JAKARTA – Kawasan Kota Tua Jakarta tidak pernah benar-benar melepaskan memori masa lalunya sebagai pusat gravitasi perdagangan dunia. Di tempat yang dahulu menjadi titik temu distribusi pala dan cengkih dari timur Nusantara menuju pasar Eropa, House of Tugu Jakarta kini membangkitkan kembali kejayaan tersebut melalui perayaan Ramadan 1447 Hijriah. Mengusung konsep The Spice Route of Indonesia Iftar, properti heritage ini menawarkan pengalaman berbuka puasa yang melampaui sekadar santap malam, yakni sebuah penghormatan terhadap sejarah yang membentuk identitas bangsa.
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-17, rempah-rempah memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan emas. Batavia, yang dibangun di atas reruntuhan Jayakarta pada 1619, menjadi markas besar VOC sekaligus pusat komando ekonomi global. Di sinilah setiap butir rempah dikurasi sebelum melintasi samudera menuju Amsterdam. Berdiri tepat di jantung kawasan bersejarah ini, House of Tugu Jakarta memanfaatkan narasi kuat tersebut untuk menyajikan suasana Ramadan yang autentik, mulai dari 20 Februari hingga 20 Maret 2026.

Representatif House of Tugu Jakarta, Shafa Haura, menjelaskan bahwa konsep tahun ini merupakan upaya untuk menghadirkan kembali memori kolektif Nusantara melalui indra perasa. “Konsep ini terinspirasi langsung dari sejarah bangunan dan kawasan di sekitarnya. Rempah bagi kami bukan sekadar bahan dapur, melainkan bagian dari memori Nusantara yang masih terasa hingga kini. Ramadan menjadi momen yang paling relevan untuk menghadirkannya kembali melalui rasa,” ujar Shafa Haura.
Perjalanan rasa dalam The Spice Route of Indonesia Iftar disusun secara teliti untuk mewakili kekayaan kuliner dari berbagai penjuru jalur rempah. Tamu diajak mencicipi Gulai Kambing Padang yang diolah perlahan dengan lapisan bumbu rempah yang intens, hingga Bebek Betutu Gianyar yang dipanggang utuh dengan balutan pasta rempah khas Bali yang meresap hingga ke serat daging terkecil. Pengalaman ini ditutup dengan kreasi manis bertajuk Jejak Rempah di Dalam Kurma, yang memadukan kurma medjool premium, kacang mede panggang, dan aroma kayu manis yang lembut.

Keunikan lain hadir dari kolaborasi bersama Babah Koffie by Kawisari Coffee yang menyuguhkan Iftar Royale Espresso. Minuman ini menjadi jembatan modernitas dan tradisi dengan memadukan espresso, kurma, dan rempah dalam satu sajian elegan. Selain itu, bagi mereka yang ingin berbagi kebahagiaan, tersedia hantaran Ramadan berupa kopi single origin dari perkebunan sendiri serta kudapan tradisional carabikang yang dikemas secara personal sebagai bingkisan Lebaran yang berkesan.
Memasuki hari raya Idul Fitri, narasi kuliner berlanjut melalui The Archipelago Legacy di Jajaghu. Perayaan ini menghadirkan menu ikonik seperti Lamb of the Spice Isles, yaitu kambing panggang ala Bedouin yang dimasak di antara batu hitam membara dan pasir, serta Royal Lebaran Ketupat yang merangkum variasi rasa dari Jawa, Sunda, Padang, hingga Blitar.

Struktur bangunan dengan langit-langit tinggi dan pencahayaan temaram di House of Tugu semakin memperkuat kesan megah namun tetap intim bagi keluarga maupun kolega yang ingin merayakan kemenangan di tengah arsitektur kolonial.
Tak hanya soal rasa, House of Tugu Jakarta juga menawarkan pelarian sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota melalui paket menginap eksklusif. Tamu dapat menikmati ketenangan Kota Tua di pagi hari Lebaran yang syahdu, dilengkapi dengan fasilitas spa berbahan rempah Nusantara yang merefleksikan akar sejarah perdagangan Indonesia. Melalui rangkaian program Ramadan dan Lebaran 2026 ini, House of Tugu Jakarta membuktikan bahwa warisan budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dirasakan dan dihidupkan kembali di masa kini./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















