunung ini telah terpapar kemarau berkepanjangan, dan tiada terlihat satupun dedaunan berwarna hijau segar. Tenda yang kami dirikan saat itu, berdiri di balik tebing setinggi 3 meter yang dikerumuni ilalang kering.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sembari sarapan, kami berbincang kecil untuk selanjutnya berangkat mengisi logistik air di Sendang Drajat. Menurut pedagang setempat, sumber air Sendang Drajat tidak akan kering meskipun diterpa kemarau berkepanjangan, hanya saja debit airnya tidak melimpah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini kalau musim tertentu biasa dibuat mandi Mas, sama peziarah atau yang bertapa di dalam lubang-lubang itu,” ujar Hadi, jarinya sambil menunjuk ke arah tebing yang sudah dilubangi menjadi goa-goa kecil yang menjadi lokasi pertapaan. Disamping tempat tersebut terdapat satu petilasan yang disakralkan oleh penduduk sekitar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Gunung Lawu tentu memiliki sejarah panjang Mas. Dahulu, Prabu Brawijaya V mukso di Hargo Dalem,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa sekitar tahun 1.300-1.400 Saka, Prabu Brawijaya V sempat mengasingkan diri ke lereng Gunung Lawu. “Prabu dikejar oleh anaknya sendiri, Raden Patah, yang kala itu memimpin Kerajaan Demak,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada masa itu sedang gencar-gencarnya Islamisasi di pulau Jawa, yang membuat Raja Majapahit harus melarikan diri ke perbatasan Jawa Tengah, lantaran belum bersedia memeluk agama Islam. Dalam proses pengasingan, Prabu Brawijaya V memprakarsai pembuatan jejak peradaban Hindu – Budha di Jateng, seperti yang tertoreh melalui peninggalannya di Candi Sukuh, Candi Cetho dan Candi Kethek.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1413" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Jalur turun via Candi Cetho (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Hadi mengisahkan bahwa musuh bebuyutan Brawijaya V, Adipati Cepu, yang dilatari dendam kesumat mengejarnya sampai merangsak naik ke Lawu. “Bulak Peperangan yang menjadi bagian dari jalur Lawu via Candi Cetho pernah menjadi medan pertempuran antara Brawijaya V dengan Adipati Cepu yang membawa pasukan,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Bahkan, Brawijaya V sampai-sampai mengutuk keturunan Adipati Cepu maupun orang dari Cepu yang mencoba naik ke Gunung Lawu,” tambahnya. Konon, hingga kini, pendaki dari daerah tersebut tidak berani melanggar sumpah Brawijaya, karena takut celaka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dibangun sejarah panjang, pendakian ke Gunung Lawu turut menyuburkan potensi ekonomi warga sekitar. Hal ini terbukti dengan tumbuhnya warung jajanan dihampir setiap pos peristirahatan, yang menjajakan aneka macam dagangan sebagai bekal konsumsi untuk para peziarah, pertapa, maupun pendaki yang tidak membawa bekal logistik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti Warung Mbok Yem yang disebut-sebut sebagai warung tertinggi di Indonesia. Bersama anaknya, dia merintis pembangunan warung di dekat Hargo Dalem sejak tahun 80-an. Berbekal menu nasi pecel telur ceplok, ia mapan hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai menjadi seorang Bupati. Di Lawu, Mbok Yem memiliki gubukan yang sebidang dengan warungnya, dapat menampung manusia hingga kapasitas 30 orang. “Mau tidur di dalam boleh, di luar bikin tenda juga tidak apa-apa. Asal belanja saja di warung saya,” cetusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari warung Mbok Yem, untuk menyambangi Puncak Hargo Dumilah sudah tidak begitu jauh. Dibutuhkan waktu interval 30 sampai 60 menit dengan berjalan menanjak hingga mencapai tugu puncak Lawu yang berada di ketinggian 3.265 mdpl. Hargo Dumilah tersohor akan posisinya untuk menyaksikan sang surya terbit maupun sedang terbenam. Tempat tersebut berada di atas samudera awan.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1414" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Pasar Dieng, titik pertemuan jalur Cemoro Kandang dengan jalur Cetho (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Setelah puas menikmati elok panorama dari puncak Lawu, cukup disayangkan apabila pulang melewati jalur yang sama. Gunung Lawu memiliki 4 jalur yang populer di mulut pendaki, yakni jalur Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho dan Jogorogo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tepat pukul 10.00 WIB, setelah berkemas dan sarapan, kami putuskan untuk turun gunung. Saya yang terpencar dengan rombongan di depan, harus melangkah tertegun-tegun saat kabut tipis perlahan demi perlahan menutupi jalan dan mulai mengganggu jarak pandang. Padahal pagi itu cuaca sangat cerah, terik matahari sedang bagus-bagusnya bersinar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di lokasi ini kaya akan vegetasi cantigi, beserta gundukan batu yang tersusun amat misterius. Entah siapa yang membentuk polanya sedemikian rupa, hingga struktur yang apik ini mampu mendatangkan makna setelah dipandang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lama berselang, datanglah kedua teman saya yang tertinggal dibarisan paling belakang. “Ini dia, yang dinamakan Pasar Dieng,” sahutnya sembari mengikat sepatu. Ia menuturkan, bahwa lokasi Pasar Dieng juga dikenal dengan sebutan Pasar Setan. “Jadi, tempat ini adalah pertemuan antara jalur Lawu via Cemoro Kandang dengan jalur via Candi Cetho,” pungkasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah melalui kesenyapan Pasar Dieng, berjalan 10 menit ke bawah, dari kejauhan akan nampak padang sabana yang begitu luas. Namun, tidak banyak pendaki yang berani mendirikan tenda di area terbuka itu, larena angin bertiup cukup kencang. Ditambah lagi dengan kondisi tanah yang sudah lama tidak terkena hujan, bila diinjak mengepul jadi debu tebal dan dapat mengganggu penglihatan.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1415" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Pos V Bulak Peperangan (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Berikutnya, masih terdapat sabana yang lebih megah di bawah lokasi tadi. Di area sabana, terdapat kubangan tanah basah yang apabila pada musim penghujan tempat tersebut akan menjadi sumber air bagi makhluk hidup yang menghuni hutan Gunung Lawu. Kubangan besar ini dinamakan Gupakan Menjangan, karena acap kali muncul menjangan (rusa) yang minum di telaga saat pagi maupun sore hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bulak Peperangan kiranya bisa menjadi kejutan yang memikat mata hati. Cukup berjalan 20 menit dari Gupak Menjangan, lagi-lagi pendaki disuguhi padang sabana yang memanjang dengan vegetasi cemara yang tumbuh pada lereng kedua bukit. Bulak Peperangan, dapat menjadi lokasi camping. Namun, yang harus dipersiapkan adalah bekal stok air minum harus lebih dari cukup. Sepanjang Jalur Cetho hanya terdapat satu sumber air, yang terdapat di dekat Pos III dan biasa dijadikan area camping oleh para pendaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jalur Cetho menawarkan bentang alam yang menakjubkan. Namun dari segi jarak, jalur tersebut merupakan lintasan yang terpanjang bila disanding dengan track lainnya. Panjang lintasan Cetho lebih kurang 17 km, terhitung dari pintu masuk kompleks candi Cetho hingga puncak Hargo Dalem. Diestimasi membutuhkan waktu setidaknya lebih dari 10 jam, untuk berjalan mencapai puncak Hargo Dumilah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam 3 bulan terakhir Gunung Lawu diterpa 4 kali kebakaran. Periode Agustus kemarin menjadi yang terhebat. Setidaknya, si jago merah sempat melalap 70 hektare padang sabana di jalur Cetho. Meskipun belum diketahui penyebab utama, ditengarai, kebakaran dipicu karena ulah manusia yang membuat api unggun saat <em>camping</em> hingga api menjalar luas ke atas pos V.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya dampak dari peristiwa ini tidak sampai menelan korban jiwa. Namun, sebagian area sabana Cetho kini menghitam, dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan keasrian vegetasi seperti kondisi semula./<strong><em> JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/">Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1411</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
