<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendaki Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/pendaki/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/pendaki/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 May 2022 01:27:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Pendaki Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/pendaki/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Morteza]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2018 01:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[7 Summit of Java]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Lawu]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos]]></category>
		<category><![CDATA[Pendaki]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1411</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cukup jauh menapak jejak, hingga akhirnya diberikan kesempatan menginjak Hargo Dumilah, puncak tertinggi di Gunung Lawu. Gunung yang terletak di antara perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah itu, termasuk 7 Summit of Java yang kondisinya tersendiri, letaknya berjauhan dengan gunung api lainnya. Jika Gunung Slamet disebut “Triple S” karena letaknya tidak begitu jauh dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/">Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Cukup jauh menapak jejak, hingga akhirnya diberikan kesempatan menginjak Hargo Dumilah, puncak tertinggi di Gunung Lawu. Gunung yang terletak di antara perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah itu, termasuk 7 Summit of Java yang kondisinya tersendiri, letaknya berjauhan dengan gunung api lainnya. Jika Gunung Slamet disebut “Triple S” karena letaknya tidak begitu jauh dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, maka julukan 2M patut dialamatkan ke Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang memiliki kedekatan dalam jarak.</p>



<p>Dapat mendaki gunung bertipe <em>stratovolcano</em> ini, merupakan pengalaman yang sungguh istimewa bagi saya pribadi. Dalam 1 tahun sekali bersama rekan pecinta alam di Bekasi, kami berkomitmen untuk eksplorasi ke gunung yang sebelumnya belum sempat dijamah bersama. Hingga suatu waktu datanglah niatan spontan untuk menyambangi Gunung Lawu, setelah melihat foto apik yang beredar luas di lini masa.</p>



<p>“Semisal jadi ke sana (Lawu) harus lewat kaki dulu yakni Cemoro Sewu, lalu turunnya di kepala atau Candi Cetho,” ucap <strong>Andri</strong>, teman saya yang menjiwai kepercayaan Islam Kejawen. Jauh sebelum waktu keberangkatan dirinya sudah wanti-wanti. “Mendaki Lawu tidak bisa disamakan seperti kita naik gunung sebelumnya,” tegasnya.</p>



<p>Menurutnya, di Lawu ada beberapa pantangan yang harus ditaati oleh pendaki. Seperti, tidak boleh berangkat dalam jumlah ganjil, yang menurutnya akan berdampak sial apabila melanggar aturan tersebut. “Selain itu, tidak boleh juga pakai baju atau atribut yang berwarna hijau,” timpalnya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1412" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/adang-rumput-membentang-di-dekat-Gupakan-Menjangan-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Padang rumput membentang di dekat Gupakan Menjangan (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Singkat kata, agenda perjalanan ke Lawu harus tetap berlanjut meskipun tanpa Andri, yang hari itu apes ketinggalan kereta di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Setelah<em> voting</em>, 1 regu yang berisikan 8 orang sepakat untuk terobos Lawu via Cemoro Sewu, yang masuk di wilayah Magetan, Jawa Timur. Secara kolektif terkumpul dana Rp. 600.000 dari saku kami, untuk membayar jasa <em>travel</em> yang berangkat dari Stasiun Solo Jebres, Surakarta, pada Juli kemarin.</p>



<p>Hari itu, tidak banyak rintangan besar selama proses pendakian ke puncak. Hanya saja sedikit meleset dari target yang dicanangkan untuk <em>camping</em> di Sendang Drajat, justru kami harus bermalam di Sumur Jalatundo yang menjadi bagian dari Pos V. Hal itu mesti terjadi, lantaran kondisi fisik tim sudah terkuras habis dengan beratnya medan di Cemoro Sewu.</p>



<p>Bagi saya, apabila ada satu orang yang sudah tidak sanggup lagi melanjutkan, maka lebih baik jangan dipaksakan. Selain itu, haripun mulai gelap dan tidak memungkinkan apabila tetap memaksakan diri untuk menerobos dinginnya malam.</p>



<p>Sang surya terbit perlahan di ufuk timur, disertai desis angin sepoi yang menggoyahkan pucuk <em>edelweiss</em> hingga jatuh mengering di atas tanah. Nampak jelas, gunung ini telah terpapar kemarau berkepanjangan, dan tiada terlihat satupun dedaunan berwarna hijau segar. Tenda yang kami dirikan saat itu, berdiri di balik tebing setinggi 3 meter yang dikerumuni ilalang kering.</p>



<p>Sembari sarapan, kami berbincang kecil untuk selanjutnya berangkat mengisi logistik air di Sendang Drajat. Menurut pedagang setempat, sumber air Sendang Drajat tidak akan kering meskipun diterpa kemarau berkepanjangan, hanya saja debit airnya tidak melimpah. </p>



<p>“Ini kalau musim tertentu biasa dibuat mandi Mas, sama peziarah atau yang bertapa di dalam lubang-lubang itu,” ujar Hadi, jarinya sambil menunjuk ke arah tebing yang sudah dilubangi menjadi goa-goa kecil yang menjadi lokasi pertapaan. Disamping tempat tersebut terdapat satu petilasan yang disakralkan oleh penduduk sekitar.</p>



<p>“Gunung Lawu tentu memiliki sejarah panjang Mas. Dahulu, Prabu Brawijaya V mukso di Hargo Dalem,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa sekitar tahun 1.300-1.400 Saka, Prabu Brawijaya V sempat mengasingkan diri ke lereng Gunung Lawu. “Prabu dikejar oleh anaknya sendiri, Raden Patah, yang kala itu memimpin Kerajaan Demak,” tambahnya.</p>



<p>Pada masa itu sedang gencar-gencarnya Islamisasi di pulau Jawa, yang membuat Raja Majapahit harus melarikan diri ke perbatasan Jawa Tengah, lantaran belum bersedia memeluk agama Islam. Dalam proses pengasingan, Prabu Brawijaya V memprakarsai pembuatan jejak peradaban Hindu – Budha di Jateng, seperti yang tertoreh melalui peninggalannya di Candi Sukuh, Candi Cetho dan Candi Kethek.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1413" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/alur-turun-via-Candi-Cetho-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Jalur turun via Candi Cetho (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Hadi mengisahkan bahwa musuh bebuyutan Brawijaya V, Adipati Cepu, yang dilatari dendam kesumat mengejarnya sampai merangsak naik ke Lawu. “Bulak Peperangan yang menjadi bagian dari jalur Lawu via Candi Cetho pernah menjadi medan pertempuran antara Brawijaya V dengan Adipati Cepu yang membawa pasukan,” jelasnya.</p>



<p>“Bahkan, Brawijaya V sampai-sampai mengutuk keturunan Adipati Cepu maupun orang dari Cepu yang mencoba naik ke Gunung Lawu,” tambahnya. Konon, hingga kini, pendaki dari daerah tersebut tidak berani melanggar sumpah Brawijaya, karena takut celaka.</p>



<p>Dibangun sejarah panjang, pendakian ke Gunung Lawu turut menyuburkan potensi ekonomi warga sekitar. Hal ini terbukti dengan tumbuhnya warung jajanan dihampir setiap pos peristirahatan, yang menjajakan aneka macam dagangan sebagai bekal konsumsi untuk para peziarah, pertapa, maupun pendaki yang tidak membawa bekal logistik.</p>



<p>Seperti Warung Mbok Yem yang disebut-sebut sebagai warung tertinggi di Indonesia. Bersama anaknya, dia merintis pembangunan warung di dekat Hargo Dalem sejak tahun 80-an. Berbekal menu nasi pecel telur ceplok, ia mapan hingga bisa menyekolahkan anaknya sampai menjadi seorang Bupati. Di Lawu, Mbok Yem memiliki gubukan yang sebidang dengan warungnya, dapat menampung manusia hingga kapasitas 30 orang. “Mau tidur di dalam boleh, di luar bikin tenda juga tidak apa-apa. Asal belanja saja di warung saya,” cetusnya.</p>



<p>Dari warung Mbok Yem, untuk menyambangi Puncak Hargo Dumilah sudah tidak begitu jauh. Dibutuhkan waktu interval 30 sampai 60 menit dengan berjalan menanjak hingga mencapai tugu puncak Lawu yang berada di ketinggian 3.265 mdpl. Hargo Dumilah tersohor akan posisinya untuk menyaksikan sang surya terbit maupun sedang terbenam. Tempat tersebut berada di atas samudera awan.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1414" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pasar-Dieng-titik-pertemuan-jalur-Cemoro-Kandang-dengan-jalur-Cetho-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Pasar Dieng, titik pertemuan jalur Cemoro Kandang dengan jalur Cetho (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Setelah puas menikmati elok panorama dari puncak Lawu, cukup disayangkan apabila pulang melewati jalur yang sama. Gunung Lawu memiliki 4 jalur yang populer di mulut pendaki, yakni jalur Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho dan Jogorogo.</p>



<p>Tepat pukul 10.00 WIB, setelah berkemas dan sarapan, kami putuskan untuk turun gunung. Saya yang terpencar dengan rombongan di depan, harus melangkah tertegun-tegun saat kabut tipis perlahan demi perlahan menutupi jalan dan mulai mengganggu jarak pandang. Padahal pagi itu cuaca sangat cerah, terik matahari sedang bagus-bagusnya bersinar.</p>



<p>Di lokasi ini kaya akan vegetasi cantigi, beserta gundukan batu yang tersusun amat misterius. Entah siapa yang membentuk polanya sedemikian rupa, hingga struktur yang apik ini mampu mendatangkan makna setelah dipandang.</p>



<p>Tak lama berselang, datanglah kedua teman saya yang tertinggal dibarisan paling belakang. “Ini dia, yang dinamakan Pasar Dieng,” sahutnya sembari mengikat sepatu. Ia menuturkan, bahwa lokasi Pasar Dieng juga dikenal dengan sebutan Pasar Setan. “Jadi, tempat ini adalah pertemuan antara jalur Lawu via Cemoro Kandang dengan jalur via Candi Cetho,” pungkasnya.</p>



<p>Setelah melalui kesenyapan Pasar Dieng, berjalan 10 menit ke bawah, dari kejauhan akan nampak padang sabana yang begitu luas. Namun, tidak banyak pendaki yang berani mendirikan tenda di area terbuka itu, larena angin bertiup cukup kencang. Ditambah lagi dengan kondisi tanah yang sudah lama tidak terkena hujan, bila diinjak mengepul jadi debu tebal dan dapat mengganggu penglihatan.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1415" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pos-V-Bulak-Peperangan-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Pos V Bulak Peperangan (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Berikutnya, masih terdapat sabana yang lebih megah di bawah lokasi tadi. Di area sabana, terdapat kubangan tanah basah yang apabila pada musim penghujan tempat tersebut akan menjadi sumber air bagi makhluk hidup yang menghuni hutan Gunung Lawu. Kubangan besar ini dinamakan Gupakan Menjangan, karena acap kali muncul menjangan (rusa) yang minum di telaga saat pagi maupun sore hari.</p>



<p>Bulak Peperangan kiranya bisa menjadi kejutan yang memikat mata hati. Cukup berjalan 20 menit dari Gupak Menjangan, lagi-lagi pendaki disuguhi padang sabana yang memanjang dengan vegetasi cemara yang tumbuh pada lereng kedua bukit. Bulak Peperangan, dapat menjadi lokasi camping. Namun, yang harus dipersiapkan adalah bekal stok air minum harus lebih dari cukup. Sepanjang Jalur Cetho hanya terdapat satu sumber air, yang terdapat di dekat Pos III dan biasa dijadikan area camping oleh para pendaki.</p>



<p>Jalur Cetho menawarkan bentang alam yang menakjubkan. Namun dari segi jarak, jalur tersebut merupakan lintasan yang terpanjang bila disanding dengan track lainnya. Panjang lintasan Cetho lebih kurang 17 km, terhitung dari pintu masuk kompleks candi Cetho hingga puncak Hargo Dalem. Diestimasi membutuhkan waktu setidaknya lebih dari 10 jam, untuk berjalan mencapai puncak Hargo Dumilah.</p>



<p>Dalam 3 bulan terakhir Gunung Lawu diterpa 4 kali kebakaran. Periode Agustus kemarin menjadi yang terhebat. Setidaknya, si jago merah sempat melalap 70 hektare padang sabana di jalur Cetho. Meskipun belum diketahui penyebab utama, ditengarai, kebakaran dipicu karena ulah manusia yang membuat api unggun saat <em>camping</em> hingga api menjalar luas ke atas pos V.</p>



<p>Untungnya dampak dari peristiwa ini tidak sampai menelan korban jiwa. Namun, sebagian area sabana Cetho kini menghitam, dan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan keasrian vegetasi seperti kondisi semula./<strong><em> JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/sebuah-cerita-lain-menapak-sejarah-kehidupan-dan-bentang-alam-di-gunung-lawu/">Sebuah Cerita Lain: Menapak Sejarah, Kehidupan dan Bentang Alam di Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1411</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pendakian Diantara Pesona Indah dan Sisi Mistik Gunung Lawu</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/travel/pendakian-diantara-pesona-indah-dan-sisi-mistik-gunung-lawu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Morteza]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2018 00:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tourism]]></category>
		<category><![CDATA[Travel]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Lawu]]></category>
		<category><![CDATA[Hargo Dumilah]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendaki]]></category>
		<category><![CDATA[Pesona Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Summit]]></category>
		<category><![CDATA[Wonderful Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1404</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam dekap malam yang dinginnya mencapai minus 5 derajat celcius, harus segera diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sendang Drajat yang konon menurut penduduk sekitar merupakan tempatnya sumber air abadi, atau justru harus bertahan satu malam di Sumur Jalatundo yang menjadi bagian dari Pos V, jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur. Gunung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/pendakian-diantara-pesona-indah-dan-sisi-mistik-gunung-lawu/">Pendakian Diantara Pesona Indah dan Sisi Mistik Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dalam dekap malam yang dinginnya mencapai minus 5 derajat celcius, harus segera diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Sendang Drajat yang konon menurut penduduk sekitar merupakan tempatnya sumber air abadi, atau justru harus bertahan satu malam di Sumur Jalatundo yang menjadi bagian dari Pos V, jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur.</p>



<p>Gunung Lawu yang memiliki puncak setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut <em>(mdpl)</em>, merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa Tengah, setelah Gunung Slamet (3.428 mdpl) dan Gunung Sumbing (3.371 mdpl). Untuk mencapai puncak tertinggi Lawu, Hargo Dumilah, umumnya pendaki harus memulai perjalanan dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah via Candi Cetho dan via Cemoro Kandang, atau melalui jalur Provinsi Jawa Timur yakni via Cemoro Sewu dan via Jogorogo, yang masuk wilayah Ngawi.</p>



<p>Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan jasa kereta api dari DKI Jakarta ke Jawa Tengah, bercampur aduk dengan kondisi badan yang letih kurang tidur dan perut keroncongan. Namun, waktu memang tak kenal kompromi. Sebelum matahari terbit menjulang, kami 1 regu yang terdiri dari 8 orang harus sepakat satu suara, guna memutuskan mendaki Gunung Lawu melalui jalur apa?</p>



<p>Setelah berdiskusi mantap, ada suatu keputusan untuk berangkat ke Pos Cemoro Sewu, dengan menggunakan jasa <em>carter</em> mobil elf kapasitas 12 orang bertarif Rp. 600 ribu dari Stasiun Solo Jebres, Surakarta untuk diantarkan ke perbatasan Jawa Timur.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Anaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-MortezaAnaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1405" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Anaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-MortezaAnaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Anaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-MortezaAnaphalis-Javanica-mekar-pada-puncak-musim-kemarau-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Anaphalis Javanica mekar pada puncak musim kemarau (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Begitulah….., perjalanan menuju pos Cemoro Sewu yang berada di ketinggian 1.900 mdpl, mesti ditempuh lebih kurang 3 jam melalui jalur wisata Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kini kawasan wisata Tawangmangu sudah jauh lebih ramai, villa tumbuh menjamur di dalam kawasan wisata pegunungan yang sekilas mirip dengan area Puncak, Bogor itu. Selain sebagai akses utama pendakian, tempat wisata di Tawangmangu yang paling sering disambangi <em>traveler </em>adalah Grojogan Sewu, atau air terjun Tawangmangu.</p>



<p>Setibanya di pos pendakian, diwajibkan membayar restribusi Rp.15.000/orang, serta mengisi daftar registrasi di <em>base camp</em> Cemoro Sewu. Setelah itu, pendaki sudah diperbolehkan memulai perjalanan menuju pos I yang dapat ditempuh dengan jalan konstan selama 1 jam. Menuju Pos I atau Wes-Wesan, pendaki akan melewati hutan yang didominasi pepohonan cemara.</p>



<p>Sebelum memasuki pos I atau Wes-Wesan, akan ada sebuah sumur yang menjadi sumber mata air bagi para pendaki maupun peziarah di Gunung Lawu. Selain itu, jangan terkejut apabila perjalanan Anda selalu diikuti, bahkan dituntun oleh burung Jalak Gading. Dalam mitos kejawen, burung Jalak Gading adalah jelmaan dari Ki Gading atau Dipa Manggala, yang merupakan pengikut setia dari Raja Brawijaya V, Raja Kerajaan Majapahit.</p>



<p>Sejatinya, perjalanan melelahkan baru tersaji saat naik menuju Pos II, Watu Gedeg. Di sana pendaki akan menemukan jalur menanjak yang kian curam, dengan lintasan jalan yang cukup panjang. Untuk mengobati rasa letih dan lapar, sama seperti di Pos Wes-Wesan, dalam area Pos II juga terdapat warung jajanan yang menjual berbagai makan serta minuman. Sepanjang perjalanan menuju Pos II ini, sudah dihiasi dengan melimpahnya bunga e<em>delweiss</em> atau disebut juga dengan bunga abadi yang dalam bahasa latin disebut <em>anaphalis javanica</em>.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pendaki-Gunung-Lawu-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1406" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pendaki-Gunung-Lawu-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Pendaki-Gunung-Lawu-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Pendaki Gunung Lawu (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Menuju Watu Gede atau Pos III, fisik makin terasa terkuras saat melintasi jalur yang kian ekstrem. Namun dari sisi pandangan, sudah jauh lebih baik. Pada latar belakang lanskap akan terlihat menjulang Gunung Jobolarangan (2.065 Mdpl) yang didekap oleh awan tebal. </p>



<p>Setelah itu, jalur pendakian menuju Pos IV atau Watu Kapur akan melewati anak tangga dengan jalur bebatuan yang makin terjal. Terdapat pembatas tiang besi di samping jalur, agar pendaki tidak menyentuh bibir jurang. Track menanjak akan usai setelah tiba di pos V, Sumur Jalatundo. Untuk bentang pemandangan di Pos IV hingga V, akan terlihat pemandangan kota Magetan, serta Telaga Sarangan.</p>



<p>Setelah itu, pendaki akan dihadapkan dengan jalur mendatar saat menuju sumber mata air Sendang Drajat. “Tempat yang disakralkan ini biasa menjadi tempat pertapaan, dan sangat ramai dikunjungi pada bulan 1 suro,” jelas <strong>Hadi</strong> yang sudah 15 tahun menjajakan dagangan di sekitar Sendang Drajat.</p>



<p>Dia melanjutkan, jika mata air Sendang Drajat memiliki sejarah panjang, dan merupakan tempat yang sangat dikeramatkan oleh penduduk sekitar. Ia menceritakan bahwa tempat tersebut menjadi tempat ritual-nya Raja Brawijaya V. “Mata air ini ampuh untuk mengobati berbagai penyakit kulit, dan barang siapa yang datang saat mata air sedang melimpah, maka rezekinya turut melimpah juga dalam satu tahun ke depan,” imbuhnya.</p>



<p>Puncak Hargo Dalem (3.171 Mdpl) dapat ditempuh dengan waktu 10 menit dari Sendang Drajat. Di sana pendaki akan menjumpai Mbok Yem yang tenar dengan menu lezat-nya, nasi pecel telor ceplok. Makanan favorit pendaki itu, dijual seharga Rp.12.000,- dan tergolong cukup murah, mengingat dibutuhkan perjalanan ekstra untuk mencicipi kuliner khas di warung tertinggi di Indonesia ini.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Mengibarkan-Sang-Saka-Merah-Putih-di-Puncak-Hargo-Dumilah-Morteza.jpg" alt="" class="wp-image-1407" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Mengibarkan-Sang-Saka-Merah-Putih-di-Puncak-Hargo-Dumilah-Morteza.jpg 600w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2022/05/Mengibarkan-Sang-Saka-Merah-Putih-di-Puncak-Hargo-Dumilah-Morteza-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /><figcaption><em>Mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Puncak Hargo Dumilah (Morteza)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Untuk menggapai puncak tertinggi di Gunung Lawu yaitu Hargo Dumilah (3.265 Mdpl), dari warung Mbok Yem letaknya sudah tidak begitu jauh. Pendaki hanya perlu menaiki jalur menanjak ekstrem yang berada 100 meter dari warung Mbok Yem. Perlu diingat jika menanjak pada musim kemarau di jalur ini, harus menyiapkan buff, karena tanah yang diinjak sangat tandus hingga menjadi debu yang dapat menggangu jarak pandang. Sebaliknya, jika mendaki pada musim kemarau, maka jalur <em>summit attack </em>ini dapat dipastikan menjadi tanah berlumpur yang medannya licin.</p>



<p>Setelah berjalan konstan antara 30 hingga 60 menit, nantinya pendaki akan bertemu sebuah shelter kosong yang di belakang tempat tersebut berdiri tegap Tugu Puncak Hargo Dumilah, yang berada di antara perbatasan provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah. </p>



<p>Dari Puncak tertinggi Lawu, pendaki dapat melihat lanskap Telaga Kuning dan Gunung Kukusan di sisi Selatan. Sementara di arah Barat, terpancar eksotisme si sunset merah yang akan meredup di belakang Gunung Slamet. Di depannya ada si kembar Sindoro &#8211; Sumbing dan samar terlihat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi yang puncaknya selalu berselimut awan.</p>



<p>Namun inilah sebuah kepuasan tertinggi, mendaki Gunung Lawu via Cemoro Sewu disuguhkan panorama alam yang indah. Namun aura mistik yang cukup kuat, disarankan para pendaki menjaga lisan serta perilaku. </p>



<p>Tak mudah untuk menggapai beberapa puncaknya, diperlukan kegigihan serta tidak mengendurkan semangat juang, saling sinerji sesama rekan pendaki. Karena esensi naik gunung sejatinya adalah, tiba kembali di rumah dengan bahagia dan selamat, dan jangan lupa mengambil segala hikmah dari setiap kejadian di dalam perjalanan./ <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/travel/pendakian-diantara-pesona-indah-dan-sisi-mistik-gunung-lawu/">Pendakian Diantara Pesona Indah dan Sisi Mistik Gunung Lawu</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1404</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
