<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Urban Legend Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://journeyofindonesia.com/tag/urban-legend/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/urban-legend/</link>
	<description>Journey of Indonesia fokus pada perkembangan pariwisata Indonesia, meng-explore budaya, hiburan, life style, kesehatan, hiburan di tanah air</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Jan 2026 11:54:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/06/cropped-favicon-1-32x32.png</url>
	<title>Urban Legend Archives | Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</title>
	<link>https://journeyofindonesia.com/tag/urban-legend/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">198252186</site>	<item>
		<title>Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 10:53:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[FIlm]]></category>
		<category><![CDATA[Alas Roban]]></category>
		<category><![CDATA[Batang]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Hadrah Daeng Ratu]]></category>
		<category><![CDATA[Horor]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Journey of Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Michelle Ziudith]]></category>
		<category><![CDATA[Mitos]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sinema Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Taskya Namya]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Legend]]></category>
		<category><![CDATA[XXI Epicentrum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://journeyofindonesia.com/?p=21187</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA — Di peta Pulau Jawa, Alas Roban mungkin hanyalah titik koordinat di Kabupaten Batang yang menghubungkan arus mobilitas masyarakat. Namun, bagi ingatan kolektif para pelintas jalur pantura, kawasan ini adalah ruang di mana batas antara realitas dan mitos sering kali mengabur. Kabut tebal yang turun tiba-tiba dan barisan hutan yang rapat bukan sekadar pemandangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/">Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">JAKARTA — Di peta Pulau Jawa, Alas Roban mungkin hanyalah titik koordinat di Kabupaten Batang yang menghubungkan arus mobilitas masyarakat. Namun, bagi ingatan kolektif para pelintas jalur pantura, kawasan ini adalah ruang di mana batas antara realitas dan mitos sering kali mengabur. Kabut tebal yang turun tiba-tiba dan barisan hutan yang rapat bukan sekadar pemandangan alam, melainkan selimut bagi ribuan kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut, mulai dari bisikan para sopir lintas kota hingga kegelisahan penumpang yang terdiam saat kendaraan mulai memasuki area tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sentimen mendalam terhadap jalur paling melegenda di Jawa inilah yang kemudian diangkat oleh sutradara Hadrah Daeng Ratu ke layar lebar melalui film berjudul &#8220;Alas Roban&#8221;. Dijadwalkan menyapa penonton pada 15 Januari 2026, karya ini berupaya memindahkan atmosfer mencekam dari jalanan nyata ke dalam sebuah pengalaman sinematik yang intens. Hadrah menempatkan Alas Roban bukan sekadar sebagai latar tempat, melainkan sebagai karakter yang hidup dan menyimpan sejarah panjang yang belum sepenuhnya terungkap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses kreatifnya, <strong><a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/film-musuh-dalam-selimut-angkat-pengkhianatan-terkejam-dari-lingkar-terdekat/">Hadrah Daeng Ratu</a></strong> menegaskan bahwa film ini mengambil pendekatan yang cukup kontras dibandingkan karya-karya sebelumnya yang kerap menonjolkan unsur gore. Baginya, &#8220;Alas Roban&#8221; adalah sebuah eksplorasi road movie bergenre horor yang mengedepankan sosok hantu dan tekanan psikologis. “Film Alas Roban buat saya sangat spesial. Dari awal ditawari, ini sudah jelas sebagai road movie horor. Horor yang bukan gore. Kalau sebelumnya saya dikenal dengan horor yang cenderung gore, kali ini benar-benar horor dengan sosok hantu,” ujar Hadrah saat menjelaskan visi penyutradaraannya.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo.jpg" alt="" class="wp-image-21188" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Michelle-Ziudith-saat-menjawab-pertanyaan-media-Yayo-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Michelle Ziudith saat menjawab pertanyaan media (Yayo)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Daya tarik utama dari film ini terletak pada relevansinya dengan budaya masyarakat Indonesia, khususnya tradisi mudik. Jalur Alas Roban memiliki kedekatan emosional bagi para perantau yang mengadu nasib di ibu kota dan selalu kembali ke kampung halaman saat hari besar tiba. Hadrah mencermati bahwa di Jawa, pusat pergerakan manusia sering kali melewati titik ini. Ia menambahkan bahwa keberadaan jalur lama dan jalur baru di kawasan tersebut menambah lapisan misteri yang kaya untuk digali lebih dalam. Menurutnya, jalur lama itulah yang menjadi muara dari banyak kisah ganjil yang dialami pengendara, baik saat melintas maupun setelah mereka meninggalkan kawasan hutan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aspek psikologis dalam film ini semakin diperkuat oleh performa para pemainnya, termasuk <strong>Taskya Namya</strong> yang memerankan karakter Tika. Taskya menceritakan bagaimana ketegangan dalam cerita dipicu oleh perubahan-perubahan kecil yang mengusik logika, seperti saat karakternya menemukan kejanggalan pada sosok Gendis. “Momen ketika Tika menemukan gambar Gendis yang tidak wajar, kecurigaan muncul makin kuat karena ada yang aneh. Terlebih saat Gendis mengajak main petak umpet, di situ ekspresinya tidak seperti Gendis yang ia kenal,” ungkap Taskya, menggambarkan bagaimana rasa takut dalam film ini dibangun melalui kecurigaan yang perlahan memuncak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini juga menjadi tonggak penting bagi karier <strong>Michelle Ziudith</strong> yang dikenal luas melalui peran-peran dalam drama romantis. Michelle akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dan mencicipi genre horor untuk pertama kalinya. Berperan sebagai Sita, ia mengaku jatuh cinta pada kekuatan naskah dan alur cerita yang ditawarkan sejak awal. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ditemui sebelum Gala Premiere di XXI Epicentrum, Jakarta, Michelle mengungkapkan rasa sayangnya terhadap proyek ini. “Ini film yang aku sayangi sekali, karena ini film horor pertamaku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk terjun ke ranah film horor, untuk icip sedikit. Ternyata tidak membuat kapok, alhamdulillah,” tuturnya dengan antusias.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo.jpg" alt="" class="wp-image-21189" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2026/01/Para-pendukung-film-Alas-Roban-Yayo-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption class="wp-element-caption"><em>Para pendukung film Alas Roban (Yayo)</em></figcaption></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Ketertarikan Michelle bukan tanpa alasan. Ia menilai bahwa &#8220;Alas Roban&#8221; berhasil menyajikan struktur cerita yang solid tanpa meninggalkan celah logika yang mengganggu. Baginya, film ini menawarkan kedalaman drama yang hangat di tengah kepungan teror mistis yang mencekam. Plot yang tegas dan pembangunan karakter yang kuat menjadi alasan mengapa ia merasa yakin untuk mengambil peran Sita meskipun pada awalnya ia belum mengetahui judul besar yang akan diusung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara naratif, &#8220;Alas Roban&#8221; mencoba memotret serangkaian aturan tak tertulis yang selama ini dipercaya oleh masyarakat sekitar dan para pelintas. Mitos-mitos seperti larangan melintas tepat tengah malam, imbauan untuk tidak singgah di warung pinggir jalan yang asing, hingga kewaspadaan terhadap bayangan di spion kendaraan diangkat menjadi elemen penting dalam membangun suasana. Teror dalam film ini tidak selalu hadir dalam wujud fisik, melainkan melalui keyakinan dan ketakutan yang menular di antara para tokohnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Produksi yang merupakan hasil kolaborasi antara Unlimited Production, Narasi Semesta, dan Legacy Pictures ini didukung oleh deretan aktor papan atas seperti Rio Dewanto sebagai Anto, Imelda Therinne sebagai Dewi Raras, serta aktris cilik Fara Shakila sebagai Gendis. Dengan ramuan sejarah, urban legend yang kuat, serta arahan tangan dingin Hadrah Daeng Ratu, &#8220;Alas Roban&#8221; diprediksi akan menjadi suguhan horor yang tidak hanya mengejutkan secara visual, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan memori kolektif penontonnya./ <strong><em>JOURNEY OF IDONESIA</em></strong> | iBonk</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/menelusuri-gelapnya-jalur-mitos-dalam-film-alas-roban-saat-teror-terasa-nyata/">Menelusuri Gelapnya Jalur Mitos dalam Film &#8220;Alas Roban&#8221;, Saat Teror Terasa Nyata</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">21187</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Rumah Kentang: The Beginning, Horor Klasik Dengan Latar Belakang Urban Legend</title>
		<link>https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/rumah-kentang-the-beginning-horor-klasik-dengan-latar-belakang-urban-legend/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yulia Dewi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Nov 2019 02:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[FIlm]]></category>
		<category><![CDATA[Agam Suharto]]></category>
		<category><![CDATA[Christian Sugiono]]></category>
		<category><![CDATA[Hitsmaker Studio]]></category>
		<category><![CDATA[Luna Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Rizal Mantovani]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Soraya]]></category>
		<category><![CDATA[Urban Legend]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://wp.journeyofindonesia.com/?p=1000</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hitsmaker Studio kembali memproduksi sebuah film horor. Film yang berlatar belakang detail dari urban legend ini berjudul Rumah Kentang: The Beginning. Rumah Kentang: The Beginning adalah urban legend yang beredar di masyarakat ini tidak hanya berada di Bandung, tetapi juga ada di kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan Cinere, Depok. Film yang dibintangi oleh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/rumah-kentang-the-beginning-horor-klasik-dengan-latar-belakang-urban-legend/">Rumah Kentang: The Beginning, Horor Klasik Dengan Latar Belakang Urban Legend</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hitsmaker Studio</strong> kembali memproduksi sebuah film horor. Film yang berlatar belakang detail dari urban legend ini berjudul Rumah Kentang: The Beginning.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rumah Kentang: The Beginning adalah <em>urban legend</em> yang beredar di masyarakat ini tidak hanya berada di Bandung, tetapi juga ada di kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan Cinere, Depok. Film yang dibintangi oleh <strong>Luna Maya</strong> dan <strong>Christian Sugiono</strong> ini merupakan film yang pertama kalinya diproduksi secara berbeda oleh Hitsmaker Studio. Rumah Kentang menjadi horor pertama yang tidak disutradarai oleh Rocky Soraya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ini pertama kali saya ingin sebuah <em>looked </em>yang beda dari yang sebelumnya. Saya dapat dari <strong>Rizal Mantovani</strong> <em>the looked</em> yang memang beda dari Hitsmaker sebelumnya dengan menguak cerita <em>legend</em>, kenapa legenda itu ada,&#8221; beber <strong>Rocky Soraya</strong>, Produser Hitsmaker Studio di acara gala premier film Rumah Kentang pada Jum&#8217;at (16/11/2019).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rizal yang berperan sebagai sutradara di film ini, mengakui bahwa dirinya mendapat tantangan yang cukup berat dari produser Rocky Soraya pada saat menggarap film Rumah Kentang. Ada proses teknik pengambilan angle kamera tak biasa ketika syuting film ini dilakukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kesulitannya untuk saya ada 2, teknikal dan emosional. Untuk teknikal, tempat tidur naik dan hancur, itu masih umum. Tapi di sini ada yang secara teknis susah dibuat, tapi saya enggak bisa ngomong nanti <em>spoiler</em>,” kata Rizal.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="740" height="370" src="https://wp.journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/12/Luna_Maya_DSP.jpg" alt="" class="wp-image-1002" srcset="https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/12/Luna_Maya_DSP.jpg 740w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/12/Luna_Maya_DSP-300x150.jpg 300w, https://journeyofindonesia.com/wp-content/uploads/2021/12/Luna_Maya_DSP-360x180.jpg 360w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /><figcaption><em>Luna Maya pemeran utama Rumah Kentang: The Beginning (Ist)</em></figcaption></figure></div>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini memang digarap oleh tangan dingin Rizal Mantovani yang mengetengahkan cerita di era tahun 80-an. Dengan mengambil lokasi dibeberapa tempat di Jakarta, Bogor, dan Pengalengan, Bandung, Rizal memberikan kesan otentik dari film horor kali ini. Tanpa menggunakan banyak tekhnik <em>CGI</em>, Rizal ingin menampilkan keontentikan dari cerita <em>urban legend</em> itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Rumah Kentang untuk pertama kali saya garap dengan detail yang berbeda. Salah satunya skrip yang alhamdulillah-nya produsernya justru yang banyak bekerja. Saya juga coba tidak terlalu mencolok <em>CGI</em>-nya, agar dapet sisi otentiknya,&#8221; ujar Rizal Mantovani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Iya film ini memang ceritanya dibuat oleh saya dan <strong>Agam Suharto</strong>. Saya ingin menampilkan lebih ke <em>experience</em>, apa yg terjadi yang mereka hadapi yang ada disitu,&#8221; sambung Rocky Soraya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film Rumah Kentang: The Beginning berkisah tentang sepasang suami istri Adrian (Christian Sugiono) dan Sofie (Luna Maya). Adrian, seorang novelis sukses yang sempat mengalami kegagalan, tertarik mencari tantangan baru. Sofie, seorang ilustrator membantu suaminya membuat ilustrasi untuk novel. Teror dalam cerita diambil dari obrolan mitos masyarakat tentang Rumah Kentang, lebih ditekankan pada suasana. Ketika mencium aroma kentang, ada pesan bakal terjadi penampakan makhluk halus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelumnya, film berjudul Rumah Kentang pernah dikerjakan Jose Purnomo pada 2012, dibintangi Tasya Kamila dan Shandy Aulia. Rizal menegaskan, cerita ini tak berhubungan dengan film tersebut tapi berkaitan soal mitos-mitosnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film Rumah Kentang: The Beginning selain dibintangi Christian Sugiono, Luna Maya, film ini juga diperankan oleh <strong>Jajang C. Noer</strong>, <strong>Epy Kusnandar</strong>, serta para pemain cilik <strong>Davina Karamoy</strong>, <strong>Nicole Rossi</strong>, dan <strong>Rayhan</strong>. Rumah Kentang: The Beginning direncanakan akan tayang 21 November 2019./<strong><em>JOURNEY OF INDONESIA</em></strong></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="jeg_video_container jeg_video_content"><iframe loading="lazy" title="Official Trailer RUMAH KENTANG: THE BEGINNING (2019) - Luna Maya, Christian Sugiono" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/kuoqwVzRuhI?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
<p>The post <a href="https://journeyofindonesia.com/entertainment/film/rumah-kentang-the-beginning-horor-klasik-dengan-latar-belakang-urban-legend/">Rumah Kentang: The Beginning, Horor Klasik Dengan Latar Belakang Urban Legend</a> appeared first on <a href="https://journeyofindonesia.com">Journey of Indonesia | Explore Pariwisata Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1000</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
