<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rama Moektio Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/rama-moektio/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/rama-moektio/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 05:22:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Rama Moektio Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/rama-moektio/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Cockpit+ Band, Sang Penerus Nyala Api Progresif Cockpit Band Setelah 4 Dekade</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/cockpit-band-sang-penerus-nyala-api-progresif-cockpit-band-setelah-4-dekade/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2026 09:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Busan Production]]></category>
		<category><![CDATA[Cockpit]]></category>
		<category><![CDATA[Cockpit+]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Band]]></category>
		<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Musik Progresif]]></category>
		<category><![CDATA[Nada Noor]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Rama Moektio]]></category>
		<category><![CDATA[The Journey Continues]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=22576</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA &#8211; Dunia musik Indonesia memiliki sebuah anomali yang mengagumkan bernama Cockpit. Di saat banyak band berlomba-lomba menelurkan karya orisinal demi eksistensi, Cockpit justru mengukuhkan diri di kasta tertinggi sebagai unit spesialis pembawa lagu orang lain atau cover-band. Namun, mereka bukan sembarang penampil dikarenakan tingkat kemahiran mereka dalam membawakan repertoar Genesis dan Phil Collins telah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/cockpit-band-sang-penerus-nyala-api-progresif-cockpit-band-setelah-4-dekade/">Cockpit+ Band, Sang Penerus Nyala Api Progresif Cockpit Band Setelah 4 Dekade</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>JAKARTA &#8211; Dunia musik Indonesia memiliki sebuah anomali yang mengagumkan bernama Cockpit. Di saat banyak band berlomba-lomba menelurkan karya orisinal demi eksistensi, Cockpit justru mengukuhkan diri di kasta tertinggi sebagai unit spesialis pembawa lagu orang lain atau cover-band. Namun, mereka bukan sembarang penampil dikarenakan tingkat kemahiran mereka dalam membawakan repertoar Genesis dan Phil Collins telah menjadi legenda tersendiri. </p>



<p>Bahkan, dalam sebuah seloroh yang populer di kalangan penggemar musik progresif, dikatakan bahwa jika ada kontes kemiripan dengan Genesis versi Phil Collins, Cockpit adalah juara pertamanya, sementara Genesis sendiri harus puas di posisi kedua.</p>



<p>Kini, memasuki tahun 2026, babak baru dimulai. Kelompok yang telah eksis sejak 1983 ini melakukan transformasi menjadi <strong>Cockpit+</strong>. Ini bukan sekadar pergantian nama atau penambahan simbol, melainkan sebuah pernyataan sikap bahwa perjalanan panjang yang telah ditempuh selama lebih dari empat dekade akan terus berlanjut di tangan generasi yang baru. </p>



<p>Untuk menandai momentum ini, Busan Production dan Cockpit+ sengaja mengadakan bincang-bincang intim dengan beberapa jurnalis musik di bilangan Panglima Polim Jakarta Selatan pada Sabtu, 4 April 2026 kemarin.</p>



<p>Perjalanan ini bermula dari awal 1980-an dengan sebuah nama bernama Batara Band. Evolusi terjadi ketika para personelnya sepakat membentuk Cockpit pada tahun 1983. Formasi awal yang legendaris itu diperkuat oleh Freddy Tamaela (vokal), Harry Minggoes (bass), Yaya Moektio (drum), Odink Nasution (gitar), dan Roni Harahap (kibord). Nama-nama tersebut adalah pilar-pilar yang membangun fondasi Cockpit hingga menjadi magnet luar biasa bagi publik.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="850" height="425" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk.jpg" alt="" class="wp-image-22578" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk.jpg 850w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Budi-Santosa-dan-Busan-Production-saat-memberikan-keterangan-terkait-hadirnya-Cockpit-iBonk-750x375.jpg 750w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Budi Santosa dan Busan Production (tengah) saat memberikan keterangan terkait hadirnya Cockpit+ (iBonk)</em></figcaption></figure>
</div>


<p>Sejak kemunculannya, Cockpit langsung &#8220;merampas&#8221; perhatian khalayak ramai. Panggung-panggung ikonik seperti Balai Sidang Senayan, Kartika Chandra Theatre, hingga Stadion Menteng selalu dipadati massa. Mereka memiliki kemampuan ajaib untuk menghidupkan suasana. Di mana ada Cockpit, di situ tiket dipastikan <em>sold-out</em>. Tak hanya di stadion besar, di panggung klub dan kafe pun mereka menjadi &#8220;langganan&#8221; yang membahagiakan para promotor. Penonton rela merogoh kocek lebih dalam, bukan hanya demi musik, tapi demi atmosfer perayaan yang mereka ciptakan.</p>



<p>Kepergian ikon-ikon penting seperti vokalis Freddy Tamaela pada 1990 tidak membuat nyala api ini padam. Mereka sempat vakum, namun bangkit kembali bersama Arry Syaff. Cockpit seolah memiliki &#8220;kesaktian&#8221; untuk tidak pernah kehilangan pendengar setianya.</p>



<p>Namun, roda nasib membawa Cockpit pada rentetan kisah sedih dalam beberapa tahun terakhir. Satu demi satu pilar penyangga band ini berpulang. Odink Nasution wafat pada 27 Februari 2020 akibat komplikasi penyakit. Tak lama berselang, sang vokalis Arry Syaff menyusul pada 12 Desember 2020. Kesedihan mendalam kembali menyelimuti dunia musik saat Roni Harahap, sang maestro kibord, meninggal dunia pada 13 Juni 2022 setelah cukup lama absen karena sakit.</p>



<p>Ujian terberat terjadi di penghujung tahun 2025. Dua sosok sentral, Raidy Noor dan Yaya Moektio, berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan. Raidy Noor meninggal dunia pada 25 Oktober 2025, disusul oleh Yaya Moektio tepat 40 hari kemudian, pada 8 Desember 2025. Kehilangan dua nyawa band ini sempat memunculkan tanya besar, apakah ini akhir dari perjalanan Cockpit?</p>



<p>Jawaban atas keraguan itu muncul dari dua sosok muda yang tumbuh besar dalam bayang-bayang kejayaan ayah mereka. Rama Moektio dan Nada Noor, putra dari almarhum Yaya Moektio dan Raidy Noor. Keduanya bersepakat untuk memikul tanggung jawab besar itu, dan bersama rekan-rekan yang telah lama berada di lingkaran Cockpit seperti Jimmo, Judy Kartadikarya, dan Krisna Prameswara, mereka membentuk Cockpit+.</p>



<p>Keputusan ini diambil bukan tanpa pertimbangan matang. Rama menyatakan bahwa dirinya bersama Nada meneruskan Cockpit karena kepercayaan para pendahulu kepada mereka untuk menjadi bagian dari unit ini, bahkan sejak mendiang ayah mereka masih ada. “Dan atas bangganya kami kepada mereka karena mereka percaya kepada kami, maka kami sepakat untuk jalan lagi ya karena mereka,” ungkap Rama yang kemudian disambung dengan kalimat penuh komitmen, “Aku sama Nada meneruskan Cockpit karena kepercayaan mereka kepada kami untuk menjadi bagian dari band ini,” tambah Rama</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img decoding="async" width="1024" height="512" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-1024x512.jpg" alt="" class="wp-image-22577" style="width:874px;height:auto" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-1024x512.jpg 1024w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-768x384.jpg 768w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-1536x768.jpg 1536w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-360x180.jpg 360w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-750x375.jpg 750w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk-1140x570.jpg 1140w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/04/Judy-Kartadikarya-Denni-Chaplin-Nada-Noor-Rama-Moektio-Krisna-Prameswara-dan-Jimmo-iBonk.jpg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Judy Kartadikarya, Denni Chaplin, Nada Noor, Rama Moektio, Krisna Prameswara dan Jimmo (iBonk)</figcaption></figure>
</div>


<p>Perlu digarisbawahi bahwa kehadiran Rama dan Nada bukanlah untuk menggantikan posisi sang ayah secara literal. Mereka menyadari betul betapa besarnya nama Yaya Moektio dan Raidy Noor di kancah musik nasional. “Kami sebagai anak-anaknya sangat menghormati dan menyanjung dan begitu bangganya terhadap ayah kami. Kami berdua memang bukan untuk menggantikan, tentu sulit sekali. Tapi kami hadir untuk meneruskan enerji positif bermusik dari kedua ayah kami,” ucap Rama yang diamini oleh Nada.</p>



<p>Dalam formasi teranyar ini, posisi bass yang ditinggalkan almarhum Raidy kini diisi oleh Hendri, seorang session player mumpuni yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia KLa Project. Selain itu, regenerasi ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Budi Santosa melalui bendera Busan Production.</p>



<p>Budi, yang memiliki sejarah kerja sama panjang dengan Cockpit, merasa terpanggil untuk memastikan warisan musikal ini tidak berhenti di tengah jalan. Baginya, apresiasi dan rasa hormat yang ia miliki untuk Yaya dan Raidy kini ia salurkan kepada Rama dan Nada. “Saya tentu saja bersedih dengan kepergian kedua sahabat baik itu, Yaya maupun Raidy. Tetapi kemudian saya juga berpikir, apakah Cockpit selesai?” sebut Budi.</p>



<p>Keinginan kuat dari para ahli waris untuk melanjutkan perjalanan inilah yang membuat Busan Production bergerak menyiapkan berbagai konsep baru. Nama Cockpit+ sendiri lahir dari diskusi mendalam, dengan logo baru yang menampilkan tanda plus berbentuk bintang di pojok kanan ata, menjadi sebuah ide kreatif dari Rama Moektio. Simbol ini menggambarkan harapan agar band ini tetap bersinar di masa depan.</p>



<p>Prinsipnya, Busan Production siap berjalan beriringan bersama Cockpit+. &#8220;Semoga Cockpit+ akan aktif hadir lagi di berbagai tempat, bahkan rencananya juga di berbagai kota di tanah air,” janji Budi.</p>



<p>Rencana besar sudah disusun, termasuk menghadirkan penampilan mereka yang akan merambah diberbagai kota di Indonesia. Panggung-panggung musik Indonesia akan kembali berdenyut dengan melodi-melodi progresif nan megah. Kehadiran perdana Cockpit+ akan berlangsung pada konser di Glitz Inclusive Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta Selatan, pada Jumat, 1 Mei 2026 mendatang. Acara ini menjadi momentum penting bagi band untuk memperkenalkan formasi baru sekaligus membuktikan bahwa warisan Cockpit tetap hidup dan relevan.</p>



<p>Estafet kepemimpinan telah berpindah, namun semangat yang dibawa tetap sama yakni dedikasi tanpa kompromi terhadap kualitas musik. Saatnya kita tunggu bagaimana Cockpit+ merajut kembali memori para penggemarnya dan menciptakan sejarah baru bagi generasi mendatang<em>.… and the journey continues…</em> / <strong><em>JOURNEY OF INDONESIA </em></strong>| iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/music/cockpit-band-sang-penerus-nyala-api-progresif-cockpit-band-setelah-4-dekade/">Cockpit+ Band, Sang Penerus Nyala Api Progresif Cockpit Band Setelah 4 Dekade</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">22576</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
