BROMO – Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tidak sekadar menjadi saksi bisu terbitnya matahari di ufuk timur Jawa Timur. Memasuki tahun 2026, lanskap vulkanik ini telah berevolusi menjadi episentrum pariwisata yang lebih dewasa. Wisatawan kini tidak lagi datang hanya untuk mengejar momentum singkat matahari terbit, melainkan mencari kedalaman makna melalui tren slow travel dan experiential tourism yang kian mengakar.
Pergeseran paradigma ini membawa angin segar bagi industri perhotelan di kawasan tersebut. Bromo kini dipandang sebagai destinasi utama untuk menetap lebih lama, di mana interaksi dengan budaya Suku Tengger dan eksplorasi sudut-sudut tersembunyi lautan pasir menjadi agenda wajib. Dalam hiruk-pikuk minat wisata yang terus melonjak, kehadiran akomodasi yang mampu merangkul berbagai karakter pelancong menjadi kunci utama.

Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel muncul sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut dengan menawarkan dualisme konsep yang unik. Di satu sisi, ia menyajikan ketenangan khas resort bagi mereka yang merindukan relaksasi di tengah udara pegunungan yang jernih. Di sisi lain, kehadiran konsep poshtel, sebuah paduan antara hostel kelas atas yang fungsional namun tetap mengedepankan gaya hidup sosial menjadi magnet bagi generasi muda, content creator, dan komunitas petualang yang mementingkan konektivitas.
Manajemen melihat bahwa kebutuhan wisatawan di era ini telah melampaui sekadar tempat untuk meletakkan tas. “Bromo di 2026 bukan hanya tentang destinasi, tetapi tentang pengalaman. Melalui Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel, kami ingin menjadi bagian dari perjalanan wisatawan dalam menikmati Bromo secara lebih mendalam mulai dari kenyamanan menginap, kedekatan dengan alam, hingga pengalaman lokal yang autentik,” ujar perwakilan manajemen Jambuluwuk Hotels & Resorts.

Secara arsitektural dan fungsional, properti ini dirancang untuk menyatu dengan ekosistem sekitar. Area komunal yang luas menjadi ruang temu bagi para penjelajah untuk berbagi cerita, sementara spot-spot foto yang estetis dengan latar belakang kaldera Bromo memenuhi dahaga visual para pengguna media sosial. Tidak hanya soal visual, aspek rasa pun turut diperhatikan melalui sajian kuliner yang mengeksplorasi kekayaan rempah Nusantara, memberikan pengalaman sensorik yang lengkap bagi setiap tamu.
Keberadaan Jambuluwuk Bromo Resort & Poshtel juga membawa dampak yang lebih luas bagi pemberdayaan ekonomi lokal. Dengan melibatkan layanan wisata setempat dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam operasionalnya, properti ini turut memperkuat struktur pariwisata berkelanjutan.
Di tengah persaingan global, Bromo tetap menjadi primadona karena kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan identitas, didukung oleh fasilitas modern yang menghargai setiap jengkal keaslian alamnya./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















